My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Rambutmu kenapa?



Setelah menumbuk kentang-kentang itu, Ken memasaknya di atas api sedang. Menunggu beberapa menit saat semua bahan telah dicampurkan olehnya, mengikuti resep dan cara yang telah diberikan oleh Bi Ester. Saat dirasa masakannya sudah matang, Ia segera menyajikan kepada Alana.


"Sayang, sudah matang... ayo makanlah..." Ken menyajikan satu mangkuk penuh kentang tumbuk itu kepada Alana. Alana yang kala itu masih melakukan panggilan video, segera mengakhiri panggilan tersebut.


Alana meletakan ponselnya ke sembarang tempat, indera penciumannya mengendus kuat aroma yang dihasilkan oleh uap dari masakan suaminya tersebut, bau susu dan keju begitu menyengat, seakan membuat wanita itu tak sabar untuk memakannnya. Satu sendok kentang kini melesat ke dalam mulutnya.


"Nikmatnya..." Alana menggeleng kepalanya.


"Ken aku mau keju lagi..." pinta Alana sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Aku sudah memasukan banyak keju di dalamnya, sayang."


"Tetapi masih kurang berasa."


Ken segera mengambil keju dan memarutkannya  di atas makanan itu.


"Pelit sekali kalau memarut keju. Kemarikan!" Alana mengambil alih keju itu dari tangan suaminya, ia memarut habis keju itu dan mencampurnya dengan kentang yang sudah dimasakan oleh suaminya tersebut.


"Alana... kenapa kau memarut semua kejunya?" seru Ken.


"Tidak apa-apa." Alana kembali melanjutkan makannya dengan begitu lahap hingga  tak memberi jeda untuk dirinya bernapas.


"Astaga..." Ken menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lezat sekali... apa  kau mau mencobanya?" tanya Alana.


"Tidak!"


"Cobalah sedikit saja..." Alana mendaratkan secara paksa satu suapan di mulut suaminya itu. Ken mencoba mengunyah dan mencecap rasa aneh pada makanan yang sudah ia masak menggunakan tangannya tersebut. Kedua matanya membulat penuh, Ken seketika menggembungkan mulutnya, rasa mual seakan tak tertahan di tenggorokannya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Alana yang masih sibuk menikmati makanan itu.


Ken menggelengkan kepalanya.


"Sebentar..." Ken beranjak berdiri dan berlari ke kamar mandi. Ia seketika memuntahkan makanan tersebut, bahkan karna mencicipi makanan itu, semua makanan yang sempat ia makan sebelumnya ikut terbuang karenanya.


"Huwekkk, menjijikkan.... Kenapa rasa makanannya seperti ini?"


Ken sedaritadi masih merasakan mual, bergidik tak karuan, mengusap-usap dadanya dengan napas yang tersengal-sengal. Ia mengambil air dan berkumur untuk menghilangkan rasa hambar di mulutnya. Lalu, ia keluar dan kembali menemui Alana di meja makan.


Matanya dibuat terkejut saat melihat Alana dengan begitu cepat menghabiskan makanan itu hingga tak tersisa dari wadahnya.


"Ken sudah habis..." Alana menunjukan mangkuknya kepada Ken.


"Sayang kau menghabiskannya?" tanya Ken. Satu sendok saja rasanya membuat ia mual, bagaimana bisa Alana menghabiskan satu mangkuk penuh kentang tersebut. Sungguh tak bisa ia bayangkan, bahkan saat dirinya mengingat bagaimana  rasa kentang tumbuk buatannya itu, rasanya ia ingin sekali mual.


"Iya, sudah habis..." Alana beharap Ken membuatkannya kembali.


"Ya sudah, ayo kita ke kamar..." ajak Ken. Alana tak bergeming akan posisinya.


"Sayang, ayo..." Alana mendengus kecil dan beranjak berdiri, ia terpaksa mengiyakan ajakan suaminya tersebut.


 


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


Sore harinya, Ken terlihat sedang memangku laptop di atas pangkuannya, Sementara Alana terlihat sedang membaca buku, sesekali kedua mata wanita itu melirik ke arah suaminya. Alana menutup buku yang ia baca lalu beranjak turun menghampiri Ken, Ia mendudukan tubuhnya di samping suaminya tersebut.


"Ken..."


"Apa?" sautnya dengan fokus akan komputer miliknya. Alana melingkarkan tangannya di lengan kekar suaminya itu, menggelayuti, membuat Ken melirik ke arahnya.


"Pasti ada maunya," gumam Ken.


"Kau tidak bosan?" tanya Alana.


"Tidak!"


"Tapi, anakmu bosan..."


"Selalu saja anakku yang dijadikan alasan," gumam Ken. Mendengus kasar.


Ken menghentikan aktivitasnya, memindahkan laptop itu di atas meja dan melingkarkan tangannya di tubuh Alana.


"Ibumu selalu menjadikanmu alasan. Kasian sekali kau, Nak." Ken mengusap-usap perut Alana, menicumnya sambil berbisik pelan agar tak terdengar oleh istrinya itu.


"Apa yang kau katakan?" tanya Alana.


"Tidak ada... kau mau apa?"  tanyanya pelan, tangan lainnya merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu.


"Entahlah, aku sunguh bosan."


"Aku juga bosan selalu mendengarkanmu selalu berbicara seperti itu," gumam Ken.


"Rambutmu berantakan, biar aku bantu mengikatnya." Ken mencoba mengalihkan rasa bosan istrinya. Ia beranjak berdiri mendekati meja rias dan mengambil kuncir dan juga sisir yang tergeletak di sana.


Ken kembali mendekati Alana dan mencoba menguncir rambut istrinya tersebut. "Setidaknya, dengan menemaninya akan menghilangkan rasa bosannya," gumam Ken.


sama seperti sebelumnya, Ken begitu kesulitan menguncir rambut istrinya yang tebal dan panjang itu. Namun, kali ini Ken berhasil menguncir rambut wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut. Meskipun terlihat masih berantakan dan tidak rapi. Alana tak mempermasalahkannya dan menghargai usaha suaminya.


"Sudah selesai ... istriku cantik sekali..." pujinya sambil memberi beberapa ciuman di wajah Alana, membuat wajah wanita itu bersemu merah akan pujian suaminya.


"Sekarang giliranku..."


"Iya giliran ... giliranku menguncir rambutmu..." Alana dengan penuh semangat mengambil alih sisir yang dipegang oleh Ken.


"Mana bisa, aku kan tidak memiliki rambut." Ken mencoba menghindar.


"Bisa... kemari dan diamlah!" Alana menarik rambut Ken yang tumbuh dengan jarang itu.


"Alana aku tidak mau!"


"Mau!" saut Alana.


"Alana!"


"Sudah diamlah..." Alana memaksa menyisir rambut suaminya tersebut. Ken begitu pasrah saat rambutnya di mainkan oleh istrinya itu.


"Jika tadi  tau begini, aku tidak akan menguncir rambutnya!" umpat Ken, Wajahnya datar seolah begitu tersiksa akan keinginan Alana.


Alana terlihat kesulitan mengikat rambut suaminya, tangannya masih disibukan dan begitu fokus menguncir rambut itu.


"Sudah..." Alana bersemangat, meletakan sisir yang ia pegang dan mengambil cermin kecil di sekitar jangkauannya.


"Lihatlah..." Alana menunjukan cermin kecil itu tepat di hadapan Ken. Membuat laki-laki itu dengan jelas melihat pantulan wajahnya di sana.


Kedua mata Ken membulat saat melihat rambutnya dikuncir kecil menjadi tiga bagian. "Alana, apa ini? Kenapa kau menguncir rambutku seperti ini?" seru Ken.


"Lucu bukan?" tanya Alana sambil tersenyum gemas.


"Apanya yang lucu!" Ken berseru kembali, Ia merasa tak terima dan  ingin melepaskan ikatan rambut tersebut, namun Alana melarangnya.


"Jangan dilepas, sayang..."


"Kau lucu sekali, terlihat sangat  menggemaskan ..." Alana mencubit kedua pipi Ken dan menciumnya dengan  begitu gemas. Ken hanya diam, menampakan raut wajahnya yang datar.


"Menyiksa suami adalah hal yang sangat menggemaskan baginya," gumam Ken.


Meskipun Ken merasa tersiksa, namun di sisi lain ia sangat bahagia bisa melihat senyuman di raut wajah istrinya itu, mengingat kejadian buruk beberapa bulan yang lalu,  di mana dirinya setiap hari hanya melihat Alana murung dan bersedih, bahkan dirinya  hampir saja kehilangan wanita yang sangat ia cintai tersebut. Setiap mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, hati Ken serasa begitu ngilu.


Ken seketika tersenyum, memberi ciuman dan memeluk erat tubuh Alana. "Kau ini suka sekali menyiksaku..." Alana hanya terkekeh.


 


Terdengar suara ketukan pintu di luar kamar hingga membuyarkan aktivitas mereka berdua. Terlihat Bi Ester membuka pintu kamar itu setelah Ken menyauti dan menyuruhnya masuk.


"Ada apa, Bi?" tanyanya tanpa berpindah posisi.


"Tuan Ken,  ada Tuan Ashley bersama Tuan David dan juga seorang perempuan di luar," ujar Bi Ester, Ken mengiyakannya, lalu Bi Ester berpamitan pergi dari sana tanpa menutup pintu kamar tersebut.


"David dan Ashley bersama seorang perempuan? siapa?" tanya Alana penasaran.


"Entahlah..."


"Sayang sebentar, aku akan menemui mereka." Ken hendak melepas ikatan rambut tersebut, Namun Alana menahan tangannya.


"Jangan dilepas ikatannya!" perintah Alana menegaskan jari telunjuknya di depan Ken.


"Sayang kau yang benar saja. Di luar ada David dan juga Ashley, mana mungkin aku menemui mereka dengan rambut  seperti ini?"


"Lalu kenapa memangnya?" tanya Alana.


"Ken..."  Suara David dan Ashley mengurungkan niat  Ken yang hendak menyauti pertanyaan Alana, Ken seketika menoleh ke arah pintu kamar, kedua sahabatnya itu terlihat berdiri di  ambang pintu kamar yang terbuka lebar itu.


"Hey, kenapa kalian kemari!" Ken beranjak berdiri dari duduknya dan segera berjalan mendekati kedua sahabatnya itu. Hingga kini, mereka bertiga berdiri saling berhadap-hadapan.


David dan Ashley hanya diam, kemudian saling memandang. Wajah mereka terlihat memerah karna menahan tawa.


"Ken kenapa rambutmu?" tanya Ashley, ia masih  berusaha menahan tawanya.


Ken hanya diam dengan raut wajah yang datar, kedua matanya melirik ke arah Alana dengan tatapan kesal, Alana hanya melemparkan senyum ke arahnya seolah wanita itu merasa tak bersalah.


Ashley dan David mengikuti arah  lirikan mata sahabatnya itu, seketika itu mereka berdua tau bahwa itu adalah kerjaan Alana.


Tawa mereka berdua akhirnya memecah seketika. Ashley dan David tak mampu lagi  menahan tawanya sedari tadi, mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah sahabatnya yang garang dan sangat maskulin, kini berubah menjadi lucu dan menggemaskan akibat tiga kunciran yang menghiasi rambutnya.


"Tertawalah yang kencang, sepulang dari sini akan kuhabisi kalian!" seru Ken sambil melototkan matanya kepada kedua sahabatnya itu.