
Keesokan sorenya, Alana dan Ken bersiap - siap untuk pergi melakukan rencana honeymoon di villa milik Papa Gio yang letaknya di dekat pegunungan. seharusnya, mereka berangkat pagi tadi. namun, Ken yang merasa lelah terpaksa mengulur keberangkatannya menjadi sore hari. wajah Alana sore itu benar - benar nampak tak bersemangat sedikitpun.
"Kita berlibur berapa hari, Ken?" tanya Alana seraya berdiri di depan Ken yang sedang duduk dan mengikat tali sepatunya.
"Tiga hari," jawab Ken sembari merapikan ikatan tali sepatunya.
"Lama sekali, apa tidak bisa satu hari saja? Kasian Daddy jika sendirian," ucap Alana.
"Paman Holmes akan baik - baik saja. ada Bi Ester dan perawat yang menemaninya," ujar Ken. Alana pun terpaksa menuruti apa perkataan suaminya tersebut. mereka berdua berpamitan kepada Holmes dan juga Bi Ester. ia menitipkan rumah tersebut kepada pembantunya itu.
Setelah itu, Mereka berdua berangkat dan melakukan perjalanan ke villa menggunakan mobil. perjalanan itu memakan waktu sekitar empat hingga lima jam lamanya. Alana berkali - kali menguap dan melihat jam yang melingkar di tangannya. jalanan akan tanjakan yang bergeronjal tidak rata itu, membuat duduk Alana semakin tidak nyaman.
"Apa masih lama?" tanya Alana.
"Sebentar lagi," jawab Ken dengan memofokuskan pandangannya ke depan.
1 hour later
"Apa masih lama?" Alana bertanya kembali sembari menguap hingga membuat kedua matanya berair.
"Sebentar lagi." jawaban yang sama di dengar oleh Alana hingga membuat dirinya kesal.
"Lama sekali, ini sudah hampir malam, aku sangat bosan," seru Alana. namun Ken hanya diam saja tak menghiraukan celotehan istrinya tersebut.
"Ken, kau tau apa tidak sih jalan menuju ke villa? dari tadi sebentar lagi, sebentar lagi. tapi tidak sampai - sampai. ini sudah hampir malam," seru Alana seraya mengerucutkan bibirnya.
"Kau ini banyak bicara, diam dan tunggu sebentar lagi! kalau kau masih banyak bicara aku tidak akan segan menurunkanmu di sini!" seru Ken.
"Kau mau menurunkanku? turunkan saja kalau berani!" saut Alana dengan begitu menantang. Ken seketika langsung menginjak rem mobilnya hingga membuat Alana terkejut.
"Ken, kenapa berhenti?" tanya Alana dengan panik. Ken hanya diam dan turun dari mobilnya. kini ia mulai membuka pintu mobil Alana.
"Ken, kau mau apa?" tanya Alana.
"Mau menurunkanmu di sini. kau pikir aku tidak berani? cepat turun!" Ken mencoba menarik tangan Alana dan menyuruhnya keluar dari mobil.
"Tidak mau, Ken. aku hanya bercanda tadi," ucap Alana. ia membulatkan kedua matanya dengan begitu takut, bahkan ia sendiri tidak menyangka bahwa suaminya benar - benar akan menurunkannya di jalanan yang di tumbuhi oleh pohon rindang dan lebat. hingga jalanan itu terlihat sangat gelap dan menakutkan bagi siapa saja yang melintasinya. terlebih lagi, langit kala itu sudah mulai gelap.
"Apanya yang bercanda? aku tidak suka bercanda. cepat turun!" seru Ken. ia menarik tangan Alana.
"Tidak mau, aku tidak mau! aku takut." Alana memeluk Ken berharap laki - laki itu mau mengampuninya dan tidak memaksanya untuk turun dari mobil.
"Lepaskan aku! cepat turun dari mobilku!" perintah Ken.
"Aku tidak mau, Ken. aku takut. aku hanya bercanda, tolong jangan turunkan aku di sini." Alana semakin mengeratkan pelukannya di perut suaminya tersebut. Ken hanya bisa terkekeh dengan usil melihat istrinya yang begitu ketakutan.
"Lepaskan!" Ken mencoba menjauhkan tubuhnya dari Alana.
"Tidak mau, nanti kau menurunkanku!" Alana semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalau kau tidak melepaskanku aku benar - benar akan menurunkanmu di sini!" Alana seketika itu langsung melepaskan pelukannya.
"Jangan turunkan aku ... aku benar - benar bercanda tadi." Alana memelaskan wajahnya hingga membuat Ken menahan keras agar tidak tertawa. Ken mengangkat dagu Alana dan mendekatkan wajahnya.
"Sekali lagi kau banyak bicara, aku tidak akan segan mengikatmu dan melemparmu ke dalam hutan ini biar di makan dan di cabik - cabik oleh binatang buas!" seru Ken.
"Tidak mau." Alana memejamkan matanya dan bergidik ngeri saat membayangkan apa yang Ken katakan baru saja.
"Aku akan diam. aku tidak akan banyak bicara lagi," Alana seketika itu langsung membungkam mulutnya rapat - rapat dengan kedua tangannya.
Ken menutup kembali pintu mobil Alana dengan menahan tawanya saat melihat raut wajah istrinya tadi. ia kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali mobil itu. Alana pun sedari tadi membungkam rapat - rapat mulutnya. karna ia takut, berbicara yang tidak - tidak. sesekali Ken melirik ke arah Alana yang tampak konyol di matanya.
"Gadis bodoh," Ken menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
***
Tak lama kemudian, mobil Ken berhenti di sebuah Villa dengan design bangunan kuno. Alana membuka kaca jendela mobil itu, kedua matanya menyapu ke seluruh bangunan villa itu.
"Apa ini villa milik Papa, Ken?" tanya Alana.
"Iya, cepat turun!" Ken terlebih dulu turun, kemudian, diikuti oleh Alana. lalu, seorang laki - laki dan perempuan paru baya yang tak lain penjaga villa itu menghampiri mereka berdua.
"Selamat malam, Tuan muda, Nona." penjaga Villa itu menyapa hangat kedatangan Ken dan juga Alana.
"Selamat malam juga, Bibi, Paman." Alana menyapa balik dengan melebarkan senyumnya.
"Silahkan masuk, Tuan Ken, Nona. kami sudah mempersiapkan makan malam dan tempat untuk beristirahat," ujar penjaga Villa itu.
"Terimakasih, Bi. permisi," Ken menarik tangan Alana dan mengajaknya masuk ke dalam villa itu.
Penjaga Villa itu menurunkan koper milik Ken. dan membawanya masuk ke dalam villa. Ken dan Alana menaiki anak tangga menuju ke kamar yang telah di siapkan oleh penjaga villa itu. dan saat kamar terbuka, banyak sekali kelopak bunga mawar yang bertaburan di sana. Bahkan, bau bunga mawar itu begitu semerbak menari - nari di indera penciuman Alana dan juga Ken. Alana menghirup dalam - dalam aroma dari bunga tersebut, lalu ia tesenyum di buatnya.
"Aku suka sekali." Alana dengan begitu girangnya masuk ke dalam sana. ia mendekati jendela dan sedikit membuka jendela itu. hingga udara malam masuk ke dalam sana. Alana menghirup dalam - dalam udara itu , bahkan bau tumbuhan dan tanah basah tercium begitu pekat di indera penciumannya. Ken berjalan mendekati Alana dan berdiri di sampingnya.
"Aku sangat suka, Ken. pasti kalau pagi pemandangan di sini sangat indah sekali," ujar Alana.
"Iya, memang, sangat indah sekali," jawab Ken sembari memperhatikan Alana yang tak henti menghirup udara yang masuk dari luar jendela itu. tiba - tiba ia tersenyum saat melihat istrinya tersebut. seakan ada kepuasan sendiri di kedua matanya.
"Kalau pemandangannya seperti ini, aku sangat betah, Ken." Alana menoleh dan melebarkan senyumnya di hadapan Ken.
"Hem, ayo makanlah dulu," ajak Ken. Alana mengiyakannya. mereka berdua keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk makan malam bersama. Alana dengan lahap menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh penjaga villa itu.
***
Seusai makan malam, mereka berdua kembali ke dalam kamar. Ken duduk di atas sofa sembari menikmati kopi yang baru saja di antarkan oleh penjaga villa milik Papanya. sementara, Alana, ia terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat berseri karna sehabis mencuci wajahnya yang sempat kusam akibat perjalanan panjang tadi. bahkan, ia sudah memakai mini night gown yang berjarak 5cm di atas lutut, hingga membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu menggoda. ia mendekati cermin rias dan mengeringkan wajahnya yang masih setengah basah dengan menggunakan handuk kecil berwarna cream.
Ken menyeruput kopi dan memperhatikan Alana dari sudut sana. kemudian, Alana, berjalan dan berdiri persis di depan sofa yang sedang di duduki oleh Ken.
"Ken, apa ada sesuatu yang bisa di baca atau di mainkan?" Alana bertanya sembari kedua natanya memperhatikan sekitar kamar itu.
"Tidak ada, duduklah kemari." Ken menarik tangan Alana dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
"Aku sungguh bosan," ujar Alana.
Ken mengambil cangkir kopi dan sedikit meminumnya. lalu, ia meletetakan kembali cangkir kopi itu ke tempatnya semula.
"Kau merasa bosan?" tanya Ken, Alana menganggukan kepalanya tanpa bersuara. tiba - tiba tangan Ken merengkuh pinggang Alana. dan menggeser tubuhnya lebih mendekat kepada istrinya itu. ia memperhatikan wajah Alana dengan begitu seksama.
"Ken, tanganmu." ucap Alana pelan dan ia mencoba menepiskan tangan Ken dari pinggangnya. namun rasanya sia - sia. Ken malah semakin mengeratkannya.
"Kenapa memangnya dengan tanganku?" tanya Ken. ia menggerakan satu tangannya untuk mengusap bibir Alana hingga membuat Alana kepanasan di buatnya.
"Untuk apa ke kamar mandi? Untuk menghindariku?" tanya Ken. Alana menggeleng kepalanya dan menelan salivanya dengan susah payah. Peluh itu berjatuhan membasahi dahinya.
"Aku hanya ingin kau memenuhi apa yang seharusnya aku butuhkan," ucap Ken.
"A-a-apa?" Alana begitu gelapan. demi apapun ia tidak pernah merasa kacau seperti ini di depan laki - laki. bahkan Darrel sekalipun.
Alana membulatkan kedua matanya dan tak berkutik saat bibir Ken tiba - tiba mencium dan melumatnya begitu saja.
"Ken." Alana kesulitan mencari cela untuk berbicara.
"Ken." Alana mencoba menjauhkan tubuhnya. namun, Ken tak menghiraukan Alana. ia masih sibuk menikmati bibir yang ia rasa begitu manis. Ken menggiring tubuh Alana ke tempat tidur dan menjatuhkannya di sana. Ia meninnndih tubuh Alana dan memperhatikan wajah cantik istrinya tersebut.
"Kita sudah menikah bukan?" tanya Ken.
"I-iya," Jawab Alana.
"Aku sudah berhak atas dirimu. aku ingin sekali melakukannya, apa aku boleh melakukannya?" tanya Ken seraya mengusap dahi Alana yang berkeringat. lagi - lagi, perkataan Ken seakan menghipnotisnya. Alana menggigit bibirnya dengan begitu bingung. lalu, kepalanya mengangguk pelan menandakan bahwa ia mengiyakan permintaan suaminya itu.
Bibir Ken kembali melumat dengan lembut bibir Alana. Alana mencoba membalas ciuman itu. namun rasanya ia begitu kaku di buatnya. karna memang dirinya tidak pernah berciuman sebelumnya.
Kini, bibir Ken mulai menggeluti leher jenjang Alana dan membuat beberapa tanda di sana. demi apapun, Alana begitu menikmatinya. tangannya mulai bergerilya menyusupi setiap jengkal tubuh Alana dari balik gaun itu.
Ken melepas baju yang kala itu masih membaluti tubuhnya. hingga membuat Alana melihat dengan begitu jelas tubuh kekar suaminya tersebut. lalu, Ken mencoba melucuti baju milik Alana, namun, tiba - tiba Alana menahan tangan Ken hingga membuat dahi suaminya itu mengerut kesal.
"Kenapa? Apa kau belum siap?" tanya Ken dengan nada yang sedikit kesal.
"Aku--"
Ken semakin mengernyitkan dahinya, ia mengira Alana tidak mau melakukannya sehingga ia mengurungkan niatnya.
"Pergilah!" seru Ken. Ia menjauh dari tubuh Alana dan hendak memakai kembali baju yang sempat ia lepas tadi.
"Ken, tunggu." Alana menggelayuti tangan Ken. namun Ken menepisnya.
"Keluar dari kamar ini dan tidurlah di kamar lain!" bentak Ken.
"Kenapa kau marah sampai seperti ini, Ken? Aku bukan belum siap. tapi aku hanya malu saja," ujar Alana. ia tak gentar menggelayuti tangan Ken. namun Ken hanya diam akan perasaannya yang masih kesal.
"Ken, bicaralah. ayo kita lakukan. tolong jangan marah."
"Ken, tolong jangan marah." dengus Alana. ia menatap sendu kedua mata Ken. hingga membuat Ken tak tega melihatnya.
"Aku sudah kehilangan selera, kita lakukan lain kali saja, aku ingin beristirahat." Ken merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi Alana.
"Ken?" Alana memanggil. namun, Ken sama sekali tak menghiraukannya dan mencoba memejamkan kedua matanya. Entah kenapa Alana begitu bersedih saat melihat Ken begitu marah dengannya.
"Ken? Ku mohon jangan marah." Alana memeluk Ken dari belakang.
Ken membuka kedua matanya dan memperhatikan tangan Alana yang sedang melingkar di dadanya. ia juga merasakan ada sesuatu yang basah di bahu kekarnya itu. Ken melepaskan tangan Alana dan menghadap ke arahnya.
"Kenapa menangis? begitu saja menangis." Ken mengusap air mata Alana.
"Tolong jangan marah. ayo kita lakukan! ini pertama kalinya bagiku, aku hanya malu saja, tolong percayalah." Alana mengisak dan mengusap kedua sudut matanya yang basah berharap suaminya tersebut percaya. Ken hanya terdiam dan menatap Alana.
"Ken bicaralah!"
"Tidak, aku tidak marah. sudah diamlah!" seru Ken.
"Kau sudah tidak marah?" tanya Alana.
"Kalau kau menciumku, aku tidak akan marah lagi," goda Ken. Alana hanya terdiam dengan bingung.
"Kenapa masih diam? Ayo!" perintah Ken. Alana pun mendekatkan bibirnya dan hendak menciumnya. Namun, Ken menahan tawanya hingga membuat Alana kesal.
"Kenapa kau malah tertawa? Apa ada yang lucu? aku tidak mau menciumu!" seru Alana dengan kesal.
"Ya sudah kalau kau tidak mau menciumku, biar aku saja." Ken kembali mencium dan melumat bibir Alana. Alana menggerutu kesal, namun, Ken tak menghiraukannya. Ken menarik gaun yang masih membaluti tubuh Alana. ia juga membuka semua pakaiannya, hingga kini mereka berdua tak memakai sehelai benang sama sekali di tubuhnya. Alana berkali - kali menutupi tubuhnya karna malu, namun, Ken menyingkirkan tangannya dan kini mulai meninndih tubuh Alana.
"Emm, Ken, sakit." Alana mendesis.
"Tahanlah sebentar," Ken mencium kembali bibir Alana agar mengurangi rasa sakit itu.
"Argh... " Ken tiba - tiba berteriak kesakitan.
"Aku yang merasa kesakitan kenapa malah kau yang berteriak?" tanya Alana.
"Kenapa kau menggigit bibirku?" seru Ken seraya memegangi bibirnya yang baru saja di gigit oleh istrinya tersebut.
"Sakit!" ucap Alana dengan begitu memelas.
"Aku tau. makanya diamlah!" seru Ken. bahkan ia melihat darah yang baru saja keluar dari bibirnya.
"Tau apa? Memang kau pernah merasakan jadi wanita?" seru Alana.
"Kau ini banyak bicara sekali, diamlah sebentar." Ken mulai melanjutkan niatnya kembali.
Tubuh Alana terhentak dengan kasar, ia memejamkan kedua matanya saat merasa suaminya itu semakin menyakiti dirinya di bawah sana.
"Ken." Alana mencengkram dan mencakar habis dada Ken dengan kukunya. hingga membuat bekas merah di sana.
"Kenapa mencakar menggunakan kuku? kenapa tidak sekalian menggunakan pisau saja?" Ken mendesis akan rasa perih bekas goresan kuku Alana di tubuhnya.
"Maaf, ini benar - benar sakit." Alana menyautinya dengan terkekeh.
***
Alana dan Ken merasakan gelayar baru di tubuhnya. Mereka sama - sama merasakan Kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Keringat mereka membaur menjadi satu akibat suasana panas yang di ciptakan oleh tubuh mereka berdua. Bahkan, suasana dingin yang menyelimuti villa itu membuat pasangan itu menghabiskan malam yang begitu panjang. hanya terdengar suara desahan dan deritan ranjang yang memecah isi kamar villa itu.
Ken melepaskan kenikmatan itu dan berkali - kali menciumi Alana yang sudah terlelap dan tak bertenaga.
.
.
.
.