
Tanpa banyak berkata, Ken segera masuk ke dalam villa untuk memastikan sendiri mencari istrinya di dalam, namun, ia sudah menelusuri semua sudut ruangan yang ada di villa itu termasuk kamarnya, namun tetap saja ia tak menemukan Alana di sana. Ia mengambil ponselnya di dalam kamar dan keluar menmui yang lainnya.
"Apa Alana tidak ada Ken?" tanya Ashley.
"Kalau ada, aku sudah mengajaknya kemari!" seru Ken dengan nada suara yang membentak.
"Ke mana dia?" Ken berdecak bingung,
"Kakak... Alana ke mana?" tanya Jesslyn.
"Kakak juga tidak tau! Kau dan Kimmy pergilah ke kamar, mandi dan gantilah pakaianmu!" perintah Ken.
Jesslyn dan Kimmy sebenarnya enggan untuk mengiyakan perintah Kakaknya, namun, karna Jasson ikut memaksanya, mereka pun terpaksa mengiyakan perintah Kakaknya itu. Jasson mengantarkan Jesslyn dan Kimmy memastikan kedua wanita itu benar-benar masuk ke dalam kamar.
***
Hujan tiba-tiba mengguyur deras sekitar villa itu diiringi dengan suara petir yang saling bersautan. Membuat suasana villa semakin mencekam akan kecemasan Ken terhadap hilangnya Alana yang ia rasa secara tiba-iba.
"Hujan..." Ken berdecak bingung. Ia mencoba menghubungi nomer ponsel milik Alana berkali-kali, namun tidak menemukan jangkauan.
"Ke mana Alana!" Ken menggeram seraya mengusap kasar wajahnya.
"Apa Nona Alana ke pantai menyusul kalian?" Valerie membuka suaranya berjalan mendekati Ken.
"Ke pantai?" tanya Ken. Dahinya mengernyit.
"Iya, jangan-jangan dia menyusul ke pantai, karna tadi ku lihat istrimu terlihat sangat cemas sekali..." ujar Valerie.
Tanpa permisi ataupun menyauti perkataan Valerie, Ken berlalu menjauh dari wanita itu, tangannya dengan cepat menyaut kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Ken, kau mau ke mana?" tanya Billy.
"Mau menyusul istriku," saut Ken.
"Ken, ini hujan," ujar David.
"Iya, Ken setidaknya tunggulah hujannya sedikit reda," tutur Valerie.
"Iya, lihatlah hujannya begitu lebat dan juga disertai angin kencang, setidaknya tunggulah di sini dulu!" timpal Ashley.
"Kalau hujan lantas kenapa? apa kalian menyuruhku menunggu dan bersantai di sini lalu membiarkan istriku kehujanan di luar sana?"
"Sekali-sekali pergunakan otak kalian!" Ken mengenakan jaketnya dan berlalu pergi dari sana, ia berlari menerjang derasnya air hujan menuju ke mobil dan segera melajukan mobilnya untuk mencari Alana.
David dan Ashley saling pandang dan mengangkat kedua bahunya, ia tak terkejut akan sikap Ken yang daridulu memang keras dan penuh amarah jika sedang mencemaskan sesuatu. Bahkan Valerie sendiri bisa merasakan, kecemasan Ken terhadap Alana, hingga membuat hatinya kembali rapuh.
"Billy, Maaf, Ken daridulu memang seperi itu. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya jika sedang mencemaskan sesuatu, tolong maklumi, terlebih lagi yang Ken cemaskan adalah orang yang sangat dia cintai," ucapan David diiringi dengan lirikan ke arah Valerie, membuat sebuah sindiran kecil bagi wanita itu.
"Iya, David, aku tau itu," saut Billy.
"Kalimat terkahir dia sengaja ditujukan kepadaku." Valerie menyambut tatapan David dengan tak ramah.
****
Alana terlihat sedang berteduh di depan teras rumah tua, tubuhnya terlihat basah kuyup karna sempat menghindari air hujan, namun tak meloloskannya.
Ia memang sengaja meninggalkan Villa hendak menyusul yang lainnya ke pantai, karna Alana merasa tak tenang jika hanya berdiam diri di villa dan tak ikut mencari Jesslyn dan Kimmy. Namun, sialnya, baru setengah perjalanan, hujan menguyur dengan sangat lebat. Bahkan gendang telinga Alana disuguhi oleh suara petir yang bersautan dengan mengerikan, membuat wanita itu ketakutan dibuatnya.
Tidak ada orang maupun kendaraan yang melintas di sana. Kedua mata Alana hanya menyoroti kegelapan, bahkan jalanan tak terlihat karna tertutup oleh derasnya air hujan.
Alana duduk berjongkok sambil memegangi kedua telinganya. Suara petir tak hanya menyambar sekali dua kali, namun berkali-kali.
"Aku takut sekali..." kedua mata Alana menyorot sekitar dengan penuh selidik.
Duarrrr
"Ken..." teriaknya tak kalah keras.
"Daddy, tolong Alana..."
"Aku mau pulang..." Air mata Alana berurai, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia hendak meraih ponsel miliknya yang masih terselip di kantung celanannya untuk menghubungi Ken.
Duarrr
suara petir menyambar berkali-kali, membuat Alana mengurungkan niatnya dan memilih berdiam diri, menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Aku mau pulang... aku mau pulang..." Alana mengisak. Ia tak berani membuka kedua matanya
Telinganya tiba-tiba menangkap sesuatu, jantungnya seakan terhenti, saat Alana mendengar dengan jelas suara langkah Kaki yang berkecipak karna terkena genangan air, membuat Alana semakin gemetar ketakutan dan tidak mau membuka kedua matanya.
Apakah orang jahat? pikirnya seperti itu. Pengalaman buruk beberapa bulan yang lalu, kembali terlintas di pikiran Alana, membuat ketakutan wanita itu semakin tak terkendalikan.
Mulut Alana tak henti bergerak meloloskan sebuah doa, agar Tuhan senantiasa melindunginya. Langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat hingga terdengar sangat jelas.
"Jangan mendekat... Jangan mendekat... Tolong... " Alana berteriak histeris saat sebuah tangan mendekapnya.
"Alana... ini aku," beruntunglah, orang itu ialah Ken, bukanlah penjahat yang seperti ada dipikiran Alana.
"Alana... sayang, buka matamu, ini aku!" perintah Ken yang ikut duduk berjongkok. Alana perlahan membuka kedua matanya, kedua matanya menangkap jelas wajah laki-laki yang amat ia cintai itu.
"Ken... " Alana seketika melingkaran tangannya memeluk erat tubuh Ken.
"Ken... Aku takut, aku sangat takut..." Alana masih mengisak. Gemetar yang dihantar oleh tubuh Alana, membuat Ken ikut merasakannya.
"Tenanglah... jangan takut, ayo berdiri!" Ken menuntun tubuh Alana untuk berdiri namun tak membuat Alana melepaskan pelukan itu. Amarah akan kecemasan Ken memuncak, tangannya dengan kasar melepaskan pelukan itu dan mencengkram kedua lengan tangan Alana.
"Aku sudah bilang tunggulah di Villa, kenapa kau malah keluar?" Ken mengeraskan suaranya dengan penuh amarah.
"Kau tidak tau tempat ini! Kalau sampai ada apa-apa denganmu bagaimana?"
"Kalau sampai yang datang kemari bukan aku tapi orang jahat bagaimana?" Ken semakin mengeraskan suaranya. Alana hanya menundukan pandangannya dengan air mata yang masih menderas di sana.
"Apa kau mau aku mati? kenapa kau suka sekali membuatku khawatir... kalau sampai terjadi apa-apa dengan dirimu bagaimana? kalau sampai ada orang jahat melukaimu bagaimana? jawab aku!" Alana hanya terdiam karna merasa dirinya memang bersalah tak mendengar perkataan Ken.
Ken sedikit lega akan rasa khawatirnya, ia mengusap wajah Alana yang basah dan memeluknya dengan begitu erat.
"Maafkan aku..." bibir gemetar Alana yang diiringi dengan isakan tangisnya hanya bisa berucap kata itu.
"Yang penting aku sudah menemukanmu." Suara Ken bertutur dengan nada rendah, seraya menciumi puncak kepala Alana.
"Maafkan Aku, Ken. aku benar-benar tidak tenang berada di Villa sementara Jesslyn dan Kimmy belum kembali, yang dikatakan Nona Valerie benar, kalau tadi aku ikut mereka ke pantai, pasti mereka sudah kembali! Ini semua salahku!" ujarnya dengan suara semakin memberat.
"Valerie? apa saja yang dia katakan?" tanya Ken, dahinya mengernyit tak senang. Alana hanya diam saja dengan tatapan yang masih bingung. Bahkan, ia tak menyadari apa yang baru saja ia ucapkan, hatinya yang kacau meloloskan ucapannya begitu saja.
"Apa yang Valerie katakan?" pertanyaan yang sama terlontar kembali dari mulut Ken. Alana hanya menggeleng kepalanya.
"Kenapa kau selalu menyalahkan dirimu sendiri? Kau tidak bersalah, ini salahku karna membiarkan mereka berdua pergi sendiri. Sekarang Jesslyn dan Kimmy sudah kembali, mereka sudah di villa," ujar Ken.
"Jesslyn dan Kimmy sudah kembali?" tanya Alana, kedua tatapan matanya yang sendu itu membuat Ken menyesal karna telah memarahinya. Ken mengiyakannya dan kembali memeluk dan menciumi kepala Alana berkali-kali. Alana bernapas dengan begitu lega akan kekhawatirannya.
"Ayo kita kembali..." ajak Ken. Alana mengangguk. Ken melepaskan jaket miliknya dan membalutkan jaket tersebut ke tubuh istrinya. Lalu mendekap erat tubuh wanitanya itu menuju ke mobil dan segera kembali ke villa.
***
Di Villa, Jesslyn dan Kimmy berdiri di depan pintu menunggu Kakaknya dan juga Alana kembali, saat Kimmy dan Jesslyn melihat mobil Ken yang telah kembali bersama Alana, mereka berdua begitu heboh dan lega.
"Kimmy ambilkan handuk untuk Alana..." perintah Jesslyn. Kimmy berlari masuk ke dalam kamar dan mengambilkan handuk.
Ken segera membawa Alana yang tengah basah kuyup itu turun dari mobil dan masuk ke dalam Villa. Di ruang depan semuanya terlihat masih berkumpul dengan lengkap menunggu Alana dan juga Ken untuk kembali.
"Alana, kau dari mana saja?" pertanyaan itu di lontarkan secara bergantian kepada Alana.
"Alana, kau pasti mencariku dan Kimmy? maafkan aku sudah menyusahkanmu," ujar Jesslyn dengan penuh rasa sesal.
"Tidak, Jesslyn. Jangan berbicara seperti itu! Kau tidak menyusahkan siapapun," jawab Alana.
"Alana, ini handuknya..." Kimmy datang dengan membawakan sebuah handuk tebal. Ken dengan cepat menyaut handuk itu dari tangan mungil Kimmy dan segera membalutkan ke rambut dan tubuh Alana yang basah.
"Lihatlah, kau basah semua. Kalau kau sampai sakit bagaimana?" Ken mengeringkan tubuh Alana dengan handuk tersebut, ia mengeringkan tubuh Alana dengan mulut yang tak henti mengoceh akan rasa cemasnya terhadap istrinya itu. Sementara Valerie hanya bisa memperhatikannya dengan perasaan yang begitu sesak.
"Kalau saja yang ada di posisi Nona Alana saat ini adalah aku..." rasanya Valerie ingin sekali menangis, melihat pemandangan yang begitu menyakiti hatinya itu. Ia benar-benar tidak bisa melupakan laki-laki yang bertahun-tahun telah mengganggu hatinya tersebut.
"Alana, apa kau tau? kau membuat kami khawatir!" ujar Kimmy.
"Kau dan Jesslyn yang membuatku khawatir!" saut Alana. Alana hendak berpelukan dengan Kimmy dan Jesslyn.
"Sudah! Nanti saja berpelukannya, biarkan Alana ke kamar untuk mengganti pakaiannya." Ken manarik tubuh Alana dan mengajaknya pergi dari sana. Namun, sebelum itu, Ken menatap Valerie dengan tatapan menyilidik tajam.
"Kenapa Ken menatapku seperti itu?" gumam Valerie dalam hati.