
Alana mencoba melepaskan tangan Ken dari perutnya. Namun, Ken tak mau melepaskannya, ia masih sibuk memeluk Alana dari belakang dan memberikan banyak sekali ciuman di kepalanya. Alana hanya tersenyum, wajahnya memerah saat merasakan pelukan yang begitu menghangatkan paginya.
"Ken, lepaskan!" suara Alana yang terlontar dengan nada rendah membuatnya harus berucap berkali-kali saat Ken benar-benar tak mau melepaskan tubuhnya.
"Sebentar," sautnya pelan.
Tak lama kemudian, Ken melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Alana menghadap dengannya. Kini, kedua matanya lebih leluasa memandangi wajah cantik wanita yang ia rindukan itu. tangannya menyibakan rambut Alana dan menyelipkan sebuah senyuman di wajahnya.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Ken.
"Tidak." Alana menggelengkan kepalanya dengan tatapan polosnya, membuat Ken menautkan kedua alisnya dengan kesal saat mendengar jawaban menyebalkan itu.
"Kau merindukanku?" Alana melontarkan pertanyaan yang sama.
"Tidak juga." Ken tak mau kalah menggelengkan kepalanya.
"Kau seperti tidak pernah bertemu denganku bertahun-tahun saja! Ku kira kau merindukanku!" mulut Alana menggerutu membuat Ken semakin gemas ingin menggigit bibir mungilnya itu.
"Jelas aku merindukanmu!" Ken dengan gemas mencium pipi Alana. "Bertahun-tahun? aku tidak bisa membayangkan jika tidak bertemu denganmu selama itu," imbuhnya, merasa tak puas, Ken memeluk Alana kembali hingga membuat kedua matanya terpejam dengan perasaan yang dalam.
"Jangan erat-erat! Apa kau mau aku mati?" seru Alana mencoba melepaskan pelukan itu.
Ken terkekeh, ia sejenak melepaskan pelukan itu, lalu, mengusap wajah Alana dengan kedua telapak tangannya. Kilas matanya memperhatikan bibir berwarna merah jambu yang saat ini begitu menggoda di kedua matanya, seketika itu, Ken menyatukan bibirnya sembari memberi lumatan dan gigitan kecil di sana, tangannya mulai tak terkendalikan, menyusup isi dari balutan kain yang melekat sempurna di tubuh Alana. Ia mulai menggiring tubuh Alana senada dengan gerakan tubuhnya dan menjatuhkannya di atas tempat tidur, mencoba menindihh tubuh wanita itu dan melampiaskan kerinduannya di atas sana. Tempat tidur yang semula telah di rapikan oleh Alana, kini berantakan kembali karenanya.
***
Suara ketukan pintu dengan diiringi suara Mama Merry yang menyuruh Alana dan Ken sarapan, seketika memecah isi suasana heningnya Kamar itu, membuat Ken dan Alana yang baru saja sejenak mengistirahatkan tubuhnya, harus segera cepat-cepat mengenakan pakaiannya yang sempat sama-sama terlepas dari tubuhnya.
Sunyi
Suara ketukan pintu itu terhenti saat Ken menyauti permintaan Mamanya tersebut dari dalam.
"Mama dan Papa sudah kembali," ujar Ken. Alana mengiyakan, ia turun dari tempat tidur mendekati lemari dan mengambilkan salah satu baju yang terlipat rapi di dalamnya. Ia kembali berjalan mendekati Ken yang masih duduk di atas tempat tidur dengan telanjang dada.
"Pakailah, ini!" Alana menyodorkan baju itu kepada Ken. Ken segera menukarnya dengan kemeja kerja miliknya yang sudah kotor dan terlihat begitu lusuh kepada Alana.
"Sayang... mana jasmu? sebelumnya kau memakai jas bukan?" tanya Alana. Kedua matanya mencoba mencari jas suaminya di sekitar sana. Namun, ia hanya melihat tas kerja milik Ken yang tergeletak di sembarang tempat, Alana tak menemukan jas yang ia maksud di dalam kamar itu.
"Astaga, aku lupa, semalam jasku ku berikan kepada Valerie," gumam Ken yang mendadak kebingungan. Ia terdiam seribu bahasa mencoba menyusun jawaban akan pertanyaan Alana.
"Sayang?" Alana masih setia menunggu jawaban suaminya. Ken masih terdiam, ia dengan cepat mengenakan baju yang di ambilkan oleh Alana, kemudian, ia berdiri dan mendekati istrinya itu.
"Mana jasmu?" tanya Alana kembali.
"Apa tertinggal di dalam mobil?" imbuhnya.
"Tidak!" suara Ken menyaut dengan cepat.
"Lalu?"
"Jasku dibawa oleh Valerie." Jawaban Ken membuat Alana begitu terkesiap, telinganya tersentak saat mendengar nama Valerie di selipan jawaban itu. Kedua matanya membulat dan pikirannya menerka-nerka hal yang negative.
Langkah kaki Alana memundur secara perlahan, menjauhkan tubuhnya dari jangkauan suaminya itu. Ken dengan cepat menarik tangannya, membuatnya terhenti akan posisinya saat ini.
"Ken..." suara Alana terdengar kecewa dan memberat. Pasalnya, kenapa sebelumnya Ken tidak memberitau jika dia sedang bersama Valerie. Napasnya terbuang dengan cepat, bahkan telinga Ken menangkapnya dengan jelas.
"Sayang, aku akan menjelaskan kenapa jasku ada di Valerie."
Alana mencoba menolak."Kenapa kau bisa bersamanya?" hanya itu yang Alana ingin pertanyakan saat ini.
"Ayo duduklah dulu," rayu Ken, ia menggiring tubuh Alana untuk duduk di tepi tempat tidur. Kini mereka duduk saling berhadapan. Kedua mata Alana menatap Ken dengan penuh rasa kecewa.
"Kau percaya kepadaku kan?" tanya Ken. Alana hanya diam, matanya menatap sendu kedua bola mata Ken secara bergantian.
"Alana?" panggil Ken.
"Aku percaya," saut Alana dengan menghindari kontak mata Ken. Ken berdecak, karna ia tau Alana sedang berbohong.
"Kau tidak percaya kepadaku!" ujar Ken.
"Bagaimana bisa jasmu ada di Valerie? kau bertemu dengannya? kau mengajaknya, atau--"
"Atau apa?" tukas Ken. Kedua alisnya menaut tajam karna merasa kesal.
"Kalau kau tidak percaya kepadaku, aku tidak akan mau menceritakannya!" seru Ken.
Alana terdiam sejenak, menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikiran dan hatinya, ia menatap dalam kedua mata suaminya tersebut. "Aku percaya kepadamu," ujarnya.
Ken memegang kedua tangan Alana, ia mulai menceritakan semuanya kepada Alana bahwa dirinya menemui client Papa Gio di hotel milik keluarga Valerie, dan ia juga tidak tau kalau ternyata Valerie juga kebetulan ada di sana. Alana sedikit merasakan sesak di hatinya, pikirannya sudah berlarian ke mana-mana mencoba menerka-nerka pertemuan antara Ken dan Valerie di hotel itu.
"Lalu, kenapa jasmu ada pada Valerie?" tanya Alana yang tak sabar mendengar jawaban Ken.
"Semalam aku berada di rooftop, angin malam tidak baik, jadi aku meminjamkan jasku kepadanya." Alana tiba-tiba menjauhkan tangannya dari tangan Ken.
"Alana..."
"Kau di rooftop berdua dengannya?" pertanyaan Alana diiringi dengan napas yang terbuang cepat seakan bercampur dengan emosi, namun, sebisa mungkin Alana mencoba menenangkan dirinya.
"Tidak, sayang. Aku bersama David, mana mungkin aku berdua dengannya!" bantah Ken. Alana hanya terdiam dan menatap Ken dengan tatapan penuh.
"Kau tidak percaya kepadaku?" tanya Ken.
Alana terdiam sejenak, bukannya dia tidak percaya, tetapi hatinya merasa sakit saja. Bukankah wajar sekali jika seorang wanita cemburu, sekalipun pasangannya itu hanya sekilas bertatap muka dengan wanita lain. Terlebih lagi, Ken pernah menaruh hati kepada wanita itu. "Aku percaya," ujarnya. Seketika itu, Ken merengkuh tubuh Alana dan memeluknya.
"Aku hanya mencintaimu, jangan pernah takut akan hal itu," tutur Ken. Setidaknya kata-kata itu membuat Alana menjadi sedikit tenang. Ken sejenak melepaskan pelukannya dengan Alana.
"Mungkin nanti kalau kita berlibur, kau akan bertemu dengan Valerie di sana," ujar Ken. Mulut Alana tak bergeming, bingung harus menjawab apa. Mengiyakan atau menolak, Alana merasa takut akan Valerie yang ia rasa sebagai ancaman bagi hubungannya dan Ken, bukankah Ken pernah memiliki perasaan dengan wanita itu sebelumnya? pikirannya dipenuhi akan kata-kata itu.
"Baiklah." Alana mencoba tersenyum menerima apa yang baru saja suaminya katakan, meskipun ia tau betul hatinya menolak akan hal itu.
"Dia dan calon suaminya sekalian akan melakukan foto prewedding di sana," ujar Ken.
Tok... Tok... Tok...
"Alana... Kakak." Suara Jesslyn terdengar sangat jelas di sela-sela ketukan pintu itu, menghentikan pembicaraan mereke.
"Kakak, Alana, ayo kita sarapan. Papa dan Mama menunggu," teriaknya. Alana segera beranjak berdiri dan membukakan pintu kamar itu.
"Jesslyn." Alana menyapa adik iparnya yang tengah berdiri di depan pintu kamar itu.
"Ayo, kita sarapan!" ajak Jesslyn. Alana mengangguk, Jesslyn dengan penuh semangat melingkarkan tangannya dan menggeret Alana menuju ke meja makan. Ken pun segera mengikuti adik dan istrinya tersebut.
***
Di meja makan terlihat semua orang sudah berkumpul di sana, Papa Gio, Mama Merry, Kimmy dan juga Jasson terlihat sedang menunggu Alana dan Ken. Alana dan Ken segera menyapa Mama dan juga Papanya tersebut, mereka berdua saling meraih bangku kosong dan mendudukan tubuhnya di atas sana.
Kini, keluarga itu memulai sarapannya bersama.
"Ken, bagaimana pertemuan kemarin?" tanya Papa Gio.
"Astaga, Ken lupa memberitau Papa. Tuan Sanichi dan Tuan Rikuto mau bekerja sama dengan perusahaan Papa dan mereka juga ingin melibatkan perusahaan Daddy Holmes untuk perusahaannya, Pa." Ken berkata di tengah sibuknya mengunyah makanannya. Seketika itu, Gio menghentikan aktivitas makannya.
"Benarkah yang kau katakan itu, Nak?" Papa Gio bertanya seakan tak percaya. Ken membenarkannya.
"Iya, Pa. hari senin, mereka akan ke kantor untuk menandatangi kontrak kerja sama sekaligus melihat sistem operasional produksi di pabrik," saut Ken. Raut wajah Gio senangnya bukan main saat mendengar kabar baik itu.
"Terimakasih, Nak. Papa bangga denganmu, semua client Papa yang kau prospek selalu berakhir bekerja sama dengan perusahaan kita," tutur Gio sambil menepuk bahu anaknya yang kala itu duduk bersebelahan dengannya.
"Ken belajar semua dari Papa." Ken tersenyum lega bisa menyenangkan hati orang tuanya tersebut.
"Papa juga berharap Jasson akan mendalami bisnis juga seperti dirimu," tutur Gio seraya mengalihkan pandangannya kepada Jasson. Jasson terdiam sejenak kemudian mengiakannya.
"Oh, Iya, apa Papa dan Mama sudah mengizinkan Kimmy kepada Paman Louis untuk berlibur ke pantai hari ini?" pertanyaan Jesslyn menyaut tiba-tiba. Ia bergantian memandang Mama dan Papanya menunggu jawaban akan pertanyaannya. Karna semalam, ia menghubungi Mama Papanya tersebut, untuk meminta tolong agar mengizinkan Kimmy kepada Paman Louis agar bisa berlibr bersama.
"Sudah sayang, Paman Louis sudah mengizinkannya," saut Mama Merry.
"Benarkah, Ma?" tanya Jesslyn. Merry dan Gio saling membenarkannya.
"Terimakasih, Bibi, Paman." Kimmy menyaut, ia dan Jesslyn girangnya bukan main.
"Jasson, apa kau ikut berlibur bersama kami?" tanya Kimmy. Jasson tak menghiraukan pertanyaan Kimmy dan malah sibuk memakan makanannya yang terlihat tersisa sebagian di piringnya.
"Jasson! apa kau tuli? Kimmy sedang bertanya!" teriak Jesslyn dengan kesal.
"Tidak ikut!" saut Jasson. Kimmy terlihat kecewa mendengar jawaban Jasson.
"Jesslyn, kalau Jasson tidak ikut tidak menyenangkan." Kimmy berbisik pelan mendekat di daun telinga Jesslyn.
"Aku tidak ikut saja," imbuhnya.
"Jangan! kau harus ikut!" perintah Jesslyn.
"Tapi--"
"Jasson, kau harus ikut!" perintah Jesslyn kepada Jasson.
"Tidak! Lebih baik aku di rumah menghabiskan waktu membaca buku," saut Jasson.
"Aku tidak mau tau, kau harus ikut!" paksa Jesslyn.
"Punya hak apa kau menyuruhku?" seru Jasson dengan kesal.
"Kakak..."
"Papa..."
"Jasson, ikutlah!" perintah Ken.
"Aku tidak mau, Kak. Jangan memaksaku!" seru Jasson.
"Jasson tolong ikutlah, kalau kau tidak ikut siapa nanti yang akan menjagaku dan Kimmy," Jesslyn memelaskan wajahnya dengan penuh harap.
"Ada Kakak! Selama kau dan temanmu ini tidak membuat masalah, kau akan baik-baik saja di sana! Jangan berlebihan!" ujar Jasson.
"Kakak kan menjaga Alana, kasihan kalau Kakak harus menjagaku dan Kimmy juga, ayo ikutlah!" pinta Jesslyn.
"Papa..." Jesslyn memindahkan pandangannya kepada Papa Gio, berharap Papanya itu mau membantunya berbicara kepada Jasson.
Papa Gio menghela napas. "Jasson ikutlah!" perintahnya.
"Jasson tidak mau, Pa!" tolak Jasson.
"Baiklah, kalau sampai ada apa-apa dengan adikmu--"
"Selalu saja memaksa Jasson, hanya karna anak manja ini!" tukas Jasson dengan kesal.
"Bicaralah yang sopan kepada Papa, kau mengerti!" tegur Ken.
"Maaf, Pa." Jasson menundukan pandangannya.
"Kau mau ikut kan Jasson?" tanya Jesslyn memastikan. Jasson melirik ke arah Jesslyn dengan tatapan kesal.
"Iya! tapi ingatlah! Kalau sampai kau dan temanmu menyusahkanku di sana, aku akan menenggelamkanmu di tengah laut!" seru Jasson seraya beranjak berdiri dan berlalu pergi dari sana.
"Jasson..." panggil Merry, namun tak menghentikan langkah kaki anaknya tersebut. Merry beralih menatap Jesslyn.
"Jangan menyusahkan saudaramu di sana, ya, sayang," tutur Merry. Jesslyn menganggukan kepalanya mengerti akan tuturan Mamanya tersebut. sedangkan Kimmy, wanita itu begitu girang saat tau Jasson akan ikut berlibur bersamanya juga.