
"Hallo Tuan Holmes," sapa Gio.
"Tuan Gio, anda kemari?" Holmes menyapa balik. mereka berdua sejenak memeluk satu sama lain.
"Iya, Tuan Holmes. sudah lama kita tidak bertemu. maaf saya baru bisa menjenguk. karna saya baru tau kabar tentang anda dari putri saya. dan saya tidak menyangka. kalau Alana ternyata putri anda," ujar Gio. ia memandang Holmes dan Alana secara bergantian.
"Bagaimana keadaan anda, Tuan?" tanya Gio.
"Sudah lebih baik dari sebelumnya, Tuan Gio." Holmes tersenyum.
"Tuan Holmes, sebelumnya saya mau berterimakasih kepada anda dan juga Alana. karna anda sudah mau mempercayakan Ken untuk mengelola perusahaan Anda. dan berkat anda, anak perusahaan saya tidak terbelit masalah," ujar Gio.
"Saya yang seharusnya berterimakasih, Tuan. justru karna putra anda, perusahaan kami tidak jadi di sita oleh bank. dan Ken malah mau membantu saya untuk mengelola perusahaan itu kembali. saya sangat berterimakasih kepada anda dan Ken," kata Holmes seraya bergantian melihat Gio dan juga Ken. kemudian ia tersenyum kepada Ken.
"Paman, jangan berbicara seperti itu. di sini kita sama - sama saling membantu, bukankah sebentar lagi kita akan menjadi keluarga? Ken akan membantu perusahaan Paman agar bangkit kembali seperti semula," ujar Ken. Holmes pun tersenyum lega saat mendengarnya. rasanya, Holmes tak salah mengizinkan Alana menikah dengan Ken.
"Terimakasih banyak, Nak."
"Sama - sama, Paman." Ken pun tersenyum kepada Holmes.
"Bermuka dua sekali dia. tersenyum dan berpura - pura manis seperti itu," gumam Alana dalam hati seraya memperhatikan Ken. namun, Ken tak sengaja melihat Alana yang sedang memperhatikannya. ia pun langsung melototkan kedua matanya kepada wanita itu. hingga membuat Alana menelan ludahnya dengan sedikit takut.
Gio dan Holmes melanjutkan perbincangan mereka. Holmes juga menceritakan kepada Gio dan juga Ken awal mula perusahaannya terkena masalah dan musibah yang sempat menimpanya.
Sementara, Alana mengajak Merry keluar dari ruangan dan mengajaknya untuk duduk di ruang tunggu. mereka berdua pun mengobrol dan bercanda dengan begitu akrabnya, seolah Alana sudah mengenal Merry dengan begitu lama. karna, memang, Alana ialah orang yang sangat mudah sekali beradaptasi dengan orang lain. jadi tak heran, jika ia mengenal seseorang. ia langsung bisa terlihat akrab.
"Bibi, apa Jesslyn di rumah? kenapa dia tidak ikut kemari?" tanya Alana.
"Iya, dia di rumah, sayang. sebenarnya tadi Jesslyn ingin ikut. tetapi, Bibi melarangnya. karna, Bibi menyuruh Jesslyn dan Kimy untuk membantu persiapan pernikahanmu dan juga Ken," ucap Merry.
"Maaf, ya, Bibi. Alana tidak bisa membantu untuk mempersiapkan semuanya," kata Alana. ia menundukan kepalanya dengan tidak enak hati.
"Tidak apa - apa sayang, kau jaga Ayahmu saja. besok pagi, kami akan menjemputmu," ujar Merry seraya menyentuh lembut pipi Alana.
"Baiklah, Bi," jawab Alana dengan tersenyum.
***
Gio dan Merry berpamitan pulang kepada Holmes dan juga Alana. begitu juga dengan Ken. Alana mengantarkan mereka bertiga hingga ke parkiran mobil yang ada di halaman rumah sakit itu.
"Ken, apa kamu tidak ingin di sini dulu, Nak. menemani Alana?" tutur Merry.
"Tidak!" jawab Ken dengan memalas.
"Lagi pula, siapa juga yang mau di temani oleh laki - laki sepertimu," gerutu Alana dalam hati.
"Paman dan Bibi hati - hati, ya. terimakasih banyak atas kunjungannya," ucap Alana.
"Sama-sama, sayang. Paman dan Bibi pulang dulu, ya. sampai bertemu besok," kata Gio. ia dan Merry terlebih dulu masuk ke dalam mobil. namun, tidak dengan Ken. karna ia masih ingin berbicara dengan Alana.
"Ada apa?" tanya Alana.
"Besok jangan mempermalukanku. kau harus bersikap manis dan menuruti semua perintahku," seru Ken.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Alana dengan melototkan kedua matanya.
"Aku akan mencakarmu habis - habisan," seru Ken dengan penuh penekanan.
Merry terlihat membuka kaca pintu mobilnya
"Ken, ayo, sayang ..." panggil Merry.
"Sebentar, Ma." Ken menyautinya.
"Apa kau mengerti?" tanya Ken kembali kepada Alana.
"Tidak!" saut Alana dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. Ken langsung melototkan kedua matanya kepada Alana.
"Iya, iya. aku mengerti. sudah sana pulanglah!" perintah Alana. tanpa berpamitan, Ken pun berlalu meninggalkan Alana masuk ke dalam mobil.
Alana melambaikan tangannya. dan saat mobil yang di tumpangi oleh Ken dan calon mertuanya tersebut sudah tidak di jangkau oleh pandangan matanya. Alana pun masuk kembali ke dalam rumah sakit untuk menemani Ayahnya.
***
*Keesokan paginya.
Alana terlihat sudah rapi. ia duduk di depan meja rias yang ada di dalam kamarnya. tiba - tiba, air matanya mengalir dengan tidak sengaja hingga membasahi wajahnya.
"Aku tidak menyangka. jika hari ini aku akan menikah. menikah dengan orang yang sama sekali tak ku duga," gumam Alana dalam hati.
"Entahlah, aku begitu tidak bahagia dengan pernikahan ini. rasanya, aku sedang memulai kesialan yang panjang dalam hidupku," gumamnya kembali seraya memejamkan kedua matanya.
Tin ... Tin ... (Suara clackson mobil terdengar dari luar rumah) Alana cepat - cepat menghapus air matanya dan keluar dari sana. ia melihat sebuah mobil putih berhenti di depan rumahnya. kemudian kaca pintu mobil itu terbuka. dan terlihat Jasson di sana.
"Jasson," sapa Alana.
"Cepat naiklah, Mama menyuruhku untuk menjemputmu," kata Jasson tanpa memandang Alana.
"Baiklah, tunggu sebentar." Alana masuk kembali ke dalam rumah. ia mengambil tas jinjing miliknya yang ada di dalam kamar. kemudian, ia keluar rumah dan mengunci pintu rumah itu. lalu, ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Jasson. Jasson mulai menghidupkan mesin mobilnya dan langsung melajukan mobil tersebut menuju ke rumahnya.
"Jasson, maaf. aku jadi merepotkanmu, pagi - pagi begini harus menjemputku," kata Alana dengan tidak enak hati. namun, Jasson haya diam saja dan fokus mengendari mobilnya.
"Oh iya, Jasson. apa Jesslyn tadi sudah bangun?" tanya Alana. namun, Jasson tetap diam saja.
"Astaga. aku bingung dengan adik kakak ini. jika di tanya selalu saja diam seperti orang bisu. untung Jesslyn tidak seperti mereka berdua." Alana menggerutu kesal dalam hati.
***
Setibanya, Jasson menghentikan mobilnya di halaman rumah. lalu, ia turun terlebih dahulu dan masuk ke dalam rumah.
"Kenapa Jasson? biasanya dia masih mau berbicara dan bertegur sapa denganku, tapi kali ini?" gumam Alana dengan bingung.
"Ah sudahlah, dia dan Ken sama - sama anehnya. sulit sekali untuk di mengerti," gumam Alana kembali. ia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. kedua mata Alana terkesiap akan melihat dekorasi yang begitu cantik menghiasi setiap sudut rumah mewah milik calon suaminya itu. sangking takjubnya. Alana berjalan tidak fokus. bahkan, ia tak sadar kakinya terlilit kabel lampu hingga membuat dirinya hendak terjatuh. namun Ken dengan cepat langsung menopang tubuh Alana.
"Dasar bodoh. lain kali hati - hati! seperti anak kecil saja!" seru Ken.
"Maaf."
"Tuan Ken. apa - apaan ini? kenapa dekorasinya semeriah ini? bukannya acara pernikahan kita di gelar secara sederhana?" protes Alana.
"Jangan banyak bertanya dan protes. apa kau lupa dengan ucapanku kemarin?" seru Ken.
"Tapi, Tuan--"
"Aku bilang jangan banyak bicara!" tukas Ken.
"Di sini banyak lakban. kalau kau masih banyak bicara. aku tidak akan segan menambal mulutmu dengan lakban - lakban itu!" seru Ken. Alana pun langsung membungkam seketika. ia menatap tajam kedua mata laki - laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Kenapa melihatku seperti itu?" seru Ken. namun, Alana hanya diam saja. ia pun langsung berlalu meninggalkan Ken dan masuk ke dalam untuk mencari Jesslyn.
Dan saat Jesslyn melihat Alana, ia tak segan memeluknya. kemudian, Jesslyn mengantar sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu pergi ke kamar agar segera di rias.
Seusai di rias, Alana terlihat sangat begitu cantik dengan balutan gaun pengantin yang sempat ia beli di boutique waktu itu. terlebih lagi, polesan make up semakin mempercantik wajahnya. bak seorang putri dengan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya.
Alana berdiri di depan cermin dan memperhatikan pantulan dirinya yang sedang tersenyum di dalam cermin itu.
"Rasanya aku seperti putri, tapi sayang sekali tidak menikah dengan seorang pangeran," gumam Alana dengan sedikit kecewa.
"Alana?" Alana langsung menoleh ke asal suara itu. terlihat Jesslyn dan juga Kimy sedang berjalan menghampirinya. Jesslyn dan juga Kimy terlihat sudah sangat cantik dengan gaun pesta yang melekat di tubuhnya.
"Alana, kau sangat cantik sekali," puji Kimy dengan gemas. rasanya ia ingin sekali mencubit pipi Alana yang merah itu.
"Hey! jangan berani - berani merusak riasan Alana!" Jesslyn menarik rambut Kimy.
"Aw, Jesslyn. Aku kan hanya ingin menyentuhnya saja," Kimy memanyunkan bibirnya.
"Kakakku saja belum menyentuhnya. kau berani sekali ingin menyentuhnya," seru Jesslyn dengan melototkan kedua matanya kepada Kimy.
"Astaga, mereka ini berbicara apa, sih?" gerutu Alana dalam hati.
"Jesslyn sudahlah." Alana menghentikan Jesslyn agar tidak berdebat dengan Kimy. dan Jesslyn menuruti perkataan Alana.
"Alana, kau memang benar - benar terlihat sangat cantik sekali. Kakakku sungguh beruntung bisa menikah denganmu. coba saja hari ini yang menikah dengan Kakakku adalah Caleey. semua dekorasi rumah ini pasti sudah ku bakar sampai habis," ujar Jesslyn dengan begitu geramnya.
"Jesslyn, tidak boleh seperti itu," tutur Alana.
"Maaf, Alana. aku kesal saja terhadap saudaramu itu," ujar Jesslyn.
"Ehm, apa Kak Caleey pernah memiliki hubungan dengan Kakakmu, Jesslyn?" tanya Alana.
"Tidak pernah. Caleey yang menyukai Kakakku. bahkan dia sampai tergila - gila dengan Kakakku," kata Jesslyn.
"Benarkah?" tanya Alana seolah tak percaya.
"Ehem. bahkan keluarga mereka begitu licik. demi Caleey agar bisa menikah dengan Kakakku. Paman Afford memutuskan hubungan kerja secara sepihak dengan perusahaan milik Papa. agar Papa mau menyetuuhi permintaannya untuk menikahkan Caleey dengan Kakak, tapi keluarga Moen tidak sebodoh itu. sebentar lagi, sebuah tamparan keras akan terjadi," ujar Jesslyn dengan tersenyum penuh kemenangan.
Alana pun terkesiap saat mendengarnya.
"Astaga, kalau Kak Caleey sampai tau, aku menikah dengan laki - laki yang dia suka. dia pasti akan semakin membenciku," gumam Alana dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Maaf, ya, kemarin mau update tapi naskahnya hilang. jadi terpaksa aku ngetik ulang dari awal. T__T