
Malam harinya, Gio dan Merry mengajak anak - anaknya untuk makan malam bersama di meja makan, begitu juga dengan Kimy.
saat makan. Ken terlihat begitu tak fokus, ia sedaritadi menyusun perkataan yang tepat untuk memberitaukan rencananya kepada kedua orang tuanya tersebut.
"Jesslyn, apa kau sudah selesai makan malam?" tanya Ken.
"Sudah , Kak. lihat saja makananku sudah habis," ujar Jesslyn. lalu, Ken menggerakan kedua matanya, memberi kode kepada Jesslyn agar mengajak Kimy ke kamar. dan Jesslyn menganggukan kepalanya. seketika itu, Jesslyn berpamitan kembali ke kamar bersama Kimy. dan kini, di meja makan itu hanya terlihat Merry, Gio, Jasson dan juga Ken, saja.
"Papa," panggil Ken seraya meletakan sendok dan garpu yang baru saja ia pegang.
"Iya, Ken." Gio menyautinya dan ia masih asyik memakan dengan lahap makanannya tanpa menatap anak sulungnya tersebut.
"Dalam, waktu dekat ini Ken akan segera menikah," ucap Ken. Gio seketika menghentikan aktivitasnya.
"Menikah? kenapa kau tiba - tiba ingin menikah? kau mau menikah dengan siapa, Nak?" timpal Merry dengan begitu terkejutnya.
"Kalau kau menikah dengan Calley, Papa tidak akan pernah setuju, Papa sudah tidak mau berhubungan dengan keluarga mereka lagi!" seru Gio dengan penuh penekanan, bahkan guratan di wajahnya menyiratkan kekecewaan yang begitu mendalam kepada keluarga Caleey.
"Bukan, Pa. bukan dengan Caleey," kata Ken.
"Lalu dengan siapa, Ken?" tanya Merry. Ken terdiam sejenak.
"Ken akan menikah dengan Alana," ucap Ken. namun tiba - tiba Jasson tersedak hingga semua mata yang ada di meja makan itu tertuju kepada Jasson.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Jasson sembari meneguk air.
"Alana temannya Jesslyn, yang waktu itu?" tanya Gio dengan menyipitkan kedua matanya. Ken mengiyakannya.
"Kenapa, kau tiba - tiba mau menikahinya? Kamu tidak berbuat macam - macam dengan perempuan itu kan, Ken?" tanya Gio seraya menautkan kedua alisnya.
"Tidak, Pa. mana mungkin, Ken, berbuat macam - macam," saut Ken.
"Lalu kenapa Kakak tiba - tiba mau menikahi Alana? bukannya Kakak tidak menyukainya? dan, kenapa harus Alana? kenapa tidak perempuan lain?" Jasson tiba - tiba bertanya dengan ketusnya. hingga membuat Gio melirik tajam ke arah anaknya tersebut..
"Maaf ... maksudku, kalau memang tidak terjadi apa - apa, kenapa Kakak harus menikahi Alana dengan begitu mendadak? bukannya Kakak tidak ingin menikah muda? dan Kakak kemarin juga menolak Caleey, wanita yang sudah jelas asal usulnya. lalu sekarang? Kakak juga baru saja mengenal Alana, bukan?" imbuh Jasson.
"Apa kau sudah selesai berbicaranya?" tanya Gio dengan geram kepada Jasson.
"Maaf, Pa." Jasson membungkam.
"Jelaskan, kenapa kau tiba - tiba ingin menikah dengan Alana?" tanya Gio kepada Ken.
"Ya karna Ken menyukainya, Pa." Ken terpaksa berbohong.
"Bohong, Pa. Kakak tidak pernah menyukai Alana." Jasson kembali bersuara.
"Apa Papa menyuruhmu untuk ikut berbicara?" tanya Gio. Jasson kembali membungkam.
"Ken, bicaralah yang jujur." Merry ikut bertanya seraya memegang bahu anak sulungnya itu. namun Ken hanya diam saja.
"Ken ... kenapa diam?" seru Gio.
"Begini, Pa. Alana itu sebenarnya anak dari Paman Holmes Louis. pemilik Celouis Company," ucap Ken. semuanya terkejut saat mendengar pernyataan Ken.
"Apa kamu sedang bercanda?" tanya Gio.
"Tidak, Pa." Ken menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Sertifikat Celouis Company sedang di sita oleh pihak bank karna Paman Holmes masih memiliki hutang. dan Paman Holmes menghentikan operasional perusahaan karna tidak sanggup membayar kinerja pegawai, tadi, Ken melunasi semua hutang Paman Holmes, dan mengambil sertifikatnya. dan, Ken akan membantu Paman Holmes untuk mengelola perusahaan itu. jadi, Perusahaan Papa bisa terselamatkan," ujar Ken dengan meletakan kedua tangannya di bawah dagu.
"Papa tidak setuju!" seru Gio.
"Papa tidak mau, kau menikahi seseorang hanya untuk mengambil keuntungan bisnis saja, jika hanya ingin bekerja sama ya bekerja sama saja. kenapa harus berencana menikahi putrinya?" tanya Gio.
"Aku sudah tau, pasti respon Papa seperti ini," gumam Ken dalam hati seraya menggaruk - garuk kepalanya.
"Papa, bukan hanya kita saja, tetapi perusahaan milik Paman Holmes juga sama - sama mengambil keuntungan, Ken akan membantu mengelola perusahaan Paman Holmes sampai Paman Holmes benar - benar sembuh. Pa. Paman Holmes habis mengalami kecelakaan dan koma selama 8 bulan. dan baru satu minggu ini Paman Holmes sadarkan diri. kalau Ken tidak menikahi Alana, apa kata orang lain? Ken hanya orang asing bagaimana bisa mengelola perusahaan itu? lagi pula, Ken menikahi Alana juga karna memang kita sama - sama suka," ucap Ken dengan berbohong agar Papa dan juga Mamanya percaya. lalu, tiba - tiba Jasson beranjak pergi meninggalkan meja makan tanpa berpamitan.
"Papa, percaya kepada Ken. hanya ini satu - satunya cara untuk menyelamatkan anak perusahaan Papa," ucap Ken. Gio terdiam sejenak mencerna perkataan anak sulungnya tersebut.
"Tapi kau menikahi Alana benar - benar bukan hanya karna tujuan bisnis saja kan, Ken?" tanya Gio dengan memastikan kembali. Ken terdiam sejenak. ia begitu frustasi akan pertanyaan Papanya yang baru saja ia dengar.
"Ti-tidak, Pa. Ken menikahi Alana karna Ken juga menyukainya." lagi - lagi Ken berbohong dengan begitu gugupnya.
"Baiklah, Papa akan merestui pernikahan kalian," tutur Gio.
"Mama juga. apapun yang menjadi pilihanmu. Mama selalu percaya, bahwa itu akan menjadi yang terbaik untukmu. lagipula, Alana anak yang baik dan sopan," ucap Merry dengan tersenyum.
"Mana mungkin menjadi yang terbaik? aku sama sekali tidak pernah menyukai Alana. aku menikahinya hanya demi Perusahaan Papa, tidak lebih dari itu. lagi pula, tidak akan ada yang pernah bisa mengisi hatiku, kecuali--" gumam Ken dalam hati dengan tatapan kosongnya.
***
Keesokan paginya. Alana terlihat baru saja mandi dan bersiap hendak pergi. karna hari ini ia sudah memiliki janji bersama Ken. untuk menunjukan perusahaan milik ayahnya. namun, tiba - tiba, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya.
"Pagi sekali dia kemari," gerutu Alana. ia mengira bahwa yang bertamu di rumahnya pagi itu ialah Ken. karna hanya Ken-lah yang memiliki Janji dengan Alana waktu itu. Alana dengan cepat membuka pintu rumah itu. namun, ia terkejut saat melihat bahwa yang berdiri di depan pintu rumahnya bukanlah Ken. melainkan seorang wanita yang tak asing di kedua matanya. wanita itu tak lain ialah Caleey, sepupu Alana.
"Kak Caleey," ucap Alana pelan.
"Sedang apa kau kemari?" tanya Alana.
"Sedang menemuimu," ucap Caleey dengan melipat kedua tangannya di atas perut.
"Masuklah!" ajak Alana dengan membuka lebar pintu rumahnya. Caleey sejenak mengintip isi rumah itu.
"Tidak! di luar saja, aku alergi kalau masuk rumah kecil seperti ini!" ucap Caleey, ia pun mendudukan tubuhnya di kursi panjang yang ada di depan rumah Alana.
"Bagaimana kau bisa tau rumahku?" tanya Alana.
"Dari siapa kau tidak perlu tau!" saut Caleey.
"Ada perlu apa kau menemuiku pagi - pagi seperti ini?" tanya Alana.
"Aku dengar, perusahaan Paman akan disita selamanya oleh bank. aku kemari dengan berbaik hati di suruh oleh Daddy untuk membantu melunasi hutang Paman agar perusahaannya tidak disita," ucap Caleey. namun Alana hanya diam saja.
"Tapi itu tidak gratis, setelah Daddyku melunasi hutang Paman, Daddy akan mengambil alih sementara perusahaan itu. dan kau harus ikut tinggal bersama kami! dan tinggalkan Paman!" imbuh Caleey dengan penuh penekanan,
"Apa Mamiku yang menyuruh? apa dia sekarang tinggal bersamamu?" tanya Alana. namun Caleey diam saja.
"Bilangkan kepada Mamiku, sampai matipun, aku tidak akan pernah mau meninggalkan Daddy. dan katakan kepada Paman Afford, aku sudah melunasi semua hutang Daddyku dan menebus sertifikat perusahaan itu, jadi lebih baik kau pergi dari sini. aku tidak butuh belas kasihan dari orang macam kalian!" seru Alana dengan darah yang seakan mendidih di kepalanya.
"Bagaimana kau bisa menebusnya?" tanya Caleey dengan begitu terkejut. namun Alana hanya diam saja.
Tiba - tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Alana. Caleey yang melihat mobil itu tak asing di kedua matanya, ia langsung beranjak berdiri. terlihat seseorang turun dari mobil itu. seseorang itu tak lain ialah Ken.
"Kak Ken?" sapa Caleey dengan begitu keheranan. namun Ken hanya diam saja.
"Kak Ken sedang apa kemari?" tanya Caleey.
"Ini rumah Alana bukan? jadi jelas aku kemari sedang menemui Alana, mana mungkin aku menemuimu," jawab Ken seraya mengalihkan pandangannya, menatap kedua mata Alana.