
Saat dirasa air yang sedang Alana masak sudah mendidih, Alana segera menuangkan ke 4 cangkir yang ada di atas meja. Ken pun, menghampiri wanita itu dan mencoba membantunya.
"Yang ini kenapa tidak di beri gula?" tanya Alana dengan menunjuk salah satu cangkir yang hanya berisi kopi bubuk. namun Ken hanya diam saja dan mengaduk satu persatu cangkir tersebut, Alana pun mengambil gula dan hendak menuangkannya ke cangkir yang tidak ada gulanya tersebut.
"Jangan di beri gula, aku tidak suka," seru Ken dengan menatap tajam kedua mata Alana. Alana mengurungkannya dan meletakan wadah gula ke tempatnya semula.
"Oh, maaf," saut Alana.
"Kau sama seperti Daddyku, menyukai kopi tanpa gula," kata Alana dengan menyengirkan senyumannya. namun, Ken tak menggubris celotehan wanita yang ia anggap aneh tersebut. Ken merasa risih, dan ia berpikir. di situasi ayahnya yang sedang sakit. kenapa Alana masih saja bisa sebegitu cerianya? seolah tak memiliki beban sama sekali. padahal, Ken tidak tau. bahwa, sebenarnya, Alana hanya ingin menutupi kesedihan yang bersarang di dalam dirinya saat ini dengan senyuman dan keceriannya.
"Apa perlu aku bantu, membawakannya, Tuan?" tanya Alana, Ken tetap saja diam.
"Tuan Ken."
"Tidak usah," seru Ken. namun tiba - tiba terlihat David berdiri di depan pintu dapur. ia berjalan menghampiri Alana dan juga sahabatnya.
"Kau membuat kopi lama sekali, Ken." David memandang Ken dan Alana secara bergantian. rasanya ia begitu tak suka akan pemandangan yang saat ini ia lihat.
"Ini sudah selesai," kata Ken.
"Alana, kenapa kau tidak tidur? bukannya kau menginap disini, kan." David bertanya kepada Alana.
"Iya, ini aku mau tidur. tadi aku membuatkan Jesslyn susu coklat jadi makanya aku ke dapur," ucap Alana.
"Oh." David membulat bibirnya, Ken memindahkan cangkir kopi itu di atas nampan dan mulai membawanya.
"Apa kau bisa membawanya? biarkan aku yang membantumu," kata Alana mencoba mengambil alih nampan yang di pegang oleh Ken.
"Aku tidak butuh bantuanmu," saut Ken, ia berlalu meninggalkan Alana dan juga David. saat di pintu dapur, kedua mata Ken melirik ke arah Alana dan juga sahabatnya tersebut.
"David ayo cepatlah ke balkon," seru Ken dengan berjalan pelan - pelan membawa nampan yang tertata cangkir kopi itu.
"Iya, kau duluan saja," saut David. Alana memperhatikan Ken yang terlihat sudah menjauh dari jangkauan matanya.
"Ken, memang seperti itu. jangan di ambil hati. dia sebenarnya baik," tutur David. Alana mengangguk.
"Tidurlah," kata David tersenyum sembari mengusap - usap kepala Alana, Alana pun mencoba menghindarinya. David berpamitan dan berlalu meninggalkan Alana di dapur.
"Kalau tidak baik, dia tidak mungkin mau membantuku," gumam Alana dalam hati. tiba - tiba ia memegangi jantungnya, seakan ada yang berdenyut dengan cepat di dalam sana. Alana meninggalkan dapur dan kembali ke kamar Jesslyn, dan di kamar, Jesslyn terlihat sudah tertidur dengan begitu pulasnya. Alana merebahkan tubuhnya di samping Jesslyn, kedua matanya sejenak memperhatikan wanita itu. Alana memandangi potret foto Jesslyn dan keluarganya yang tertempel di seluruh dinding kamarnya. Alana juga mengingat bagaimana kedua saudara Jesslyn begitu mengkhawatirkan adiknya. mereka begitu menyayangi Jesslyn, hingga membuat Alana merasa iri akan hal itu.
"Beruntung sekali Jesslyn, banyak sekali cinta yang mengelilinginya," gumam Alana dengan tersenyum getir. ia kembali menatap Jesslyn dan menyibakan rambut Jesslyn yang menutupi sebagian dahinya.
"Jesslyn memang pantas mendapatkan ini semua, dia sangat baik sekali." Alana tersenyum.
"(Menghela napas) bahkan aku tidak pernah mendapatkan cinta yang tulus dari semua orang, kecuali, dari Daddy. aku sangat menyayangi Daddy. aku tidak ingin kehilangannya, besok Daddy akan di operasi, aku ingin sekali berkumpul lagi dengan Daddy," gumam Alana dengan tersenyum lega. ia menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan paginya, Alana dan Jesslyn bangun bersama'an, mereka berdua mandi secara bergantian. kemudian Jesslyn, mengajak Alana untuk pergi sarapan bersama di meja makan. dan di sana sudah terlihat Jasson dan juga Ken yang sedang menikmati roti.
"Pagi Kakak, pagi Jasson," sapa Jesslyn. Ken dan Jasson melihat Jesslyn yang sudah rapi.
"Jesslyn, jangan kuliah dulu. lebih baik kau istirahat," tutur Jasson.
"Memang aku tidak kuliah," saut Jesslyn.
"Lalu kau mau kemana?" tanya Ken.
"Aku mau menemani Alana ke rumah sakit. kan, Daddynya pagi ini akan di operasi," kata Jesslyn, Ken dan Jasson melirik sinis ke arah Alana yang kini sedang menundukan pandangannya dan menggigit bibir bawahnya.
"Kakak tidak mengizinkannya, kau harus di rumah istirahat," tutur Ken,
"Aku tadi juga sudah bilang ke Jesslyn untuk tidak ikut, tetapi dia memak--"
"Aku tidak bicara denganmu, aku sedang berbicara dengan adikku," tukas Ken. Alana seketika itu menundukan lagi pandangannya.
"Kakak kenapa berbicara seperti itu kepada Alana? Jesslyn yang ingin ikut dengan Alana. Jesslyn bosan di rumah karna, tidak ada Mama," saut Jesslyn.
"Kalau kau tetap saja membantah keluar rumah, kakak tidak segan akan memberitau Mama dan Papa kalau kau habis terserempet mobil," seru Ken dengan penuh penekanan.
"Tapi, Kak--"
"Lalu, kau bagaimana?" tanya Jesslyn.
"Aku bisa pergi sendiri, kan operasinya hanya beberapa jam saja," tutur Alana dengan tersenyum.
"Nanti, kau akan kemari lagi, kan. Alana?" tanya Jesslyn dengan memelas.
"Iya," saut Alana dengan tersenyum. Jesslyn merasa begitu lega saat mendengar jawaban Alana. mereka ber-empat melanjutkan sarapannya kembali. namun, tiba - tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah, Bi Molley yang kala itu sedang mengupas buah, ia langsung menghentikan aktivitasnya dan beranjak ke depan untuk membukakan pintu rumah tersebut. tak lama kemudian, Bi Molley masuk dan di susul dengan seorang wanita di belakangnya, wanita itu terlihat sedang membawa satu bucket bunga aster di tangannya.
"Selamat pagi semuanya?" sapa wanita itu dengan begitu semangatnya, wanita itu tak lain ialah Caleey.
"Pagi," saut Ken tanpa menatap Caleey, Jasson dan Jesslyn tak menggubris sapaan Caleey. namun, kedua mata Caleey terkesiap saat melihat Alana berada di sana. kedua alis Caleey menaut dengan tajam menatap wanita itu. kini kedua mata mereka sejenak beradu pandang, dan Alana seketika itu mengakhiri tatapan mata itu. namun tidak dengan Caleey, Caleey masih saja menatap Alana dengan tatapan tidak suka.
"Kau sedang apa kemari?" tanya Jesslyn, kepada Caleey.
"Ehm, itu, aku, mau menjengukmu, Jasson bilang kemarin katanya kau terserempet mobil," ucap Caleey, kedua matanya masih tak lepas memandang Alana, hingga membuat Ken curiga dan bergantian memandang Alana dan juga Caleey.
"Dan aku membawakan bunga aster untukmu," imbuh Caleey dengan menyodorkan bunga yang ia pegang di tangannya kepada Jesslyn. Jesslyn hanya meliriknya.
"Aku tidak terlalu suka bunga, lebih baik kau bawa pulang saja," kata Jesslyn dengan mengunyah makananya.
"Jesslyn, bicara yang sopan," Ken setengah berteriak kepada adik perempuannya tersebut.
"Ehm, Jesslyn, Tuan Ken, Jasson. aku permisi pamit ke rumah sakit dulu, permisi," pamit Alana. karna ia merasa tidak nyaman akan situasi saat ini.
"Alana, cepatlah kembali," pinta Jesslyn dengan manjanya. Alana mengangguk dan tersenyum seraya memegang lembut pipi Jesslyn. Ken melirik kepada Alana dan memperhatikannya sejenak.
"Jesslyn," seru Jasson, ia berharap agar adiknya tersebut tidak terlalu memaksa orang lain untuk menuruti keinginannya. Jesslyn hanya terdiam dan memutarkan bola matanya.
Alana berlalu meninggalkan mereka semua, ia sejenak beradu pandang dengan Caleey, kemudian, berjalan melewati wanita itu. Alana berlalu meninggalkan rumah namun ia masih saja tak lepas dari pandangan Caleey.
"Caleey, duduklah. dan ikutlah sarapan bersama kami," tutur Jasson.
"Astaga, sebentar Jasson, aku melupakan sesuatu di dalam mobilku," kata Caleey, ia meletakan bunga aster yang ia pegang di kursi kosong yang ada di samping Jesslyn, kemudian, Caleey berjalan cepat keluar rumah dan ia melihat Alana hendak keluar dari halaman rumah itu. seketika itu Caleey menarik tangan Alana dengan begitu kasar.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Caleey dengan menatap tajam Alana. ia mencengkram erat tangan Alana hingga ia merasa kesakitan.
"Lepaskan, tanganku sakit." Alana meronta.
.
.
.
.
.
.
.
.
FYI, buat pembaca baru yang belum mengerti. novel ini aku update setiap hari .. dan kalau aku ngga sibuk lagi bakal aku update lebih dari 1 episode kok. tapi mohon bersabar yak. aku masih sibuk soalnya.
yang pada tanya alur.
aduh capek aing, udah lah ikutin aja alurnya, percaya sama mamah wkwk.
kalau kalian gak sabaran, kalian karang sendiri aja alurnya hahahaha.
terimakasih.