
Killiney coffee
David menikmati kopi bersama Valerie, mereka mengobrol dan saling menyelipkan canda di sela-sela obrolannya, tak jarang, Valerie dibuat tertawa oleh oleh laki-laki yang kini menjadi bos di mana tempat dirinya bekerja itu.
Suara dering ponsel milik David berbunyi, sejenak menghentikan percapakan mereka berdua, David meraih ponsel miliknya yang terselip di saku celananya. terlihat ada satu panggilan masuk dari Ibunya.
"Ibu."
"Valerie, sebentar, Ibuku menelpon." Valerie mengiyakannya. David tak mau berpindah posisi dari tempat duduknya dan ia segera menerima panggilan masuk dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Hallo, Bu."
"David, kau di mana?" tanyanya.
"Sedang berada di luar bersama temanku," jawabnya.
"Bisakah kau pulang ke rumah? Bibi Nam dan juga putrinya sedang ada di sini, dia ingin membahas persiapan minggu epan." Ucapan Ibunya membuat David terdiam dan saling bertukar pandang dengan Valerie.
"David?"
'David tidak bisa, Bu."
"David, sebentar saja. Apa temanmu lebih penting daripada calon istrimu?" serunya. Namun David hanya diam saja, tak membalas ucapan ibunya, ia benar-benar tak menginginkan ini semua.
"David..."
"David akan pulang ke rumah besok.
"Ibu tidak mau tau, kau harus pulang sekarang!"
"Maaf, Bu." David segera mengakhiri panggilan itu sebelum ibunya berbicara. David seketika menonaktifkan ponselnya dan mengembaikan ponsel itu ke tempat semula.
"Ibumu menyuruhmu pulang?" tanya Valerie. David menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu pulanglah, aku juga akan pulang. Kasihan ibumu, dia pasti menunggumu." Valerie hendak beranjak berdiri, namun David menahan tangannya.
"Tidak, bukan hal yang penting... Aku bisa pulang ke rumah besok."
"David..."
"Valerie, kau tadi bilang akan menemaniku bukan?"
"Iya, tapi ibumu?"
"Aku sudah bilang, ibuku menemuiku bukan karna ada suatu hal yang penting. Duduklah kembali!" perintah David. Valerie terpaksa mengiyakannya, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka meskipun Valerie merasa tidak enak hati.
***
Alana dan Ken terlihat sedang berada di dalam mobil, karna pagi itu, Ken akan mengajaknya untuk pergi ke dokter kandungan memeriksakan kehamilan istrinya yang hampir memasuki usia 21 minggu.
begitu bahagianya mereka berdua yang tidak sabar menunggu kelahiran anaknya dan akan segera beralih menikmati peran sebagai orang tua.
Setibanya di dokter kandungan, Alana melakukan USG ditemani oleh laki-laki yang sangat ia cintai setelah ayahnya. Melihat gerak tumbuh perkembangan janin yang terpampang jelas di layar monitor, membuat Alana seakan tak mempercayai bahwa di dalam perutnya kini telah tumbuh nyawa baru di sana. Kedua mata Alana berbinar, senyuman melengkung sempurna di wajahnya, saat melihat anaknya sedang bergerak, namun Alana masih belum bisa merasakan pergerakan itu.
Dokter tidak bisa memprediksi jenis kelamin sang janin, karna posisi kaki janin terlihat menyilang hingga tidak memungkinkan untuk melihat jenis kelaminnya. Alana sempat dibuat sedikit kecewa akan hal tersebut, karna dirinya ingin sekali mengetahui jenis kelamin calon anaknya. Namun, itu tak membuat Alana mempermasalahkannya, yang terpenting janin yang ada di dalam kandungannya saat ini sangatlah sehat, itu lebih dari kabar menggembirakan bagi dirinya, tak peduli apapun jenis kelamin anak yang ia lahirkan nanti.
Oang yang paling bahagia dan sangat tidak sabar menantikan calon buah hatinya lahir di dunia adalah Ken, ia benar-benar tidak sabar menantikan hari itu. Meskipun wajahnya nampak datar dan biasa-biasa saja, namun dalam hati laki-laki itu, ini adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa baginya, sama halnya seperti Alana, ia masih tak mempercayai akan segera memiliki anak dari wanita yang sangat ia cintai selain Mama dan juga adiknya.
Setelah memeriksa kandungan Alana, Ken mengajak istrinya itu pulang. Kini mereka berdua berada di dalam mobil untuk melakukan perjalanan kembali ke rumah.
"Ken..." Alana memanggil, menghadapkan sedikit wajahnya ke arah suaminya yang sedang fokus mengemudikan mobil.
"Apa?"
"Ken, aku bosan. Aku ingin sekali jalan-jalan." Alana melirik berharap Ken mengertikan apa kemauannya.
"Kau tidak dengar, tadi dokter menyruhmu untuk lebih banyak beristirahat?"
Alana hanya diam lalu mengiyakannya, seakan melupakan apa yang dikatakan oleh dokter tadi.
Sunyi
Sunyi
"Ken..." Alana Menoleh kembali.
"Apa lagi?"
"Aku ingin sekali makan kentang tumpuk, sepertinya sangat enak." Alana menelan salivanya membayangkan betapa nikmatnya memakan mashed potato..
"Nanti di rumah aku akan menyuruh Bi Ester untuk membuatkannya."
"Kenapa harus Bi Ester?" tanya Alana.
"Lalu siapa lagi yang mau membuatkannya? Paman Lux?" seru Ken. Alana hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya, Ken melirik ke arah Alana, mengerti apa yang sedang istrinya itu inginkan.
"Baiklah, nanti aku akan membuatkannya untukmu." Mendengar perkataan Ken, Alana begitu kegirangan dan berkali-kali mengucap terimakasih dengan penuh semangat.
***
Setibanya di rumah, Dapur menjadi tempat tujuan mereka berdua. Ken menyuruh Bi Ester menghentikan aktivitas memasaknya dan pergi meninggalkan dapur itu, membiarkan dirinya dan Alana berdua di dalam sana. Ken menyuruh Alana duduk manis di salah satu kursi meja makan yang baru saja ia tarik untuk menemaninya memasak. Namun, sebelumnya, Ken sudah meminta resep kentang tumbuk kepada Bi Ester.
Ken segera mengambil bahan-bahan yang sudah tersedia di dalam lemari es, ia mengambil beberapa kentang berukuran besar yang sudah dikupas, keju, susu, mentega dan juga bahan pelengkap lainnya.
Ia mulai mengukus kentang tersebut lalu menumbuknya. Terasa menyiksa, karna memasak bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Ken, namun demi Alana, semuanya terasa mudah meskipun sebenarnya tidak demikian.
Alana yang kala itu masih menunggu suaminya memasak, perhatiannya teralihkan akan ponselnya yang bergetar, terlihat ada panggilan video masuk dari Jesslyn dan juga Kimmy.
"Alana segera menerima panggilan itu dan menghadapkan layar ponsel itu tepat di wajahnya.
"Alana...." layar ponsel itu menampakan wajah Kimmy dan juga Jesslyn di tempat yang berbeda.
"Kalian tidak kemari?" tanya Alana.
"Besok saja, aku hari ini ingin beristirahat, Kimmy juga masih berada di luar kota," jawab Jesslyn.
"Alana, aku sangat merindukanmu. Kau sedang apa?" tanya Kimmy.
"Aku juga sangat merindukanmu, aku sedang di dapur menunggu Ken membuatkan makanan untukku," jawab Alana.
"Kakak sedang memasak?" saut Jesslyn.
"Iya, Kakakmu memasak." Alana beranjak berdiri mendekatkan layar ponsel itu kepada suaminya. "lihatlah, Ken sedang menumbuk kentang."
"Kakak..." Jesslyn dan Kimmy saling melambaikan tangan, namun tak membuat Ken menyautinya, ia masih berperang dan fokus untuk menumbuk kentang-kentang tersebut.
"Alana, Kakak Ken kalau menumbuk kentang lucu sekali." Perkataan Kimmy membuat Alana tertawa, seketika itu Ken melirik ke arah layar ponsel dengan tatapan tajam.
"Apa kalian juga mau kutumbuk bersama kentang-kentang ini?" seru Ken.
"Kami hanya bercanda..." Jesslyn dan Kimmy tertawa tiada henti.
Alana sejenak memberi jeda dalam obrolan video bersama teman dan adik iparnya itu.
"Apa sudah selesai?" tanya Alana kepada Ken.
"Belum sayangggg..." jawab Ken dengan manahan rasa gemas.
Alana mencicipi sebagian kentang itu dengan menggunakan jarinya. "Kentangnya kurang halus..."
"Hem..." saut Ken.
"Bawang putihnya sedikit saja, aku tidak terlalu menyukainya. Nanti keju dan susunya berilah yang banyak dan harus creamy."
"Cerewet!"
Alana terkekeh dan kembali mendudukan tubuhnya di kursi semula. Sesekali Ken melirik ke arah Alana yang kembali melanjutkan obrolan melalui panggilan video bersama Kimmy dan juga Jesslyn, wanita itu terlihat tertawa, membuat Ken tersenyum saat melihatnya.
Ken kembali menumbuk kentang tersebut hingga benar-benar halus, bahkan keringatnya terlihat mengucur deras di dahinya. "Nak, kau tidak tau perjuangan ayahmu demi bisa membahagiakan ibumu," gumam Ken sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengusap keringat di dahinya.