
Saat Jasson pulang, beberapa menit kemudian. Alana juga pulang, ia berjalan kaki menuju ke rumah kotrakannya untuk berganti baju. setelah itu, ia berencana untuk pergi ke rumah Jesslyn. karna, kemarin dirinya tak sempat membawa baju ganti saat di rumah Jesslyn. dan setibanya di rumah, Alana melihat 3 sosok orang laki - laki berpakaian rapi dan bertubuh tegap duduk di depan rumahnya. Alana melihatnya dengan sedikit takut. dan salah seorang dari laki - laki itu mencoba menghampiri Alana.
"Apa anda Nona Alana?" tanya orang itu.
"Ehm, iya benar, ada apa?" tanya Alana dengan sedikit takut.
"Kami dari pihak Bank, dari beberapa bulan yang lalu kami mencari keberadaan Tuan Holmes, dan baru kemarin kami mengetahuinya, bahwa, Tuan Holmes sedang dirawat di rumah sakit. jadi, saya ingin membicarakan masalah ini kepada anda," ucap orang itu.
"Memang, apa yang ingin anda bicarakan, Tuan?" tanya Alana.
"Begini, Nona. kami ingin memberitau, agar Tuan Holmes segera melunasi sisa pelunasan hutangnya. karna, ini sudah melebihi batas waktu dari yang semestinya. kalau dalam jangka waktu satu bulan ini. Tuan Holmes belum juga melunasi sisa kurangan hutangnya, Celouis Company terpaksa akan kami sita juga. dan, akan kami wewenangkan kepada negara," tutur Orang itu,
seketika itu Alana membungkam dan menelan ludahnya dengan susah payah. ia menggigil kebingungan. karna memang, perusahaan milik ayahnya, sudah lebih dari satu tahun tidak beropasional. karna, di hentikan secara paksa. bagaimana mau beroperasional, sementara untuk biaya kehidupan saja harus bersusah payah mencarinya, apalagi harus membayar tenaga para pekerja. namun, tidak mungkin, kan. jika Alana menyerahkan perusahaan milik Ayahnya begitu saja. apalagi, dengan hutang yang nilainya tak ada bandingannya dengan perusahaan itu.
"Bukannya hutang Daddy saya sudah lunas? kan, pihak bank sudah menyita seluruh aset Daddy saya. kecuali, perusahaan," ucap Alana.
"Memang, Nona. tetapi, aset yang dimiliki Tuan Holmes hanya cukup membayar 63% dari hutangnya saja, dan itu juga belum termasuk bunganya," tutur Orang itu seraya membuka amplop berwarna putih di tangannya, ia mengambil sebuah kertas dari dalam amplop tersebut dan memberikannya kepada Alana. Alana membungkam tak bisa berkata saat melihat isi dari kertas itu. ia pikir masalah ini sudah selesai, namun ternyata belum juga ada titik terangnya.
"Tuan Holmes yang mengetahui ini semua, lebih baik anda bicarakan kepadanya pelan - pelan, kemarin malam kami sebenarnya sudah menemui Tuan Holmes di rumah sakit. tetapi, kami tidak bisa membicarakan ini kepadanya, mengingat beliau masih dalam keadaan tidak sehat. dan kami takut akan semakin memperburuk kondisinya," tutur orang itu.
"Baiklah, Tuan. nanti saya akan menanyakan kepada Daddy saya," ucap Alana dengan melipat kembali kertas yang ia pegang. ketiga orang itu berpamitan pulang. Alana masuk ke dalam rumah miliknya, tubuh nya langsung melemas seketika.
"Sebelum kecelakaan, Daddy pernah bilang, bahwa Daddy akan berusaha mencari cara agar bisa menjalankan kembali operasional perusahaannya, karna perusahaan ini hasil kerja kerasnya bersama Kakek. tapi aku harus bagaimana," gumam Alana, Alana menahan teriakannya dengan begitu frustasi.
"Aku sungguh pusing memikirkan ini semua, lebih baik besok saja akan ku pikirkan kembali, aku harus bersiap - siap pergi ke rumah Jesslyn," gumam Alana.
Waktu menunjukan pukul 20.00 Pm.
saat Ken tengah menikmati makan malam bersama kedua adiknya, tiba - tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah, Ken menyuruh Bi Molley untuk segera membukakan pintu rumahnya, Bi Molley mengiyakan dan sesegera ke depan untuk membukakan pintu rumahnya. tak lama kemudian, Bi Molley terlihat kembali bersama dengan Alana.
"Nona Jesslyn, Tuan Muda, ada Nona Alana." Bi Molley memberitau mereka.
"Terimakasih, Bibi." Jesslyn menyaut.
"Alana, ayo duduklah kemari, kita makan malam bersama," ajak Jesslyn.
"Aku sudah makan, Jesslyn," tutur Alana. ia terpaksa berbohong, padahal sejak dari tadi perut Alana belum terisi makanan sama sekali. selain, ia tidak enak dengan keluarga Jesslyn, ia juga tidak nafsu makan karna memikirkan masalah tadi.
"Kalau begitu duduklah kemari, temani aku, makan." Jesslyn memaksa,
"Baiklah, saut Alana. saat ia hendak mendudukan tubuhnya di samping Jesslyn, tiba - tiba Ken membanting sendok dan garpu yang ia pegang dengan begitu keras di atas piring. hingga membuat Alana kaget. Ken langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan tersebut. Alana, memperhatikan Ken yang berlalu dari sana.
"Kakak, mau kemana? kenapa makanannya tidak di habiskan?" tanya Jesslyn, namun Ken hanya diam saja tak menggubrisnya. kemudian Jasson beranjak dari duduknya dan ikut - ikutan meninggalkan meja makan tersebut.
"Jasson, kau juga mau kemana?" tanya Jesslyn.
"Kamar," saut Jasson. raut wajah Alana, seketika itu langsung bersedih, jelas sekali ia melihat sikap Ken dan Jasson, yang tiba - tiba terlihat tak suka akan kehadirannya.
"Alana, ayo duduklah," perintah Jesslyn, ia menarik tangan Alana dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Alana pun mengiyakannya. Jesslyn memperhatikan Alana yang tampak terlihat bersedih.
"Sebenarnya kenapa kakak sebegitunya tidak menyukai Alana, aku sangat tau Kakak, sekalipun dia tidak menyukai seseorang, dia tidak akan bersikap seperti itu," gumam Jesslyn seraya memperhatikan wajah Alana.
"Bagaimana operasi Daddymu?" tanya Jesslyn.
"Berjalan dengan lancar," kata Alana dengan menepiskan senyumnya.
"Syukurlah, semoga Daddymu lekas sembuh biar bisa berkumpul kembali bersamamu, ya, Alana." Jesslyn tersenyum bahagia,
"Terimakasih banyak, Jesslyn. ayo cepat habiskan makananmu, aku akan membuatkan susu coklat untukmu," tutur Alana. Jesslyn mengiyakannya dengan penuh semangat. Alana beranjak dari duduknya dan mendekati kompor untuk membuatkan temannya tersebut susu coklat hangat.
Seusai makan, Jesslyn meneguk susu coklat yang telah di buatkan oleh Alana untuknya. kemudian, ia mengajak Alana kembali ke kamar untuk beristirahat. namun, Jesslyn menyuruh Alana terlebih dahulu untuk pergi ke kamarnya. karna ia ingin mengambil buku di ruang perpustakaan yang ada di dalam rumah. Alana mengiyakan dan mendahului Jesslyn pergi ke kamar. dan saat Jesslyn pergi ke perpustakaan. ia tak sengaja melihat Ken sedang membaca buku di sana. senyuman usil tiba - tiba menyeringai wajahnya seketika. Jesslyn mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam perpustakaan, ia langsung pergi dari perpustakaan itu dan kembali ke dalam kamarnya untuk menghampiri Alana.
"Alana," panggil Jesslyn sembari mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur, tepatnya di samping Alana.
"Mana bukunya? kenapa kau cepat sekali?" tanya Alana.
"Alana, bisakah kau saja yang pergi ke ruang perpustaka'an untuk mengambilkanku buku? kakiku tiba - tiba sakit sekali," ucap Jesslyn dengan mendesis memegangi kakinya.
"Dimana letak ruang perpustakaannya?" tanya Alana.
"Di samping ruang musik yang kemarin," kata Jesslyn.
"Baiklah, aku akan mengambilkan buku untukmu, kau mau membaca buku apa?" tanya Alana.
"Ehm apa saja, yang penting tidak membosankan," ujar Jesslyn, Alana mengiyakannya. dan berlalu keluar dari kamar Jesslyn untuk menuju ke ruang perpustakaan. saat dirasa Alana sudah keluar dari kamarnya, Jesslyn pun beranjak turun dari tempat tidur dan mengikuti Alana diam - diam dari belakang.
Alana berjalan menuju ke ruang musik, dan ia melihat sebuah ruangan yang letaknya persis di samping ruang musik tersebut. sepertinya memang itu ruang perpustakaan yang di maksud oleh Jesslyn.
Alana terlihat memasuki ruang perpustakaan yang pintunya sudah terbuka.
Memang benar, Papa Gio membuatkan ruangan khusus untuk perpustakaan. karna, tak bisa di pungkiri, istri dan juga ketiga anaknya sangat gemar sekali membaca buku. jadi, Papa Gio membuatkan perpustakaan itu secara khusus untuk keluarganya.
Saat Alana masuk ke dalam perpustakaan itu, ia begitu takjub melihat ratusan buku tertata rapi di sana. dulu, waktu Alana masih kaya, ia juga memiliki perpustakaan sendiri. namun, tidak sebesar perpustakaan yang saat ini ia lihat. tangan Alana mulai memilah buku yang tertata rapi di tempatnya tersebut. ia mencarikan Jesslyn buku yang menurutnya tidak membosankan saat di baca. lalu, kedua matanya melirik ke salah satu buku yang begitu menarik perhatiannya. dan Alana mengambil buku tersebut dari tempatnya.
"Sedang apa kau di sini?" Suara Ken, tiba - tiba menggelegar mengagetkan Alana. hingga, membuat buku yang dipegang oleh wanita itu terjatuh di lantai.
"Tuan Ken," gumam Alana, ia langsung mengambil kembali buku yang terjatuh tersebut.
"Sedang apa kau disini?" tanya Ken, ia berjalan menghampiri Alana dengan menautkan kedua alisnya.
"A-aku, ehm, Jes-slyn, menyuruhku untuk mengambilkan buku untuknya," ujar Alana dengan menundukan pandangannya.
Brakkk
Alana dan Ken terkejut saat mendengar suara keras dari pintu perpustakaan yang tiba - tiba menutup dengan sendirinya. hingga membuat Alana dan Ken menoleh ke arah pintu tersebut. Ken langsung menghampiri pintu itu dan mencoba membukannya. namun, tidak bisa. karna seseorang menguncinya dari luar.
"Shit, siapa yang mengunci pintunya," teriak Ken dengan menggedor keras pintu itu.
.
.
.
.
.
.
.
.