
"Apa kau tidak ingin memberiku hadiah?" tanya Alana seraya melepaskan pelukannya.
"Kan yang berulang tahun diriku, kenapa jadi kau yang malah meminta hadiah kepadaku?" saut Ken seraya mengernyitkan dahinya.
Alana mengembuskan napas kecewa. "Dulu setiap Daddy berulang tahun, Daddy selalu memberiku hadiah."
"Tapi, jika kau tidak mau memberiku hadiah, ya sudah..." imbuhnya melirik ke arah Ken sambil mengerucutkan bibirnya.
Ken tersenyum. "Aku hanya bercanda, katakan apa yang kau minta?" tanyanya.
"Boleh meminta?" tanya Alana. Ken mengiyakannya.
"Ehmmm---" Alana terlihat masih bingung memikirkan hadiah yang ia inginkan.
Melihat istrinya itu bingung Ken seketika mengambil ponsel miliknya dan menunjukan satu gambar yang ia pilih dari galeri foto yang ada di ponsel tersebut. "Toko perhiasan langganan Mama memberitauku, ini ada satu set perhiasan berlian keluaran terbaru dan limited edition, apa kau mau ini?" Ken menyodorkan ponsel yang menampakan gambar perhiasan yang begitu mewah dan elegant kepada istrinya itu, bahkan membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh hati. Namun tidak dengan Alana.
"Tidak, aku tidak mau. Untuk apa membeli perhiasan, aku tidak terlalu suka," tolak Alana.
"Lalu apa yang kau minta?" tanya Ken, menjauhkan ponselnya.
"Kue coklat..." Alana begitu bersemangat saat mengucapnya.
"Kue coklat?" Ken mengernyit.
"Iya, kue coklat yang kemarin aku makan, itu sangat lezat sekali. Aku ingin sekali memakan itu." Alana memejamkan kedua matanya, menelan ludah sembari menggeleng kepalanya saat membayangkan kue coklat yang ia rasa begitu sangat nikmat.
Ken menahan senyumnya. "Hanya kue coklat?" pertanyaan Ken membuat khayalan Alana membuyar seketika. Ia membuka kedua mata dan menganggukan kepalanya dengan begitu penuh harap.
"Baiklah, nanti kita makan kue coklat," jawaban Ken membuat Alana begitu kegirangan.
"Aku tinggal mandi." Ken mengusap kepala Alana dan hendak beranjak berdiri untuk masuk ke dalam kamar mand.
"Kau mau pergi bekerja?" pertanyaan Alana membuat Ken menghentikan langkah kakinya. Ken pun mengiyakannya, karna ia harus menemui beberapa client penting hari ini.
"Katanya kau mau mengajakku makan kue coklat, lalu kenapa pergi bekerja?" Alana berucap kesal.
"Makan kue coklatnya setelah aku pulang bekerja. Aku tidak akan lama, nanti jam 1 siang aku akan kembali," tutur Ken. Alana sontak mengangkat lengan tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku harus menunggu 5 jam lagi? lama sekali!" protes Alana.
"Kalau aku tidak bekerja, aku akan kehilangan peluang untuk mendapakan tender, aku berjanji jam 1 akan sudah sampai rumah," bujuk Ken. Alana pun terpaksa mengiyakannya meskipun sebenarnya ia ingin sekali suaminya itu tidak pergi bekerja dan menemaninya.
***
Ken terlihat sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia mengajak Alana pergi ke dapur, namun sebelumnya, mereka berdua memanggil adik-adiknya dan mengajaknya untuk sarapan bersama.
Baru saja, Alana dan Ken mendaratkan pantatnya di atas bangku meja makan, suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Alana hendak beranjak berdiri lagi bermaksud membukakan pintu, namun Ken melarangnya dan meminta tolong kepada Bi Ester yang saat itu sedang sibuk membuat teh untuk membukakan pintu tersebut.
Tak lama kemudian, Bi Ester kembali dan dari belakang terlihat disusul oleh Mama Merry dan juga Papa Gio. Kedatangan mereka berdua membuat suasana yang ada di dapur memecah dengan begitu hebohnya, terutama Jesslyn yang begitu senang saat melihat Mama dan Papanya berada di sana.
Ken dan Alana beranjak berdiri menyambut orang tuanya tersebut.
"Selamat ulang tahun, Nak." Gio memeluk Ken dan memberi tepukan di bahunya. Kemudian, bergantian dengan Merry.
"Selamat ulang tahun, sayang." Merry memeluk anak sulungnya tersebut dengan begitu erat sembari memberi ciuman di beberapa wajahnya. Ken melirik ke arah Alana yang sedang tersenyum.
"Mama... Ken akan jadi Ayah, kenapa Mama masih memperlakukan Ken seperti anak kecil, terimakasih banyak, Ma." Ken membalas ciuman di pipi Mamanya tersebut.
"Kakak akan jadi Ayah?" Jesslyn seketika beranjak berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Ken, tak sabar menunggu jawaban akan perkataan kakaknya tersebut.
"Ken, apa Alana hamil?" tanya Merry dengan memastikan.
"Iya, Ma. Alana sedang hamil," jawab Ken seraya melebarkan senyumnya.
"Kakak tidak sedang bercanda? tidak sedang membuat lelucon lagi kan?" tanya Jesslyn seolah tak percaya.
"Mana mungkin Kakak bercanda, Alana memang benar-benar hamil." Mendengar penuturan Ken, semua orang yang kala itu sedang berkumpul di rumahnya, begitu bahagia saat mendengar kabar tersebut. Terutama Kimmy dan juga Jesslyn yang begitu hebohnya.
"Kimmy, aku akan punya keponakan lucu." Jesslyn berteriak kepada Kimmy, membuat wanita itu beranjak berdiri dan ikut menghampirinya. Jesslyn memeluk Alana tak mau melepaskannya, Kimmy pun juga tak mau kalah darinya.
"Yeayy... aku juga akan memiliki keponakan lucu," Kimmy berteriak begitu heboh sambil memeluk Alana.
"Keponakanku, bukan keponakanmu!" Jesslyn menjauhkan Kimmy dari Alana, ia melototkan kedua matanya kepada Kimmy, namun tak membuatnya takut.
"Sama saja, iya kan Alana?" tanya Kimmy.
"Iya, sama saja!" jawab Alana.
"Jelas-jelas keponakanku, bukan keponakanmu!" seru Jesslyn.
Kimmy mendekatkan bibirnya di daun telinga Jesslyn. "Jesslyn, kalau aku menikah dengan Jasson, nanti juga akan menjadi keponakanku. Aku juga akan memberikan keponakan yang lucyu-lucyu untukmu," bisiknya lirih sambil terkekeh.
"Berkhayalah! Berkhayalah!"
"Sudah! kalian ini, kalau bertemu selalu saja ribut. Kalau tidak bertemu saling mencari!" tegur Gio. Kimmy dan Jesslyn seketika diam dan tak melanjutkan perdebatannya.
"Selamat, sayang." Merry memeluk Alana dan memberikan ciuman di dahinya, melontarkan begitu banyak doa untuk menantu dan calon cucunya tersebut. raut wajah wanita paru baya itu terlihat begitu bahagia sekali, karna ia tak menyangka akan segera menjadi seorang nenek.
"Terimakasih banyak, Ma."
"Kenapa kalian baru memberitau Mama?" protes Merry.
"Alana dan Ken saja baru mengetahuinya hari ini, Ma," jawab Ken.
"Manisnya, kenapa bisa kebetulan sekali, kabar kehamilan Alana tepat saat Kakak Ken sedang berulang tahun," puji Kimmy.
"Iya, kenapa bisa kebetulan sekali," timpal Jesslyn.
Gio juga memberi ucapan selamat beserta doa dan bergantian memeluk menantunya itu. Alana terlihat begitu lama memeluk Gio, memejamkan kedua matanya hingga tak sadar air matanya menumpahi kemeja berwarna baby blue yang dikenakan oleh Papa mertuanya tersebut.
"Alana, kenapa menangis?" tanya Gio.
Alana melepaskan pelukannya. "Tidak apa-apa, Pa," ujarnya sambil mengusap air matanya yang menderas di wajah.
"Alana hanya merindukan Daddy saja, kalau Daddy di sini, pasti Daddy juga akan senang," ucapnya dengan berat, masih mengeringkan air matanya yang tak mau berhenti. Gio pun kembali memeluk menantunya itu.
"Seorang Ayah akan selalu bahagia ketika melihat putrinya bahagia, sekalipun Daddy-mu sudah tidak ada di sini, tapi percayalah, setiap kali putrinya yang cantik ini tersenyum, Daddymu juga akan selalu ikut tersenyum dan bahagia di sana," tutur Gio seraya mencium puncak kepala Alana. Alana menganggukan kepalanya, merasa tenang akan kata-kata itu.
***
Papa Gio dan Mama Merry berpamitan pulang. Sementara Ken berangkat pergi ke kantor. Bersamaan itu, Jasson, Kimmy Jesslyn dan juga Daven hendak berangkat pergi kuliah.
Kimmy terlihat berdiri di depan halaman rumah, memegang ponsel dengan raut wajah yang ditekuk.
"Kimmy, apa kau dijemput?" tanya Jesslyn.
"Iya, tapi mobil ban sopirku pecah jadi harus menggantinya terlebih dahulu, aku akan menunggunya, kalian berangkat saja," perintah Kimmy.
"Berangkatlah bersama kita," ajakan Jasson membuat Kimmy begitu tersanjung.
"Tidak apa-apa, Jasson sangat suka direpotkan. Setelah Jasson mengantarku, dia akan mengantarmu," timpal Jesslyn.
"Ehm..."
"Kebanyakan berpikir, cepatlah kalian masuk ke dalam mobil!" Jasson mendahului masuk ke dalam mobil miliknya, Kimmy pun dengan senang hati menerima ajakannya untuk berangkat kuliah bersama sahabat dan juga laki-laki yang ia suka itu.
Namun saat Kimmy hendak masuk ke dalam mobil, Daven tiba-tiba menghampirinya, sejenak menghentikan tangan wanita itu yang sudah siap membuka pintu mobil.
"Kimmy, apa kau mau pergi kuliah?" tanya Daven. Kimmy mengiyakannya.
"Kenapa berangkat bersama Jesslyn dan Jassson? bukannya seharusnya diantar oleh sopirmu?"
"Ban mobil sopirku pecah, akan membutuhkan waktu lama jika aku menungggunya, jadi aku terpaksa berangkat bersama Jasson," jawab Kimmy.
"Kalau begitu berangkat bersamaku saja, kampusmu kan tidak jauh dari kampusku. Kalau kau berangkat bersama Jasson, kasihan dia jika harus bolak-balik mengantarmu dan juga Jesslyn." Kata-kata Daven membuat Kimmy terdiam begitu bingung, ia juga tidak tega merepotkan Jasson yang harus mengantarkannya, terlebi lagi kampusnya sangat jauh dari letak kampus Jesslyn dan Jasson.
Jasson yang kala itu menunggu di dalam mobil seketika melirik ke arah Kimmy dan Daven. "Cepatlah kau jadi berangkat bersama kita atau tidak!" serunya.
"Kimmy ayo, berangkat bersama kita saja!" Jesslyn mengedipkan kedua matanya memberi kode agar Kimmy ikt bersamanya, namun Kimmy yang begitu polos tak mengerti akan kode itu.
"Kenapa matamu?" Kimmy ikut mengedipkan kedua matanya sama yang seperti yang Jesslyn lakukan.
"Dasar bodoh!" umpat Kimmy.
"Ayo masuk ke dalam mobil!" perintah Jesslyn.
"Ehm.. Jesslyn, Jasson maaf. Lebih baik aku berangkat bersama Daven saja, karna aku--"
Belum menyelesaikan perkataannya, Jasson menancapkan gas mobilnya meninggalkan tempat itu dengan kecepatan sangat tinggi, bahkan mobil itu kini sudah menjauh dari pandangan mata Kimmy.
Kimmy tiba-tiba bersedih, ia sebenarnya ingin sekali ikut bersama mobil Jasson, namun di sisi lain juga kasihan dan tak mau merepotkannya, jadi ia terpaksa memilih berangkat bersama Daven.
^
"Jasson, kenapa kau meninggalkan Kimmy?" teriak Jesslyn dengan kesal.
"Apa tadi kau tuli? dia menolak berangkat bersama kita!"
"Tadi Kimmy sedang berbicara, kenapa kau tidak sopan meninggalkannya begitu saja!" seruan Jesslyn tak membuat Jasson menoleh atau menyautinya, ia fokus mengemudikan mobil miliknya.
"Jasson, aku sedang berbicara!" Jesslyn begitu kesal karna ia merasa tak dihiraukan oleh saudara kembarnya tersebut.
"Jangan berteriak dan banyak bicara, atau aku menurunkanmu di sini!" Jasson mengeraskan suaranya hingga membuat Jesslyn menciut takut dan tak mau berbicara.
"Kenapa Jasson begitu marah?"
"Dasar Kimmy bodoh! Kalau dia tadi ikut berangkat bersama, dia kan punya kesempatan bisa berduaan di mobil bersama Jasson, dia malah lebih memilih berangkat bersama Daven, hah payah!" gerutu Jesslyn dalam hati.
***
Ken terlihat sedang menemui beberapa clientnya untuk melakukan meeting penting, ia sedari tadi tak sabar ingin segera mengakhiri meeting tersebut dan menemui istrinya yang sedang menunggunya di rumah.
Jam 11.59
Ken mengakhiri meeting itu, ternyata ia pulang lebih awal dari estimasi yang seharusnya. Ken bersiap-siap pulang dan segera meninggalkan kantornya tersebut.
Saat dalam perjalanan pulang, Ken melihat supermarket dan seketika itu, ia menghentikan mobilnya untuk masuk ke dalam supermarket tersebut. Setelah mobilnya terparkir sempurna, Ken segera masuk ke dalam sana, pusat perbelanjaan adalah tempat yang sangat jarang sekali ia kunjungi jika tidak benar-benar membutuhkan keperluan mendesak.
Ken menulusuri seisi supermarket itu, terlihat kebingungan mencari sesuatu. Dua orang anak kecil sedang berlarian bermain trolly di dekatnya membuat Ken tiba-tiba tersenyum saat melhatnya, mengingat istrinya sedang mengandung, rasanya begitu tak sabar melihat anak-anaknya kelak.
"Aww..." Trolly yang dimainkan oleh anak kecil itu tak sengaja mengenai kaki seorang wanita, hingga membuat wanita itu berteriak menahan rasa sakit.
Perhatian Ken pun teralihkan ke arah wanita tersebut, menghampirinya dan mencoba bertanya.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya Ken.
"Iya, aku baik-baik saja." wanita itu mendesis kesakitan memegangi kaki sebelah kanannya, membuat Ken tak tega namun ia bingung harus berbuat apa.
Ken mendekati dua anak kecil itu, hingga kini tubuhnya berjongkok di hadapanan mereka. "Anak-anak, ini bukan tempat untuk bermain, lihatlah bibi ini terluka." Perkataan Ken yang bertutur dengan lembut kepada anak kecil, membuat hati wanita itu luluh saat mendengarnya.
"Maafkan, kami Paman. Kami tidak sengaja," kedua anak kecil itu terlihat menunduk takut.
"Kalian harus meminta maaf kepada Bibi ini," perintah Ken.
"Maafkan kami Bibi." Setelah meminta maaf, kedua anak kecil itu berlari meninggalkan Ken dan wanita tersebut. Ken beranjak berdiri dan kembali menghampiri wanita it.
"Apa benar kau baik-baik saja?" tanya Ken memastikan, melihat kaki wanita itu yang terlihat sedikit memar.
"Iya, Tuan. Aku baik-baik saja nanti aku akan mengobati kakiku di rumah, terimakasih."
"Baiklah..." Ken hendak pamit melanjutkan niatnya untuk membeli sesuatu, namun wanita itu menghentikannya.
"Tuan, siapa namamu?"
Ken terdiam sejenak. "Kendrick," jawabnya dengan malas.
"Terimakasih banyak Tuan Kendrick, saya Lysa." Wanita itu memperkenalkan diri dan menyodorkan tangannya. Namun Ken tak menjabat tangan wanita itu.
"Iya, Nona..." Lysa menarik tangannya kembali saat melihat Ken hanya menganggukan kepalanya.
Ken pamit menjauh dari Lysa, ia berdiri di tata letak display susu dan memperhatikan satu persatu susu ibu hamil yang berjajar rapi di hadapannya.
"Kau sedang mencari sesuatu, Tuan?" pertanyaan Lysa membuat Ken terkejut, karna ia merasa wanita itu sedaritadi mengikutinya.
"Iya, aku sedang mencari susu untuk wanita hamil, tetapi aku bingung, karna banyak sekali susu untuk wanita hamil di sini," Ken menggaruk-garuk kepalanya dan memperhatikan deretan susu yang begitu banyak di sana.
"Untuk siapa?" tanya Lysa.
"Untuk istriku."
Mulut Lysa membungkam seketika. "Dia sudah menikah." batinnya. Memberi jeda, lalu berbicara kembali.
"Oh, kau sudah menikah?" tanya Lysa. Ken menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
"Apa kau bisa membantuku, kira-kira susu mana yang bagus untuk wanita yang sedang hamil muda?" tanya Ken.
"Ehm, sebenarnya aku tidak tau karna aku belum menikah jadi aku belum pernah hamil, tapi aku akan membantumu mencarikan susu yang bagus untuk istrimu."
"Oh, tidak usah Nona, terimakasih."
Ken melihat seorang SPG yang kebetulan lewat di sana. Ia memanggil SPG itu dan meminta bantuannya untuk memilihkan susu yang sekiranya bagus untuk Alana. Setelah mendapat rekomendasi, Ken tak tanggung-tangung membeli 10 kaleng susu ibu hamil sekaligus. Merasa kesulitan dan enggan mengambil keranjang belanjaan. Lysa yang melihatnya segera menawarkan bantuan kepada Ken.
"Tuan Kendrick, titipkan di trollyku saja, aku kebetulan juga mau membayar barang belanjaanku ke kasir," tutur Lysa. Ken yang merasa enggan untuk mengambil keranjang yang letaknya jauh dari jangkaunnya, terpaksa menitipkan susu yang ia beli ke dalam trolly belanjaan milik wanita asing itu.
Ken dan Lysa mengantri di meja kasir menunggu giliran, sedaritadi Lysa memperhatikan Ken hingga membuat laki-laki itu merasa risih. Ken berdecak dan mengumpat berkali-kali, ia benar-benar tak suka jika seseorang memandanginya hingga sebegitunya apalagi seorang wanita.
"Kenapa harus kau yang membeli susu, Tuan? kenapa tidak istrimu saja?" tanya Lysa.
"Istriku tidak tau jika aku membelikan susu untuknya," jawab Ken tanpa melihat sedikitpun ke arah Lysa, karna ia sudah benar-benar malas.
Penjaga kasir terlebih dulu menotal barang belanjaan milik Ken, saat sedang sibuk menunggu penjaga kasir, ponsel miliknya bedering. Ken segera merogoh ponsel yang terselip di dalam saku celanannya tersebut. Terlihat ada satu panggilan suara masuk dari Alana.
"Hallo, Sayang?" sapa Ken. Lysa masih tak lepas memperhatikan Ken dan menguping pembicaraannya.
"Kau di mana, ini sudah jam 1. Katanya kau pulang jam 1?" Ken sontak melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Astaga, sudah jam 1, dia benar-benar menagih," Ken memijit dahinya yang luas, mencoba menyusun jawaban yang tepat.
"Iya, maaf. Ini aku pulang," bujuk Ken.
"Kenapa lama sekali? lihatlah ini sudah lewat satu menit," protesnya begitu kesal.
"Iya, iya, sebentar..." Ken mengakhiri panggilan itu, ia terburu-buru membayar barang belanjaannya dan hendak berlalu pergi dari sana tanpa berpamitan kepada Lysa.
"Tuan Kendrick..." panggil Lysa.
"Maaf, Nona. Aku terburu-buru." Ken mempercepat langkah kakinya, hingga tubuh laki-laki itu sudah tak dijangkau oleh kedua mata Lysa.
***
Ken baru saja tiba di rumah, ia masuk dan di sambut oleh Alana yang sedang duduk di ruang tamu dengan raut wajah kesalnya.
"Sayang, maaf, aku terlambat pulang." Ken duduk di samping Alana berusaha membujuknya.
"Menyebalkan! Lihatlah, ini sudah lewat 28 menit, kau membohongiku!" seru Alana.
"Maaf, aku tadi harus pergi ke supermarket, membeli ini." Ken memperlihatkan dua kantong plastik besar berisi barang belanjaannya. Alana menyaut kantung palstik tersebut.
"Apa ini?" Alana membuka bungkusan kantung plastik yang dibawa oleh suaminya itu.
"Susu untuk ibu hamil," jawab Ken.
Alana mengambil salah satu kaleng susu itu dan memperhatikannya. "Untuk siapa?" pertanyaannya membuat Ken begitu kesal.
"Ya untuk dirimu, mana mungkin aku membelikannya untuk Paman Lux!" seru Ken. Alana pun terkekeh.