
Dan di saat bersamaan, Ken baru saja kembali membeli makanan, ia tak mendapati Alana di sekitar sana. Ia menyoroti sekitar pantai itu, dan kedua matanya terhenti ke arah Alana yang terlihat sedang berpelukan dengan laki-laki asing. Kedua alisnya menaut dengan tajam, rahangnya mengeras menahan rasa geram seakan amarahnya terkumpul di dalam tubuhnya.
Tubuh tegapnya mengajaknya untuk segera menghampiri Alana dengan langkah pasti. Ken dengan penuh tenaga menarik tubuh Alana dan menjauhkannya dari laki-laki tersebut.
"Tidak sopan! Kau berani sekali memeluk istriku!" teriakan Ken membuat semua mata pengujung pantai teralihkan kepadanya. bahkan, Ken tak segan mendorong tubuh laki-laki itu hingga jatuh tersungkur di pasir.
"Ken..." teriak Alana, ia mencoba membantu laki-laki itu, namun Ken dengan cepat menarik tangannya.
"Kau juga! Kenapa kau begitu senang dipeluk oleh laki-laki lain?" seru Ken. Guratan di wajahnya menunjukan bahwa Ken benar-benar marah dan tak senang saat melihat siapapun dengan tidak sopan menyentuh Alana apalagi sampai memeluknya seperti itu.
"Ken, dia adikku!" penuturan Alana membuat raut wajah Ken berubah menjadi datar seketika, ia benar-benar tidak tau jika laki-laki itu adalah adik istrinya.
"Adikmu?" tanya Ken.
"Iya, dia adikku!" Alana membenarkannya.
"Kenapa kau tidak bilang?" tanya Ken dengan tatapan malu.
"Salah siapa kau asal mendorong tanpa bertanya terlebih dahulu!" Alana membantu adiknya tersebut untuk berdiri.
"Kau baik-baik saja, Daven?" tanya Alana.
"Iya, Kak." Daven membersihakan bajunya yang kotor karna baluran pasir dan memandang Ken dengan kesal.
"Kau yang tidak sopan! Mendorong orang sembarangan!" seru Daven kepada Ken.
"Daven, bicaralah yang sopan! Dia suami Kakak!" tutur Daven.
"Suamimu? Kakak sudah menikah? dengan pria ini?" Daven mengernyit heran seraya menunjuk jari telunjuknya kepada Ken.
"Iya dia suami Kakak." Alana menurunkan paksa tangan Daven yang menunjuk ke arah Ken.
"Maaf, aku tidak tau kalau kau adiknya Alana, aku kira--"
"Kau kira apa?" tukas Daven.
"Kau ini! Bicaralah yang sopan!" seru Alana.
"Dia saja tidak sopan kepadaku, untuk apa aku sopan kepadanya?" saut Daven seraya melipat kedua tangannya.
"Ken, tidak tau! Dia sudah meminta maaf!" Alana menatap tajam Daven berharap adiknya tersebut bersikap sopan kepada suaminya.
"Baiklah, aku memaafkanmu!" ujar Daven kepada Ken. Ken hanya diam.
"Kemarilah... Kakak mau bicara denganmu..." Alana menarik tangan Daven dan mengejaknya untuk mencari tempat duduk, Ken mengikuti mereka dari belakang
"Daven, Kau sedang apa di sini? apa kau sudah makan?" tanya Alana seraya memegang kedua pipi Daven.
"Aku sudah makan! Aku di sini sedang berlibur bersama teman-temanku sekaligus melakukan penilitian," jawab Daven.
"Kakak sangat merindukanmu!" Alana memeluk adiknya tersebut dengan sangat erat.
"Aku juga sangat merindukan Kakak, aku benar-benar tidak menyangka bertemu Kakak di sini." Daven tiba-tiba melirik ke arah Ken yang sedang memperhatikannya dari dekat.
"Kau sedang apa di sini? mau menguping?" seru Daven.
"Bicaralah yang sopan kepada suami Kakak!" perintah Alana.
"Wajah suamimu ini sungguh menyebalkan, aku tidak suka!"
"Andai saja bukan adiknya Alana, sudah ku hajar dia habis-habisan, dan ku tenggelamkan di dalam laut!" umpat Ken dalam hati.
"Tetap saja, kau harus sopan kepadanya!" seru Alana. Daven tak menggubris akan kata-kata kakaknya tersebut.
"Bagaimana kabar Mami dan Daddy?" tanya Daven.
"Bukannya kau tinggal bersama Mami di rumah Paman? kenapa kau malah menanyakan kabar Mami?" tanya Alana.
"Memang, Kak. sebelumnya, Paman menyewakan rumah mewah buat ku tempati dengan Mami, lalu, Paman tiba-tiba menyuruh kami untuk tinggal di rumahnya. Tapi aku kabur, sudah 6 bulan ini aku pergi dari rumah Paman, aku menyewa kontrakan kecil, aku sudah lama tidak bertemu dengan Mami," ujar Daven. Alana begitu terkejut mendengarnya.
"Kenapa kau kabur?" tanya Alana.
"Di sana semua orang mengaturku, memperlakukanku seperti pembantu, bahkan termasuk Mami, aku sangat tidak menyukai mereka semua! Mereka selalu berbicara hal buruk tentang Daddy!" seru Daven.
"Lalu, kau tidak melanjutkan pendidikanmu lagi?" tanya Alana.
"Kakak tenang saja! Aku masih kuliah. Untuk keseharian dan juga biaya kuliah, Aku bekerja di sebuah bengkel milik temanku!" jawab Daven.
"Kau bekerja di bengkel?" tanya Alana.
"Ehem... tanganku setiap hari menghitam karna dipenuhi dengan oli," Daven melebarkan senyumnya kepada Alana, seakan dirinya bangga akan pekerjaannya itu.
"Daven..." Alana seketika memeluk adiknya tersebut. Dia tidak menyangka, adiknya yang manja dan semua permintaanya selalu ingin dituruti itu mau bekerja susah dan sedikit lebih dewasa dari sebelumnya.
"Jangan berlebihan! Bagaimana kabar Daddy?" tanya Daven.
"Daddy sekarang lebih membaik... 4 bulan yang lalu Daddy baru sembuh dan sadar dari komanya," ujar Alana.
"Kenapa Daddy?" tanya Daven.
"Daddy habis mengalami kecelakaan, dan koma selama hampir 8 bulan." Penuturan Alana membuat Daven terkejut.
"Daddy mengalami kecelakaan Kak?" tanya Daven.
"Apa kau tidak tau?" tanya Alana. Daven hanya menggeleng kepalanya.
"Tapi Daddy sekarang baik-baik saja, kan, Kak?" tanya Daven.
"Daddy baik-baik saja. semuanya berkat Ken, dia yang selama ini membantu Kakak, membantu biaya pengobatan, Daddy, mengembalikan rumah kita yang dulu sempat Kakak jual, bahkan Ken juga yang membantu menjalankan perusahaan milik Daddy yang sempat bangkrut." Daven seketika melirik ke arah Ken dengan perasaan yang tidak enak hati.
"Aku menyesal karna waktu itu harus ikut Mami, Kak. Aku memiliki banyak salah kepada Daddy, saat aku kabur dari rumah Paman, aku sempat mencarimu dan juga Daddy. Tapi, saat aku kembali ke rumah, rumah kita sudah dijual, jadi aku tidak tau harus mencari Kakak ke mana lagi." Daven menundukan pandangannya ke bawah dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Kenapa kau harus pergi dari rumah Paman?"
"Aku tidak mau tinggal di rumah Paman, Kak. jika aku mau makan dan masih mau kuliah, aku harus menjadi sopir Paman, ke mana pun Paman pergi aku harus mengantarnya tak peduli itu tengah malam maupun jam kuliah. Aku tidak mau diperlakukan seperti itu, Kak!"
Air mata Alana seketika berurai, dan ia memeluk adiknya tersebut, ia tak menyangka Pamannya tega memperlakukan Adiknya seperti itu. Mendengar apa yang dikatakan oleh adik iparnya, tangan Ken mengepal dengan geram dan ikut merasakan kekesalan.
"Daven, ikutlah pulang bersama kami, kita tinggal bersama!" ajak Ken.
Daven dan Alana sejenak melepas pelukannnya. Daven melirik ke arah Ken. "Terimakasih, Kak. aku bisa tinggal sendiri!" jawabnya.
"Ikutlah pulang bersama Kakak, kita tinggal bersama dengan Daddy juga," Alana mengusap wajah adiknya tersebut dengan penuh kerinduan.
"Tidak, Kak. Aku ingin hidup mandiri, kalau aku sudah sukses seperti Daddy nanti, aku tidak akan pernah melupakan masa-masa sulit dalam hidupku, setidaknya aku lebih bisa menghargai hidup..." ujar Daven.
"Daven..." Alana kembali memeluk adiknya tersebut melepaskan kerinduan kepadanya. Alana benar-benar tak menyangka, Daven bisa sedewasa ini.
"Iya, aku janji. Aku juga ingin bertemu dengan Daddy," saut Daven. ia beranjak berdiri. Kemudian melirik ke arah Ken dan berjalan mendekat kepadanya.
"Maafkan aku sudah tidak sopan kepadamu, Kak." Daven menundukan kepalanya.
"Tidak apa-apa, lupakan saja." Ken menepuk bahu Daven.
"Aku tidak akan bersikap sopan lagi kalau kau berani melukai Kakakku!" seru Daven dengan penuh ancaman. Ken terkekeh dan mereka berdua saling memeluk satu sama lain.
Ken melepas pelukannya, ia mengambilkan beberapa lembar uang di dalam dompetnya dan hendak memberikannya kepada Daven. "Ambilah ini!"
"Tidak, terimakasih, uangku sudah banyak. Simpan saja uangmu untuk membahagiakan Kakakku!" penolakan Daven membuat Ken tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kebahagiaan Kakakmu tidak terletak pada uang, ambilah!" perintah Ken. Daven sejenak melirik ke arah uang tersebut, ia memang sangat membutuhkan uang. Tapi, ia benar-benar tak enak hati jika harus menerima uang dari kakak iparnya itu. Apalagi dia baru mengenalnya.
"Daven, terimalah!" tutur Alana. Daven masih terdiam dengan bingung.
"Aku memiliki tiga orang adik, dua adikku yang lain sudah menerima uang saku yang ku berikan, tinggal kau saja yang belum menerimanya, cepat ambilah!" perintah Ken. Daven tersenyum dan segera mengambil lembaran uang tersebut.
"Terimakasih banyak, Kak." Daven tak henti berucap kata-kata itu.
"Ya sudah, aku permisi pergi dulu, ya, Kak."
"Jangan lupa kabari Kakakmu!" tutur Ken. Daven mengiyakannya dan segera berlalu pergi dari sana. Bayangan tubuhnya sudah semakin menjauh dari jangkauan mata sembari melambaikan tangannya kepada Alana dan juga Ken.
Alana masih mematung, kedua matanya masih menyiratkan kesedihan akan hidup adik laki-lakinya itu.
"Sayang..." panggilan Ken membuyarkan lamunan Alana.
"Ken, aku kira adikku tinggal dan hidup layak bersama Paman dan Mami, itu sebabnya aku tidak pernah mencarinya," Ken dengan cepat mengusap wajah Alana yang kembali basah dengan kedua ibu jarinya.
"Kenapa Paman, begitu tega dengan adikku? padahal, dulu Paman sangat menyayangi adikku, Kenapa mereka tega memperlakukanku dan adikku seperti itu." Ken seketika memeluk erat tubuh Alana mencoba menenangkannya.
"Afford ... lagi-lagi kau membuat istriku menangis. kau memang tidak pantas untuk di kasihani, aku bersumpah akan benar-benar menjatuhkan perusahannmu, jika perlu ke dasar jurang sekaligus hingga siapapun tidak akan mau menolongnmu." Ken bergumam dalam hati dengan penuh kegeraman.
"Sudah jangan menangis, aku tidak akan membiarkan Daven menderita bahkan hidup susah. Kita pikirkan nanti sepulang dari sini!" tutur Ken.
"Terimakasih banyak, Ken."
"Ayo, makanlah... katanya kau lapar." Ken melepas pelukannya mencoba membujuk istrinya itu,
"Iya, aku sangat lapar sekali..." Alana berucap dengan suara manjanya. Ken menarik tangan Alana dan mengajaknya untuk mencari tempat duduk.
Ken memberikan makanan kepada Alana yang sempat ia beli tadi. "Cepat makanlah!" perintahnya.
"Kau tidak melihat tanganku kotor karna bermain pasir?" Alana menunujukan kedua tangannya yang masih terdapat remahan pasir di sana.
"Memangnya siapa yang menyuruhmu makan menggunakan tangan? gunakan sendok!" ujar Ken.
"Tetap saja tanganku kotor!" Alana berucap sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lalu kau mau makan menggunakan apa? spatula?" seru Ken. Alana hanya diam dan menatap Ken dengan kesal.
"Bicaralah, apa yang kau mau?" tanya Ken.
"Kau menyuruhku makan sendiri?" seru Alana.
"Mau ku suapi?" tanya Ken. Alana tiba-tiba tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan cepat.
Ken menahan senyumnya dan menggeleng kepalanya. "Astaga... bilang saja kalau memang ingin ku suapi! Kenapa kau suka sekali berdebat?" Ken mengacak-acak rambut Alana dengan gemas. Ia mengambil alih makanan itu dan segera menyuapi Alana. Alana begitu lahap memakan makanan tersebut dari suapan suaminya.
Tiba-tiba, suara dering ponsel milik Alana berbunyi dengan begitu nyaring, Alana segera meraih ponselnya yang terselip di dalam saku celana pendeknya tersebut.
Alana masih sibuk mengunyah makanannya dan segera menelan makanan tersebut.
"Mami..." Alana berucap lirih saat melihat satu panggilan masuk dari Brianna.
"Ken, Mami menelpon..." kata Alana menunjukan ponselnya kepada Ken.
"Jangan diterima!" perintah Ken.
"Tapi, Ken--"
Ken segera menyaut ponsel milik Alana dan menolak panggilan masuk dari mertuanya tersebut. Ia juga tak segan mematikan daya ponsel itu.
"Ken, kenapa kau mematikan ponselku?" tanya Alana.
"Apa kau percaya kepadaku?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya.
"Kalau kau percaya kepadaku? menurutlah apa kataku, semuanya akan baik-baik saja!" tutur Ken dengan penuh keyakinan. Alana pun mengiyakan perintah Ken.
"Aku tau, Afford pasti akan menggunakan Mami Brianna agar bisa mempengaruhi Alana untuk rencana liciknya! Dan aku tidak akan pernah membiarkan itu semua!" gumam Ken dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nona mau kasih info, ini cerita mau mendekati konflik yang sesungguhnya ya wkwk. Boleh kesel tapi gak boleh baper hahaha.
Nona sih berharap tamatnya gak sampai 150 episode biar cepet kelar, pusing aku wkwkwk.
Maaf banget, Nona bukannya gak mau dengerin saran dari kalian, yang minta alurnya seperti ini seperti itu. tapi, Nona udah punya gambaran sendiri alur ceritanya mau dibawa ke mana, udahlah percayain aja. kalian tinggal ikutin alur. kalau kalian bosan, ya sudah. Nona gak maksa... wkwkwk
Sekali lagi, terimakasih banyak ya atas semua dukungan dari kalian selama ini. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan Tuhan. Amin...