My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Mata sayu itu



Ken menemui dokter terlebih dahulu untuk menanyakan kondisi adiknya, dan kata dokter Jesslyn baik - baik saja, dan dokter juga sudah memperbolehkan Jesslyn untuk pulang, kemudian Ken kembali menemui Jesslyn di ruangannya,  disana Jasson terlihat sedang menenangkan adiknya yang masih sesenggukan itu.  Kedua mata mereka mengarah ke arah pintu saat melihat kakaknya masuk dari arah pintu tersebut.


"Apa kakak sudah minta maaf dengan Alana?  dimana Alana, Kak?" tanya Jesslyn.


"Kakak tidak menemukannya, mungkin dia sudah pulang" ucap Ken dengan menutup kembali pintu ruangan itu.


"Nanti, Kakak akan pergi ke rumahnya dan meminta maaf," kata Ken, ia berjalan mendekati kedua adiknya.


"Kakak berjanji, kan. akan meminta maaf kepada Alana?" tanya Jesslyn. Ken mengiyakannya.


"Sekarang ayo kita pulang, dokter sudah membolehkanmu pulang," imbuh Ken.


"Jesslyn tidak mau pulang,  Jesslyn mau ke tempat Alana," pinta Jesslyn dengan merengek layaknya anak kecil.


"Tapi,  Jesslyn--"


"Jesslyn mohon," tukas Jesslyn mengatupkan kedua tangannya.


Pintu ruangan itu kembali terbuka, terlihat David baru saja membuka pintu itu, hingga membuat 3 saudara itu menoleh ke arah sana.


"Ken, ayo biar aku mengantarmu dan Jesslyn ke rumah sakit dimana Ayah Alana dirawat," kata David berjalan mendekati mereka bertiga.


"Kakak, Kak David mau mengantarkan kita bertemu Alana, ayo," ajak Jesslyn dengan menggoyang - goyangkan lengan kakaknya.


"Tapi Jesslyn, kamu masih sakit, kita bisa pergi besok, kamu butuh istirahat ... "


"Tapi Jesslyn mau sekarang, Jesslyn baik - baik saja. kakak, Jesslyn mohon," pinta Jesslyn. ia kembali mengatupkan kedua tangannya.


"Kakak, sudah-lah turuti saja kemauannya. nanti aku akan menyusul kalian disana,  aku masih ada urusan menemui teman - temanku untuk memberikan jadwal pertandingan ini," ucap Jasson dengan menunjukan sebuah gulungan kertas yang saat ini ia pegang.


"Iya Ken, ayo biarkan saja, ini juga salahmu. kalau kau tidak menuduh Alana seora--"


"Baiklah, kalian selalu saja memaksa." Ken menukas pembicaraan David sambil berdecak kesal.


"Jasson, cepat pergilah sana. hati - hati jangan kebut - kebutan, lekaslah kembali," tutur Ken, Jasson mengiyakan nasehat kakaknya.


"Aku duluan," pamit Jasson seraya mencium kening Jesslyn. dan Ia menepuk bahu David bermaksud berpamitan dengannya, kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Tumben sekali Jasson baik." Bibir mungil Jesslyn bergumam.


Ken dan David membantu Jesslyn untuk turun dari pembaringannya, dan ia membantu Jesslyn untuk berjalan keluar ke rumah sakit, mereka menuju ke halaman parkiran dimana mobil David di parkiran, Jesslyn masih bisa berjalan meskipun sedikit memincangkan jalannya, karna  rasa nyeri akibat luka yang menggores kakinya. Ken memegangi bahu Jesslyn dan membantunya berjalan untuk masuk ke dalam mobil.


Saat David merasa, Ken dan juga Jesslyn sudah masuk ke dalam mobil, ia mulai melajukan mobil itu menuju ke rumah sakit dimana tempat Ayah Alana di rawat.


sekitar waktu 15 menit, mereka bertiga sudah sampai di rumah sakit yang saat ini mereka tuju.


 


Alana terlihat duduk termenung di samping pembaringan Ayahnya dengan tatapan kosong yang mengarah ke sembarang arah. Pikirannya terkoyak akan masalah yang saat ini membebaninya,  bak sebuah kesialan yang datang beruntun. Alana tidak pernah tau dimana letak kesalahannya selama dirinya hidup,  hingga sekarang ia harus menanggung beban seberat ini. Tapi, bukankah beban ini tidak ada bandingannya dengan beban yang Ayah Alana pikul selama puluhan tahun membesarkannya?


Jangan pernah merasa hanya dirimu yang paling menderita di dunia,


Di luaran sana masih banyak manusia yang menderita melebihi dari masalah yang saat ini kau terima


Sikapilah setiap masalah dengan sebijak mungkin, barangkali ini hanya sebuah teguran yang akan mendewasakanmu, dan kelak kamu akan mengerti, kenapa Tuhan memberikan teguran ini.


Lamunan Alana membuyar saat ia mendengar suara ketukan yang berasal dari luar kaca ruangan ayahnya, Alana menoleh dan  ia terkejut saat melihat wajah Jesslyn di balik kaca transparant itu.


"Alana," panggil Jesslyn. suaranya tidak terdengar dari dalam namun gerak bibirnya terlihat jelas di kedua mata Alana bahwa Jesslyn sedang memanggilnya, karna ruangan yang di tempati oleh Ayah Alana memang  kedap suara.


"Jesslyn." Alana berucap lirih. ia melihat ke arah Ayahnya yang masih tertidur, kemudian Alana beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu untuk menemui Jesslyn.


Alana pun terkejut saat dirinya melihat Jesslyn datang bersama Ken dan juga David, namun Alana tak menghiraukan kedua laki - laki itu.


"Jesslyn, kenapa kau kemari, kau masih sakit." Alana mendekati Jesslyn dan bertanya dengan rasa khawatirnya seraya memegang bahu temannya itu. Jesslyn pun tak segan langsung memeluk tubuh Alana.


"Aku baik - baik saja, aku ingin menemuimu makanya aku kemari, Alana tolong  maafkan kakakku," ucap Jesslyn. Alana terdiam dan melihat Ken yang saat ini  berdiri persis di hadapannya, tepatnya di belakang Jesslyn, Jesslyn melepaskan pelukan itu.


"Kakak, kenapa kakak diam saja?" tegur Jesslyn, namun Ken masih membungkam dan hanya menatap kedua mata Alana yang terlihat begitu sayu.


.


.


.


.


.


.


.


jangan lupa setelah membaca tekan like. terimakasih