My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Kau membeli apa?



Ken dan David berada di dalam mobil, Ken mengemudikan mobilnya menuju ke alamat yang sudah diberikan oleh Valerie kepadanya.


Selama di perjalanan, David terpaksa menceritakan kepada Ken tentang masalah Valerie dan Billy yang membatalkan pernikahan mereka. Bahkan David yang membantu Valerie bersembunyi, membuat Ken begitu terkesiap saat mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut.


"Bahkan kau sampai menyembunyikan Valerie di apartementmu?" dahi Ken yang luas itu mengernyit seolah tak mempercayainya. Namun David membenarkannya.


"Aku kasihan terhadapnya," ucap David seraya mengingat kembali bagaimana dirinya bertemu dengan Valerie malam itu yang tengah ketakutan dan dipenuhi beberapa luka lebam di wajah dan juga tubuhnya.


"Kenapa kau tidak memberitauku?" tanya Ken.


"Valerie melarangku untuk tidak  memberitaumu, karna dia takut Alana akan salah paham, apalagi waktu itu kau dan Alana sedang dalam musibah," ujar David.


"Ehm." Ken hanya diam tak melanjutkan pembicaraannya mengenai Valerie, masa bodoh dengan urusan orang lain, pikirnya seperti itu.


yang ia pentingkan saat ini adalah menjemput Alana dan membawanya pulang.


Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan olehnya, kini berhenti tepat di alamat yang ia cari tersebut. Ken mengajak David untuk turun dan segera masuk ke dalam rumah itu. Mengetuk pintu berulang kali, memastikan apa benar itu alamat yang diberikan oleh teman lamanya itu.


 


 


Ceklek.


pintu terbuka, dan mereka tidak salah alamat, karna Valerie sendirilah yang membuka pintu rumahnya untuk mereka berdua.


"Ken, David..." sapa Valerie seraya menepiskan senyuman yang sama sekali tak terbalas.


"Di mana istriku?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Ken dengan tidak sabar, kedua matanya menyusup masuk, namun tak menemukan Alana di sekitar wanita itu.


"Dia sedang tidur di dalam kamarku." Ucapan Valerie membuat Ken menerobos masuk ke dalam meskipun si pemilik rumah belum mengizinkannya. Valerie dan David saling beradu pandang.


"Masuklah," perintah Valerie. David mengiyakannya, mereka berdua mengikuti Ken dari belakang.


Ken masuk ke dalam kamar Valerie dan  ia melihat Alana tertidur dengan begitu pulasnya di sana.


"Nakal sekali, bagaimana bisa dia tidur dengan pulas di rumah orang?" Ken menggeleng kepalanya dan segera mendekati istrinya tersebut.


"Alana... ayo bangunlah!" Ken menggerak-gerakan bahu Alana berharap istrinya itu agar segera bangun.


"Hmmm... Kue coklat..." Alana menyautinya, menjauhkan tangan Ken dari bahunya karna merasa terganggu.


"Aku suamimu, bukan kue coklat! ayo bangunlah!" Ken menepuk-nepuk pipi Alana namun tidak menyakitinya. Namun tetap saja tak membuat Alana bangun.


Merasa kesal, Ken pun mengeraskan suarnya. "Alana!" suara menggelegar itu begitu menusuk hingga ke gendang telinga Alana. Membuat kedua matanya mengerjap paksa.


"Berisik sekali!" Alana berdecak, membuka kedua matanya, menyesuaikan apa yang saat ini Ia lihat, menatap wajah Ken dengan pandangan buram dan menunggu beberapa detik untuk mengumpulkan setengah kesadarannya.


"Ken, kau sudah pulang?" tanyanya seraya menguap lebar.


"Apanya yang sudah pulang? ini rumah orang bukan rumahmu!" seru Ken. Alana melirik ke arah pintu kamar yang menampakan wajah David dan juga Valerie.


"Oh, iya. Aku lupa."


"Ayo bangun..." Ken mencoba membangunkan secara paksa istrinya tersebut.


"Aku sudah bangun! Jangan menarik-narik tanganku, sakit!" Alana menjauhkan tangannya.


"Ken, biarkan saja Alana beristirahat di sini sebentar," suara Valerie yang menyaut tak membuat Ken menjawab atau melirik ke arahnya, ia begitu sibuk menyuruh Alana bangkit dari tempat tidur itu.


"Alana, ayo bangun dan pulang!" Merasa tak dihiraukan, Ken dengan sengaja mencubit dengan kuat hidung mancung istrinya itu.


"Hidungku sakit! Kau ini sungguh menyebalkan!" Alana  beranjak duduk dengan sempurna sambil mengusap hidungnya yang merah akibat tangan suaminya.


"Kau yang menyebalkan! Bisa-bisanya kau tidur di rumah orang?" seru Ken. Alana tak menghiraukannya dan malah ingin merebahkan kembali tubuhnya.


"Alana!" teriak Ken.


"Aku dengar! Kenapa harus berteriak!" seru Alana.


"Kau membuatku kesal! Kenapa kau malah mau tidur lagi?" serunya.


"Siapa yang mau tidur? aku hanya mau rebahan saja," bantahnya sambil menguap.


"Apa bedanya? Ayo pulang!" perintah Ken.


"Kau ini marah-marah seperti wanita yang sedang datang bulan saja!" seru Alana, ia  begitu malas-malasan meninggalkan tempat tidur itu. Ia menoleh ke arah Valerie yang masih berada di sana.


"Valerie, apa aku boleh meminjam kamar mandimu?"  tanya Alana.


"Heh, untuk apa kau meminjam kamar mandi?" saut Ken.


"Untuk mandi! kau pikir untuk di bawa pulang!" ketus Alana.


"Mandi di rumah saja!"


"Tidak mau!" seru Alana.


David dan Valerie menggeleng kepalanya saat melihat perdebatan  mereka berdua.


"Iya, Alana. Pakailah kamar mandiku," timpal Valerie. Alana begitu senang mendapat izin darinya.


"Lihatlah, Valerie saja mengizinkannya!" Alana turun dari tempat tidur, ocehan bibir mungil itu mengiringi langkah kakinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Ken menggeleng kepalanya. "Kenapa dia begitu menyebalkan!" Ken hendak keluar dari kamar itu mengajak David menunggu di luar. Namun ia sejenak melirik ke arah Valerie.


"Bagaimana Alana bisa bersamamu?" tanya Ken dengan suara tak ramah, ia tak memberi sedikitpun pandangan ke arah wanita yang pernah menaruh rasa terhadapnya itu.


"Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Alana di toko kue, kebetulan toko kue itu sangat dekat dengan rumahku, maka dari itu aku mengajak dia mampir kemari," ujar Valerie.


"Dia tadi tertidur karna kekenyangan, mungkin terlalu banyak makan kue yang tadi dia beli."


Kedua mata Ken mengikuti jari tangan Valerie yang sedang menunjuk ke arah box kue yang masih terpajang di meja samping tempat tidur.


"Terlalu banyak makan kue?" Ken mengernyit.


"Iya, Alana begitu sangat menyukai kue, tadi saja, dia menghabiskan empat kue sekaligus," ujar Valerie.


"Alana tidak seberapa menyukai kue atau makanan manis, meskipun dia memiliki toko kue dia tidak akan memakan kue sebanyak itu," bantah Ken.


"David, ayo kita menunggu di luar," ajak Ken yang saat ini berjalan mendahuluinya. David mengiyakannya dan mengikuti Ken. Sementara Valerie masih mematung di depan pintu.


"Tidak menyukai kue? Jelas-jelas Alana sangat menyukai kue, bahkan tadi memakan kue begitu lahap sampai hampir lupa bernapas.


"Apa mungkin--"


 


 


***


Alana baru saja selesai mandi dan memakai pakaian lengkap miliknya, ia pun bersiap-siap mengambil barang-barang miliknya yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Ia melirik ke arah kotak yang menyisakan satu potong kue miliknya di dalam sana.


"Tinggal satu potong, sayang sekali jika tidak di makan," Alana segera mengambil kue tersebut dan melahap semua kue itu hingga memenuhi mulutnya. Ia kembali melanjutkan niatnya untuk bersiap-siap pulang.


"Alana..." Valerie terlihat masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekat, seketika itu membuat Alana menoleh dan menyautinya.


"Ada apa Valerie?" tanya Alana yang sibuk mengunyah kue di dalam mulutnya sambil memasukan ponsel miliknya ke dalam tas.


"Astaga, dia masih saja melanjutkan makan kue itu," gumam Valerie sambil menggeleng kepalanya, membayangkan memakan satu potong kue  saja rasanya ingin mual, bagaimana bisa Alana menghabiskan lima potong kue?


"Kau pulang sekarang?" tanya Valerie.


"Iya, terimakasih banyak ya, maaf aku jadi merepotkanmu."


"Oh iya Alana apa kau sedang hamil?" pertanyaan yang Valerie lontaran membuat Alana seketika menghentikan aktivitasnya.


"Tidak..." jawab Alana. "Kenapa?" tanya Valerie.


"Tidak apa-apa aku kira kau sedang hamil. Karna kau tadi makan kue banyak sekali, kata Ken kau tidak terlalu suka kue atau makanan manis, makanya aku jadi heran," ujar Valerie.


"Memang aku tidak terlalu suka, tapi entahlah, beberapa hari ini rasanya aku ingin sekali memakan kue atau coklat. Rasanya enak sekali," ujar Alana sembari menelan ludahnya, setiap mengucap kata kue ataupun coklat, rasanya  ia ingin sekali memakannya lagi, padahal Alana tau betul, dirinya tidak terlalu begitu menyukai coklat yang sangat mudah sekali membuat tubuhnya gemuk, namun rasanya ia tak mempedulikan itu semua karna tertutupi rasa keinginannya.


"Tapi aku tidak hamil, karna dua minggu yang lalu aku masih haid meskipun tidak seperti biasanya," imbuhnya tak ingin terlalu berharap lebih.


"Maksudnya?" Valerie mengernyit bingung akan perkataan Alana.


"Darah haidku tidak seperti biasanya, keluarnya jarang dan hanya 3  hari saja, setauku kalau orang hamil  tidak mungkin haid," jawab Alana.


"Bisa jadi itu flek tanda awal kehamilan, Kenapa kau  tidak melakukan tes kehamilan saja? barangkali saja kau hamil." Mendengar perkataan Valerie membuat Alana terdiam seribu bahasa, ia takut jika dirinya terlalu berharap, namun nyatanya, perkataan Valerie membuat dirinya sangat berharap.


"Ehm, Aku--"


"Alana, cepatlah!" suara Ken yang memanggilnya membuat Alana mengurungkan niatnya untuk berbicara.


"Valerie, maaf, ya. Ken memanggilju, aku pulang dulu, terimakasih banyak atas tumpangan tempat tidur dan kamar mandinya." Alana cepat-cepat menyilangkan tas yang ia pegang ke tubuhnya dan segera keluar menemui Ken yang sedari tadi sudah menunggunya di depan. Valerie pun mengikuti Alana dari belakang.


David dan Alana berpamitan saat Valerie mengantarkan mereka bertiga di depan halaman rumah. Namun tidak dengan Ken yang masuk ke dalam mobilnya begitu saja  tanpa berpamitan maupun berbasa-basi kepada Valerie.


 


 


***


 


Ken mengantarkan David ke kantornya terlebih dahulu, setelah mengantarkan sahabatnya itu, ia segera mengantarkan Alana pulang.


"Aku kan sudah bilang, kalau pergi ke mana-mana kau harus diantar oleh Paman Lux! Kenapa kau tidak mau menurutiku?"


"Aku menurut denganmu, tadi aku diantar oleh Paman Lux," jawab Alana.


"Tapi kau malah menyuruh Paman Lux pulang! Kau tidak memberitauku kalau kau ingin pergi ke toko kue, bahkan hingga bertamu di rumah Valerie!" seru Ken.


"Aku---"


"Sudah diam!" tukas Ken. Alana seketika diam mengurungkan niatnya itu berbicara. Ia melirik dengan tatapan  kesal ke arah suaminya.


"Kenapa melirik seperti itu?" tegur Ken.


"Bicara salah, melirik salah. Kenapa kau tidak menurunkan saja aku di sini!" seru Alana. Ken tak menghiraukan ocehan istrinya itu, ia semakin memacu laju kecepatan mobil yang ia kemudikan tersebut.


Merasa lelah mengoceh tak jelas, Alana terdiam dengan sendirinya saat perkataan Valerie yang menyuruhnya untuk melakukan test kehamilan tiba-tiba terngiang di pikirannya.


"Sayaaang..." panggil Alana.


Ken melirik ke arah Alana yang memanggilnya dengan memasang wajah manis.  "Setelah marah-marah sekarang bersikap manis. Pasti ada maunya!"


"Hem?" saut Ken.


"Di depan ada apotek, kita berhenti sebentar, ya?" perintah Alana.


"Untuk apa kau menyuruhku berhenti di apotek?" tanya Ken dengan heran.


"Aku ingin membeli sesuatu."


"Apa?" Ken begitu penasaran, namun Alana tak ingin memberitau sesuatu apa yang akan ia beli.


"Tentang wanita! Sudah jangan banyak bicara, ayo berhentilah!" perintah Alana. Ken menuruti perintah istrinya itu, ia menghentikan mobilnya tepat di depan apotek yang dimaksud olehnya, Alana segera turun dan masuk ke dalam apotek itu, sementara Ken menunggunya di dalam mobil.


Tak lama kemudian, Alana kembali dengan tangan kosong, membuat Ken mengernyit dengan penuh tanda tanya.


"Katanya kau ingin membeli sesuatu? mana barangnya?" tanya Ken.


"Ehm, tidak ada. Sudah, ayo kita pulang..." ajak Alana. Ken menatapnya dengan tatapan curiga, membuatnya hanya diam dan masih tak melepaskan Alana dari pandangannya.


"Ayo sayang, kenapa kau malah melihatku seperti itu?" tanya Alana.


"Apa yang ingin kau beli? kau tidak membeli obat kontrasepsi, kan?" tanya Ken dengan penuh selidik.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu? aku tidak membeli obat kontrasepsi..." bantah Alana.


"Lalu kau ingin membeli apa?" desak Ken.


"Sesuatu, kau tidak akan tau!"


"Iya sesuatu apa?"


"Sabun untuk wanita!" seru Alana. Ken seketika diam, ia kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


 


***


 


Malam harinya, setelah makan malam, Ken dan Alana kembali ke kamar. Jesslyn dan Kimmy sudah pulang sejak sore tadi. Untuk memberi kejutan ulang tahun kepada Ken, Jesslyn dan Kimmy membuat janji kepada Alana, akan datang jam setengah 12 malam dengan alasan agar Ken tidak curiga bahwa mereka akan memberi kejutan. Alana pun menuruti semua apa kata teman dan adik iparnya tersebut.


Di dalam kamar, Alana duduk berrselonjor di atas tempat tidur sementara Ken sedang berada di dalam kamar mandi. Alana meraih tas miliknya, ia mengambil sebuah bungkusan kecil di dalam tas tersebut. Sebuah alat test kehamilan kini terlihat sedang ia pegang dan ia pandangi.


"Mana mungkin aku membeli obat kontrasepsi, aku saja ingin sekali hamil. Aku tadi membeli test pack, tapi aku tidak mungkin memberitau Ken terlebih dulu, aku takut dia juga akan terlalu berharap," gumamnya sembari memasukan kembali test pack itu ke dalam tas. Alana beralih memegang ponselnya, ia terlihat sedang sibuk menggulir layar ponsel itu dengan mulut yang sedari tadi bergerak membaca sesuatu di benda seluler tersebut.


"Sedang membaca apa? serius sekali," tegur Ken yang baru saja terlihat keluar dari kamar mandi dan mengusap wajahnya yang basah dengan menggunakan handuk berwarna putih.


"Ehm, tidak... tidak membaca apa-apa," bantah Alana. Ken terlihat duduk di atas sofa dan sejenak memeriksa pekerjaannya.


"Hoam..." Alana menguap hingga kedua matanya berair. "Aku harus tidur, karna jam setengah 12 aku harus bangun,"  gumamnya sambil melirik ke arah Ken.


Namun, Alana masih fokus akan  ponsel yang ia pegang. Kedua matanya yang lelah membuat Alana tertidur dan meletakan ponsel itu sembarangan.


Ken tersenyum melihat Alana yang sudah tertidur, ia mengakhiri pekerjaanya dan segera ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya tersebut. Melihat ponsel Alana yang masih hidup dan tergeletak sembarangan, membuat Ken segera meraihnya dan hendak meletakannya dia atas meja. Namun, ia tak sengaja membaca sebuah artikel yang ia yakini sejak dari tadi dibaca oleh istrinya.


"Seputar kehamilan?" gumam Ken seraya memandang ke arah Alana, senyuman yang semula ia lontarkan tiba-tiba sirna.


Ken meletakan ponsel itu dia atas meja, memandangi wajah Alana dengan tatapan begitu sedih. "Pasti dia ingin sekali memiliki anak."   Ken manarik selimut dan membalutkannya di tubuh Alana, mendekapnya dan memberi ciuman begitu lama di pipi istrinya tersebut, hingga dirinya ikut tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tiap di kasih double bab pasti likenya lambat, ya sudahlah update satu bab aja wkwk