My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Merindukan hal-hal kecil



Setelah hari itu.


Selama satu minggu ini, Ken merasa Alana sedikit berubah dan menjaga jarak dengannya. bahkan, wanita itu tak seceria dan tak begitu banyak bicara seperti biasanya.


Pagi itu, seusai mandi, Ken sedang memperhatikan Alana yang sedang menyiapkan baju kerja untuknya. ia berjalan mendekati Alana. namun, Alana mencoba menghindar.


"Mau ke mana?" tanya Ken yang kini menarik tangan Alana.


"Ehm, mau ke dapur membantu Bi Ester," ujar Alana.


"Kau kenapa semakin hari semakin mendiamkanku seperti ini, apa aku punya salah kepadamu?" tanya Ken.


"Jika aku punya salah katakanlah! jangan mendiamkanku seperti ini," imbuhnya.


"Siapa yang mendiamkanmu? kau tidak punya salah. bukannya kita setiap hari berbicara?" Alana mencoba  tersenyum.


"Ayo cepatlah, aku akan menunggumu di meja makan!" perintah Alana.


"Oh, Iya, Ken. nanti malam pertunangan temanmu. jangan lupa!" Ken mengangguk dan Alana segera berlalu keluar dari kamar dan pergi ke dapur. ia segera membantu Bi Ester menata makanan yang baru saja matang di atas meja makan.


***


Ken dan Alana kini sedang menikmati sarapan bersama. mereka berdua duduk saling berhadapan. kedua mata Ken tak henti memperhatikan Alana dengan tatapan penuh tanya.


"Sikap Alana kepadaku berubah setelah bertemu dengan Ibunya minggu lalu. sebenarnya apa yang membuat dirinya berubah?" Ken mengunyah makanannya sembari tak lepas memandangi Alana yang sedang sibuk memakan makanan miliknya.


"Arghh..." Ken mendesis saat bibirnya tiba-tiba tergigit oleh giginya sendiri.


"Kau kenapa, Ken?" tanya Alana yang saat ini menghentikan aktivitas makannya.


"Tidak apa-apa. bibirku tergigit," ucap Ken sambil memegangi bibirnya yang sedikit berdarah.


"Bagaimana bisa tergigit, kau ini makan ceroboh sekali seperti anak kecil saja. ini minumlah..." Alana menyodorkan air putih yang baru saja ia tuang ke dalam gelas.


"Aku tergigit, bukan tersedak. kenapa kau malah memberiku air?" seru Ken sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya, minumlah dulu." Alana memaksa Ken untuk minum dan Ken terpaksa mengiyakan perintah Alana untuk  meminum air itu.


"Sakit sekali..." Ken mendesis memegangi bibirnya  sambil melirik ke arah Alana.


"Coba kemari, aku lihat." Alana beranjak berdiri dan mendekati Ken.


"Tidak usah..."


"Kemarikan aku lihat!" paksa Alana.


"Mau apa memangnya?" tanya Ken.


"Mau ku beri cabai dan perasan air jeruk limau biar semakin sakit!" seru Alana dengan melototkan kedua matanya.


"Aku hanya ingin melihat saja, kemarikan." Ken mengiyakannya dan Alana menarik bibir Ken hingga terlihat sedikit terbuka dan memperhatikan luka itu hingga jarak di antara mereka berdua saat ini begitu dekat.


"Entahlah, aku sangat merindukan dia yang cerewet seperti ini, aku sangat merindukannya..." gumam Ken sambil menahan senyumnya.


"Tergigit begini saja manja," ujar Alana. tiba-tiba Ken menahan tawanya.


"Kenapa kau tertawa? kau membohongiku ya?" seru Alana.


"Siapa yang membohongimu? ini benar-benar sakit, memang sakit. lihatlah!" bantah Ken. Alana hanya diam dan menatap kesal Ken.


"Ah sudah-lah, aku berangkat pergi bekerja." Ken hendak beranjak berdiri.


"Ken, tunggu..." Alana menarik tangan Ken.


"Ada apa?" tanya Ken.


"Ehm, aku bosan di rumah. mau ke toko juga bosan," ujar Alana dengan melirik penuh harap.


"Lalu, apa kau mau ke rumah Mama? tapi Jesslyn sepertinya kuliah," ucap Ken. Alana menggelengkan kepalanya.


"Lalu mau kemana?" ucap Ken.


"Ehmmm." Alana melirik ke arah Ken. Ken langsung paham arti lirikan mata istrinya tersebut.


"Mau ikut denganku ke kantor?" tanya Ken.


"Memangnya boleh?" tanya Alana dengan penuh semangat.


"Boleh! aku hari ini menggantikan Papa untuk meeting bersama clientnya di kantor. tapi, ingat! jangan membuat keributan di sana, kau mengerti!" tutur Ken dengan penuh penekanan.


"Memangnya aku pernah membuat keributan apa? kalau tidak ikhlas mengajak ya sudah, aku di rumah saja!" seru Alana.


"Banyak bicara, ayo..." Ken merengkuh jari tangan Alana dan menarik tangannya.


"Sebentar, Ken. aku mau ganti baju dan dandan dulu!" pinta Alana.


"Tidak usah, pakai baju ini saja! nanti  aku terlambat jika harus menunggumu!" seru Ken.


"Kau yang benar saja? masa iya aku ikut ke kantor denganmu menggunakan mini dress rumah seperti ini?" seru Alana.


"Kau mau ikut atau tidak?" tanya Ken.


"Mau..." Alana menganggukan kepalanya layaknya anak kecil.


"Ya sudah, kalau ikut ayo cepatlah, tidak usah ganti baju. kau sudah terlihat cantik!" seru Ken.


"Apa katamu? aku cantik?" Alana bertanya memastikan sambil melebarkan senyumnya.


"Astaga..." Ken menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau jadi ikut atau tidak?" tanya Ken.


"Ikut, tunggu sebentar, aku akan mengambil tasku." Alana berlari ke kamar dan segera mengambil tas miliknya, kemudian, ia kembali menghampiri Ken.


Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan Ken mengemudikan mobilnya menuju ke perusahaan Papa Gio.


setibanya di sana, Ken memarkirkan mobilnya dan menyuruh Alana untuk turun. ia menggandeng tangan Alana untuk masuk ke dalam kantor.


"Ken, sebentar, perutku sakit. tolong antarkan aku ke toilet. aku ingin Pup," pinta Alana sambil memegangi perutnya.


"Astaga..." Ken mengusap wajahnya.


"Alana, aku sedang ada meeting. kau pergi sendiri saja, ya? toiletnya ada di sebelah kanan pantry," kata Ken sambil menunjuk ke arah pantry yang ada di ujung sana.


"Nanti, setelah itu, naiklah ke lantai tiga dan tunggu di ruanganku. aku harus segera meeting dengan client Papa dulu," imbuh Ken.


"Baiklah, bye Ken..." Alana segera berlalu menuju ke toilet.


"Jangan membuat keributan!" ujar Ken. Alana mengiyakan dari kejauhan hingga membuat Ken menggeleng kepalanya melihat tingkah istrinya tersebut. Ken memasuki lift yang sudah terbuka dan segera naik ke lantai lima untuk menggantikan Papa Gio meeting bersama clientnya.


***


Setelah, Alana keluar dari toilet, ia merasa begitu lega karna sudah buang air besar. ia mencuci tangannya di wastafel dan sedikit merapikan rambutnya.


seorang wanita dengan balutan blazzer dan lekuk tubuh seksi masuk ke dalam toilet yang sama. wanita itu berdiri persis di samping Alana dan mengoles lipstick di bibir pucatnya.


"Cantik sekali," gumam Alana dalam hati sembari memperhatikan wanita itu.


"Kau bekerja di sini, Nona?" tanya Alana. wanita itu memutar kepalanya  melirik ke arah Alana. ia sejenak memperhatikan Alana dari ujung kaki hingga kepala. Alana tersenyum dan menganggukan kepalanya kepada wanita itu. namun, wanita itu malah acuh dan berlalu begitu saja. Alana hanya mengernyit heran.


"Aneh sekali, aku sedang bertanya, dia malah diam saja," gerutu Alana.


Alana keluar dari toilet, ia melihat ke setiap sudut kantor perusahaan Papa Gio. ini pertama kalinya, Alana pergi ke kantor Papa Gio. tidak sedikit orang penting yang saat itu berada di sana.


"Wanita yang bekerja di sini cantik-cantik sekali," gumam Alana dengan kedua mata yang tak lepas memperhatikan setiap wanita dengan balutan blazzer dan rok mini yang melintas  di hadapannya.


"Pantas saja, Ken betah."


Alana berdiri di depan lift sambil  menunggu pintu lift terbuka. dan saat pintu lift terbuka, Alana segera masuk ke dalam sana dan menekan tombol angka tiga. saat sudah berada di lantai 3 di sana banyak sekali orang yang sedang bekerja. bahkan, Alana menjadi sorotan semua orang yang ada di sana.


"Permisi, Nona. ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang wanita yang memakai kacamata  yang saat ini menghampiri Alana. wanita itu memperhatikan Alana dari atas hingga bawah.


"Kenapa semua orang memandangiku seperti itu?" gumam Alana dalam hati.


"Ehm, ruangan Tuan Ken di mana?" tanya Alana.


"Ada kepentingan apa, Nona? Tuan Kendrick sedang ada pertemuan penting dengan Client," ujar wanita itu. ia tak henti memperhatikan Alana dengan tatapan yang penuh curiga.


"Kenapa dia memandangku sampai seperti itu?" gumam Alana kembali.


"Iya, saya tau. makanya, saya di suruh menunggu di ruangannya," ujar Alana.


"Tapi, Nona. saya istrinya Tuan Ken!" ujar Alana.


"Ada apa sepagi ini ribut-ribut?" seorang wanita menukas pembicaraan mereka berdua. wanita itu memandang Alana dengan tatapan sinis dan tidak suka.


"Ini, kan. wanita yang di toilet tadi?" gumam Alana dalam hati.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Selamat pagi, Nona Vannya. ehm,  Nona ini sedang mencari Tuan Kendrick," tutur wanita berkaca mata itu. sepertinya, wanita yang di sebut dengan nama Vannya itu begitu di  segani di sini. Alana melihat name tag yang melekat di baju wanita itu. Name tag itu bertuliskan nama


Vannya Elberg


General Manager.


"Oh, wanita ini General Manager di sini," gumam Alana.


Vannya berjalan mendekati Alana.


"Ada kepentingan apa? hingga sepagi ini anda membuat keributan di kantor kami?" tanya Vannya kepada Alana sambil melipat kedua tangannya.


"Astaga, aku membuat keributan ya? aku kan sudah berjanji kepada Ken tidak akan membuat keributan," gumam Alana dalam hati.


"Saya hanya sedang menunggu Tuan Ken selesai meeting saja, Tuan Ken menyuruh saya menunggu di ruangannya," ujar Alana.


"Tidak ada yang bisa sembarang masuk ke  ruang owner, saya mohon dengan sangat. jangan membuat keributan! kami di sini sedang bekerja!" ujar Vannya.


"Oh, baiklah. maaf, apa saya boleh menunggu Ken. maksudku Tuan Ken di sini?" tanya Alana.


"Lebih baik, Nona tunggu di lobby utama. karna ini bukan tempat umum!" ucap Vannya dengan nada suara yang tidak enak di dengar.


"Baiklah, aku akan menunggu di lobby, terimakasih." Alana segera berlalu dari sana dan turun ke lobby menggunakan lift.


"Kenapa semua orang tidak ada yang menyukaiku?" gumam Alana dengan raut wajah yang bersedih.


Alana duduk di sofa yang ada di lobby utama. ia merogoh tas untuk mengambil ponsel miliknya. karna ia ingin mengirim pesan kepada Ken. namun, Alana tak menemukan ponsel miliknya di dalam tas tersebut.


"Di mana ponselku?" ucap Alana dengan kebingungan.


"Astaga, sepertinya tertinggal di tempat tidur." Alana menghela napas dengan kesal dan menepuk dahinya.


Alana masih menunggu Ken di tempat yang sama. namun rasa bosan, melanda dirinya.


"Apa Ken masih lama?" gumam Alana yang sedari tadi tak henti memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Nona, permisi. apa anda bisa pindah tempat sebentar. karna kursinya mau saya pakai untuk mengobrol dengan tamu," perintah seorang laki-laki yang kini tiba-tiba ada di hadapan Alana. Alana menggerutu kesal dalam hati. namun, ia terpaksa mengiyakannya dan beranjak pergi dari tempat yang saat ini ia duduki. Alana begitu bingung harus duduk di mana lagi. tidak mungkin jika dirinya harus menunggu Ken dengan  berdiri seperti ini.


Alana berjalan ke luar kantor. dan melihat di dekat pos security ada kursi panjang yang ia rasa bisa untuk ia duduki. Alana mendekati kursi itu dan duduk di sana.


"Lebih baik menunggu di sini saja,"  gumam Alana seraya mengipas-ngipaskan tangannya ke arah wajah karna merasa kegerahan.


***


Ken baru saja selesai kembali dari meetingnya. ia turun ke lantai tiga dan berjalan menuju ke ruangannya. semua pegawai yang melihat Ken memberi sambutan hangat kepadanya. namun, Ken hanya mengangguk tanpa memberi senyum sedikitpun. Ken segera masuk ke dalam ruangannya, namun, ia tidak mendapati Alana di sana.


"Ke mana Alana? aku tadi menyuruhnya menunggu di ruanganku bukan?" Ken keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan Papa Gio yang letaknya bersebelahan dengan ruangannya. namun, ia tak mendapati Alana juga di sana. Ken mencoba menghubungi Alana. namun, Alana sama sekali tak mengangkat ponselnya hingga membuat Ken kebingungan.


"Selamat siang Tuan Kendrick. apa anda sedang membutuhkan sesuatu?" Vannya berjalan mendekati Ken yang sedang kebingungan.


"Tidak!" jawab Ken dengan singkat. ia berlalu melewati Vannya begitu saja. namun, kedua langkah kaki Ken terhenti dan berbalik arah ke Vannya.


"Nona Vannya, apa tadi istri saya ke mari?" tanya Ken.


"Istri?" Vannya mengernyit kebingungan.


"Iya istri saya, namanya Alana. apa dia kemari?" tanya Ken.


"Anda sudah menikah, Tuan?" Vannya bertanya seolah itu ialah hal yang begitu mengejutkan baginya. Ken mengernyitkan dahinya dan berlalu meninggalkan Vannya karna merasa kesal.


"Aku sedang bertanya, malah bertanya balik." Ken menggerutu dan segera turun ke lobby menggunakan lift.


Beberapa karyawan wanita tiba-tiba merapat mendekati Vannya.


"Nona Vannya, Tuan Ken sudah menikah?"


"Entahlah, yang aku tau, Tuan Ken belum menikah. tapi, dia mencari istrinya. katanya istrinya di sini!" ujar Vannya.


"Atau jangan-jangan wanita tadi istrinya Tuan Ken?"


"Tidak mungkin. jika wanita tadi istrinya, selera Tuan Ken tidak rendahan seperti itu. aku saja yang cantik seperti ini susah sekali mendapat perhatiannya. apalagi wanita tadi," ujar Vannya dengan penuh percaya diri.


"Kalau benar wanita tadi istri Tuan Ken bagaimana, Nona?"


Vannya hanya diam dan mulai gelisah, "Mana mungkin, wanita tadi istri Ken?" gumamnya sambil menelan ludah.


***


Saat di lobby, kedua mata Ken menyusuri setiap ruangan yang di sana untuk mencari Alana. namun, ia tak mendapati Alana di sana. ia bertanya kepada receptionist. namun, receptionist juga tidak tau mana wanita yang di maksud oleh anak dari pemilik perusahaannya tersebut.


"Ke mana dia?" Ken mendesah frustasi.


"Ken..." tiba-tiba suara teriakan Alana begitu melengking di telinganya. Ken memutar tubuhnya ke asal suara tersebut. ia melihat Alana tengah berjalan cepat menghampirinya.


"Astaga... kau..." Ken menggeleng kepalanya. Alana seketika langsung memeluk Ken tanpa sungkan.


"Ken, kau lama sekali..." ucap Alana dengan suara manjanya. rasanya Ken sangat menyukai suara Alana yang seperti itu. Ken melepaskan pelukan Alana dan menatapnya dengan tajam.


"Kau dari mana saja? apa kau tau aku sedang mencarimu? aku kan sudah bilang setelah dari toilet tunggu aku di ruanganku! kenapa kau malah pergi-pergi? dan kenapa kau berkeringat seperti ini. kau dari mana saja?" tanya Ken dengan ketusnya sembari mengusap keringat Alana yang bercucuran di dahinya.


"Maaf, Ken. aku tadi duduk di pos security menunggumu. tapi, semakin lama aku semakin merasa gerah di sana. ya sudah aku masuk lagi saja kemari. dan ternyata aku tidak sengaja melihatmu di sini." Alana melebarkan senyumnya.


"Kenapa menunggu di pos security? aku kan sudah bilang tunggu aku di ruanganku. apa kau tadi tidak mendengarkanku?" seru Ken.


"Aku mendengarkanmu! aku tadi sudah ke lantai tiga. emmmm,  tapi, aku  ingin saja menunggu di sini, karna di atas sangat membosankan," ucap Alana dengan menghindari kontak  mata Ken yang menunjukan bahwa wanita itu sedang berbohong. Ken bukan orang  yang mudah di bohongi apalagi dengan istrinya yang sama sekali tidak pandai bebohong itu.


"Ayo ikut aku ke ruanganku." Ken manarik tangan Alana dan mengajaknya untuk naik ke lantai tiga.


Dan saat dirinya dan Alana sudah sampai di lantai tiga, Ken pun mendekati semua pegawainya termasuk Nona Vannya. mereka semua membulatkan kedua matanya saat melihat Ken kembali bersama Alana. wanita yang mereka anggap asing tadi.


"Nona Vannya. apa anda tidak memiliki sopan santun,  hingga menyuruh istri saya menunggu di lobby?" suara Ken memecah seluruh ruangan itu hingga membuat seluruh karyawan heboh ingin menyaksikannya.


"Ken..." Alana menarik tangan Ken.


"Diamlah!" perintah Ken.


"Tu-tuan Ken?" Vannya menatap Alana dan Ken secara bergantian.


"Ma-maaf, Tuan Ken. saya tidak tau kalau Nona ini istri anda, karna Nona ini tadi tidak memberitauku," ujar Vannya dengan raut wajah yang ketakutan.


"Kalaupun anda tidak tau jika dia istri saya. tapi anda tau jika dia sedang menunggu saya? setidaknya anda bisa menyuruhnya untuk menunggu di sini, kenapa harus menyuruhnya menunggu di lobby?" Ken semakin mengeraskan suaranya.


"Ken, sudah. aku sendiri tadi yang minta menunggu di lobby!" seru Alana.


"Ayo-ayo kita masuk ke ruanganmu." Alana menarik paksa tangan Ken untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Alana, kau juga tidak sopan! aku sedang berbicara dengan karyawan Papa. kenapa ka malah menarik-narik tanganku seperti ini!" seru Ken.


"Ken, Nona Vannya tidak tau. sudahlah, hanya hal kecil saja, jangan marah-marah. nanti kau cepat tua." Alana menggiring suaminya tersebut untuk duduk di atas sofa dan mengelus - elus dada Ken.


"Kau kenapa tadi tidak bilang kalau kau istriku? kenapa kau begitu bodoh sampai mau menunggu di bawah. apa susahnya berbicara?" seru Ken.


"Maaf, Ken. aku tidak mau membuatmu malu. kan aku sudah janji tidak membuat keributan di sini. sudahlah lupakan saja."


"Kau sama sekali tidak pernah membuatku malu!" suara terendah Ken membuat hati Alana semakin tak karuan.


"Tapi, aku tetap saja tidak suka dengan mereka yang memperlakukanmu tidak sopan?" suara Ken kembali mengeras.


"Sudah-lah, Ken. jangan marah-marah!  lihatlah nanti wajahmu semakin tua! nanti kalau kita punya anak. bisa-bisa dia mengira kau ini kakeknya," Alana berbicara dengan di selipi tawanya yang begitu keras sambil membayangkan apa yang baru saja ia katakan, bahkan, membuat Ken tak kuasa ikut tertawa.


"Sial, dia ini benar-benar membuatku gemas, selalu bisa saja membuatku ingin tertawa," gumam Ken dalam hari.


"Kau ini benar-benar menyebalkan." Ken memeluk Alana dengan begitu gemasnya.


.


.


.


.