My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Suamimu tidak baik



Alana di sambut oleh dua orang Doorman yang membuka pintu utama cafe itu. karna memang, cafe itu ialah cafe elite. saat pintu terbuka hawa dingin  yang berasal dari AC menyentuh sekujur tubuh Alana. membuat tubuh wanita itu yang semula kegerahan akan panasnya terik matahari. menjadi sejuk seketika.


Alana melangkahkan kakinya perlahan sembari kedua  matanya menyelusuri setiap sudut cafe itu, banyak sekali pengunjung yang berdatangan siang itu. namun, kedua mata Alana tertuju kepada seorang wanita parubaya yang begitu cantik dengan mengenakan balutan mini dress berwarna hitam duduk di ujung sana. Alana berjalan mendekati wanita itu.


"Mami?" wanita itu menoleh saat Alana memanggilnya.


"Alana?"  wanita itu beranjak berdiri dan seketika langsung memeluk Alana.


Namun, Alana tak membalas pelukan wanita itu. terlebih lagi, raut wajah datar Alana menunjukan bahwa dirinya sangat tak menyukai pertemuan ini.  wanita itu mempersilahkan Alana untuk duduk. dia bernama Brianna Ibu kandung Alana yang pernah meninggalkan Alana dan Holmes saat di tengah keterpurukannya.


Kini, Alana dan Brianna duduk saling berhadapan di meja yang sama. Brianna memetik jarinya untuk memanggil pelayan cafe. tak lama kemudian, salah seorang pelayan cafe datang menghampiri mereka berdua. tanpa melihat buku menu yang baru saja di sodorkan oleh pelayan itu. Brianna langsung memesan milkshake coklat dan juga roti panggang tuna kesukaan Alana.


Brianna memandangi Alana yang sedang menatap ke sembarang arah. ia menatapi wajah putrinya itu dengan begitu seksama. lalu, sebuah senyuman melingkar di wajahnya.


"Mami sangat merindukanmu, Nak." begitulah tuturnya.


"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Brianna.


"Baik, Mam. Mami sendiri bagaimana?" tanya Alana.


"Mami juga baik, sayang."  Brianna tersenyum.


"Bagaimana Daven?" tanya Alana.


"Ehm, Daven? dia... dia tinggal bersama Mami. dia baik." terlihat ada sedikit kebingungan di kedua matanya saat menjawab pertanyaan Alana.


"Bagaimana, kabar Daddy-mu?" tanya Brianna sembari meminum teh yang sempat ia pesan sebelum Alana datang.


"Daddy?"


"Ya, seperti yang Mami dengar dari keluarga Paman. bukankah, Mami sekarang tinggal bersama Paman Afford? tidak mungkin jika Mami tidak tau kabar terbaru Daddy." Alana tersenyum dengan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.


"Iya, Nak. Mami sekarang memang tinggal bersama Pamanmu, tapi tidak tau kabar tentang Daddymu." jawab Brianna.


"Oh, benarkah?"


Seorang pelayan datang menghentikan percakapan Ibu dan anak itu. pelayan itu meletakan roti panggang dan milkshake di depan meja Alana. Alana sejenak mengaduk milkshake itu dengan menggunakan sedotan. kemudian, meminumnya.


"Lalu, apa tujuan Mami menemui Alana?" tanya Alana. ia bertanya sambil memakan roti panggang miliknya yang masih terlihat mengeluarkan asap.


"Mami hanya merindukanmu, saja." tangan Brianna  menyentuh pipi Alana. namun, Alana mencoba menghindarinya.


"Mami dengar, kau sudah menikah?" tanya Brianna. Alana menganggukan kepalanya sembari mengunyah roti panggang itu.


"Kenapa tidak memberitau, Mami?" tanya Brianna.


"Alana, kenyang. apa ada yang ingin Mami bahas lagi?" tanya Alana, kedua matanya melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Alana, habiskan makanan dan minumanmu dulu," tutur Brianna.


"Sudah hampir sore, Mam. Alana harus pulang." Alana melebarkan senyumnya dengan terpaksa.


"Kita di sini belum ada 30 menit. Sebentar saja, sayang. Mami mohon. Mami masih merindukanmu. sudah lama sekali kita tidak bertemu, Nak. tolong sebentar saja." Brianna menyentuh lengan Alana.


"Alana dari dulu di kota ini dan tidak kemana-kemana, jika Mami memang merindukan Alana, Mami bisa sewaktu-waktu menemui Alana. kenapa hanya hari ini saja?" Alana tersenyum seolah senyumannya begitu penuh dengan  sindiran.


"Alana, Mami mohon. setidaknya habiskan makanan dan minumanmu dulu, Mami mohon," paksa Brianna. Alana pun terpaksa mengiyakan permintaan Ibunya tersebut. ia kembali memakan roti panggang dan juga Milk shake miliknya.


"Bagaimana pernikahanmu dengan suamimu, sayang?" tanya Brianna.


"Bahagia, sangat bahagia," jawab Alana.


"Alana, jangan berbohong kepada Mami!" ujar Brianna.


"Siapa yang berbohong? apa Alana pernah berbohong kepada Mami? lain lagi jika Mami yang berbohong kepada Alana!" saut Alana tanpa memandang Brianna. wanita itu masih asyik memakan roti panggang miliknya dengan begitu lahap.


"Sayang, bukan seperti itu.  Mami dengar, suamimu menikahimu hanya karna sebatas bisnis saja? itu tidak benar kan, Nak?" tanya Brianna. Alana sejanak menghentikan aktivitas makannya.


"Benar, Mam. kenapa memangnya?" tanya Alana dengan nada suara yang begitu santai.


"Alana, dia laki-laki yang tidak baik untukmu, sayang. tinggalkan dia! ikutlah bersama Mami. Mami tidak mau melihatmu terluka nantinya, apalagi melakukan ini semua hanya demi Daddymu." kata-kata Brianna membuat hati Alana memanas seakan tak suka dengan apa yang Ibunya katakan baru saja.


"Mami tau apa? Mami berkata suami Alana tidak baik. memangnya Mami tau suami Alana?" seru Alana.


"Sayang, menikah hanya karna kesepakatan bisnis tidak akan pernah merubah apapun. bahkan perasaan sekaligus! percaya kepada Mami. orang seperti suamimu hanya gila bisnis saja. dia tidak akan pernah memberimu cinta!" seru Brianna.


"Nak, dia hanya memanfaatkanmu saja demi perusahaan Daddy-mu. jelas dia bukan pasangan yang baik untukmu! tolong mengertilah!" imbuhnya.


"Lalu, bagaimana dengan Mami? Mami berbicara seolah Mami adalah pasangan yang baik untuk Daddy! meskipun  suami Alana memanfaatkan Alana hanya untuk sekedar bisnis saja, tetapi, setidaknya. dia bisa menerima Alana ketika Alana sama sekali tidak memiliki apa-apa. dia tidak meninggalkan Alana seperti Mami meninggalkan Daddy! Alana belajar begitu banyak pengalaman hidup ketika Alana dan Daddy berada di bawah!" seru Alana.


"Dia mau menerimamu hanya karna perusahaan Daddymu saja, Alana! kau tidak akan benar-benar tau sifat seseorang jika belum tinggal dengannya selama bertahun-tahun! bisa saja, dia akan meninggalkanmu nanti, Nak. tolong mengertilah. Mami tidak mau kamu terluka," tutur Brianna seraya menyentuh pipi Alana. namun, Alana mencoba menghindar.


"Mami berbicara soal terluka? Alana sudah merasa terluka berkali-kali, Mam. bahkan semua luka Alana sudah menjalar hinga ke relung hati Alana. terlebih lagi saat Mami pergi dan tidak lagi memberi dukungan kepada Alana dan Daddy!"


"Alana sudah tidak memikirkan perasaan Alana lagi. Alana hanya memikirkan perasaan dan kebahagiaan Daddy saja. Alana sangat tau bagaimana sifat suami Alana, meskipun Alana hanya mengenalnya beberapa bulan saja. setidaknya dia lebih baik daripada Mami atau orang-orang yang Alana kenal selama bertahun-tahun lamanya! dia tidak pernah berpura-pura seperti kalian semua!" seru Alana dengan penuh penekanan.


"Maafkan Alana, Alana sudah berbicara tidak sopan kepada Mami! Permisi, Alana harus pulang..." Alana beranjak berdiri dan segera berlalu meninggalkan tempat itu.


"Alana,  tunggu..." Brianna berkali-kali memanggil Alana, bahkan wanita itu mengejarnya. namun, Alana malah semakin mempercepat langkah kakinya. dan segera masuk ke dalam taxi yang baru saja ia cegat.