
Alana, memandangi Ken dan Jesslyn secara bergantian, ia begitu bingung, dengan adik kakak tersebut.
"Emm, sebenarnya ada apa?" tanya Alana semakin bingung.
"Begini, kedatanganku kemari, karna aku ingin menanyakan tentang perusahaan Ayahmu. apa benar Celouis Company. itu perusahaan milik Ayahmu?" tanya Ken dengan to the point. Alana mengernyit keheranan.
"Ehm, iya, kenapa memangnya, Tuan?" tanya Alana.
"Begini Alana, jadi, Kakakku itu--"
"Kakak bilang diamlah, kenapa kamu masih ikut bicara!" tukas Ken menajamkan kedua matanya kepada Jesslyn.
"Biarkan saja, Tuan Ken. kenapa kau jadi memarahi Jesslyn seperti itu?" Alana ikut berkomentar dengan kesal.
"Kenapa kau jadi ikut campur? dia adikku! jadi terserah aku memarahinya atau tidak!" saut Ken.
"Kenapa kalian jadi berdebat." Jesslyn menyela.
"Ya, karna, ini gara - gara kamu! makanya diamlah!" seru Ken. Jesslyn pun diam sembari mengerucutkan bibirnya.
"Alana, apa aku boleh melihat sertifikat kepemilikan Celouis Company?" tanya Ken kepada Alana.
"Untuk apa?" tatap Alana dengan penuh curiga.
"Aku hanya ingin melihatnya saja," jawab Ken.
"Maaf, Tuan Ken. tapi, sertifikat itu sementara masih di sita oleh pihak Bank. karna, Daddy masih belum melunasi sisa hutangnya," tutur Alana.
"Oh, begitu. Apa Ayahmu sekarang sudah sadar? aku ingin berbicara sebentar dengannya?" tanya Ken.
"Sudah, Tuan. Daddyku sudah sadar. Memangnya, apa yang mau kau bicarakan, Tuan? ehm, bukan suatu hal yang penting kan? karna, aku takut jika mengganggu kesehatan Daddyku, karna Daddy belum benar - benar pulih," tutur Alana.
"Memang ini suatu hal yang penting. tapi, ini tidak akan mengganggu kesehatan ayahmu! aku hanya mau membantu ayahmu untuk melunasi sisa hutangnya," ujar Ken. Alana begitu terkejut saat mendengarnya.
"Benarkah, Tuan. kau mau membantu Daddyku?" tanya Alana dengan begitu bahagianya. Ken pun mengangguk.
"Tapi, itu ada imbal baliknya," ucap Ken dengan menatap tajam Alana. Alana terdiam sejenak dan mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Imbal balik? apa itu, Tuan?" tanya Alana dengan begitu penasaran.
"Kau harus mau menikah dengan Kakakku, Alana." Jesslyn menyaut dengan penuh semangat seraya melebarkan senyumnya.
"Jesslyn!" teriak Ken. Jesslyn langsung membungkam mulutnya seketika.
"Jangan dengarkan dia," tutur Ken.
"Ehm ... lalu, apa imbal baliknya, Tuan Ken?" tanya Alana.
"Pertemukan dulu aku dengan Ayahmu," pinta Ken.
"Baiklah. sebentar, aku akan mengambil tasku dulu." Alana beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
***
Ken, Jesslyn dan juga Alana berjalan kaki menuju ke rumah sakit. karna jarak rumah sakit dari tempat tinggal Alana sangatlah dekat. jadi, Alana sengaja mengajak adik kakak itu untuk berjalan kaki. Jesslyn terlihat begitu sangat senang hari itu. ia berjalan sembari menggelayuti tangan Alana dengan begitu manja. mungkin, karna Jesslyn tidak memiliki saudara perempuan. jadi sebab itulah dirinya begitu menyukai Alana. terlebih lagi, berteman dengan Alana merupakan hal ternyaman bagi Jesslyn. Jesslyn merasa, bahwa Alana sungguh berbeda dari teman - teman lainnya yang pernah ia kenal. melihat Jesslyn yang sebegitu dekatnya dengan Alana, membuat Ken mengernyit keheranan.
"Kenapa, Jesslyn begitu menyukai wanita ini? bahkan sebegitu akrabnya. bukannya, Jesslyn baru beberapa bulan kenal dengannya? aku sangat tau bagaimana Jesslyn, dia tidak semudah itu akrab dengan siapapun. bahkan dengan Caleey pun yang sudah di kenalnya bertahun - tahun."
"Sebenarnya, apa yang di lakukan wanita ini hingga membuat adikku, begitu menyukainya?" gumam Ken sembari memperhatikan Jesslyn dan juga Alana, yang saat ini berjalan mendahuluinya.
***
Setibanya di rumah sakit, Alana mengajak Ken dan Jesslyn untuk masuk ke dalam ruang rawat Ayahnya. di sana, Tuan Holmes terlihat sedang minum obat dengan dibantu oleh perawat rumah sakit. lalu, Alana mengambil alih gelas yang di pegang oleh perwat itu dan Alana membantu Ayahnya tersebut untuk minum. dan perawat itu pamit pergi dari sana.
"Pagi, Paman. saya Jesslyn temannya Alana. bagaimana kabar Paman hari ini?" tanya Jesslyn seraya menepiskan senyumnya. Holmes pun tersenyum balik.
"Sangat baik daripada yang sebelumnya, Nak. terimakasih sudah mau menjenguk Paman," ujar Holmes.
"Syukurlah," ucap Jesslyn. lalu, kedua mata Tuan Holmes beralih ke arah Ken. dan Ken pun tersenyum kepada laki - laki itu. dan Holmes tersenyum balik kepada Ken.
"Alana ... di mana Darrel? kenapa Daddy tidak melihatnya sama sekali?" tanya Holmes seraya melihat ke arah sekitar ruangan itu. Alana terdiam sejenak.
"Ehm, Darrel ... Alana sudah lama putus dengan dia, Daddy." Alana tersenyum kecut. Ken menedengarkan percakapan anak dan ayah itu seraya menyipitkan kedua matanya.
"Dia memiliki kekasih?" gumam Ken dalam hati.
"Putus? lalu, pria ini siapa, Nak. apa dia kekasih barumu?" tanya Holmes, pandangannya pun beralih kembali ke arah Ken.
"Bu-bukan, Daddy. dia Tuan Ken, Kakaknya Jesslyn," ucap Alana.
"Dia Kakakku, Paman. namanya Kendrick. Kakakku akan menjadi calon menan--"
"Diam!" seru Ken.
"Kakak, sakit! kenapa Kakak menginjak kaki Jesslyn?" Jesslyn setengah berteriak, saat kakinya tiba - tiba di injak oleh Ken.
"Kakak bilang jangan ikut bicara!" seru Ken dengan melototkan kedua matanya.
"Hah, serba salah!"Jesslyn menggerutu kesal.
"Maaf, Paman. saya Ken, saya Kakaknya Jesslyn. apa saya boleh berbicara sebentar dengan, Paman?" tanya Ken kepada Holmes.
"Tentu saja, Nak Ken. bicaralah, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Holmes.
"Apa, Celouis Company itu perushaan milik, Paman?" tanya Ken.
"Aku kan tadi sudah bilang, itu memang perusahaan Daddyku, kenapa kau masih bertanya lagi? apa kau tidak percaya, dan menganggapku bahwa aku telah berbohong?" Alana tiba - tba menimpal dan melototkan kedua matanya kepada Ken.
"Bukan seperti itu! Aku hanya memastikan saja dari Ayahmu," balas Ken dengan menahan rasa kesalnya terhadap Alana.
"Alana ..." panggil Holmes dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. berharap agar anaknya tersebut bisa berbicara sopan. Alana pun mengiyakannya dan menundukan pandangannya.
"Iya, Nak. itu memang perusahaan Paman. tapi Paman sudah menghentikan operasional perusahaan itu, karna Paman sudah tidak sanggup membayar upah pekerja," ucap Holmes.
"Tapi, apa mesin produksi yang ada di pabrik Paman, masih berfungsi dengan baik?" tanya Ken.
"Tentu saja, Nak. mesin produksi milik perusahaan Paman, masih bekerja dengan baik. kenapa memangnya?" tanya Holmes.
"Saya mau menawarkan kerja sama dengan perusahaan milik Paman," tutur Ken dengan tatapan penuh keseriusan.
"Kerja sama? kerja sama apa, Nak?" tanya Holmes. Ken sejenak melirik ke arah Alana dan Jesslyn.
"Begini, Paman. saya membutuhkan mesin canggih untuk membantu proses produksi anak perusahaan milik Papa saya yang bergerak dalam bidang industri, karna rekan bisnis Papa saya, tiba - tiba memutuskan hubungan kerja sama secara sepihak. sementara, Papa saya sdah menerima banyak tender dari Client-nya," tutur Ken.
"Iya, Paman. bagaimana Paman bisa tau?" tanya Ken.
"Afford, adik ipar Paman. di Irlandia, hanya perusahaan miliknya dan milik Paman, saja-lah yang memiliki mesin produksi canggih," ucap Holmes.
"Tapi, Nak. sertifikat Perusahaan Paman masih di sita oleh pihak Bank. karna, Paman belum melunasi sisa hutang Paman. lagi pula, Paman tidak ada dana untuk memulai modal, jadi sangat tidak mungkin, jika kita membangun kerja sama," tutur Holmes.
"Paman, tidak usah mengkhawatirkan itu, Ken akan membantu semuanya. yang penting Paman mau bekerja sama membantu perusahaan Papa saya." ucap Ken.
"Tidak boleh! apa kau sudah gila? Daddyku baru saja sadar dan belum benar - benar pulih. dan kau mau menawarkan kerja sama! aku tidak akan mengizinkannya." seru Alana yang menyela begitu saja. Ken memejamkan matanya dengan menahan rasa geramnya terhadap Alana.
"Alana, tenanglah dulu, Nak." kata Holmes.
"Apa nama perusahaan Papa kamu, Nak Ken?" tanya Holmes kepada Ken.
"Urban Moen Industrial," ucap Ken.
"Berarti kamu anaknya Tuan Giordan?" seketika itu Holmes langsung terkejut.
"Iya, Paman. Paman mengenal Papa saya?" tanya Ken.
"Tentu saja, Nak. siapa yang tidak mengenal Papamu. dulu Paman juga juga hampir menerima tender dari Papamu, tapi--"
"Tapi kenapa Paman?" tanya Ken.
"Tidak apa - apa, Nak. lupakan saja," ujar Holmes dengan tersenyum.
"Apa Paman mau kerjasama dengan perusahaan Papa saya?" tanya Ken.
"Tapi, Nak. Paman sudah tidak bisa mengelola perusahaan itu lagi. kau bisa melihat kondisi Paman saat ini, tangan dan Kaki Paman saja sangat susah di gerakan, terlebih lagi, serifikat perusahaan itu masih di sita oleh pihak Bank," ujar Holmes.
"Paman tidak perlu mengkhawatirkan itu. Ken akan membantu mengelola perusahaan Paman. dan Ken akan membantu Paman melunasi hutang Paman kepada pihak bank. bukankah, pihak bank memberi jangka waktu peluanasan dalam satu bulan ini? jika Paman tidak segera melunasi hutang Paman, perusahaan Paman akan disita selamanya oleh pihak bank, bukan?" tanya Ken. Holmes begitu terkejut saat mendengarnya.
"Disita selamanya? kenapa Paman tidak tau?" tanya Holmes dengan begitu terkesiap.
"Alana?" panggil Holmes.
"Iya, Daddy. maaf, Alana belum sempat memberitau Daddy. yang dikatakan oleh Tuan Ken memang benar, pihak bank berkali - kali mendatangi Alana untuk menagih sisa hutang Daddy. jika dalam satu bulan ini, kita tidak bisa melunasinya. maka, perusahaan keluarga kita akan di wewenangkan kepada negara," tutur Alana.
"Tidak... itu tidak boleh, itu tidak boleh!" Holmes begitu histeris hingga ia merasakan dadanya tiba- tiba terasa sesak.
"Daddy, tenanglah," Alana mendekati Ayahnya dan mencoba menenangkan Ayahnya tersebut.
"Tidak Alana, itu tidak boleh terjadi. mereka tidak boleh menyita perusahaan itu, hutang Daddy tidak sebanding dengan perusahaan itu. mereka tidak boleh menyitanya!" Holmes berbicara dengan tersengal - sengal, seketika itu, ia memegangi dadanya karna kesulitan untuk bernafas.
"Daddy ... Daddy kenapa?" teriak Alana dengan panik.
"Alana, aku panggilkan dokter," Jesslyn seketika itu langsung menekan tombol darurat berkali - kali. dan tak lama kemudian, Dokter pun datang dengan 2 orang perawat.
"Dokter, tolong Daddy saya," Alana menangis ketakutan saat melihat Ayahnya yang tiba - tiba Anfal.
"Tolong, Nona dan yang lainnya keluar terlebih dulu," perintah dokter. Alana pun mengiyakannya, dengan berat hati ia pun keluar dari ruangan itu, dan di ikuti oleh Jesslyn dan juga Ken.
"Daddy," Alana menyeka air matanya yang mengalir di pipi sembari memperhatikan Ayahnya dari luar ruangan.
"Alana, tenanglah. Daddymu akan baik - baik saja," tutur Jesslyn seraya mengusap usap punggung Alana.
"Aku takut, Jesslyn." Alana semakin menangis. lalu ia melihat ke arah Ken.
"Ini semua gara - gara kau! Daddyku anfal karna dirimu!" teriak Alana dengan mendorong keras tubuh Ken. namun, Ken hanya diam saja.
"Alana, Kakakku hanya ingin membantu keuargamu saja!" saut Jesslyn.
"Tapi Daddyku anfal karna Kakakmu, Jesslyn," ucap Alana dengan menangis. Jesslyn pun tak segan memeluk wanita itu.
"Alana, Kakakku tidak bermaksud seperti itu." Jesslyn menenangkan Alana dan mengajaknya untuk duduk. di kursi yang ada di depan ruangan itu. Ken pun berjalan mendekati Alana dan adiknya. ia memandangi Alana yang masih menangis.
"Ayahmu anfal karna mendengar perusahaannya akan disita selamanya! bukan karna diriku!" ucap Ken. namun Alana tak menggubrisnya.
"Alana, aku punya tawaran untukmu, kalau kau mau menikah denganku, aku akan membantu Ayahmu melunasi hutangnya dan aku akan membantu mengelola perusahaan Ayahmu untuk bangkit lagi," tutur Ken. Alana langsung mengangkat wajahnya menatap tajam Ken. ia pun beranjak berdiri dan mendekati laki - laki itu.
"Apa kau bilang? menikah denganmu? tidak ... aku tidak mau menikah denganmu! aku tidak mau! pergilah dari sini aku tidak ingin melihatmu!" seru Alana dengan mendorong tubuh Ken. Jesslyn yang mendengarnya, seketika itu langsung memejamkan kedua matanya.
"Astaga, kenapa Kakakku menjadi begitu bodoh? dia berbicara disaat waktu yang tidak tepat!" gumam Jesslyn dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.