
Alana dan Ken segera masuk ke dalam kamar mereka. "Tunggu di sini, aku akan mengambilkan pakaian untukmu!" Ken beranjak mendekati lemari yang di dalamnya tertata beberapa baju miliknya dan juga Alana.
"Ken, aku bisa mengambil sendiri," ujar Alana berjalan mendekati Ken.
"Sudah, diamlah!" Ken memilah-milah lipatan baju mlik Alana.
"Kau mau memakai baju yang mana? apa ini?" tanya Ken menarik salah satu baju dan menunjukannya kepada Alana.
"Atau yang ini?" tangan lainnya menarik salah satu baju juga hingga kedua tangan Ken saat ini memegang kedua baju berbeda yang ditujukan kepada Alana.
"Tapi, ini bajumu terlalu minim kain, nanti kau kedinginan. Lebih baik menggunakan bajuku saja." Ken mengambalikan kedua baju milik Alana yang sempat ia ambil di tumpukan baju yang lainnya. Kemudian, ia mengambil dua baju miliknya yang berbeda.
"Kau mau memakai yang mana? yang ini? atau yang ini?" Ken menunjukan kedua baju miliknya yang saat ini ada di kedua tangannya.
Bukannya menjawab Alana malah tersenyum. "Kenapa kau malah tersenyum?" Ken mengernyit kesal.
"Aku sedang bertanya! Kau mau pakai baju yang mana?" imbuhnya.
Alana berjalan semakin mendekat, ia mengmbil kedua baju itu dari tangan Ken dan segera memeluk tubuh kekar suaminya yang tak kalah basah akibat guyuran air hujan. Alana mengeratkan pelukannya, membuat Ken mengernyit heran.
"Kenapa kau malah memelukku? ayo cepat gantilah bajumu! Nanti kau sakit!" seru Ken dengan nada memaksa.
Alana melepas pelukannya. "Aku akan memakai bajumu yang ini." Alana mengambil baju berwarna dark grey yang ada di tangan kiri Ken.
"Dan ini pakailah. Bajumu juga basah karna diriku." Tangan Alana merabah baju basah yang masih melekat di tubuh suaminya itu.
"Ya sudah, cepat gantilah."
Alana menganggukan kepalanya mengiyakan perintah Ken dan segera masuk ke dalam kamar mandi mengganti bajunya yang basah akibat terkena guyran air hujan tadi.
Tak lama kemudian, ia kembali keluar dari dalam kamar mandi menemui Ken yang terlihat sudah mengganti palaiannya juga.
"Kau sudah mengganti pakaianmu, sayang?" tanya Alana yang berjalan mendekati Ken.
"Sudah..." sautnya sembari menoleh ke arah Alana. Ia memperhatikan baju miliknya yang begitu kedodoran di tubuh Alana, bagaimana tidak. Tubuh Alana dua kali lipat lebih kecil dari tubuhnya. Membuat Ken tersenyum gemas saat melihatnya.
"Kau sangat lucu," Ken menahan tawanya seraya mengusap wajah Alana.
"Kau meledekku?" Alana mengerucutkan bibirnya.
"Tidak..." Ken tersenyum.
"Kemarilah, biar ku keringkan rambutmu." Ken meraih handuk yang sama saat ia kenakan untuk mengeringkan tubuh Alana tadi. Kedua tangannya mengeringkan rambut Alana yang masih basah dengan begitu cepat namun hati-hati. Alana hanya menatap Ken dengan menarik ingusnya yang ia rasa naik turun dari tempatnya.
"Apa kau flu?" Ken menghentikan aktivitasnya.
"Tidak..." Alana menggeleng kepalanya.
"Tapi kau flu!" seru Ken. Ia beranjak mendekati meja yang di atasnya terlihat satu kotak tissue di sana. Ken segera menarik beberapa lembar tissue dan hendak membantu Alana untuk membersihkan ingusnya itu.
"Aku bisa sendiri..." Alana menekan hidungnya dengan tissue tersebut dan mengeluarkan ingusnya, lalu, membuang tissue itu ke dalam tong sampah kecil yang tersedia di dalam kamar itu.
"Kau benar-benar flu, pasti karna hujan tadi! Lebih baik kita ke dokter!" ujar Ken.
"Sayang, aku baik-baik saja!" ujar Alana.
"Baik apanya? jelas-jelas kau flu! Tunggulah di sini, aku akan bertanya kepada David, barangkali di sekitar sini ada seorang dokter." Ken hendak meninggalkan Alana. Namun, tangan Alana dengan cepat menghentikan langkah kaki suaminya agar tidak pergi dari kamar itu.
"Ken..."
"Ada apa?" dahi Ken mengernyit.
"Aku baik-baik saja, jangan berlebihan! Kau tidak perlu secemas itu!" Alana mencoba meyakinkan suaminya tersebut.
"Siapa yang cemas! Aku tidak mau jika kau sakit, nanti kau menyusahkanku dan yang lainnya di sini," bantah Ken.
"Ya sudah!" Alana mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah apa?" tanya Ken.
"Kalau kau merasa aku menyusahkanmu, aku pulang saja." Alana melipat kedua tangannya dengan kesal.
Ken menggeleng kepalanya menatap wajah cemberut istrinya itu. "Begitu saja marah!" Ken seketika memeluk Alana dengan gemas.
"Aku benar-benar mencemaskanmu. Aku tidak ingin siapapun menyakitimu, bahkan air hujan sekalipun." imbuhnya, Ken mencium kepala Alana dengan suaranya yang bertutur begitu dalam. Jelas sekali, kekhawatiran masih melekat di kedua manik matanya. Ia memejamkan matanya, mengingat tadi saat istrinya sendirian di tempat asing itu, ditemani oleh lebatnya hujan dan gelapnya malam. Ia tak bisa membayangkan jika ada orang yang berniat jahat kepada wanita yang amat ia cintai itu.
"Sayang, aku baik-baik saja, percayalah." Alana membalas pelukan ternyamannya saat ini.
Mereka begitu lama saling memeluk satu sama lain, hingga Ken terlebih dulu melepaskan pelukan itu dan memandangi wajah Alana dengan begitu seksama. "Aku tidak bisa membayangkan jika kau tadi kenapa-kenapa," ujar Ken.
"Aku kan baik-baik saja..." Alana tersenyum membuat ketenangan sendiri di hati Ken.
"Iya, karna aku datang menjemputmu. Bagaimana kalau orang jahat?" seru Ken.
"Mungkin aku hanya ditikam, lalu diambil semua organ tubuhku..." Alana menyaut begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja ia katakan. Membuat Ken begitu takut saat mendengarnya.
"Tutup mulutmu! Jangan bicara seperti itu!" Ken mengeraskan suaranya dengan tak suka.
"Tapi memang seperti itu. Biasanya, jika ada penjahat pasti mereka---" Telapak tangan Ken berhasil membungkan mulut Alana supaya tidak meloloskan perkataan selanjutnnya.
"Ken lepaskan!" suara Alana tertahan di telapak tangan Ken. Seketika itu, Ken segera melepas tangannya.
"Jangan bicara seperti itu lagi kau mengerti!" Seru Ken dengan nada membentak. Alana menggembungkan pipinya dan menganggukan kepala pertanda dirinya mengerti akan perkataan suaminya.
"Maafkan, aku."
"Tunggu di sini, aku akan membuatkan Ginger tea untukmu, supaya tubuhmu sedikit hangat," kata Ken seraya menjauhkan tangannya dari Alana.
"Tidak usah, sayang. biar aku saja! Kau saja yang tunggu di sini!" perintah Alana.
"Biar aku saja!" Ken menajamkan kedua alisnya. Merasa tidak suka jika Alana membantah perintahnya.
"Ya sudah, aku akan menemanimu membuat Ginger tea." Alana menarik tangan Ken, berlalu keluar dari sana. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke dapur membuat teh jahe bersama.
Alana menuang air ke dalam panci kecil dan menyalakan knop kompor hingga mengeluarkan api dari sela-sela tungku itu. Sementara Ken mengambil dua cangkir di dalam rak dan sibuk menuang jahe bubuk dan juga satu kantong teh di tiap masing-masing cangkir tersebut.
"Kami sedang membuat Ginger tea, Paman," saut Alana.
"Biar saya saja yang membuatkan untuk kalian, kalian tunggu di kamar saja, nanti akan saya antarkan. Karna ini tugas saya," ucap Tuan Kin dengan bahu yang sedikit menunduk.
"Tidak Apa-apa, Paman. Kami bisa membuatnya sendiri, Paman istirahat saja. Lagipula, kami juga ingin menghangatkan tubuh di dekat tungku," jawab Ken.
"Baiklah, kalau begitu, saya permisi..." Tuan Kin segera mengundurkan diri pergi dari sana meninggalkan Alana dan Ken yang sibuk menunggu air mendidih untuk membuat teh jahe.
"Kemarikan tanganmu!" Tiba-tiba Ken menyaut tangan Alana dan hendak mendekatkannya ke kompor.
Alana sontak menjauhkan tangannya. "Apa kau mau membakar tanganku?" serunya.
"Siapa yang mau membakar tanganmu? aku hanya mau menghangatkannya. Kemarikan." Ken menarik kembali telapak tangan itu dan mendekatkannya di atas panci yang mengeluarkan uap dari air yang sedang mereka masak, membuat pemandangan mereka begitu mesra, terlebih lagi, hal yang dilakukan oleh Ken saat ini sangatlah ampuh untuk mengusir hawa dingin yang sedang menyelimuti tubuh mereka berdua akibat guyuran hujan tadi.
Suara benturan sepatu dengan lantai yang berasal dari langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah dapur, kedua mata Ken dan Alana secara bersamaan melihat ke arah pintu dapur yang di sana tengah menampakan Valerie sedang berjalan masuk ke dalam dapur itu.
Kedua mata Valerie terpusat di kedua tangan Ken yang sedang mencoba menghangatkan telapak tangan Alana. Rasanya tatapan itu tak menyenangkan di raut wajahnya.
"Nona Valerie..." Alana seketika menurunkan tangannya.
"Maaf, aku sepertinya mengganggu kalian." Valerie memandang Alana, lalu mengalihkannya ke arah Ken. Kedua matanya begitu gemar menatap Ken.
"Tidak, kau tidak mengganggu. Kami sedang membuat Ginger tea," saut Alana.
"Di mana penjaga villa? Billy meminta kopi," ujar Valerie.
"Sedang beristirahat, beliau bukan pembantu di sini, jadi lebih baik buatlah kopi sendiri untuknya," tutur Ken seraya mematikan kompor yang sudah membuat air yang ia masak mendidih. Valerie mengiyakan dengan suaranya yang samar.
"Biar aku saja..." Alana meraih panci yang hendak di pegang Ken dan menuangkan air mendidih itu ke dalam dua cangkir yang berisi jahe bubuk dan kantong teh di dalamnya. Alana mengembalikan panci itu di atas tungku kompor dan segera mengaduk teh jahe dengan menggunakansendok teh.
"Mau minum di kamar atau di sini?" tanya Alana kepada Ken.
"Terserah kau saja," saut Ken.
"Minum di sini saja, ya? biar kita tidak merepotkan Paman Kin," ujar Alana. Ken menganggukan kepalanyamenuruti permintaan istrinya itu.
"Kemarikan, biar aku saja yang membawa cangkirnya," pinta Alana.
"Tidak usah," ujar Ken.
"Ya sudah, bawalah tehmu dan aku akan membawa tehku sendiri, kemarikan!" pinta Alana.
"Aku bilang tidak usah! Hanya karna cangkir teh saja kau mengajakku ribut!" Alana seketika terdiam mengiyakan suaminya.
Ken membawa dua cangkir teg jahe itu mendekat ke meja makan dan meletakannya di atas sana. Ia menarik dua bangku kursi kosong dan mengajak Alana untuk duduk bersebelahan di sana. Sementara Valerie, ia terpaksa membuatkan kopi sendiri untuk Billy, sebenarnya ia enggan sekali jika harus melihat Ken dan Alana di ruangan yang sama. Namun, bagaimana lagi, ia lebih enggan lagi jika harus terkena amarahnya Billy.
Alana dan Ken sedang sedang menikmati teh jahe milik mereka masing-masing sambil memulai percakapan kecil.
"Pelan-pelan, ini panas..." ujar Ken.
"Memangnya siapa yang bilang ini dingin?" seru Alana. Alana langsung meminum teh yang masih mengeluarkan begitu banyak uap di atasnya.
"Panas..." lidah Alana kepanasan saat menyentuh teh tersebut.
"Aku kan sudah bilang pelan-pelan ini panas! Kau ini seperti anak kecil saja!" seru Ken.
"Aku ingin mencobanya, aku heran dengan Kimmy, kenapa dia begitu kuat sekali meminum susu coklat yang masih panas, bahkan katanya meminum air yang masih mendidih di atas kompor saja dia sudah biasa," ujar Alana.
"Lalu kau percaya?" tanya Ken.
"Tentu saja..." saut Alana.
"Kau dan Kimmy sama bodohnya!" seru Ken.
"Kemarikan..." Ken meraih cangkir teh milik Alana.
"Mau kau apakan tehku?" tanya Alana. Ken hanya diam saja dan meniup-niup cangkir yang masih berisi teh panas itu. Sesekali Valerie memperhatikan mereka berdua.
"Aku bisa meniupnya sendiri..." ujar Alana.
"Diamlah!" Ken masih sibuk meniup teh itu hingga telihat banyak sekali uap panas yang keluar dari sana.
Ken mencoba meminum sedikit teh itu. "Ayo minumlah!" saat dirasa suhu teh tersebut sudah bersahabat dengan lidahnya, ia mendekatkan bibir cangkir itu ke mulut Alana hingga memudahkan wanita itu untuk meneguk teh tersebut dengan perlehan-lahan.
"Habiskan! Cangkirnya sekalian!" goda Ken, Alana hanya terkekeh.
Valerie terlihat menunduk dan sibuk membuatkan kopi untuk Billy. "Nona Alana memang sengaja, ingin membuatku terluka..." Valerie tak mau melihat pemandangan yang menyakiti matanya itu, namun tetap saja, suara perbincangan Alana dan Ken begitu menyiksa hatinya. Rasanya ia ingin sekali segera pergi dari sana.
Tiba-tiba sebuah suara berhasil menyita perhatian Alana dan Ken.
Suara apakah itu? wkwkwkwk
.
.
.
.
.
.
.
.
Udah hari senin, yuk bantu vote dan likenya :)