My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Sama-sama menyebalkan



Suara Kimmy yang mengganggu membuat Ken begitu kesal saat mendengarnya, "Kenapa Kimmy berteriak-teriak?" tanya Ken.


"Astaga..." Alana seketika membungkam erat mulutnya saat ia teringat jika Kimmy sedang menunggu dirinya di luar kamar.


"Kenapa?" tanya Ken.


"Ken,  sebentar..." Alana menjauhkan tubuh Ken dan hendak beranjak turun dari tempatnya. namun, Ken menarik tangannya dan tak membiarkan istrinya tersebut pergi dari sana.


"Mau ke mana?" Ken sudah memasang wajah yang tak ramah terhadap Alana.


"Ken, aku lupa,  Kimmy tadi menungguku di depan kamar." Alana mencoba menarik tangannya berharap Ken melepaskannya.


"Kimmy? sedang apa dia menunggumu di depan kamar?" Ken bertanya-tanya mencoba mengartikan raut wajah Alana.


"Ehm..." Alana kebingungan mencari jawaban yang tepat.


"Lupakan masalah Kimmy. sepertinya dia sudah pergi,  suaranya tidak terdengar." Ken menarik dan  mendekap kembali tubuh Alana. telinga Alana terpasang dengan baik untuk mendengarkan suara Kimmy. namun, dirinya tak menangkap suara apapun dari luar kamar. Alana mengangguk. ia dan Ken melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat terganggu oleh suara Kimmy.


***


Jasson masih membekap mulut Kimmy dan menggeretnya menjauh dari kamar Kakaknya. Tangan Kimmy meronta berharap laki-laki itu melepaskannya. Terlebih lagi,  suara yang tertahan akan telapak  tangan Jasson,  membuat wanita itu semakin kesulitan bernapas. merasa tak di hiraukan,  gigi rapi Kimmy menggigit keras telapak tangan Jasson, hingga Jasson berteriak dan menjauhkan tangannya.


"Kau menggigitku!" teriak Jasson dengan kesal.


"Aku hampir kehilangan napas, kalau napasku hilang kau mau memberiku napas buatan?" seru Kimmy, ia melototkan kedua matanya kepada Jasson sambil meletakan kedua tangannya di atas pinggang. lalu, ia hendak pergi meninggalkan Jasson. tangan Jasson dengan cepat menarik kera baju Kimmy. Kimmy meronta-ronta  layaknya anak kucing yang minta dilepaskan.


"Mau ke mana?" tanya Jasson.


"Aku mau menolong Alana. tolong lepaskan!" Kimmy mencoba menjauhkan tangan Jasson dari keranya namun usahanya sia-sia.


"Apa yang mau di tolong!" seru Jasson.


"Jasson, tolong!  kamu boleh bodoh tapi jangan kelewatan! Alana sedang disiksa oleh Kakak Ken." Jasson membalikan tubuh Kimmy tepat menghadap ke dirinya. ia sejenak menatap Kimmy hingga membuat Kimmy menciut.


"Kau berani mengataiku bodoh?" Jasson menatap tajam kedua mata Kimmy. Kimmy mengangkat kedua tangannya dan membungkam mulutnya yang sempat berbicara dengan asal.


"Ti-tidak, ma-maksudku! Kakak Ken tadi bertengkar dengan Alana."


"Lalu?" Jasson menunggu lanjutan dari apa yang ingin Kimmy katakan.


"Aku takut Kakak Ken menyiksanya. tadi aku bilang kepada Alana seperti ini.


Alana, aku akan menunggu di depan pintu. kalau Kakak Ken menyiksamu, kau berteriak saja aku akan membantumu dan menolongmu!" ujar Kimmy sembari meragakan apa yang sempat ia katakan kepada Alana tadi.


"Tadi sebelum kau datang, Alana berteriak keras sekali! aku takut Kakak Ken menyakitinya! ayo kita menolongnya!" Kimmy yang begitu penuh semangat segera menarik tangan Jasson.


"Alana baik-baik saja, bodoh!" Jasson menarik balik tangan Kimmy. ia menarik tangan Kimmy dengan begitu keras, hingga membuat tubuh  mereka saling bersentuhan bahkan tak sengaja hanya menyisakan jarak 1 cm di antara mereka.


"Jasson..." Kimmy menelan salivanya dengan kasar.


"Jasson, jika jantungku meledak kau harus bertanggung jawab!" bibir mungil Kimmy berucap dengan gemetar.


"Dasar gila!" Jasson seketika menjauhkan tubuh  Kimmy darinya.


"Jangan mengganggu Kakak dan Alana, kau mengerti!" seru Jasson.


"Tapi, Alana, dia--"


"Kakak tidak akan menyakiti Alana! kau ini bodoh atau bagaimana!" tukas Jasson guratan di dahinya menggambarkan akan kekesalannya kepada wanita yang saat ini berhadapan dengannya.


"Kembali dan tidurlah ke  kamar Jesslyn!" Jesslyn.


"Kalau aku  tidur di kamarmu saja bagaimana?" tanya Kimmy dengan menatap polos kedua mata Jasson. Jasson terdiam dan menatapnya dengan tajam.


"Ma-maksudku, aku tidur di tempat tidur dan kau di sofa..." Jasson masih tak bergeming akan tatapan dan bibirnya.


"Atau, begini, aku yang tidur di sofa dan kau tidur di tempat tidur. aku tidur di lantai juga tidak apa-apa. yang penting tidur di kamarmu! bagaimana?" imbuh Kimmy dengan penuh harap. Jasson masih menatapnya dengan tatapan  dingin.


"Ah, benarkah?" Kimmy melebarkan kedua matanya seakan tak percaya, ia begitu girang dengan apa yang di katakan oleh Jasson. karna dari dulu, ia ingin sekali melihat isi kamar laki-laki yang ia sukai itu.


"Tapi jangan salahkan aku, jika besok kau keluar tanpa membawa nyawa!" seru Jasson. Kimmy mendelik dan menelan salivanya kembali. ia bergidik ngeri saat mendengar ucapan Jasson.


"Ayo!" ajak Jasson.


"Ti-tidak mau, a-aku tidur ke kamar Jesslyn saja." Kimmy dengan cepat berlalu meninggalkan Jasson untuk pergi ke kamar Jesslyn.


"Dia benar-benar gila!" Jasson menggeleng kepalanya dan segera pergi ke dapur untuk membuat kopi.


***


Kimmy kembali ke kamar Jesslyn. ia berdiri di depan pintu dengan pikiran yang masih khawatir akan Alana.


"Apa benar, Alana baik-baik saja?" gumam  Kimmy.


"Semoga dia baik-baik saja." Kimmy segera masuk ke dalam kamar Jesslyn. namun, sialnya, ia melihat tubuh Jesslyn tidur dengan melentang ke sembarang arah hingga tubuhnya memakan semua tempat tidur.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau Jesslyn tidurnya seperti itu?" Kimmy mendekati Jesslyn. tangannya hendak menyentuh bahu Jesslyn bermaksud untuk membangunkannya. namun, ia urungkan.


"Kalau aku bangunkan, nanti dia memarahiku." Kimmy mengerucutkan bibirnya dengan bingung.


"Aku tidur di ruang tamu saja." Kimmy perlahan menarik bantal yang letaknya cukup jauh dari jangkauan Jesslyn. kemudian, ia memeluk bantal itu dan membawanya keluar dari sana .


Kimmy berjalan menuju ke ruang tamu, kemudian, ia meletakan bantal itu di atas sofa. dan saat dirinya hendak merebahkan tubuhnya, ia melihat  Jasson yang kala itu terlihat berjalan keluar dari arah dapur dengan memegang cangkir berisi kopi di tangannya. saat Jasson melihat Kimmy tidur di ruang tamu, ia dengan segera menegurnya.


"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Jasson.


"Jasson, kau belum tidur?" Kimmy melebarkan senyumnya dan mengurungkan niatnya untuk tidur.


"Kenapa kau tidur di sini?" Jasson melontarkan kembali pertanyaannya.


"Ehmmm, Jesslyn tidak memberiku tempat untuk tidur. aku tidak berani membangunkannya, karna, aku takut  nanti dia akan memarahiku." Kimmy mengerucutkan bibirnya sambil mendengus kecil.


Jasson meletakan kopinya di atas meja dekat tepelon rumah. kemudian ia menghampiri Kimmy.


"Bawa bantalmu dan akan ku antar ke kamar Jesslyn!" perintah Jasson.


"Nanti kalau Jesslyn marah bagaimana?" tanya Kimmy. Jasson hanya diam dan menatap kesal wanita itu.


"Ba-baiklah, ayo." Kimmy meraih dan memegang erat bantalnya. ia segera beranjak berdiri, berjalan di belakang Jasson yang saat ini berjalan mendahuluinya menuju ke kamar Jesslyn. ia masuk ke dalam kamar Jesslyn dan di ikuti oleh Kimmy. Jasson menggeleng kepalanya saat melihat Jesslyn tidur dengan sembarangan. kemudian,  ia mendekati adiknya tersebut.


"Bangun!" Jasson menarik kaki Jesslyn hingga membuatnya mengerjapkan kedua matanya. Kimmy masih sibuk bersembunyi di belakang bahu Jasson.


"Ada apa kau membangunkanku!" seru Jesslyn sambil berdecak kesal, ia membuka kedua matanya kemudian memejamkannya kembali.


"Berilah tempat tidur  untuk temanmu ini!" perintah Jasson.


"Iya, berilah!" Kimmy ikut berucap sambil menganggukan kepalanya. Jesslyn kembali membuka kedua matanya. Kimmy segera bersembunyi kembali di belakang bahu Jasson.


"Kalian ini benar-benar mengganggu tidurku saja!" seru Jesslyn sambil melototkan kedua bola matanya. ia  menggeser posisi tidurnya memberi jarak pada sisi tempat tidurnya untuk Kimmy.


Jasson melirik kepada Kimmy. "Cepat tidurlah!" Kimmy melebarkan senyumnya. ia berterimakasih dan segera merebahkan tubuhnya di samping Jesslyn. ia sedikit takut saat melihat Jesslyn yang kini masih menatapnya dengan tajam.


Saat tubuhnya  sudah sempurna tergeletak di samping Jesslyn. tiba-tiba Jesslyn menggeser tubuh Kimmy hingga membuat wanita itu hendak terjatuh.


"Jesslyn..." seru Jasson.


"Kalian sama-sama menyebalkan!" Jesslyn menggeser kembali tubuhnya ke posisi semula.


"Terimakasih Jasson." Kimmy kembali mengucapkan kata-kata itu di selip senyumannya. Jasson hanya diam dan segera meninggalkan kamar itu. kedua mata Kimmy masih tak lepas memandangi Jasson yang jejaknya sudah hampir menghilang dari sana. Kimmy mengembuskan napasnya dengan perasaan yang sedikit kacau.


"Cepat tidur! kau dan Jasson sama saja!" seru Jesslyn sembari melototkan kedua matanya.


"Apanya yang sama? aku perempuan sedangkan  Jasson kan laki-laki! jelas berbeda, dasar bodoh!" saut Kimmy. Jesslyn melototkan kedua matanya kepada Kimmy. dengan takut, Kimmy segera menarik selimut dan membalutkan ke sekujur tubuhnya.