My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Apa tenggelam?



Ken menghentikan mobil miliknya di lahan kosong yang ada di pantai itu. Begitu juga dengan David yang mengendarai mobil milik Ashley, ia segera menghentikan mobilnya, dan segera turun menghampiri Ken.


Mereka berempat berjalan menuju ke bibir pantai, namun, gelapnya pantai itu membuat mereka kesulitan melihat sekitar, tidak ada satu orang pun yang ada di sana kecuali mereka berempat.


"Tidak ada siapapun..." ujar David.


Mereka berempat berpencar, dengan suara  bergantian menyaut satu sama lain memanggil nama Kimmy dan juga Jesslyn. Namun rasanya sia-sia, tidak ada sautan dari sana. Jasson segera menemui Kakaknya kembali.


"Kakak, mereka tidak ada," Jasson sudah memasang wajah paniknya karna tak menemukan saudara kembarnya di sana.


"Ini semua gara-gara dirimu! Hanya menyuruh mengawasi Jesslyn saja apa susahnya!" Ken memegang kera baju Jasson  dan mendorong adik laki-lakinya itu hingga jatuh tersungkur di pasir pantai itu. Jasson hanya bisa diam tak berani melawan Kakaknya, karna dirinya memang merasa bersalah. David segera menghampiri Ken.


"Ken tenanglah, jangan menyalahkan Jasson seperti itu!" tutur David.


"Apa yang kau suruh tenang? adikku menghilang, dan kau menyuruhku tenang. Adikku tidak pernah pergi ke  tempat ini! Dan ini sudah malam! Dia perempuan, bukan laki-laki seperti Jasson yang bisa menjaga dirinya sendiri!" Ken mengeraskan suaranya dengan penuh tenaga.


"Aku tau, Ken--"


"Tau apa? lebih baik diamlah!" tukas Ken. Kepanikan benar-benar melandanya hingga membuat laki-laki itu sulit untuk mengontrol emosinya.


"Ya Tuhan, ke mana Kimmy, dan adikku?" Ken mengusap kasar wajahnya berkali-kali karna kebingungan harus ke mana lagi mencari Jesslyn dan juga Kimmy.


"David... Ken..." dari ujung sana, Ashley berlari dengan membawa sesuatu di tangannya.


"David, Ken, lihatlah... ini bukannya sandal milik Kimmy dan juga Jesslyn?" ujar Ashley dengan suaranya yang ngos-ngosan. Ken segera menarik sandal-sandal itu dari tangan Ashley.


"Kakak, ini sandal yang di kenakan Kimmy dan Jesslyn tadi sore," saut Jasson.


"Iya, ini sandal Jesslyn, lalu ke mana mereka?" wajah Ken memucat. Ketakutan tiba-tiba menyelimuti hati dan pikirannya.


"Ken, apa jangan-jangan mereka tenggelam di laut?" ujar Ashley. Dahi Ken mengerat dengan menatap penuh amarah kepada Ashley.


"Jangan bicara sembarangan! aku bisa melenyapkan dirimu!" Ken menyaut kasar kera baju Ashley, memegangnya  dengan geram, seakan amarahnya memuncak di atas ubun-ubunnya saat Ashley berbicara seperti itu.


"Ken..." Jasson dan David segera menjauhkan tubuh Ken dari Ashley.


"Ma-maaf, Ken. A-aku tidak bermaksud berbicara seperti itu..." Ashley menggigil ketakutan saat melihat Ken yang begitu marah akan ucapan yang ia lontarkan baru saja. Ashley seketika menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh Jasson.


"Kau bicara sembarangan lagi! Aku tidak akan melepaskanmu!" teriak Ken. Ashley menelan salivanya sembari menganggukan kepalanya dengan takut.


Tiba-tiba ponsel milik David yang kala itu berada di saku celana jeansnya bergetar berkali-kali, membuat ia segera meraih benda itu. Terlihat ada satu panggilan masuk dari Billy.


"Ken, Billy menelponku," ujar David.


"Cepat angkatlah!" perintah Ken. David segera menggeser ikon berwarna hijau hingga menghubungkan suaranya dengan Billy.


"Hallo David, kau dan lainnya di mana??" tanya Billy.


"Kami masih  di pantai, ada apa, Billy?" tanya David.


"Cepat kembalilah, Jesslyn dan Kimmy baru saja kembali, mereka sudah di Villa," ucap Billy.


"Bicaralah yang benar!" seru David.


"Iya, Jesslyn dan Kimmy sudah pulang, cepatlah kembali..." perintah Billy.


"Kak David, aku sekarang sudah kembali di villa." Suara Jesslyn tiba-tiba menyaut dari balik ponsel itu.


"Jesslyn kau sudah kembali?" ucap David. Ken segera menyaut ponsel milik David.


"Hallo Jesslyn..."


"Kakak..." sapa Jesslyn.


"Sayang, kau sudah kembali?" tanya Ken.


"Iya, Kak. Aku sudah kembali, aku sudah di villa bersama Kimmy, Kak Billy dan Valerie," ujar Jesslyn. Sumpah demi apapun, Ken begitu lega saat mendengar suara adiknya tersebut.


"Kau ini, apa kau tau Kakak mencarimu! Ya sudah, Kakak akan kembali ke villa." Ken segera mengakhiri panggilan itu.


"Ayo kembali ke villa, Kimmy dan Jesslyn sudah kembali di villa..." Ken mengembalikan ponsel yang ia pegang kepada pemiliknya.


"Syukurlah..." Jasson, David, Ashley bernapas lega. Namun, Ashley masih menundukan wajahnya tidak mau melihat Ken karna dirinya masih takut. Mereka berempat menuju ke mobil dan segera kembali ke villa.


***


30 menit sebelumnya saat di pantai.


Jesslyn dan Kimmy saling berlarian mengejar satu sama lain, membuat bola-bola dari pasir yang basah dan saling beradu lempar, membuat kedua tubuh gadis itu kotor terbalut oleh pasir-pasir tersebut.


Jesslyn dan Kimmy berlarian, bergulung di pasir layaknya anak kecil, rasanya hal seperti ini sangat menyenangkan bagi mereka berdua. Bukannya ini  lebih baik, daripada harus mengikuti trend jaman anak muda seusia mereka yang di mana di antara dari mereka banyak sekali melakukan pergaulan bebas, tak sedikit dari teman-teman mereka yang sangat hobi clubing maupun bergonta-ganti pasangan hingga melakukan sex bebas di luaran sana.


Namun itu semua  tidak berlaku kepada Jesslyn maupun Kimmy.


Terlebih lagi, Papa Gio dan Mama Merry sangat menjaga anak-anaknya terutama Jesslyn agar jauh dari pergaulan bebas, mereka berdua lebih memilih menjaga anak perempuannya itu dengan cara memanjakannya tanpa mengekangnya sedikitpun,  membuat Jesslyn merasa nyaman dengan kehidupan yang ia jalani tanpa rasa ada kekang itu sendiri. Itu sebabnya, kurangnya pergaulan dan terlalu dimanja  membuat sikap Jesslyn begitu kekanak-kanakan meskipun usianya sudah tidak terbilang remaja lagi.


Dewasa atau tidaknya seseorang tidak dapat diukur dari segi usia, melainkan dari bagaimana cara mereka menyikapi  tanggung jawab dan setiap masalah yang mereka terima.


Sangking terlalu asyiknya bermain, bahkan Kimmy dan Jesslyn  tak menyadari, sudah tidak ada pengunjung yang menghuni pantai itu, hanya mereka berdua saja yang nampak di sana.


Jesslyn sangat menyukai tempat  itu, deburan ombak, bau air laut yang menyeruak di indera penciumannya dan juga pasir putih yang membuat geli telapak kakinya membuat dirinya enggan untuk meninggalkan pantai tersebut.


"Jesslyn, sunsetnya sudah lewat, ayo kita kembali ke villa, kita kemari lagi besok pagi saja bersama Alana," ajak Kimmy.


"Tidak mau, aku masih ingin bermain pasir di sini," tolak Jesslyn.


"Ya sudah, kita main lagi sebentar saja, ya." Kimmy terpaksa menuruti permintaan Jesslyn. Ia mendudukan tubuhnya di samping teman kecilnya itu, Jesslyn terlihat mengumpulkan pasir di sekitarnya untuk membuat sebuah istana di depannya.


"Aku sangat merindukan Mama, coba saja di sini ada Mama, aku akan bermain pasir bersamanya," gerutu Jesslyn.


"Kenapa kau tidak menelpon Bibi Merry saja," usul Kimmy.


"Oh, Iya, aku akan melakukan panggilan video, supaya Mama bisa melihat istana yang ku buat." Jesslyn mengeluarkan ponsel miliknya yang terselip di saku celana. Namun, ia tiba-tiba berdecak saat melihat ponselnya mati karna low batt.


"Kenapa?" tanya Kimmy.


"Ponselku low batt," Jesslyn memanyunkan bibirnya.


"Aku juga tidak membawa ponsel," ujar Kimmy. Ia memandangi sekitar pantai, namun tak ada siapapun yang berkunjung di sana kecuali dirinya dan Jesslyn, Kimmy seketika menjadi takut. Terlebih lagi, langit terlihat sudah mulai gelap.


"Jesslyn, ayo lebih baik kita kembali saja ke villa, Ini sudah hampir petang," ajak Kimmy yang beranjak berdiri.


"Ya sudah, ayo. Tapi aku mau mencuci kaki dan sandalku dulu." Jesslyn beranjak berdiri dan membersihkan tubuhnya yang dipenuhi oleh pasir, begitu juga dengan Kimmy.


Mereka berdua mendekati air laut  yang masih mendeburkan ombak besar di sana. Jesslyn membasuh kakinya yang kotor diikuti oleh Kimmy di sampingnya.


"Sandalku..." Jesslyn tiba-tiba berteriak saat sandal miliknya ikut terbawa ombak. Jesslyn hendak mengambil sandal miliknya yang terlihat mengapung lumayan jauh dari jangkaunnya, namun, Kimmy menahan tubuh Jesslyn.


"Mengambil sandalku!"


"Kau ini jangan bodoh! Biarkan sandalmu hanyut, kau mau cari mati apa!" seru Kimmy.


"Aku bisa berenang! Aku akan mengambilnya, tidak mungkin aku pulang tanpa alas kaki  seperti ini!" seru Jesslyn. Ia mencoba menerobos tubuh Kimmy untuk mengambil sandalnya, namun, tiba-tiba ombak besar dengan cepat menghantamnya  membuat tubuh mereka berdua terjatuh, bahkan tak sedikit, membuat baju yang mereka kenakan menjadi basah kuyup.


"Jesslyn sudah ku bilang, biarkan sandalnya hanyut, ombaknya sangat besar, ini berbahaya!" tutur Kimmy.


Jesslyn terdiam sejenak, melihat sandalnya semakin mengapung jauh terbawa arus ombak.


"Jesslyn..."


"Ya sudah, ayo kita kembali saja..." saut Jesslyn. Ia meninggalkan salah satu sisi sandalnya di sana.


"Ini, pakailah sandalku." Kimmy memberikan sandal yang ia kenakan kepada Jesslyn.


"Tidak usah, pakailah saja," tolak Jesslyn.


"Tidak apa-apa, biar aku yang berjalan tanpa mengenakan alas kaki, aku sudah terbiasa berjalan tanpa mengenakan alas kaki, bahkan berjalan di atas bara api tanpa mengenakan alas kaki saja aku juga pernah" ujar Kimmy.


"Memangnya kau pernah berjalan di atas bara?" tanya Jesslyn.


"Pernah! Aku pernah berjalan di atas bara api, itu sangat menyakitkan sekali, sampai-sampai kakiku melepuh," Kimmy berucap dengan mendesis mengingat hal itu.


"Tapi semakin lama, aku terbisa berjalan di atas bara api." Kimmy melebarkan senyumnya.


"Benarkah? kapan kau berjalan di atas bara api, kenapa aku tidak pernah tau kalau kau sekuat itu?" tanya Jesslyn yang mulai sangat penasaran.


"Memang kau tidak tau! Karna waktu bermimpi aku tidak mengajakmu, jadi kau tidak tau saat aku berjalan di atas bara api!" seru Kimmy.


"Sialan, aku kira kau memang benar-benar berjalan di atas bara api!" Jesslyn tertawa kesal, tangannya reflek memukul kepala Kimmy.


"Aku memang berjalan di atas bara api, kau tidak percaya?" tanya Kimmy.


Jesslyn masih tertawa. "Kenapa aku punya teman sebodoh dirimu!" Tangannya melingkar di bahu Kimmy. "Ayo kita kembali Ke Villa," ajaknya.


"Ayo pakailah sandalku ini!" perintah Kimmy.


"Tidak usah, aku akan berjalan tanpa memakai alas kaki," ujar Jesslyn.


"Ya sudah, aku juga akan menemanimu tidak memakai alas kaki." Kimmy meninggalkan sandal miliknya juga di sana. Ia dan Jesslyn segera berjalan meninggalkan pantai itu untuk berjalan kaki kembali ke villa.


^


Jesslyn dan Kimmy mencari jalan alternatif yang memudahkannya agar lekas sampai ke Villa, namun, jalan yang mereka tapaki ialah jalanan yang bergeronjal dan banyak sekali bebatuan kecil yang bertebaran di sana. Membuat kedua telapak kaki mereka harus menahan rasa sakit.


Berkali-kali, Jesslyn dan Kimmy mencari tempat duduk untuk menghentikan perjalanannya akibat  bebatuan yang menggores telapak kakinya  hingga memerah.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Villa. Saat di Villa.


"Kakiku sakit," rancau Jesslyn.


"Kakiku juga sakit." Kimmy dan Jesslyn duduk berselonjor di depan villa. Mendengar suara orang yang sedang mengibrol dari luar villa, Valerie dan Billy yang kala itu sedang duduk di ruang depan segera keluar.


"Jesslyn, Kimmy..." panggil Valerie. Kimmy dan Jesslyn menoleh secara bersamaan.


"Valerie..."  saut Jesslyn.


"Astaga, Kimmy, Jesslyn... kalian dari mana saja?" tanya Valerie.


"Dari pantai," sautnya.


"Apa kalian tau, Ken dan yang lainnya sangat mencemaskan kalian? mereka sekarang pergi ke pantai sedang mencari kalian..." ujar Valerie.


"Benarkah, Valerie? Kakak mencariku?" Jesslyn beranjak berdiri diikuti oleh Kimmy.


"Iya, Ken tadi mencarimu..."


"Billy, beritau Ken, kalau Jesslyn dan Kimmy sudah kembali!" perintah Valerie kepada Billy.


"Baiklah, aku akan menghubungi ponselnya," ujar Billy. Billy berulangkali menghubungi ponsel Ken, namun, Ken tak mengangkatnya karna ponsel Ken kala itu ada di dalam kamarnya. jadi seketika itu Billy menghubungi ponsel milik David.


***


Tak lama kemudian, mobil yang dibawa oleh Ken dan Ashley terlihat. Saat mobil sudah terparkir sempurna, mereka semua turun dan menghampiri Jesslyn dan juga Kimmy yang masih menunggu mereka di luar villa bersama Valerie dan juga Billy.


"Kakak..."  Jesslyn memanggil kakaknya tersebut dengan suara khasnya. Ken mempercepat langkah kakinya dan segera memeluk Jesslyn.


"Anak nakal! kenapa kau membuat Kakak Khawatir?" Ken tak henti-hentinya memeluk dan menciumi kepala adiknya itu.


"Kalau sampai kau kenapa - kenapa Kakak tidak bisa memaafkan diri Kakak sendiri," ujarnya.


"Maafkan, Jesslyn, Kak."


"Jangan pergi sendiri tanpa Kakak atau Jasson, kau mengerti!" tutur Ken seraya melepaskan pelukannya. Jesslyn menganggukan cepat kepalanya. Ia melirik ke arah Jasson yang menatapnya dengan tatapan tajam membuat Jesslyn takut dan menundukan pandangannya.


"Kau selalu saja menyusahkanku!" seru Jasson yang tak kalah ikut memeluk saudara kembarnya itu. Meskipun Jesslyn seringkali membuat hatinya jengkel, namun tak bisa dipungkiri, ia sangat menyayangi adiknya tersebut.


"Maafkan aku, salah siapa kau tadi tidak mau menemani kami," Jesslyn membalas pelukan Jasson dengan mulut yang masih menggerutu. Jasson melepaskan pelukannya dan memperhatikan tubuh Jesslyn.


"Lihatlah, bajumu basah dan penuh pasir semua, bahkan kau dan temanmu ini meninggalkan sandal di sana, membuat kami khawatir dan  takut terjadi apa-apa!" seru Jasson.


"Iya, tadi sandalku hanyut terbawa ombak, ya sudah aku tinggalkan saja di sana, Kimmy juga meninggalkan sandalnya dan menemaniku berjalan tanpa menggunakan alas kaki," jawab Jesslyn.


Kimmy sedari tadi memperhatikan Ken dan Jasson yang terlihat begitu mengkhawatirkan Jesslyn, tak hanya Ken dan Jasson saja, tapi yang lainnya juga terlihat mencemaskan Jesslyn, membuat Kimmy merasa iri dibuatnya.


"Coba saja aku memiliki saudara atau Kakak laki-laki, pasti mereka juga akan mencemaskanku seperti Kakak Ken dan Jasson yang mencemaskan Jesslyn," gumam Kimmy yang masih tak henti memandangi Ken dan Jesslyn.


Kedua mata Ken memperhatikan sekitar seakan sedang mencari seseorang.


"Mana Alana?" tanya Ken yang tak melihat istrinya dari jangkauan matanya.


"Iya, ke mana Alana?" tanya David,


"Oh iya, ke mana Alana? Aku daritadi tidak melihatnya," saut Jesslyn.


"Iya, aku juga tidak melihat Alana, aku kira Alana juga ikut berama Kakak Ken," saut Kimmy.


"Mungkin di ada di dalam," timpal Jasson.


"Tidak ada!" saut Valerie.


"Saat kalian pergi tadi, Nona Alana berada di luar Villa dan belum masuk ke dalam sama sekali, tapi, entahlah,  kenapa sekarang Nona Alana tidak ada?" ujar Valerie seraya menyoroti sekitar villa itu.


Tanpa banyak berkata, Ken segera masuk ke dalam villa untuk memastikan sendiri mencari istrinya di dalam, namun, ia sudah menelusuri semua sudut ruangan yang ada di dalam villa itu termasuk kamarnya, namun tetap saja ia tak menemukan Alana di sana.