
Alana dan Ken terkejut saat mendengar suara keras dari pintu perpustakaan yang tiba - tiba menutup dengan sendirinya. hingga membuat Alana dan Ken menoleh ke arah pintu tersebut. Ken langsung menghampiri pintu itu dan mencoba membukannya. namun, tidak bisa. karna seseorang menguncinya dari luar.
"Shit, siapa yang mengunci pintunya," teriak Ken dengan menggedor keras pintu itu.
Ken masih menggedor pintu itu dengan sangat keras. bahkan, ia berulang kali memutar knop pintu terebut. namun, percuma saja. bahkan mulutnya tak henti mengumpat kesal.
"Tuan Ken, kita harus bagaimana? pintunya tidak bisa terbuka." raut wajagh Alana terlihat begitu panik.
"Ini semua gara - gara kau!" seru Ken dengan menatap tajam Alana.
"Kenapa kau menyalahkanku? kan, bukan aku yang mengunci pintunya dari luar, kau lihat sendiri kan, aku sekarang ada di dalam," saut Alana.
"Diam!" seru Ken. Alana diam seketika. Ken mengelilingi ruang perpustakaan tersebut, ia mencari sesuatu untuk bisa digunakan membuka pintu itu dan Alana tak henti mengikuti Ken dari belakang. hingga membuat Ken kesal.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Ken.
"Ti-tidak." Alana menggeleng - gelengkan kepalanya. Alana langsung menghindari Ken. Ken kembali melanjutkan mencari benda yang sekiranya berguna untuk membuka pintu itu. namun, tetap saja, Ken sama sekali tak menemukan apa - apa di sana. yang ia lihat hanyalah tumpukan buku dan kertas saja.
"Bagaimana, Tuan Ken. apa kau menemukan sesuatu untuk membantu kita keluar dari sini?" tanya Alana. Ken hanya diam dan menggeram dengan begitu frustasi akan mendengar pertanyaan Alana.
***
Di luar ruang perpustakaan tersebut, Jesslyn tertawa dengan penuh kemenangan. ia berharap agar rencana untuk membuat Kakaknya menjadi baik dengan Alana bisa berhasil.
"Biar saja, mereka berdua terkunci di dalam, hanya dua jam saja, nanti aku akan membukakannya. lebih baik, sekarang aku ke kamar, " gumam Jesslyn. ia memegang kunci perpustakaan tersebut dan menyelipkannya di dekat pintu ruang musik. kemudian, ia kembali ke kamarnya. Jesslyn merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia tak henti menarik bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Aku sungguh heran kepada kakak, kenapa aku sama sekali tidak pernah melihatnya dekat dengan perempuan? bahkan, dia tidak ada baik - baiknya dengan seorang perempuan, apa dia tidak menyukai perempuan?" gumam Jesslyn sembari menguap.
"Hoam, aku sungguh mengantuk. lebih baik aku tinggal tidur saja dulu, nanti 2 jam lagi aku akan bangun untuk membukakan pintu perpustakaan itu." Jesslyn menarik selimut miliknya dan memejamkaan kedua matanya.
***
Di dalam ruang perpustakaan, Ken yang sudah menyerah kini mulai mendudukan tubuhnya di atas kursi yang terdapat di dalam ruang perpustakaan tersebut dan melanjutkan kembali membaca buku miliknya yang sempat ia tunda. Alana pun melirik laki - laki itu.
"Kenapa dia malah membaca buku dengan begitu santainy? dan kenapa tidak melakukan sesuatu untuk membuka pintunya?" gumam Alana. ia mendekati pintu perpustakaan itu. dan Alana mencoba memutar paksa knop-nya berharap pintu itu terbuka.
Krucuk ... Krucuk ...
bunyi suara perut Alana terdengar begitu jelas. Alana menelan ludahnya dengan kasar.
"Siapapun di luar, tolong bukakan pintunya," teriak Alana dengan menggedor pintu itu namun rasanya sia - sia. Ken hanya melirik wanita itu dari sudut sana.
"Dasar perempuan bodoh," gumam Ken.
"Tolong buka pintunya," teriak Alana semakin mengeraskan suaranya.
"Buka pintunya, tolong bukakan!"
"Berisik!" teriak Ken. Alana pun melirik ke arah Ken. ia langsung membungkam seketika.
Alana mencoba berjalan menghampiri Ken dengan sedikit takut.
"Tuan Ken, tolong lakukan sesuatu. Jesslyn pasti sudah menungguku di kamarnya. dia ingin sekali membaca buku," ucap Alana dengan kebingungan.
"Jesslyn?" gumam Ken dalam hati.
"Pasti ini ulah dia," gumam Ken dengan menggerutu kesal.
"Tuan Ken, kenapa kau diam saja? sepertinya kau sangat senang sekali terkunci di dalam sini. ayo lakukan sesuatu," seru Alana dengan berkacak pinggang. Ken melirik dan beranjak dari duduknya, ia berjalan mendekati Alana. hingga membuat Alana memundurkan langkah kakinya dengan begitu takut.
"Kau mau aku melakukan apa, hem?" tanya Ken dengan menatap tajam Alana.
"A-aku, Ma-maksudku, lakukan se-suatu untuk membuka pintunya," kata Alana dengan bibir gemetar karna takut. Ken semakin mendekatkan langkah kakinya.
.
.
.
.
maaf ya, kemarin aku agak sakit dan sibuk jadi bener - bener gak bisa update,
nanti siang aku update lagi. harap menunggu dan bersabar. kalau ngga sabar yasudah wkwk