
Kata - kata yang di ucapkan oleh Ken seolah menyiratkan begitu penuh makna hingga membuat hati Alana terenyuh saat mendengarnya. Alana menjadi tenang, ia membalas pelukan Ken dan mengeratkannya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu." hati Ken berulang-kali berkata seperti itu. ketika melihat Alana menangis rasanya ia juga ikut tersiksa. entah kenapa bisa gitu. bahkan, ia sendiri tak mengerti.
"Sudah, jangan menangis. untuk apa kau menangis? cengeng sekali!" Ken melepas pelukannya dan mengusap kembali wajah istrinya yang masih di banjiri air mata.
"Tidak... siapa juga yang menangis?" Alana menyangkal dan mengusap wajahnya menggunakan kedua lengan tangannya.
"Kalau tidak menangis lalu ini apa? air hujan?" seru Ken.
"Aku sebenarnya tadi tidak menangis. tapi gara - gara ada dirimu aku jadi menangis, kan!" bantah Alana.
"Kenapa memangnya dengan diriku?" Ken mengernyit bingung.
"Tidak apa-apa, sudah lupakan!" Alana mendudukan tubuhnya di kursi panjang dan di ikuti oleh Ken yang ikut duduk di sampingnya.
"Mana kuenya?" Ken menagih kue yang tadi sempat ia minta buatkan kepada Alana. Alana menepuk dahinya karna melupakan permintaan suaminya itu.
"Jangan bilang kau tidak membuatkannya?" Ken menaikan salah satu alisnya dengan suara yang terdengar sedikit kesal.
"Maaf, aku memang belum membuatkan kue untukmu. aku kira kau tadi pulang sore," ujar Alana.
"Aku kan bilang tidak akan lama, aku hanya menemui client untuk membicarakan masalah kerja sama saja." Ken melipat wajahnya berpura - pura sedang kesal terhadap istrinya itu.
"Aku akan membuatkannya sekarang. tunggulah di sini."
"Tidak, usah! aku sudah kehilangan selera." Ken melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya.
"Begitu saja marah! jangan suka marah nanti wajahmu terlihat semakin tua!" Alana mengusap wajah Ken dengan telapak tangannya. namun, Ken hanya diam saja dan semakin menggarangkan wajahnya. bahkan, membuat Alana semakin kebingungan di buatnya.
"Ken?" Alana memanggilnya. namun tetap saja, Ken tak menghiraukannya. Alana menarik lengan Ken dan hendak menggigitnya.
"Jangan menggigit!" Ken dengan cepat menarik balik tangannya yang hampir saja di gigit oleh Alana.
"Kenapa kau suka sekali menggigit!" dengus Ken.
"Makanya, jangan marah! aku akan membuatkan kue untukmu."
"Ya sudah cepat buatkan sana!" seru Ken.
"Baiklah, tunggulah sebentar di sini!" Alana beranjak berdiri dan sejenak merapikan bajunya yang sedikit terlipat.
"Buatkan kue yang enak! kalau tidak enak aku akan membuangnya!" ketus Ken. Alana yang mendengar begitu kesal di buatnya.
"Jika enak dan kau bilang tidak enak... aku akan menumpahkan seluruh adonan kue ke wajahmu!" Alana berlalu pergi dari sana dengan bibir yang menggerutu kesal karna suaminya. sementara Ken hanya bisa terkekeh melihatnya.
"Hanya gadis bodoh itu, satu-satunya wanita yang berani berbicara seperti itu kepadaku!" Ken tersenyum dan memperhatikan istrinya yang sedang berjalan keluar meninggalkannya itu. seakan ia memiliki ketertarikan tersendiri kepada Alana.
Alana pergi ke dapur yang ada di dalam toko kue miliknya. ia melekatkan apron berwarna putih di tubuhnya dan mulai menyiapkan bahan - bahan kue yang hendak ia baking.
Felly yang memperhatikan Alana sedang sibuk di dapur. ia segera menghampirinya.
"Nona, kau mau membuat apa?" tanya Felly yang membuat Alana tak bergeming akan aktivitasnya yang saat ini ia lakukan.
"Membuat kue." Alana tersenyum sembari mengayak tepung dan coklat bubuk agar tidak menggumpal nantinya.
"Biar saya bantu, Nona." Felly hendak mengambil alih pekerjaan Alana. namun, Alana menolaknya.
"Tidak usah, Nona Felly. kau tunggu di depan saja. karna aku ingin membuatkan kue ini spesial untuk suamiku." Alana melebarkan senyumnya dengan penuh keikhlasan. Felly membalas senyuman Alana yang begitu menyejukan jiwa. ia mengiyakan perintah Alana dan segera pergi dari sana membiarkan ownernya itu sibuk dengan keinginannya.
Alana mulai membuat kue red velvet yang akan ia buatkan spesial untuk Ken, ia terlebih dulu memasukan gula dan mentega ke dalam wadah dan mulai mencampurnya dengan menggunakan mixer. lalu, ia memasukan telur dan pewarna kue yang berwarna merah dan mencampurnya hingga warna itu tercampur rata. setelah itu, secara bertahap, ia memasukan tepung dan juga susu. hingga adonan yang mulanya kering kini sudah menjadi basah dan tercampur secara rata.
"Kenapa membuat kue saja lama sekali?" Ken tiba-tiba berdiri di belakang dan mengagetkan Alana.
"Kau mengagetkanku saja!" gerutu Alana.
"Ini adonan kue? kenapa seperti darah ayam begini?"
Ken menyentuh sebagian adonan itu dengan jari telunjuknya. dengan rasa jijik, ia mengusap ke baju Alana.
"Ken ..." sontak Alana berteriak dengan kesal saat adonan itu mengotori bajunya.
"Maaf, aku kira bajumu ini, lap." Ken menarik salah satu sudut bibirnya hingga membuat senyuman miring di sana.
"Pergilah dan tunggu di dalam sana. jangan mengacau di sini!" perintah Alana.
"Aku akan menunggu di sini. aku takut jika kau berbuat curang dan mencampurkan sesuatu ke dalam adonan kue ini!" seru Ken.
"Kalau saja ada racun aku ingin sekali mencampurkan ke dalamnya." Alana menggerutu dengan tidak jelas.
"Campurkan saja... jika aku mati kau sendiri yang akan menyesal." Ken menahan senyumnya. Alana hanya diam dan menatap Ken, seakan kata - kata yang baru saja ia dengar itu sangat menakutkan baginya.
"Kenapa melihat seperti itu? sini biar aku membantumu!" Ken mencoba meraih adonan itu.
"Tidak usah!"
"Tidak apa-apa!"
"Tidak usah!"
"Tidak apa - apa!"
"Tidak usah ya tidak usah! apa kau bisa diam sedikit saja? jika tanganmu ikut campur, bisa-bisa nanti kuenya akan menjadi basi!" seru Alana. Ken terpaksa diam dan hanya memperhatikan Alana yang sedang menuang adonan itu.
Felly yang kala itu sedang menunggu pelanggan di depan. hanya bisa menggeleng kepalanya dengan tersenyum saat mendengar perdebatan Alana dan Ken yang ia rasa begitu lucu.
***
Alana menuang adonan itu ke dalam paper cup yang sudah sempat ia siapkan di dalam loyang tadi. kemudian, ia mengisinya dengan isian nutella dan coklat. Ken mengernyit heran.
"Untuk apa di isi coklat seperti itu? mana enak?" tanya Ken.
"Enak... Sudah diamlah saja!" Alana dengan cepat menuang seluruh adonan itu ke dalam paper cup.
"Perhatikan timernya, jangan sampai kuenya gosong sedikitpun! jika gosong aku tidak akan mau memakannya." Ken berkomentar saat Alana hendak memasukan adonan kue itu ke dalam oven.
"Sekali lagi kau banyak bicara, kepalamu yang akan aku panggang ke dalam oven ini!" seru Alana. Ken menahan tawanya. rasanya ia begitu senang menggoda Alana. terlebih lagi melihat ekspresi wajah istrinya yang ia rasa sangat menggemaskan itu.
Setelah memasukan kue itu ke dalam oven dan mengatur timernya. Alana mengajak Ken kembali ke ruangannya sembari menunggu kue yang ia masak matang.
***
Ting
suara oven berbunyi saat di rasa waktu timer yang sudah di tetapkan oleh Alana sesuai.
Alana yang kala itu sedang asyik berbicara dengan Ken, segera beranjak pergi ke dapur untuk mengangkat kuenya. dan ternyata, Felly terlebih dulu membantu Alana untuk mengangkat kue itu dari dalam oven.
"Terimakasih, Nona Felly."
"Sama-sama, Nona Alana." Felly berpamitan meninggalkan Alana. Alana sibuk mengeluarkan cupcake yang begitu cantik itu dari loyang. bahkan aromanya begitu menggoda.
Alana memindahkan cupcake itu ke piring dan membawanya ke ruangan di mana Ken sedang menunggunta.
"Cupcakenya sudah jadi." Alana meletakan cupcake itu di atas meja yang ada di depan Ken. Ken mengendusnya. aroma legit kue itu menari - nari di indera penciumannya, bahkan aroma kue itu mengalahkan wangi parfum termahal milikya sekaligus, hingga membuat laki - laki itu tak sabar untuk menikmati kue buatan istrinya tersebut
"Sebentar tunggu dingin!" kata Alana.
"Tidak apa - apa, biar aku makan." Ken menyaut cupcake itu dari tangan Alana dan segera memakannya.
"Ahh panas." Ken mengeluarkan kembali cupcake yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. terlebih lagi lelehan coklat yang ada di dalam cupcake itu menyakiti lidahnya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau masih panas sekali?" seru Ken.
"Aku kan sudah bilang kalau tunggu dingin sebentar. sudah tau baru saja keluar dari Oven. kau terburu - buru memakannya, seperti anak kecil saja!" seru Alana.
"Bilang saja kalau kau memang sengaja!" seru Ken.
"Sengaja apanya?"
"Astaga, Ken. rasanya aku ingin sekali bunuh diri jika berbicara denganmu." Alana menggerutu kesal. ia mengambil kue itu dan membelanya menjadi dua bagian. Alana meniup kue itu hingga terlihat asap tipis keluar dari sana. sementara Ken tak berkedip memperhatikan istrinya itu. saat di rasa kue itu sudah sedikit dingin. Alana menyodorkannya kepada Ken. namun Ken malah membuka mulutnya lebar - lebar.
"Ambil dan makan sendiri!" perintah Alana.
"Tanggung! cepat suapi aku. rahangku sakit!" perintah Ken berharap Alana segera memasukan kue itu ke dalam mulutnya yamg sudah menganga.
"Makan ini, makan!" Alana menyuapkan kue itu ke dalam mulut Ken hingga mulut suaminya kini terlihat penuh. Ken mengunyahnya dengan cepat. bahkan ia menghabiskan kue yang di buatkan oleh Alana hingga tak tersisa sedikitpun di atas piring.
"Enak kan kue buatanku?" tanya Alana berharap Ken mengiyakannya.
"Lumayan, karna masih bisa di makan." Ken menarik beberapa lembar tissue dan mengelap mulutnya. bahkan ia masih membersihkan sisa - sisa kue itu di mulutnya. Alana berdecak dengan kesal akan jawaban Ken yang tidak memuaskan hatinya.
"Ayo kita pulang," ajak Ken. Alana hanya diam dengan mengerucutkan bibir tipisnya.
"Aku kan bilang lumayan, bukan bilang tidak enak!" ujar Ken.
"Jangan cemberut! seperti bebek saja! ayo..." Ken beranjak berdiri nak menarik tangan Alana mengajaknya untuk pergi dari sana. Alana pun mengiyakannya. ia memgambil tas miliknya dan keluar dari ruangan itu untuk segera pulanh
"Oh iya, apa tidak ada kue lagi yang bisa di bawa pulang?" tanya Ken seraya melirik ke arah etalase yang masih terlihat beberapa cupcake di sana.
"Kau mau lagi?" tanya Alana. Ken mengiyakannya. Alana pun mengambilkan beberapa cupcake lagi untuk Ken dan membawanya pulang.
***
Mereka berdua berada di dalam mobil melakukan perjalanan menuju ke arah ruumah. Dan setibanya, Ken menghentikan mobilnya itu persis di halaman rumah. Namun kedua matanya dengan heran melihat sebuah mobil asing terpakir di halaman rumahnya juga. Dan tak lama setelah itu, ia melihat seorang laki - laki turun dari mobil itu.
"Siapa Ken?" tanya Alana.
"Kendrick..." laki - laki itu menyapa Ken dengan suara cadelnya. ia menghampiri Ken dengan melebarkan senyumnya.
Ken masih memperhatikan wajah laki - laki bertubuh tegap dan berisi itu. sekilas dari wajahnya, Ken tak mengenalinya. Namun, suara laki - laki itu begitu tak asing di telinganya. laki - laki yang saat ini ada di hadapannya tak lain ialah Adam, sahabat lama Kendrick yang sempat pindah ke Negara lain.
"Kau Adam?" tanya Ken dengan sedikit ragu. laki - laki itu membenarkannya.
"Astaga, aku kira siapa! Aku sampai tidak mengenalimu. Aku hanya mengenali suaramu saja. Haha... kapan kau kembali kemari?" Ken dan Adam saling memeluk satu sama lain.
"Aku di Irlandia sudah 3 minggu ini."
"Ayo masuklah dulu." Ken mengajak sahabatnya tersebut masuk ke dalam rumah dan Alana mengkutinya. Ken mempersilahkan sahabat lamanya itu untuk duduk. sementara Alana sendiri pergi ke dapur membuatkan minuman untuk suami dan tamunya itu.
"Kenapa tidak mengabariku kalau kau sudah kembali kemari?" tanya Ken.
"Aku kehilangan kontakmu, karna ponselku hilang. dan aku tadi mencari alamat rumah baru orang tuamu, lalu kata pembantu yang bekerja di rumahmu. kau sudah pindah di sini. makanya aku langsung mencarimu kemari," ujar Adam seraya mendudukan tubuhnya di atas Sofa.
"Iya, aku memang baru pindah di sini. senang bisa bertemu denganmu lagi. karna sudah bertahun - tahun lamanya kita tidak bertemu," tutur Ken.
"Iya, Ken. sepertinya aku akan menetap lagi di Irlandia."
"Wah, kabar baik."
"Iya, Ken. aku kemari sekalian ingin mengantar undangan pertunanganku. Kebetulan, minggu depan, aku akan melaksanakan pertunangan di gedung dekat sekolahan kita SMP dulu. ku harap kau bisa datang sekaligus kita reoni bersama teman - teman lama." Adam menyodorkan undangan itu Kepada Ken.
"Wah, kau akan bertunangan? tentu saja, aku pasti akan datang." Ken segera membuka isi undangan itu dan melihatnya.
"Oh, iya, Ken. Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Adam.
"Tidak!" saut Ken.
Saat di tengah percakapan mereka, Alana terlihat keluar dengan membawa dua jus jeruk di atas nampan. Ia menyuguhkan jus jeruk itu kepada Ken dan tamunya tersebut.
"Silahkan di minum, Tuan." Alana meletakan jus jeruk itu di depan meja Adam membuat Adam sedikit teralihkan perhatiannya saat melihat Alana.
"Terimakasih!" adam membari balasan Alana senyuman.
"Kenapa kau belum memiliki kekasih, Ken?" Adam melanjutkan pertanyaannya dengan mengernyit heran.
"Karna, aku sudah memiliki istri." Ken tersenyum dan melirik ke arah Alana.
"Kau sudah menikah? Dengan siapa?" tanya Adam.
Alana hendak pergi dari sana untuk kembali masuk ke dalam. namun Ken tiba - tiba menarik tangannya.
"Duduklah sini." Ken menyuruh Alana duduk di sampingnya hingga membuat Adam bertanya - tanya tentang Alana.
"Dia Alana, istriku." ujar Ken.
"Istrimu?" Adam begitu melebarkan kedua matanya.
"Iya, dia istriku. kita menikah sudah hampir dua bulan ini."
"Serius, Ken?" tanya Adam dengan memperhatikan Alana seolah tak percaya. Dan Ken membenarkannya.
"Aku kira, kau akan menikah dengan Valerie," ledek Adam. telinga Alana tersentak saat mendengar nama wanita itu. keingin tauannya tentang wanita yang bernama Valerie kembali mengusik dan bertanya - tanya di dalam hatinya.
Ken menajamkan kedua matanya kepada Adam seakan tak suka dengan perkataannya yang tak menghargai Alana yang saat ini ada di sampingnya.
"Maaf, aku hanya bercanda. Kenapa kau menikah tidak mengundangku?" tanya Adam.
"Aku hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat saja. lagi pula, aku tidak tau di mana dirimu," ujar Ken.
"Oh, okay baiklah... "
"Ehm, Ken. Aku masuk ke dalam dulu aku mau menemani Daddy." Alana berpamitan. Ken sejenak menatap Alana dan membaca raut wajahnya yang tiba - tiba nampak berbeda. Ken pun mengiyakannya dan Alana segera pergi dari sana.
"Istrimu sangat cantik dan muda sekali. aku kira dia adik sepupumu..." ujar Adam yang tak lepas memperhatikan Alana berjalan masuk ke dalam.
"Maksudmu dia tidak pantas menjadi istriku begitu?" tanya Ken.
"Bukan, Ken. maksudku dia hanya terlalu muda saja."
"Dan aku terlalu tua, begitu maksudmu?" seru Ken dengan kesal.
"Haha, ayolah Ken. kenapa kau jadi begitu Emosi?" Adam menepuk bahu Ken dan tertawa.
"Ken, awas kau jangan sampai lupa datang menghadiri pesta pertunanganku. karna semua teman kita termasuk Valerie juga aku undang." tutur Adam.
"Kau tidak perlu khawatir. aku pasti akan datang bersama istriku." Ken menanggapinya. mereka berdua kembali melakukan percakapannya dan mengenang masa sekolahnya dulu
***
Alana pergi ke kamar Holmes untuk mengajak Ayahnya tersebut mengobrol sejenak.
dan saat di rasa Ayahnya sudah lelah, Alana menyuruhnya kembali beristirahat. dan Alana kembali ke dalam kamarnya. Ia duduk bersandar dan berselonjor di atas tempat tidur. pikirannya kembali terbesit akan nama Valerie. nama itu begitu mengganggu pikirannya.
"Sebenarnya siapa Valerie itu? apa Ken mencintai wanita itu?" hati Alana seakan tak tenang dan begitu kacau di buatnya.
"Apa Jesslyn mengenal Valerie? lebih baik, besok aku menanyakannya kepada Jesslyn."
Alana begitu bersemangat untuk mencari tau tentang Valerie, namun, tiba - tiba Perkataan Caleey kembali terngiang di telinganya. Alana kembali merasakan sesak di dadanya. ia begitu sesak ketika mengingat perkataan Caleey yang menyebutkan bahwa Ken tidak pernah mencintainya. dan Alana membenarkan semua.
"Apa aku pantas untuk Ken?" Alana memejamkan kedua matanya dengan menarik napasnya yang sesenggukan.
"Jangan terlalu berharap, Alana."
Ceklek,
pintu kamar terbuka. dan terlihat Ken masuk ke dalam sana.
"Alana.." suara Ken membuat kedua mata Alana terbuka.
"Ken? temanmu sudah pulang?" tanya Alana dan Ken mengiyakannya.
"Kau kenapa?" tanya Ken.
"Tidak... tidak apa - apa," Alana mencoba tersenyum membuat semuanya baik - baik saja. rasanya sudah hal yang biasa Alana menyembunyikan perasaannya seperti ini.
"Aku lelah sekali." Ken langsung merebahkan tubuhnya di samping Alana dan memeluk perut istrinya tersebut. bahkan Ken tak sempat melepas jas dan juga sepatu kerjanya. Alana mengalihkan tangan Ken dari perutnya dan ia membantu Ken melepaskan sepatunya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Ken beranjak bangun hendak melepaskan sepatunya sendiri.
"Tidak apa - apa, biar ku bantu melepaskan..." Ken pun membiarkan Alana melepaskan sepasang sepatu fantovel yang masih membaluti kedua kakinya itu.
"Alana, minggu depan ingatkan aku, kita harus menghadiri undangan pertunangan Adam," ujar Ken.
"Kau mengajakku?" tanya Alana.
"Lalu mengajak siapa lagi kalau bukan dirimu? apa aku harus mengajak Bi Ester?" seru Ken dengan nada kesal.
"Ya kali saja kau ingin mengajak Bi Ester." Alana terkekeh mendengarnya.
***
"Alana, lihatlah wajahku! apa wajahku ini tua?" tanya Ken. Alana memegang wajah Ken dengan kedua tangannya. ia memperhatikan wajah Ken dengan begitu seksama.
"Ehmm..."
"Jawab yang jujur!" seru Ken.
"Ehmmmm.... "
"Kau tidak tua. hanya terlalu dewasa saja," kata Alana.
"Bilang saja kalau aku memang tua! mulai besok ubah penampilanmu!"
"Kau yang terlihat tua. kenapa jadi malah aku yang harus mengubah penampilanku?" seru Alana.
"Karna penampilanmu seperti anak SMA! jadi aku serasa terlihat lebih tua."
"Penampilanku daridulu memang seperti ini. bagaimana bisa aku berpenampilan tua sepertimu? Kenapa tidak kau saja yang mengubah penampilanmu? besok aku akan mengantarkanmu ke barbershop."
"Untuk apa ke barbershop?" tanya Ken.
"Memancing ikan!" seru Alana.
"Sudah tau babershop tempat untuk mencukur rambut masih saja bertanya untuk apa." Alana beranjak berdiri, dengan kesal ia menggerutu dan berlalu meninggalkan Ken ke dapur untuk membantu Bi Ester menyiapkan makan malam.
.
.
.
.
.
.
Oh iya temen-temen, minta tolong infoin dong...
barangkali salah satu dari kalian punya kenalan temen yang mirip doraemon tolong kenalin ke Nona yaaaa. barangkali punya alat buat nulis cepet tanpa pakai tangan wkwkwk