
Demi apapun, untuk pertama kalinya, Ken melihat kembali senyuman cantik di wajah istrinya tersebut. Ken meletakan peralatan make up yang masih ia pegang ke tempat semula dan kembali mendekati Alana.
"Sayang, apa kau tidak ingin memakan sesuatu?" tanya Ken seraya mengusap kepala Alana.
"Ehm, makan apa?" tanya Alana.
"Katakan kau ingin makan apa, biar aku yang akan memasakannya untukmu..." kata Ken dengan penuh semangat.
"Kau bisa memasak?" tanya Alana sambil memiringkan kepalanya karna heran.
"Pertanyaannmu sungguh meledek, kau pikir aku tidak bisa memasak?" seru Ken. Alana hanya menggeleng kepalanya.
"Memangnya kau bisa memasak?" Alana melontarkan pertanyaan yang sama.
"Bisa... aku bisa memasak! Katakan, kau ingin aku memasak makanan apa?" tanya Ken.
"Ehm, aku ingin sekali memakan omelette dengan banyak susu dan keju, sepertinya sangat enak," pinta Alana.
"Hanya itu saja?" tanya Ken. Alana mengangguk dan mengiyakannya.
"Baiklah, bukan hal yang sulit. Ayo temani aku ke dapur." Ken menarik tangan Alana, menggandeng keluar dari kamar dan mengajaknya pergi ke dapur. Ia menarik salah satu kursi meja makan lalu menyuruh istrinya untuk duduk di kursi kosong tersebut.
"Tunggu di sini..." perintah Ken. Alana hanya mengangguk.
"Padahal aku tidak bisa memasak." Ken melirik sejenak ke arah Alana. "Untung dia hanya minta dibuatkan omelette," imbuhnya sambil tersenyum.
Ken dengan penuh semangat mengambil bahan-bahan yang tersedia di dalam kulkas dan mencoba memasak apa yang sedang istrinya inginkan. Ken begitu bingung melihat peralatan dapur yang berjajar begitu banyak di sana, yang ia tau hanya kuwali dan spatula saja. Ken mengambil dua alat itu dan segera meletakannya di atas kompor.
Ia menyiapkan wadah, lalu memasukan 2 butir telur yang cangkangnya baru saja ia pecah, menuangkan susu, dan juga keju yang baru saja ia parut ke wadah tersebut, kemudian mencampurnya dengan rata. "Terlalu simpel, aku ingin membuat yang berbeda dari yang biasanya," gumamnya dengan memperhatikan beberapa bumbu yang ada di jangkauan matanya saat ini.
"Bawang putih India?" Ken mengambil salah satu bubuk bawang putih yang masih ada label kemasannya.
"Alana kan menyukai masakan India?" Ken tersenyum seketika. Ia mengambil dua sendok teh bubuk bawang putih, memasukannya ke dalam adonan telur itu dan mencampurnya.
Belum merasa puas, Ken masih memperhatikan bumbu dapur yang berjajar di sana. Membaca satu persatu tulisan yang tertera di kemasan bumbu tersebut, hingga dirinya tertarik dengan satu bumbu yang menurutnya sangat asing.
"Kapulaga India? Apa ini?" Ken mengernyit.
"Berbau makanan India kan Alana menyukainya." Tak banyak pikir, Ken menambahkan bumbu itu juga ke dalam adonan telur tersebut.
"Ehm..." Rasanya, Ken masih belum puas juga.
"Mungkin sedikit kunyit akan mempercantik warna omelettenya." Ken dengan penuh semangat menambahkan setengah sendok teh kunyit bubuk.
"Warna jadi cantik," gumamnya dengan puas.
"Ini pasti lezat..." Ken mencampur semua adonan telur itu dengan menggunakan garpu hingga tercampur rata.
"Satu sendok teh bawang putih India lagi mungkin akan menambah kelezatannya." Ken kembali menambahkan satu sendok teh bawang putih bubuk ke dalam adonan itu.
Sungguh, dapur yang mulanya bersih dan tertata rapi. Kini menjadi berantakan, kotor tak karuan akibat di acak-acak oleh Ken.
Ken memutar knop kompor hingga terlihat api menyala di sana. Ia mengoles kuali yang sudah ia letakan di atas kompor dengan margarin, lalu memasukan adonan telur itu dan memasaknya dengan api kecil. Ken dengan sabar berdiri di samping kompor menunggu omelette yang ia buat itu matang dengan sempurna.
Sesekali kedua matanya tak henti memperhatikan istrinya yang duduk di meja makan dengan menatap kosong ke sembarang arah. Alana yang merasa diperhatikan seketika melihat ke arah Ken. Ken melemparkan senyuman kepadanya.
"Kenapa kau daritadi memperhatikanku? perhatikan omelettenya!" tutur Alana.
"Aku tadi salah mengambil telur, telur yang ku ambil perempuan jadi aku tidak mau memperhatikannya," jawaban Ken membuat Alana mengernyit bingung akan apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.
"Apa hubungannya? bagaimana kau bisa tau telur itu perempuan?" tanya Alana semakin bingung.
"Iya, dari tadi dia begitu genit, jika aku perhatikan dia semakin lama matangnya, jadi lebih baik aku memperhatikanmu saja," jawab Ken sambil tersenyum menggoda.
"Kau ini..." Alana menahan senyumnya sambil menggeleng-geleng pelan kepalanya.
"Aku rasa sudah matang..."
Saat Ken merasa omelette yang telah ia buat sudah matang merata sempurna. Ken segera memindahkannya di atas piring yang baru saja ia ambil, memberi saos tomat dengan bentuk smile di atasnya dan ia dengan segera menyajikannya kepada Alana.
"Sudah matang, lihatlah aku bisa memasak bukan..." Ken dengan begitu bangga meletakan omelette tersebut di depan Alana.
Alana hanya tersenyum, indera penciuamnnya mengendus kuat bau yang dihasilkan oleh masakan suaminya tersebut. "Kenapa baunya aneh sekali?" gumamnya pelan.
"Ini omelette India spesial untukmu..." kata Ken sembari tersenyum.
"Omelette India?" Alana mengernyit.
"Iya, Omelette India? Kau belum pernah memakannya?" tanya Ken. Alana menggelengkan kepalanya.
"Makanya, makanlah ini biar kau tau, aku akan menyuapimu." Alana mengangguk dan mengiyakan apa kata suaminya. Ken memotong omelette tersebut dengan garpu dan pisau, satu suapan kini telah mendarat ke dalam mulut Alana.
Baru saja mulut Alana menguyah, tiba-tiba kedua matanya membulat sempurna. Ia merasakan makanan itu mengacak-acak lidahnya, getir aneh dan tak karuan. Namun Alana masih tetap ingin memakannya karna tidak ingin membuat suaminya kecewa.
Alana mengunyahnya makanan itu dengan cepat dan segera menelannya, lalu melarutkannya dengan air putih sebanyak mungkin.
"Aku akan memakannya sendiri." Alana mengambil alih garpu dan pisau yang dipegang oleh Ken. Lalu ia memakan kembali omelette tersebut dan cepat-cepat melarutkannya dengan air putih.
"Pelan-pelan, kau makan hingga matamu berair seperti ini..." Ken mengusap sudut mata Alana yang terlihat sedikit basah.
"Iya karena ini enak sekali..." puji Alana dengan menahan rasa getir di mulutnya. Ia cepat-cepat ingin segera menghabiskan omelette tersebut.
"Benarkah seenak itu?" Ken mengernyit curiga, memang benar bibir Alana berkata enak. Namun tidak dengan raut wajahnya.
"Apa kau boleh membaginya sedikit untukku?" tanya Ken.
"Tidak! Kau membuat ini spesial untukku, jadi aku tidak mau membaginya!" jawab Alana.
"Sedikit saja..." Ken memaksa mengambil alih garpu yang dipegang oleh Alana. Ia mencoba memakan sedikit omelette buatannya tersebut.
Ken dengan santai mengunyahnya. Lalu kedua matanya dibuat mendelik hebat.
Cuih... Cuih... Cuih
Ken tiba-tiba meludahkan semua makanan yang sudah hampir masuk ke dalam tenggorokannya itu di bawah lantai. Ia menuang air sebanyak mungkin dan meminumnya agar melarutkan rasa getir yang melekat dengan sangat pekat di lidahnya itu. Ini benar-benar tidak layak di makan, pikirnya seperti itu.
"Makanan apa ini!" seru Ken,
"Omelette India..." jawab Alana sembari tertawa saat melihat raut wajah suaminya yang ia rasa begitu menggemaskan.
"Ini sungguh menjijikan, aku benar-benar tidak menyukainya!" Ken mengambil banyak tissue dan menggosok-gosok lidahnya dengan tissue tersebut.
"Alana kenapa kau tidak bilang jika rasanya aneh seperti ini? ini benar-benar tidak enak." Ken menjulurkan lidahnya karna menahan rasa getir.
"Dan kenapa kau memakannya, bahkan hingga hampir habis? jangan di makan lagi!" Ken menjauhkan piring yang masih menampakan sebagian omelette itu menjauh dari Alana.
"Tidak apa-apa, aku akan memakannya lagi." Alana menarik piring itu kembali.
"Jangan!" perintah Ken.
"Kau sudah bersusah payah membuatkan makanan ini untukku, jadi aku harus memakannya," jawab Alana yang masih tak henti menahan tawanya.
Ken terdiam menatap Alana yang masih menertawakannya. Ia ikut menahan tawanya, seketika itu Ken merengkuh tubuh Alana. "Aku senang melihatmu tertawa seperti ini," ujarnya sembari memberi beberapa ciuman di wajah Alana.
"Baiklah, aku tidak akan memakannya..." jawab Alana.
"Entahlah aku bingung, kenapa rasanya jadi tidak enak." Ken mengernyit bingung.
"Memangnya kau memasukan apa di dalamnya?" tanya Alana.
"Hanya bawang putih India, kapulaga, dan sedikit kunyit." Mendengar pernyataan Ken. Alana semakin tertawa.
"Kau senang sekali meledekku seperti itu!" seru Ken.
"Kau hanya memasak telur jadi tidak perlu menambahkan bahan-bahan itu ke dalamnya," tutur Alana.
"Ayo kita membuat omelette lagi." Ken begitu terkesiap saat mendengar ajakan Alana. Ken dengan penuh semangat mengiyakan ajakan istrinya tersebut, mereka berdua memasak omelette dan menikmatinya bersama.
***
Malam harinya, seusai makan malam, Ken terlihat duduk di atas sofa yang ada di kamar sambil memangku laptop miliknya. Sementara Alana, ia memperhatikan suaminya yang sedang bekerja itu dari atas tempat tidur. Tak lama kemudian, Ken menutup laptop miliknya dan memindahkannya di atas meja. Lalu ia merangkak ke atas tempat tidur menghampiri Alana.
"Kau sudah selesai bekerja?" tanya Alana.
"Sudah, ayo istirahat." Ken melingkarkan tangannya di tubuh Alana yang baru saja berbaring sempurna di sampingnya.
Seperti biasanya, sebelum tidur, Ken selalu mengusap-usap kepala Alana berharap supaya istrinya itu lekas tertidur. Namun malam itu, kedua mata Alana masih terjaga menatap langit-langit kamar.
"Ada yang kau pikirkan?" tanya Ken.
"Tidak, aku hanya sulit tidur saja," jawab Alana.
"Aku sangat ingat, dulu waktu aku sulit tidur, Daddy sering sekali menyanyikan lagu untukku," kata Alana sembari mengingat masa-masa hidupnya bersama Holmes. "Tapi semenjak hidup keluargaku menjadi kacau. Daddy tidak pernah menyanyikan lagu lagi untukku."
"Aku akan memutarkan lagu untukmu, supaya kau bisa tertidur." Ken hendak beranjak bangun, namun tangan Alana menahannya.
"Aku tidak mau!"
"Lalu?"
"Apa kau mau menyanyikan lagu untukku?" tanya Alana.
"Aku?" Ken menunjuk menggunakan jari telunjuknya ke dirinya sendiri. Alana menganggukan kepalanya.
"Kau yang benar saja, aku tidak bisa menyanyi..." ujar Ken.
"Bisa! Semua orang bisa menyanyi!" ucap Alana dengan sedikit memaksa.
"Tapi aku tidak bisa, sayang. Aku benar-benar tidak bisa menyanyi," tutur Ken. Alana hanya diam dan menatapnya dengan tatapan kecewa.
"Ken menghela napas. "Baiklah, aku akan menyanyikan lagu untukmu." Ken berdehemberkali-kali mencoba menyesuaikan suaranya.
Oh my sleeping wife the world's so wild
But you've build your own paradise
That's one reason why I'll cover you sleeping wife.
"Lirik lagunya seharusnya sleeping child bukan sleeping wife," protes Alana.
"Dengarkan saja, jangan banyak bicara!" seru Ken, Ia kembali menyanyikan lagu tersebut berkali-kali untuk Alana. Namun Alana masih saja tak tertidur dan malah sibuk memandangi suaminya yang masih bernyanyi.
"Aku sudah menyanyikan tiga lagu, kenapa kau masih tidak tidur juga?" tanya Ken.
"Biasanya Daddy menyanyikanku sepuluh hingga lima belas lagu untukku," kata Alana dengan polos.
Ken mendesah frustasi. "Tapi aku bukan Daddy yang pandai menyanyi, Alana!" tutur Ken ia memperlembut suaranya agar tidak terlihat kesal.
"Daddy juga tidak pandai menyanyi tapi dia mau menyanyi untukku," ujar Alana.
Ken tiba-tiba tersenyum akan setiap jawaban yang ia dengar dari mulut Alana.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Alana sembari mengernyit heran.
"Aku sangat merindukanmu yang cerewet dan menyebalkan seperti ini..." Ken mencium dan menggigit pipi istrinya itu dengan gemas.
"Aku akan menyanyikan dua lagu lagi untukmu," sambung Ken. Alana menganggukan kepalanya, dan memasang baik telinganya untuk mendengarkan suaminya tersebut menyanyi. Ia menikmati nyanyian yang Ken alunkan dari suaranya, meskipun tak seberapa merdu, namun membuat Alana begitu tenang.
"Kenapa berhenti?" tanya Alana yang tiba-tiba tak mendengar suara suaminya lagi.
"Aku sudah menyanyikan lagu untukmu, aku benar-benar lelah. Sekarang kau harus memberiku imbalan!" ujar Ken.
"Imbalan?" Alana mengernyit.
"Iya imbalan!"
"Kau mau menyuruhku menyanyikan lagu untukmu juga supaya kau tertidur?" tanya Alana dengan tatapan polosnya.
"Bukan..."
"Lalu?" tanya Alana.
Ken hanya tersenyum tanpa menjawabnya. Tanpa aba-aba, bibirnya langsung menyatu begitu saja dengan bibir Alana. Dan sekarang, ia memberi lumatan dan gigitan kecil di bibir tipis istrinya tersebut. membuat wanita itu tak bisa bergerak dan menolak saat tubuh suaminya sudah berada tepat di atasnya. Alana begitu pasrah saat Ken memainkan tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote dan likenya...