
Keesokan siangnya, Alana sedang sibuk berada di dapur. Ia sedang memasak menyiapkan hidangan makan siang untuk Jesslyn dan yang lainnya dibantu oleh Bibi penjaga villa, karna dari tiga jam yang lalu, Jesslyn memberi kabar kepada Alana dan Ken, bahwa ia dan yang lainnya sudah dalam perjalanan menuju ke villa, mungkin mereka akan tiba sebentar lagi. Sementara Ken, Ia sedari tadi menemani Alana di dapur, rasa bosan berulangkali menyerangnya. Namun, karna rasa takutnya akan Darrel yang mendekati istrinya itu, ia pun rela menemani Alana berjam-jam di dapur.
"Kau tidak bekerja?" tegur Alana.
"Nanti saja..." saut Ken.
"Kenapa kau daritadi menungguku di sini? kau tidak bosan?" Alana mendudukan tubuhnya di kursi kosong yang ada di samping suaminya tersebut.
"Tidak... aku akan menunggumu sampai kau selesai memasak, aku takut nanti kau berbuat hal bodoh!" ujar Ken.
"Tidak, Ken. Aku tidak akan berbuat hal bodoh lagi, kau istirahatlah... kau sepertinya sangat lelah." Tangan Alana mengusap dahi Ken hingga ke puncak kepalanya.
"Aku tidak lelah, sudah masaklah sana!" perintahnya.
"Aku sudah selesai memasak." Alana tersenyum sambil membuka apron yang melekat di tubuhnya
Terlihat Darrel dan Felix menghampiri mereka berdua di dapur, di sana juga terlihat Lecya. Namun wanita itu hanya berdiri di depan pintu dan tak mau masuk ke dalam.
"Ken..." panggil Darrel.
"Sok kenal sekali..." umpat Ken dalam hati.
"Ada apa?" tanyanya.
"Mobilku sedang diperbaiki oleh montir, aku akan ke sana mengambil mobilku, apa aku boleh meminjam mobilmu sebentar?" tanya Darrel dengan sedikit sungkan.
"Hem, tunggulah." Ken beranjak berdiri. Ia hendak pergi ke kamar bermaksud mengambil kunci mobil miliknya. Namun, baru saja beberapa langkah meninggalkan dapur. Ken tiba-tiba kembali lagi karna terlupa akan Alana.
Ia menarik tangan istrinya itu, hingga wanita itu meninggalkan tempat duduknya. Ken sejenak melirik ke arah Darrel yang sedang memperhatikan Alana dan segera mengajak istrinya tersebut pergi ke kamar.
Setibanya di kamar, Ken mnyuruh Alana untuk duduk di tepi tempat tidur. "Tunggulah di sini, aku akan memberikan kunci mobilku kepada dia," perintah Ken. Alana menganggukan kepalanya.
Ken kembali menemui Darrel yang ternyata sedang menunggunya di ruang depan. Darrel sudah menadahkan tangannya, namun Ken malah meletakan kunci mobil itu di atas meja. Darrel oun segera meraih kunci tersebut.
"Terimakasih," ucap Darrel. Ken mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar.
****
Setengah jam berlalu, suara gaduh terdengar di depan villa. Alana yang kala itu sedang berada di dalam kamar bersama Ken segera menghampiri suara yang tak asing itu. Ken pun seketika terabaikan oleh istrinya.
Saat keluar dari kamar, Alana berpapasan dengan Laurrent dan juga Clara yang tengah membawa barang-barang mereka, rasanya mereka juga akan keluar karna sedang menunggu Lecya dan Darrel kembali.
"Kau mau ke mana Alana?" tanya Clara.
"Ke depan, permisi..." Alana berlalu meninggalkan dua orang wanita itu.
Alana mempercepat langkah kakinya, suara seorang wanita yang sudah bisa ia tebak memacu semangatnya. "Pasti Jesslyn dan Kimmy."
Alana meraih gagang pintu dan dengan segera membuka lebar pintu villa yang tertutup itu. Dan benar, ia melihat Jesslyn dan Kimmy baru saja turun dari mobil, mereka berdua terlihat sedang beradu mulut di sana.
"Jesslyn... Kimmy..." suara Alana menghentikan perdebatan meraka.
"Alana..." Kimmy dan Jesslyn berteriak dengan begitu girangnya. Ia berlari berebutan memeluk Alana. Teman yang sangat ia rindukan itu.
"Aku sangat merindukanmu..." Kimmy dan Jesslyn saling memeluk Alana dengan begitu gemasnya. Jesslyn pun menjauhkan tubuh Kimmy, sehingga dirinya lebih leluasa memeluk kakak iparnya itu.
"Jesslyn..." seru Kimmy dengan kesal.
"Aku merindukan kalian..." Alana tersenyum, ia juga merengkuh tubuh Kimmy. Kini tatapannya menuju ke arah Daven yang berjalan menghampirinya. Diikuti oleh Harry dan Jasson di belakangnya.
"Kakak..." Alana melepaskan pelukannya dengan Jesslyn dan Kimmy, dan memindahkan pelukan itu kepada adik kesayangannya.
"Daven, Kakak sangat merindukanmu." Alana menciumi wajah adiknya itu dengan tak malu.
"Aku juga sangat merindukanmu," ucap Daven.
"Hey... Minggirlah!" Kimmy tiba-tiba mendorong tubuh Daven. Namun tak membuatnya berpindah akan posisinya.
"Kenapa kau mendorongku?" seru Daven.
"Lihatlah, kaki gajahmu ini menginjak kakiku!" seru Kimmy.
"Oh maaf..." Daven terkekeh sambil menjauhkan kakinya dari Kaki Kimmy.
"Alana..." Sapa Jasson dan Harry, mereka juga ikut bergantian memeluk Alana.
"Aku senang sekali kalian semua kemari," kata Alana yang tak henti melebarkan senyuman diraut wajahnya, sebegitu bahagianya dia. Bahkan Jesslyn begitu senang melihat keceriaan yang terlukis di wajah sahabat sekaligus kakak iparnya itu, karna Jesslyn tau betul bagaimana kondisi Alana sebelum tinggal di villa. Bahkan setiap kali mengingatnya, rasanya Jesslyn ingin sekali menangis.
"Di mana Kakak?" tanya Jasson.
"Dia ada di dalam. Kalian masuklah, aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian," ujar Alana. Jasson, Harry dan Daven mengiyakannya. Ia berpamitan mendahului untuk masuk ke dalam Villa.
"Jessly, Kimmy, ayo kita masuk!" ajak Alana. Namun Jesslyn hanya diam saja dan menatapnya dengan tatapan haru.
"Jesslyn, kau kenapa?" tanya Alana.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang bisa melihatmu tersenyum lagi seperti ini." Jesslyn kembali memeluk erat tubuh Alana. Namun, senyuman di wajahnya tiba-tiba sirna seketika tatkala dirinya melihat dua orang wanita yang tak asing di kedua matanya keluar dari villa milik keluarganya tersebut. Ia melepaskan pelukannya dengan Alana dan menatap Clara dan Laurrent dengan tatapan tak ramah.
"Sedang apa kalian di sini?" Jesslyn meninggalkan Alana, langkah kakinya membawanya menghampiri kedua wanita itu.
"Clara, bukankah dia wanita yang waktu itu..." bisik Laurrent kepada Clara.
"Iya, dia sahabatnya Alana, bukan?" Clara terkejut.
"Sedang apa kalian di sini, kau mau mengganggu Alana?" Jesslyn melototkan kedua matanya seakan keluar dari tempatnya.
"Jesslyn..." Alana segera menghampiri adik iparnya tersebut.
"Tidak, kami tidak berniat mengganggu Alana, semalam mobil yang kami tumpangi mengalami overheat. Kami tidak sengaja bertemu dengan Alana dan dia menolong kami. Maka dari itu kami berada di sini, dan kami diberi tempat untuk bermalam." Clara menjawab setengah gugup.
Jesslyn melirik ke arah Alana yang saat ini sudah berada satu langkah di belakangnya. "Alana kenapa kau membantu orang yang tidak tau diri seperti mereka?" tanya Jesslyn.
"Jesslyn sudahlah, jangan bilang seperti itu. Ayo kita masuk dulu." Alana menarik tangan adik iparnya itu. Namun Jesslyn menangkis tangannya. Ia mengalihkan pandangannya kepada Clara dan Laurrent.
"Wanita tidak tau diri!" suara Jesslyn begitu menusuk hingga hampir merusak gendang telinga Clara dan Laurrent, sebenarnya membuatnya kesal. Namun mereka hanya diam saja.
"Jesslyn jangan berbicara seperti itu!" tutur Alana.
"Biarkan saja! Kenapa kau menolong mereka? seharusnya biarkan saja, biar mereka di makan oleh binatang buas!" seru Jesslyn.
"Iya, biar dimakan cacing!" Kimmy ikut menyautinya.
"Mana bisa cacing memakan manusia bodoh!" seru Jesslyn.
"Bisa! Coba saja kau kubur mereka ke dalam tanah!" saut Kimmy.
"Kalian ini bicara apa? sudah ayo masuklah!" perintah Alana.
"Clara, Laurrent maafkan adikku yang bicara kurang sopan.." ucap Alana.
"Adikmu?" Laurrent mengernyit bingung, ia melirik ke arah Jesslyn yang melotot kepadanya. "Bukankah dia sahabatmu?" tanyanya.
"Iya, dia juga adik dari suamiku..." jawab Alana.
"Oh...."
Sepasang suami istri itu turun dari mobil, begitu juga dengan Felix. Melihat kedatangan Lecya, emosi Jesslyn semakin terpancing. Ia hendak memakinya. Namun Alana memegang tangannya dan memberi isyarat gelengan kepala agar tidak mencari masalah. Kini Jesslyn dan Lecya saling beradu pandang dari kejauhan. Lecya mengalihkan pandangannya dengan tatapan tak enak, membuat Jesslyn merasa kesal dibuatnya.
"Wanita tidak tau diri!" teriak Jesslyn.
"Jesslyn!" seru Alana.
"Nona, tolong! Aku tidak ingin mencari masalah denganmu!" saut Lecya. Jesslyn seketika membungkam mulutnya, Namun ia masih tak melepaskan tatapan matanya tanpa ampun.
"Alana, di mana, Ken? kami mau berpamitan pulang?" tanya Darrel.
"Ada di dalam, sebentar, aku akan memanggilkannya." Alana menarik paksa tangan Kimmy dan Jesslyn mengajaknya untuk masuk ke dalam. Namun Ken terlebih dulu keluar bersama Jasson, hingga mengurungkan niatnya.
"Ken, mereka mau berpamitan pulang." Alana melepaskan tangan Jesslyn dan Kimmy.
"Ini kunci mobilmu..." Darrel menyodorkan kunci itu kepada pemiliknya.
"Alana... Ken... terimakasih banyak, kalian sudah mau membantu kami dan memberi tempat untuk bermalam. Sekali lagi terimakasih banyak," ujar Darrel, diikuti oleh Felix dan juga Clara yang berkali-kali mengucapkan terimakasih. Tatapan Darrel masih tertuju kepada Alana, membuat Ken tak berhenti mengawasinya.
"Alana, aku juga berterimakasih, karna kau sudah mau membantuku." Ucapan Laurrent terdengar seperti berat sekali.
"Terimakasih kembali..." Alana menjawabnya dengan pelan.
Darrel melirik ke arah Lecya yang hanya diam dan sedang sibuk melihat ke sekitar villa. "Lecya... kenapa kau hanya diam?" tegurnya.
"Lalu kau mau aku apa?" tanya Lecya.
"Berterimakasihlah kepada Alana dan juga suaminya!" perintah Darrel.
"Kenapa jadi aku yang harus berterimakasih? kita berada di sini kan gara-gara Laurrent, jadi seharusnya dirimu dan Laurrent yang berterimakasih. Lagi pula aku juga tidak membutuhkan bantuan mereka, aku berada di sini karna terpaksa ikut kalian!" Lecya bertutur kesal. Ia hendak kembali menuju ke mobil milik suaminya.
Jesslyn yang kesal akan perkataan wanita itu, membuatnya harus berpindah tempat ingin menghampirinya.
"Jesslyn kau mau ke mana?" Alana menahan tangan adik iparnya tersebut.
"Mau mencakar wajah orang yang tidak tau berterimakasih itu..." seru Jesslyn.
"Jesslyn jangan!" perintah Alana.
"Jesslyn..." pangil Ken.
"Biarkan saja, Kak. Dia keterlaluan!" Teriakan Jesslyn membuat langkah Lecya terhenti, memutar lehernya dengan cepat menoleh ke arah Jesslyn.
"Rasanya daritadi kau ingin sekali mencari masalah denganku?" Lecya membalikan tubuhnya dengan sempurna dan kini berjalan kembali menghampiri Jesslyn.
"Untuk apa mencari masalah kepada orang yang suka membuat masalah?" seru Jesslyn.
"Tidak tau diri! Apa orang tuamu mendidikmu seperti ini, tidak tau caranya berterimakasih?"
Ken hanya diam membiarkan adiknya tersebut.
"Jangan membawa nama orang tuaku! Aku berterimakasih jika aku sedang menyusahkan orang lain, sedangkan aku sama sekali tidak menyusahkan atau meminta bantuan siapapun di sini!" seru Lecya.
"Alana, kau mau uang? sebutkan, berapa harga sewa semalam di villamu ini?" pertanyaan Lecya dilontarkan secara terang-terangan kepada Alana.
"Alana bukan orang yang bermata duitan, dia menolong orang lain selalu dengan ikhlas!" seru Jesslyn.
"Kalau memang ikhlas menolong orang lain, lalu untuk apa mengharapkan ucapan terimakasih?" Penuturan Lecya membuat Jesslyn semakin kesal.
"Dasar wanita hina! Wanita jalaang, tidak tau terimakasih, tidak tau diri!" mendengar umpatan Jesslyn yang menyakiti hatinya, Lecya hendak melayangkan pukulan tangannya ke arah Jesslyn. Tapi Darrel dan Clara segera menaariknya.
"Lecya, sudah..." Darrel mengeraskan suaranya kepada istrinya itu.
"Dia yang memulainya terlebih dulu!" seru Lecya.
"Jelas-jelas kau yang memulai!" bentak Darrel.
"Kau mau bergelut denganku? ayo..." Jesslyn seketika melepaskan jaket tebal yang masih membalut ditubuhnya dan melemparkannya ke tanah.
Kimmy melihat Jesslyn seraya menelan ludahnya. "Itu sebabnya, aku tidak berani dengan Jesslyn." Ini sungguh menjadi tontonan menarik baginya.
"Ayo, Jesslyn... Ayo, Jesslyn..." Kimmy begitu hebohnya menyoraki dan memberi dukungan kepada sahabat kecilnya tersebut. Jasson, Ken dan Alana seketika melirik ke arahnya.
"Kimmy!"
"Ayo, Jesslyn... Ayo, Jesslyn..." Kimmy tak menghiraukan siapapun yang memanggilnya. Ia masih saja tetap bersorak. Hingga membuat Jasson turun tangan membekap mulut mungil gadis itu.
"Kau bersorak lagi, ku hilangkan mulutmu ini!" seru Jasson. Kimmy terkejut, ia seketika takut, suaranya ikut menghilang di telapak tangan Jasson. Meskipun sudah tak bersuara, Jasson masih saja tak melepaskan bekapan tangannya.
"Ayo bergelut denganku!" lanjut Jesslyn yang kini berjalan mendekati Lecya. Namun Ken tiba-tiba menjewer telinga adiknya tersebut.
"Siapa yang mengajarimu seperti ini?" Ken semakin menarik telinga Jesslyn, hingga membuat adik perempuannya itu mendelik takut.
"Darrel, ajak istri dan teman-temanmu segera pergi dari sini, tolong jangan membuat keributan!" perintah Alana.
"Iya, maafkan kami Alana... terimakasih banyak, kami pamit..." ucap Darrel.
"Kau ini sungguh saja selalu membuatku malu." Darrel menarik tangan Lecya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil diikuti oleh Felix, Clara dan Laurrent.
"Dengarlah, suamimu saja malu memiliki istri bar-bar sepertimu!" teriak Jesslyn.
"Awas saja kau nanti!" teriak Lecya dari dalam mobil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.