
"Pakai seat belt-nya!" perintah Ken. tanpa mengiyakan Alana langsung mengenakan sabuk pengaman itu, Ken semakin menambah laju kecepatan mobilnya dengan begitu kencang, menuju ke bank bersama Alana. karna kebetulan sekali. jalanan saat itu sangatlah minim pengendara jadi membuat Ken bisa lebih leluasa mengenakan jalanan itu.
"Apa yang ingin dia tunjukan dengan membawa mobil ugal - ugalan seperti ini? sungguh menyebalkan." Alana menggerutu kesal dalam hati sembari melihat ke arah Ken. karna, semakin lama mobil yang di tumpangi oleh Alana semakin bertambah kecepatannya. mungkin Ken memang sengaja.
"Ya Tuhan, tolong lindungilah aku," gumam Alana dalam hati. ia berpegangan erat seraya melirik kembali ke arah Ken yang sedang fokus menyetir.
"Kenapa dari tadi melihatiku?" suara Ken membentak Alana dengan begitu menggelegar. hingga membuat jantung Alana hendak lepas dari tempatnya. seketika itu Alana langsung memalingkan wajahnya.
"Ti-tidak, siapa yang melihatimu, percaya diri sekali." Alana menyangkalnya.
Setibanya di bank, Ken menghentikan mobilnya di parkiran, ia terlebih dulu turun dari mobil tersebut. sedangkan Alana ia masih sibuk melepas Seat belt nya.
"Kenapa sulit sekali di buka?" gumam Alana, ia tak henti mencoba membuka pengait sabuk pengaman tersebut namun ia masih saja kesulitan.
"Kenapa kau masih di dalam? cepat turunlah!" perintah Ken.
"Seat Belt nya susah sekali di buka, Tuan." Alana masih mencoba membuka Selt belt itu. Ken pun membuka pintu mobil Alana.
"Pernah jadi orang kaya, tetapi, membuka seat belt saja tidak bisa, kampungan sekali," gerutu Ken seraya mengernyitkan dahinya. ia mencoba membuka sabuk pengaman yang masih melilit tubuh Alana. hingga membuat jarak di antara mereka begitu dekat.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Ken.
"Ya mana ku tau, apa kau ada gunting?" tanya Alana.
"Untuk apa?" tanya Ken.
"Untuk memotong ini," ucap Alana.
"Bicara sembarangan saja!" seru Ken. ia kembali mencoba membuka pengaitnya.
"Apa kau tidak bisa? Kenapa begitu saja lama sekali," gerutu Alana dengan kesalnya. hingga membuat Ken menatap tajam kedua mata wanita itu. Alana pun membungkam dan mengalihkan pandangannya. Ken dengan susah payah mencoba melepas pengait sabuk pengaman tersebut, dan tak lama kemudian sabuk pengaman itu terlepas. dan Ken memperhatikan ujung pengaitnya.
"Kenapa pengaitnya jadi sulit dilepas seperti ini?" Ken memperhatikan ujung pengait pada seat belt tersebut.
"Ya mana ku tau!" saut Alana.
"Aku tidak berbicara denganmu!" seru Ken dengan menatap tajam Alana.
"Serba salah. jelas - jelas di sini hanya ada aku, dan dia berbicara di depanku," gerutu Alana. ia pun turun dari mobil tersebut.
"Sudahlah, nanti akan ku perbaiki," gumam Ken. ia menutup kembali pintu mobil itu.
"Ayo," ajak Ken masuk ke dalam bank itu dengan berjalan mendahului Alana.
Alana dan Ken menemui staff bank, Ken melunasi semua sisa hutang Tuan Holmes untuk menebus sertifikat perusahaannya. sesuai prosedur, sebagai perwakilan Ayahnya, Alana menandatangani beberapa surat pernyataan yang telah di berikan oleh pihak bank tersebut. lalu, saat di tengah pembicaraan dengan pihak bank. tiba - tiba ponsel Alana berbunyi dengan begitu nyaring. ia berpamitan keluar dari ruangan untuk mengangkat ponsel tersebut. dan tak lama kemudian ia menghampiri Ken dan menarik tangannya, agar ikut keluar dari ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Ken sembari mengernyitkan dahinya.
"Tuan Ken, aku permisi harus kembali ke rumah sakit dulu. karna baru saja perawat menelponku, katanya Daddy daritadi mencariku," ujar Alana dengan sedikit panik. ia takut jika ada suatu hal yang buruk terjadi dengan Ayahnya.
"Tunggu sebentar, biar ku antar," kata Ken.
"Tidak usah. aku pergi naik taxi. lebih baik kau tunggu sertifikatnya saja di sini, aku sudah menandatangani semuanya, aku pamit dulu, kita bertemu besok lagi, aku akan menunjukan perusahaan Daddyku kepadamu," kata Alana dengan terburu - buru meninggalkan Ken.
"Hey tunggu," teriak Ken. namun Alana tak menghiraukannya. rasanya percuma, Ken pun menghela napas dan masuk kembali ke dalam ruangan itu. setelah itu, Ken mendapatkan bukti pelunasan hutang. dan pihak bank menyerahkan sertifikat itu kepada Ken. dan Ken sesegera mungkin pergi dari sana.
***
Alana, baru saja tiba di rumah sakit dengan menumpangi taxi. ia memberikan beberapa lembar uang kepada sang pengemudi taxi itu. lalu, ia buru - buru masuk ke dalam rumah sakit menemui Ayahnya. raut wajah Alana terlihat begitu panik. hingga membuat keringat mengguyur deras di wajahnya. setibanya di ruang rawat Ayahnya, Alana langsung masuk. dan di sana, ia melihat Ayahnya sedang bersama dengan perawat. lalu, perawat itu pamit pergi kepada Alana.
"Daddy, Daddy kenapa? apa Daddy baik - baik saja?" tanya Alana dengan begitu paniknya.
"Daddy baik - baik saja, Nak." Holmes tersenyum. Alana menghela napasnya dengan begitu lega.
"Lalu, tadi kata perawat rumah sakit, Daddy mencari - cari Alana? ada apa, Daddy?" tanya Alana.
"Daddy hanya merindukanmu saja, sayang." Holmes tersenyum dan mrengkuh tangan anak gadisnya itu.
"Astaga, Daddy. apa Daddy tau? Alana sangat khawatir. Alana begitu takut dan mengira, kalau Daddy kenapa - kenapa," ucap Alana dengan sedikit gemetar.
"Maafkan Daddy, sudah membuatmu khawatir," tutur Holmes.
"Tidak, Daddy. tidak apa - apa." Alana menggeleng - gelengkan kepalanya dengan tersenyum.
"Kau darimana, Alana?" tanya Holmes.
"Daddy, Alana sudah melunasi semua sisa hutang Daddy," imbuh Alana dengan melebarkan senyumnya.
"Benarkah, Nak?" raut wajah Holmes begitu sumringah seakan tak percaya.
"Iya, Daddy. Alana sudah mendapatkan sertifikat perusahaan keluarga kita kembali, jadi perusahaan itu tidak akan di sita," tutur Alana.
"Kau dapat uang sebanyak itu dari mana, Nak?" tanya Holmes. Alana membungkam seketika.
"Alana--"
"Alana, bicaralah," perintah Holmes dengan penasaran.
"Calon suami Alana yang sudah melunasi semua hutang Daddy," ujar Alana dengan nada pelan.
"Calon suami?" tanya Holmes. Alana menganggukan kepalanya.
"Tidak! kamu pasti bercanda, kan, Nak?" tanya Holmes.
"Alana tidak bercanda Daddy, Alana akan segera menikah," ucap Alana. ia memaksakan senyumannya di depan Ayahnya tersebut. Holmes mencoba beranjak duduk dan menyandarkan sebagian tubuhnya di sandaran pembaringan dan dibantu oleh Alana. tangan kanan Holmes bergerak dengan susah payah menyentuh lembut pipi Alana.
"Alana, bicara yang jujur dengan Daddy. Daddy ingat betul, kamu ingin sekali, menikah di usia 27 . lalu, kenapa kamu tiba - tiba mau menikah? dan siapa calon suamimu, Nak?" tanya Holmes.
"Ehm, calon suami Alana--"
"Saya calon suaminya Alana, Paman." suara seseorang tiba - tiba menukas dan menyentak telinga ayah dan anak itu. hingga membuat Alana dan juga Holmes menoleh ke asal suara itu. Alana begitu terkejut saat melihat Ken tiba - tiba berada di sana.
"Sedang apa dia kemari?" gumam Alana dalam hati. seraya meletotokan kedua matanya kepada Ken. ia takut, jika Ken berbicara yang macam - macam kepada ayahnya dan membuat ayahnya Anfal kembali.
"Paman, saya akan menikahi anak, Paman." Ken berjalan mendekati Alana dan juga Ayahnya.
"Nak, Ken." Holmes menyapa dengan menepiskan senyumannya. Ken pun membalas senyuman laki - laki itu.
"Kau akan menikahi anak Paman dan menjaganya, Nak?" tanya Holmes. Ken melirik ke arah Alana. namun, Alana mengalihkan pandangannya dengan tidak suka.
"Iya, Paman. saya akan segera menikahi Alana dalam waktu dekat ini. dan ini, sertifikat perusahaan milik Paman." Ken menyodorkan sertifikat itu kepada Holmes.
"Kau melunasi semua hutang Paman, Nak?" tanya Holmes dengan mata berkaca - kaca seolah tak percaya. Ken pun mengiyakannya dan Holmes dengan begitu bahagianya mengambil sertifikat itu dan berterimakasih kepada Ken.
"Daddy, Alana pinjam sertifikatnya, sebentar, ya." Holmes mengiyakannya. dan Alana menyaut sertifikat itu dari tangan Ayahnya.
"Ayo ikutlah denganku!" tiba - tiba Alana menarik kasar tangan Ken hendak mengajaknya keluar dari ruangan itu.
"Alana, Kau mau mengajak Ken kemana, Nak?" tanya Holmes.
"Ke depan sebentar Daddy," saut Alana dengan berjalan menarik tangan Ken keluar dari ruangan itu.
"Lepaskan, kenapa kau menarikku seperti ini?" seru Ken seraya menarik tangannya dari Alana.
"Kau sedang apa kemari?" tanya Alana dengan melototkan kedua matanya.
"Aku ingin berbicara kepada Ayahmu saja," jawab Ken.
"Kau tidak perlu bicara apa - apa dengan Daddyku, pergilah dari sini! dan tolong ini simpanlah dulu," perintah Alana. dengan memberikan sertifikat itu kepada Ken lagi.
"Kenapa kau mengusirku?" tanya Ken.
"Aku tidak mengusirmu, aku hanya menyuruhmu pergi dari sini!" seru Alana.
"Apa bedanya gadis bodoh."
"Pergilah, jangan menambah masalah di sini! biar aku yang berbicara semuanya kepada Daddyku!" seru Alana.
"Baiklah, aku akan masuk sebentar dan berpamitan kepada Ayahmu," ucap Ken hendak masuk kembali ke dalam. saat Ken hendak membuka gagang pintu kamar itu, tiba - tba Alana menariknya kembali.
"Tidak usah. cepat pergilah sekarang!" perintah Alana. Ken pun berdecak dan segera pergi dari sana. tanpa berpamitan.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa, Like dan votenya