
Saat Brianna sudah pulang dari rumah Alana, Alana memanggil Bi Ester, ia menyuruh wanita parubaya itu untuk tidak memberitau Ken tentang kedatangan Ibunya kemari, Bi Ester pun mengiyakan perintah Alana dan segera melanjutkan kembali pekerjaannya.
***
Sore harinya, sepulang Ken dari kantor, ia segera menuju ke kamar mencari Alana, ia baru saja melihat Alana keluar dari dalam kamar mandi.
"Kau sudah pulang?" tegur Alana seraya memberi pelukan kepada suaminya tersebut.
"Kau masih merasakan pusing?" tanya Ken. Alana menggeleng kepalanya.
"Aku sudah lebih membaik." Alana melepaskan pelukannya, senyuman itu melebar dari bibirnya, membuat Ken begitu lega saat melihatnya.
"Kau tidak berbohong?" tanya Ken.
"Tidak... Aku benar-benar sudah membaik, buktinya aku bisa berdiri lama," jawabnya.
Ken begitu bersyukur, ia mengusap wajah Alana dan memperhatikan kedua kelopak matanya yang terlihat begitu sembab, jelas saja, setelah kedatangan Brianna ke rumahnya, Alana semakin dibuat bingung dengan permasalahan hidupnya, Jadi tak heran, hampir seharian Alana menangisi kekacauan yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya.
"Kau habis menangis?" tanya Ken.
"Tidak, siapa yang menangis!" bantah Alana.
"Jelas-jelas matamu begitu sembab. Katakan, kenapa kau menangis?" tanya Ken.
"Aku tidak menangis, sayang. Aku baru saja bangun tidur dan mandi, mungkin itu sebabnya mataku seperti ini," ujar Alana.
"Gantilah pakaianmu, lalu mandilah. Aku akan menemanimu makan," imbuh Alana seraya memeluk Ken dengan begitu erat. Ia mencium dalam-dalam aroma khas tubuh suaminya tersebut yang selalu membuatnya begitu candu.
"Kau menyuruhku, mandi. Tapi kau memelukku seperti ini?"
"Sebentar saja." Alana masih memeluknya bahkan semakin erat seakan tak mau melepaskannya.
"Sudah, sana mandilah..." Alana melepaskan pelukannya, Ken terkekeh akan tingkah istrinya yang begitu menggemaskan. Ia melepas jas dan kemejanya, kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
***
Setelah Ken dan Alana menikmati makan malam, mereka berdua kembali ke dalam kamar untuk mengobrol dan bercanda bersama hingga membuat Alana ketiduran. Saat Ken sudah memastikan istrinya sudah tertidur, ia pergi ke dapur membuat kopi untuk dirinya sendiri. Namun, Ken dikejutkan oleh Bi Ester yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Biar saya buatkan kopi, Tuan."
"Tidak usah, Bi. Ini sudah selesai," jawab Ken sambil mengaduk kopi yang baru saja ia seduh dengan air panas.
"Tuan..." panggil Bi Ester.
"Iya, Bi?" saut Ken.
"Tuan, tadi, istri Tuan Holmes kemari," ujar Bi Ester. Ken begitu tekejut saat mendengarnya.
"Yang Bibi maksud, Ibunya Alana?" tanya Ken. Bi Ester membenarkannya.
"Tapi tolong jangan memberitau Nona Alana kalau Bibi yang memberitau. Tuan berpura-pura tidak tau ya, saya takut Nona marah, karna Nona tadi berpesan untuk tidak memberitau Tuan kalau Ibunya Nona Alana kemari," pinta Bi Ester.
"Tentu saja, Ken tidak akan bilang. Terimakasih banyak, Bi." Ken segera berlalu pergi dari dapur dan kembali ke kamar dengan membawa kopi yang ia buat tadi. Ia duduk di atas sofa yang ada di dalam kamarnya tersebut sambil memperhatikan Alana yang sudah tertidur.
"Bahkan Mami Brianna sudah berani kemari," gumam Ken seraya menyeruput kopi yang saat ini ada di tangannya.
"Aku tidak mungkin menjauhkan Alana dari ibunya sendiri, tetapi, jika ia tak dijauhkan, aku takut Mami Brianna akan mempengaruhi Alana."
***
Di tempat lain,
Seorang wanita yang tak lain ialah Valerie, sedang berlari di tengah dinginnya malam. Dengan sekuat tenaga, ia berlari menghindar dari kejaran beberapa orang, wajahnya bercampur baur akan keringat dan air mata, bahkan juga menampakan beberapa luka lebam di sana.
Valerie masih berlari, mencari tempat keramaian hingga langkahnya terhenti tatkala tubuhnya menabrak seorang laki-laki yang tak asing baginya baru saja keluar dari pusat perbelanjaan.
dengan napas yang ngos-ngosan dan raut wajah yang pucat, Valerie menatap seorang laki-laki yang kini tengah berhadapan dengannya, laki-laki tak yang tak asing di kedua matanya itu tak lain ialah David.
"Nona Valerie?" sapanya.
"Kau kenapa?" tanya David.
"Tuan David, tolong aku, tolong aku!" pinta Valerie. Wajahnya masih bersembunyi dibalik ketakutannya yang semakin menjadi-jadi.
"Kau kenapa?" David masih melontarkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Tolong aku, seseorang mau melukaiku, tolong aku, bawa aku pergi dari sini," Dengan suara gemetar dan bercampur baur dengan air matanya, Valerie mengatupkan kedua tangannya berharap David mau membawannya pergi dari sana.
Tanpa membalas permintaan Valerie, David melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya dan memakaikannya kepada Valerie, ia dengan cepat membawa Valerie berjalan ke parkiran dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. David segera melajukan mobil itu ke apartement miliknya.
Di dalam mobil, Valerie masih menunduk ketakutan dibalik balutan jaket yang dikenakannya. Jelas sekali, ia tak henti meremmas tangannya yang masih gemetar, bahkan tak sedikit air matanya jatuh secara bergantian, David masih membungkam, ia tak berani menanyakan apa yang sedang terjadi terhadap wanita yang kini duduk di sampingnya,
"Minumlah..." David menyodorkan gelas tersebut kepada Valerie. Valerie segera mengambilnya, dengan tangan gemetar, ia meminum air tersebut bahkan getaran itu hingga membuat air yang ia minum sedikit tumpah dari wadahnya.
"Terimakasih," Valerie menyodorkan gelas itu kembali kepada David.
"Ceritalah, kenapa kau sampai dikejar oleh orang jahat?" tanya David. Valerie hanya menunduk, bukan menjawab pertanyaan David, ia malah menangis.
"Kenapa kau malah menngis? aku sedang bertanya."
"Sebenarnya, orang yang mengejarku bukanlah orang jahat," jawab Valerie.
Mendengar pernyataan Valerie, dahi David mengernyit kesal. " Kau membohongiku?" serunya.
"Aku hanya ingin terlepas dari Billy," ujar Valerie dengan deraian air mata yang tak berhenti membanjiri wajahnya.
"Kau bertengkar dengannya?" tanya David. Valerie mengangguk.
"Lebih baik aku akan mengantarkanmu pulang, jangan seperti anak kecil yang selalu lari dari setiap masalah!" tutur David.
"Tidak, aku tidak mau." Valerie menggelang kepalanya.
"Aku akan menghubungi Billy agar dia kemari menjemputmu." David mengambil ponselnya dan hendak menelpon Billy. Namun tangan Valerie menyaut ponsel itu begitu saja.
"Tuan David, tolong. Aku mohon jangan memberitau dia aku di sini. Aku mohon." Valerie mengatupkan kedua tangannya dan menangis ketakutan. Jelas sekali ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan, membuat David begitu curiga dibuatnya.
"Katakan, apa sebenarnya yang terjadi sampai kau ketakutan seperti ini?" pertanyaan David hanya membuat Valerie diam dan menunduk.
"Nona Valerie..."
"Aku benar-benar lelah dengan hidupku, Tuan. Aku tidak mau hidup seperti ini," isak Valerie.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? ceritalah kepadaku!" tanya David.
"Aku tidak bisa..." Valarie menggeleng kepalanya.
"Kalau kau tidak cerita, bagaimana bisa aku menolongmu!" seru David. Valerie sdikit mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk bercerita.
"Billy selalu memaksaku untuk melayaninya, tapi aku selalu menolak. Setiap kali aku menolak permintaannya, dia selalu melampiasakannya kepada wanita lain, bahkan secara terang-terangan di depanku. Selama ini aku diam karna aku takut berbicara kepada Nenek. Dia selalu mengancamku, dan hal yang sama tadi terjadi, aku benar-benar lelah hingga aku sudah sampai di titik kesabaranku, aku mencoba mengumpulkan bukti-bukti dan ingin memberitau semuanya kepada Nenekku. Tapi dia merampas ponselku dan malah memukuliku. Aku benar-benar takut, aku pergi dari rumah. Tapi anak buah Billy mengejarku, tolong aku, aku tidak mau menemui dia lagi..."
Air mata Valerie semakin membanjiri wajahnya. David melihat kejujuran di kedua mata wanita itu. Ia mengingat beberapa hari yang lalu saat di villa, tepatnya malam itu, saat ia dan Ashley mendengar suara keributan di dalam kamar Valerie dan Billy. Ia juga melihat bagian baju yang dikenakan waktu itu robek saat keluar dari kamar. David mengangkat wajah Valerie, seperti yang dikatakan olehnya, David melihat beberapa luka lebam di wajahnya.
Ia dengan segera beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Valerie. Dan tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa air es dan lap kecil di dalam baskom.
"Aku akan membantumu mengompres lukamu," David duduk di samping wanita itu. Ia mengangkat wajah Valerie dan mulai membantu mengompres wajahnya yang lebam dengan menggunakan air es.
"Sementara tinggalah di sini, aku akan memberitau Ken, biar dia kemari." David hendak beranjak berdiri dan menghubungi Ken. Namun tangan Valerie lebih cepat menariknya.
"Jangan... tolong jangan memberitau Ken. Aku tidak mau nanti Nona Alana salah paham akan kehadiranku, tolong jangan memberitaunya!" perintah Valerie. David sejenak terdiam, lalu mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ken. Ia berjalan mendekati lemari dan mengambil salah satu baju miliknya.
"Aku tidak memiliki pakaian wanita, kau bisa mengunakan bajuku. Pakailah ini!" David menyodorkan baju yang sudah ia ambil dan memberikannya kepada Valerie.
"Terimakasih." Valerie mengambil baju itu dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Valerie keluar dengan menggunakan baju milik David yang terliat begitu besar di tubuhnya. Ia masih menundukan pandangannya dengan begitu sungkan dan tidak enak hati. Sebenarnya Valerie enggan merepotkan orang lain. Namun ia tak memiliki pilhan lain selain meminta tolong kepada David.
"Tidurlah di sini, aku akan tidur di ruang depan." David mengambil bantal dan juga selimut hendak keluar dari kamar itu.
"Terimakasih banyak, maaf aku jadi merepeotkan dirimu," ucap Valerie. David hanya diam dan berlalu keluar begitu saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku sudah kasih tau kan, kemarin kalau akan ada konflik, kalau kalian bosan ya ngga usah dibaca, jadi kalian ngga usah ribet-ribet. Biar aku aja yang ribet mikir dan nulis ceritanya wkwkwkwk