My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Jangan menyakitinya



Suara bell rumah terdengar berbunyi berkali - kali hingga membuat Alana menghentikan aktivitas nya yang sedang membantu Bi Ester menyiapkan makan malam di dapur.


Bi Ester hendak membukakan pintu itu, namun, Alana menghentikannya dan dirinya sendirilah yang membukakan pintu itu.


Ceklek


terlihat Jesslyn yang sedang berdiri di depan pintu dengan membawa ransel di punggungnya.


"Alana ...." saat melihat Alana, Jesslyn begitu heboh dan tak segan langsung memeluknya.


"Jesslyn, kau kemari?" Alana bertanya dengan raut wajah yang senang dan membalas pelukan adik iparnya itu.


"Kenapa, memangnya? kau tidak senang, ya, aku kemari?" Jesslyn melepas pelukannya dengan Alana sambil mengerucutkan bibirnya.


"Mana mungkin, aku tidak senang, sayang. Aku sangat senang. ayo kita masuk." Alana menarik tangan Jesslyn. namun, Alana sejenak mengurungkannya saat melihat Jasson juga ada di sana.


"Ternyata ada Jasson juga? ayo, Jasson, masuklah!" ajak Alana. namun, Jasson hanya diam dan tak bergeming di tempat yang sama.


"Jasson hanya mengantarkanku saja, Alana." Jesslyn menyautinya.


"Jesslyn... Jasson?" terlihat dari dalam, Ken sedang berjalan keluar menghampiri mereka bertiga.


"Kakak..." Jesslyn melepaskan tangan Alana dan berpindah memeluk Kakak sulungnya itu.


"Kalian ada apa kemari?" tanya Ken yang sedang sibuk membalas pelukan adik kesayangannya itu.


"Aku kemari hanya mengantarkan Jesslyn, Kak. Mama dan Papa mau pergi ke luar kota, dan aku juga mau pergi bersama teman - temanku. jadi, biarkan Jesslyn menginap di sini, ya, Kak. karna, tidak ada yang menemaninya di rumah," jawab Jasson.


"Baiklah, biar dia di sini dengan Kakak."


"Yeayyy..." Jesslyn menyaut dengan begitu girangnya.


"Kalau di sini dia menyusahkan Kakak. ikat kakinya dan gantung saja di atas pohon yang ada di depan rumah Kakak!" ujar Jasson.


"Kau saja yang diikat dan digantung di atas pohon!" seru Jesslyn.


"Kakak, lihatlah adikmu itu! dia begitu menyebalkan." Jesslyn mengadu kepada Ken.


"Kau juga menyebalkan." saut Ken.


"Kakak... " Jesslyn merengek dengan kesal layaknya anak kecil.


"Kakak hanya bercanda. sudahlah, kalian jangan ribut!" tutur Ken


"Jasson, ayo masuklah!" perintah Ken.


"Tidak usah, Kak. aku terburu-buru! karna semua teman-temanku sedang menunggu," tolak Jasson.


"Ya sudah, hati-hati! pergilah sana," ujar Ken, Jasson pun berlalu hendak pergi meninggalkan rumah yang di tempati oleh Kakaknya itu.


"Jasson, tunggu..."


Jasson seketika menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara Ken yang sedang memanggilnya.


"Iya, Kak. ada apa lagi?" tanya Jasson.


"Jangan mengikuti teman yang sekiranya tidak baik dan menjerumuskan! karna tidak ada yang bisa menjagamu selain dirimu sendiri. kau mengerti?" tutur Ken.


"Iya, Kak. aku mengerti." Jasson kembali melanjutkan niatnya untuk segera pergi dari sana.


***


Alana menutup pintu rumah dan segera mengajak Suami beserta adik iparnya itu untuk makan malam bersama. karna kebetulan sekali, sajian makan malam yang sempat ia masak bersama Bi Ester sudah matang merata semua.


"Kalian makan dulu saja, aku mau mandi," pamit Ken.


"Astaga, Ken. kau daritadi belum mandi? lalu, sedang apa saja kau tadi di dalam kamar?" Alana bertanya dengan ketusnya. ia meletakan kedua tangan di pinggangnya yang berbentuk ramping itu.


"Menunggumu..." jawab Ken.


"Berharap, kau memandikanku." Ken berbisik di telinga Alana dengan menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman miring di sana.  Alana dengan reflek  menginjak kaki suaminya yang tengah telanjang itu dengan sangat keras. sehingga, membuat Ken mengernyit kesakitan.


"Jangan bicara yang tidak - tidak! di sini ada Jesslyn!" seru Alana.


"Kenapa hanya menginjak kaki? kenapa tidak kepalaku sekalian yang kau injak? sepertinya kau sangat senang sekali menyiksa suamimu ini!" seru Ken.


"Memangnya sakit, ya? maaf aku tidak sengaja," Alana tertawa pelik.


"Tidak sengaja, tetapi berkali - kali melakukannya." Ken menggerutu dengan tidak jelas.


"Kalian, ini bicara apa, sih? lama sekali!" Jesslyn memasang wajah bosan karna terlalu lama menunggu Alana untuk memulai makan malamnya.


"Entahlah, Kakak iparmu ini! Kakak mau mandi, masih saja di tahan - tahan!" saut Ken.


"Siapa yang menahanmu?" Alana melototkan kedua matanya. Namun, Ken hanya terkekeh dan segera berlalu pergi dari sana.


***


"Alana, ku lihat, Kau semakin akrab saja, dengan Kakak." Jesslyn menyenggol bahu Alana dan tersenyum tidak jelas.


Alana hanya tersenyum pelik dan terpaksa mengiyakannya.


"Sudah, ayo makanlah dulu!" Alana menyuruh Jesslyn duduk dan ia Segera mengambilkan Jesslyn makanan ke dalam piringnya yang masih kosong.


Jesslyn tak henti memandangi Alana yang kini tengah sibuk mengambilkan makanan untuknya.


"Kenapa memandangiku?" tanya Alana.


"Tidak apa-apa, aku hanya sangat senang sekali, karna Kakak menikah denganmu. Kau begitu perhatian denganku, sama seperti Mama." Jesslyn melebarkan senyumnya.


"Memang sudah seharusnya." Alana mengusap kepala Jesslyn dan tersenyum kepadanya. Alana segera menyuruh Jesslyn untuk menikmati makan malamnya.


"Entahlah, bagaimana jika dulu Kakak jadi menikah dengan Caleey si wanita barbar itu. aku tidak bisa membayangkan, mungkin dia akan memasakku hidup - hidup." Jesslyn memutar kedua bola matanya seakan tak senang saat menyebut nama itu.


"Jesslyn, sudahlah! ayo cepat makanlah!" perintah Alana. ia memang sengaja menghindar dan tak mau membahas keburukan orang lain. Jesslyn segera mengiyakannya dan makan dengan begitu lahapnya.


"Oh, iya, Alana. Jika kau berdua dengan Kakak, apa Kakak masih menjadi orang pendiam yang tidak mengajakmu berbicara?" rasanya, Jesslyn sengaja memancing pertanyaan itu kepada Alana.


"Pendiam? Pendiam apanya! justru dia sekarang sangat cerewet sekali. padahal dulu dia tidak cerewet seperti ini." Alana mengingat kembali sikap dingin Ken terhadapnya saat sebelum menikah. bahkan laki-laki itu tidak ada ramah - ramahnya sekali.


"Benarkah?" tanya jesslyn.


"Iya, aku saja heran!' jawab Alana.


"Kakakku memang seperti itu, Alana. kalau dengan orang asing dia tidak akan banyak bicara. tapi, kalau sudah kenal akrab, dia pasti banyak bicara dan cerewet sekali. apa lagi dengan orang orang - orang yang dia cintai," ujar Jesslyn.


Alana seketika terdiam dan menatap Jesslyn. ia sejenak mencerna apa yang baru saja di ucapkan adik iparnya.


"Cinta? apa yang di maksud dengan cinta?" seketika itu, pikiran Alana kembali mengingat nama Valerie,  hingga membuatnya menghembuskan napas dengan rasa yang tak nyaman.


"Oh, Iya, Jesslyn. apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Alana.


"Tentu saja, boleh. katakan kepadaku, kau mau bertanya apa?" Jesslyn mengunyah makanan yang begitu penuh di mulutnya hingga terlihat belepotan di sekitar bibir mungilnya itu.


"Apa kau mengenal Valerie?" suara Alana terdengar dengan sedikit ragu. Jesslyn seketika menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menelan habis sisa makanan itu ke dalam tenggorokannya.


"Memangnya, ada apa, Alana? apa Valerie mengganggumu?" tanya Jesslyn, ia mengambil tissue dan mengelap mulutnya yang sedikit belepotan karna terkena saus.


"Tidak, Jesslyn. aku tidak pernah bertemu Valerie, aku hanya ingin bertanya saja kepadamu. apa kau mengenalnya?" tanya Alana.


"Tentu saja aku mengenalnya," jawab Jesslyn.


"Ehm, apa hubungan Ken dengan dia?" Alana sedikit mengecilkan volume suaranya, seakan ada keraguan saat bertanya tentang wanita yang membuatnya penasaran selama ini. Tiba - tiba Jesslyn tersenyum menggoda.


"Kenapa memangnya? apa kau cemburu dengan Valerie?" tanya Jesslyn.


"Tidak, Jesslyn. aku hanya ingin tau saja."


"Baiklah."


"Valerie itu, satu - satunya teman baik perempuan Kakak waktu SMP," ujar Jesslyn.


"Apa dia cantik?" tanya Alana.


"Semua perempuan itu terlahir cantik Alana," tutur Jesslyn dengan menepiskan senyumnya.


"Ehm, apa Ken sering mengajaknya ke rumah?"


"Ma-ma-ksudku, apa dia sering berkunjung dan main ke rumah?" tanya Alana.


"Iya, dulu waktu Kakak masih sekolah. tetapi, waktu Kakak melanjutkan study-nya di Amerika. aku sudah tidak pernah melihat  Valerie lagi. pernah, sih. tapi, hanya beberapa kali.


dan yang ku dengar sekarang, dia akan segera menikah," ujar  Jesslyn. ia meraih gelas yang berisi air putih yang ada di depannya, lalu, dengan cepat Jesslyn meneguk habis air itu.


"Oh..." Alana membulatkan mulutnya dan mengangguk - anggukan kepalanya.


"Teman baik? pasti Ken pernah memiliki perasaan dengan wanita itu. karna laki - laki seperti Ken. sangat sulit jika dekat dengan seorang perempuan, apalagi hingga berteman baik seperti itu." hati Alana tiba-tiba menciut. seakan semangatnya telah di ambil secara paksa.


***


Tak lama kemudian, Ken terlihat masuk ke dalam dapur dan ikut bergabung untuk makan malam.


seusai makan malam, Ken dan Jesslyn hendak kembali ke kamar. sedangkan Alana sejenak pergi ke kamar Ayahnya untuk memastikan keadaanya.


"Kakak... " suara Jesslyn menghentikan Ken yang hendak masuk ke dalam kamar.


"Ada apa, sayang?" tanya Ken.


"Apa aku boleh berbicara dengan Kakak?" tanya Jesslyn.


" Ini sudah malam, besok saja, ya." kedua mata Ken melihat ke arah jam yang melekat di dinding rumahnya


"Sebentar saja, Kakak." Jesslyn mengatupkan kedua tangannya.


"Ya sudah, cepatlah! kaubmau bicara apa?" tanya Ken.


"Kakak, apa Alana belum pernah bertemu dengan Valerie?" tanya Jesslyn.


"Belum pernah, kenapa memangnya?" tanya Ken. keningnya mengernyit heran akan pertanyaan adiknya tersebut.


"Kakak, kau jangan dekat-dekat dengan perempuan lain, ya. Apa lagi dengan teman Kakak yang bernama Valerie itu," pinta Jesslyn.


"Kenapa memangnya?" tanya Ken.


"Kakak masih bertanya kenapa?"


"Kakak itu sudah menikah dengan Alana. jadu, Jesslyn tidak mau kalau Alana sampai cemburu, Kak!"


"Cemburu?" Ken bergumam dan menahan senyumnya.


"Untuk apa cemburu? sungguh tidak jelas temanmu itu." Ken menanggapi perkataan Jesslyn itu dengan tidak serius.


"Kakak, Jessyln tidak sedanga bercanda! jangan pernah sekali-sekali Kakak menyakiti Alana! kalau Kakak sampai menyakitinya sedikitpun. Jesslyn tidak akan pernah memaafkan Kakak!" wajah Ken yang mulanya menahan tawa, kini pun berubah menjadi datar.


kata - kata Jesslyn kali ini terdengar begitu serius dan tidak sedang bercanda.


Jesslyn berlalu meninggalkan Ken masuk ke dalam kamar yang ia tempati. sedangkan Ken masih mematung akan posisinya.


"Cemburu?"


"Aku rasa, pasti Alana bertanya tentang Valerie kepada Jesslyn."


Ken melangkahkan kakinya kembali untuk masuk ke dalam kamar dan Segera mendudukan tubuhnya di atas sofa.


"Melihat dia di perlakukan buruk oleh orang lain saja, rasanya aku tidak terima. Lalu, untuk apa aku menyakitinya?" Ken bergumam dengan tatapan kosongnya yang menatap ke sembarang arah.


.


.


.


.


.


.


.


kalau Nona belum up berarti masih nulis ya... jadi harap bersabar ya kakak - kakak...


gak mungkin kan, belum selesai nulis terus cepet-cepet di update? entar alurnya gak nyambung kalian yang bingung hahaha 😂


nulis juga butuh bernapas. aku juga kerja. tapi aku usahain supaya bisa nulis di sela kesibukanku...