
Alana meraih ponselnya yang berdering di dalam tas jinjing miliknya. Terlihat ada satu panggilan masuk dari Jesslyn. Alana segera menerimanya.
"Hallo Jesslyn?"
"Alana, aku dan Jasson sepertinya datang terlambat, tunggu aku, ya..."
"Iya... Jesslyn apa kau tau siapa calon istri David?" tanya Alana.
"Mana kutahu. Aku saja tidak pernah melihat Kak David berjalan dengan wanita," saut Jesslyn.
"Jesslyn, calon istrinya David ternyata Laurrent, sahabatku dulu," jawab Alana. Mendengar jawaban Alana, Jesslyn pun terkejut bukan main.
"Kau yang benar saja Alana? Aku tidak rela jika salah satu temanmu yang barbar itu menjadi istri Kak David!" seru Jesslyn.
"Iya aku juga tidak rela jika David menikah dengan Laurrent. David orang baik tidak pantas dengannya!" seru Alana.
"Iya, pantasnya denganku," saut Jesslyn.
"Bicara apa kau ini? Jesslyn, ayo cepatlah kemari... aku sungguh malas sekali di sini karna ada Clara, Lecya dan juga Darrel."
"Ada mantan kekasihmu juga?" tanya Jesslyn.
"Iya."
"Alana kau kan sedang hamil, jadi jangan menatap wajah mantan kekasihmu itu."
"Kenapa memangnya?" tanya Alana mengernyit bingung.
"Kalau kau menatap wajahnya, nanti wajah anakmu akan mirip dengan dia!"
Kedua mata Alana melebar tak percaya. "Kau yang benar saja, memangnya bisa begitu ya?" tanya Alana.
"Iya, Alana. Memangnya kau mau Kakak menuduhmu selingkuh karna wajah anakmu mirip dengan mantan kekasihmu itu?"
"Ya mana mungkin aku mau, yang ada Ken akan membunuhku!" seru Alana.
"Makanya, jangan bertatapan muka dengannya, ya!" perintah Jesslyn. Alana dengan polosnya mengiyakan ucapan adik iparnya itu. Lalu, mereka berdua pun saling mengakhiri panggilan tersebut.
***
Alana berjalan mendekati Ken yang kala itu bersama Ashley dan juga David. Namun, David dikejutkan oleh kedatangan Valerie yang tiba-tiba menghadiri acara yang akan segera berlangsung itu.
"Valerie?" David menjauh dari sahabatnya dan segera menghampiri Valerie. David begitu terkejut akan kedatangan wanita itu. karna ia sama sekali tak memberitaunya. "Kenapa Valerie bisa datang kemari?" pikirnya seperti itu. Valerie berjalan mendekatinya sambil tersenyum.
"Kau kemari?" tanya David, kedua matanya menatap lekat wanita yang berdiri persis di hadapannya saat ini.
"Aku mendengar kau akan bertunangan hari ini, itu sebabnya aku kemari. Maaf jika aku lancang hadir tanpa undangan." David hanya diam tak membalas perkataan wanita itu.
"Apa kau tidak menganggapku teman hingga kau tidak mau mengundangku di hari bahagiamu ini?" tanya Valerie dengan begitu berat, kedua matanya terlihat berkaca-kaca. David masih tak bergeming menatap wanita itu.
"Selamat, ya, David?" suara Valerie hampir tak terdengar. Kedua matanya terlihat begitu penuh, namun sekuat tenaga ia mencoba menahan emosinya. Valerie menjulurkan tangannya, menunggu laki-laki itu membalasnya.
"Kak David, Ibumu memanggil..." Laurrent yang tiba-tiba muncul begitu saja, membuat David mengurungkan tangannya untuk menjabat tangan Valerie.
Valerie melihat ke arah Laurrent. "Dia calon istrimu?" tanyanya.
"Iya..." jawab David.
"Halo, Nona..." sapa Valerie, tersenyum kepada Laurrent, namun wanita itu begitu acuh kepadanya.
Laurrent menarik tangan David. Namun David tak berpindah. Membuat Laurrent melirik Valerie dengan tatapan tidak suka.
"Kak David, ayo!" Laurrent menarik paksa tangan calon tunangannya itu.
"Sebentar, ya, Valerie."
Valerie meganggukan kepalanya, David pun berlalu pergi dari sana. Kedua mata Valerie masih mengikuti gerak tubuh laki-laki yang berjalan menjauh dari jangkauannya itu. Alana pun memperhatikan Valerie, ia berjalan mendekati wanita yang pernah menaruh rasa terhadap suaminya tersebut.
"Valerie..." suara Alana membuat Valerie mengeringkan kedua sudut matanya yang hampir basah.
"Iya, Alana?" sautnya sambil mencoba tersenyum.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alana.
"Tentu saja, aku sangat baik..." jawabnya, lagi-lagi senyuman yang tertepis di wajahnya membuat dadanya begitu sesak.
"Valerie, apa kau--"
"Valerie, ayo kemarilah, banyak sekali makanan yang dihidangkan oleh keluarga David." Ashley tiba-tiba menarik tangan Valerie mengajaknya pergi dari sana, hingga membuat Alana mengurungkan niatnya untuk berbicara.
Alana berdecak kesal. "Dari sorot matanya, David pasti menyukai Valerie, tapi Valerie? apa dia juga menyukai David?" gumamnya dengan bingung.
Ken terlihat menghampiri istrinya itu. "Sayang, acaranya diundur setengah jam lagi, karna ayah Laurrent masih dalam perjalanan dari luar kota kemari, lebih baik makanlah dulu kau dari tadi belum makan," perintah Ken.
"Tidak, aku tidak mau makan!" tolak Alana.
"Ken, apa kau tadi tidak melihat, David tidak seperti biasanya, dia sangat tidak bahagia dengan pertunangannya ini dan Valerie, dia--"
"Dia kenapa?" seru Ken, mengernyitkan dahinya dan menatap kesal Alana. "Aku sudah bilang dari tadi, jangan membiacarakan hal ini lagi!"
"Ken..."
"Cukup Alana! Jangan membuat masalah di sini! Kalau kau sampai membuat masalah, aku tidak akan segan memarahimu!" seru Ken. Lagi-lagi karna kekesalannya, Ken terpaksa meninggalkan istrinya itu sendirian.
"Alana, jangan membuat masalah!" Alana berucap sambil menirukan gaya suaminya itu berbicara.
"Hah, menyebalkan!" umpat Alana.
***
Alana terlihat mondar-mandir dengan bingung, ia merasa lapar. Namun tak berselera untuk makan. Perasaanya masih tak tenang. "Aku yakin, David pasti menyukai Valerie. Aku harus mencoba berbicara dengannya."
Alana mencoba meninggalkan tempat yang ia pijaki saat ini untuk mencari David. Ken yang sedaritadi memperhatikan Alana dari kejauhan, saat melihat istrinya itu pergi, ia hendak mengikutinya, namun Ashley yang tiba-tiba memanggilnya, seketika mengurungkan niat laki-laki itu untuk mengikuti Alana.
Alana terlihat mengelilingi rumah David yang begitu besar. Ia mencoba mencari sahabat suaminya itu, namun sialnya ia malah berpapasan dengan Darrel.
"Alana?" sapaan Darrel tak membuat Alana membalasnya.
"Kenapa harus bertemu dengan dia!" umpat Alana dengan kesal.
"Oh iya, kata Jesslyn kan aku tidak boleh menatap wajah Darrel, kalau sampai wajah anakku mirip dengannya bisa-bisa aku dibunuh oleh Ken." Alana seketika menundukan wajahnya dan sama sekali tak mau menatap wajah laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya itu.
"Apa urusanmu bertanya seperti itu kepadaku?"
"Aku hanya bertanya saja," Darrel mengalihkan pandangannya ke arah perut Alana.
"Selamat, ya, kau juga akan segera memiliki anak." Darrel menyodorkan tangannya kepada Alana.
Alana masih menunduk tak berani melihat wajah Darrel.
"Apa kau begitu benci denganku sampai tidak mau melihatku seperti itu?" tanya Darrel.
"Maaf Darrel, aku ada urusan yang jauh lebih penting daripada menjawab pertanyaanmu yang tidak jelas. Permisi." Alana berlalu pergi meninggalkan mantan kekasihnya itu.
"Nak, kalau kau menginginkan ibumu selamat, kau harus mirip dengan ayahmu ya." Alana berucap sambil mengusap-usap perutnya.
Langkah kaki Alana terhenti, tatkala dirinya melihat David dan Laurrent keluar dari salah satu kamar, yang ia yakini adalah kamar ibu David.
Mereka berdua terlihat berpencar. Alana segera mengikuti David yang masuk ke dalam ruang keluarga , laki-laki itu mendudukan tubuhnya di atas sofa, ia terlihat begitu bingung sambil memijat keningnya. Alana bisa melihat kebingungan di raut wajah sahabat suaminya itu.
"David..." Mendengar suara Alana, David menoleh ke arah pintu yang menampakan istri sahabatnya itu berdiri di ambang pintu.
"Alana... ada apa?" tanya David. Ia beranjak berdiri, Alana pun berjalan menghampirinya hingga mereka berdua kini berdiri saling berhadapan.
"David aku ingin berbicara denganmu."
"Bicaralah!" perintahnya dengan senang hati, menyuruh Alana untuk duduk. Namun ia menolaknya.
"Apa kau sudah lama mengenal Laurrent?" tanya Alana.
"Aku tau dia sejak SMA, karna di putri dari sahabat ibuku, tapi aku tidak terlalu mengenalnya. Kenapa?" tanya David heran.
"Kau Menyukai Laurrent?" tanya Alana. David menggelengkan kepalanya.
"David, aku tau kau dijodohkan oleh ibumu, tapi kalau kau tidak menyukai Laurrent, lebih baik kau batalkan saja pertuananganmu dengannya."
"Alana, kau tidak tau..."
"Aku tau, David. Kau sebenarnya menyukai Valerie kan?" Pertanyaan Alana membuat kedua mata David membulat sempurna. Ia begitu terkesiap mendengar ucapan wanita itu.
"David... kalau kau menyukai seseorang, kenapa kau tidak berusaha untuk mendapatkan hati orang itu?"
"Alana kau ini bicara apa? aku tidak menyukai Valerie, aku tidak menyukai siapapun!" David mengalihkan pandangannya, membuat Alana tau bahwa laki-laki itu sedang berbohong.
"Jangan membohongiku! Aku tau kau menyukai Valerie! David, tolong... Valerie wanita yang baik, sementara Laurrent, aku sangat tau betul bagaimana dia, tolong jangan menikah dengan Laurrent."
Alana hendak berbicara kembali, namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya menjauh dari David dengan kasar. Seseorang itu tak lain ialah Laurrent. "Bicara apa kau baru saja?" teriak Laurrent. Alana begitu terkesiap saat melihat mantan sahabatnya ada di sana.
"Mati aku..." Alana mengumpat, kedua matanya mendelik hebat.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu? kau menjelek-jelekanku dan menyuruh Kak David untuk tidak menikahiku?" seru Laurrent. Ia mencengkram lengan Alana.
David seketika menjauhkan tangan calon istrinya itu dari tangan Alana dengan begitu kasar. "Jangan coba-coba menyakiti Alana."
"Kak David..."
"Diam!" perintah David.
"Alana, pergilah dari sini!" perintah David. Alana sejenak terdiam, ia masih ingin berbicara dengan David, namun rasanya tidak mungkin, ia pun terpaksa mengiyakan sahabat suaminya itu.
Alana hendak berlalu pergi dari ruangan itu. Namun, ia tiba-tiba berteriak saat tubuhnya merasa di dorong oleh seseorang dan hendak membuatnya terjatuh, namun Ken dan Ashley yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Alana hendak terjatuh, mereka berdua segera menumpu tubuhnya hingga membuat Alana terselamatkan.
"Laurrent..." David berteriak mendorong kasar calon istrinya itu.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Ken yang memastikan istrinya itu baik-baik saja.
"Tidak, aku baik-baik saja..." Alana merapikan baju mini dressnya yang sedikit tersingkap dan berantakan.
Ken melihat ke arah Laurrent dan menatapnya dengan penuh amarah. "Berani sekali kau mendorong istriku!" teriaknya. Bahkan tangan Ken mengepal, ingin sekali mencekik leher wanita itu.
"Karna istrimu sudah lancang! Lebih baik kau didik istrimu untuk tidak meracuni pikiran calon suamiku!"
"Tanpa kau menyuruh! Aku sudah mendidik istriku dengan benar! Seharusnya kau yang perlu di didik, apa matamu itu buta tidak melihat istriku sedang hamil?" serunya.
"Kalau kau sudah mendidik istrimu, tidak mungkin dia menjelek-jelekanku di depan David dan menyuruhnya untuk tidak menikah denganku!" seru Laurrent. Ken seketika melirik kesal ke arah Alana. Wanita itu seketika menunduk takut akan tatapan suaminya.
"Habislah sudah kau Alana," gumam Alana.
"Aku tidak peduli apa yang istriku katakan! Tapi sekali lagi kau menyentuh istriku atau bahkan berani menyakitinya, ku pastikan aku sendiri yang akan mencabut nyawamu!" ancaman Ken membuat kedua mata Laurrent membulat dengan takut, ia tak pernah bisa berpikir jernih ketika sedang marah.
"Kak David..." Laurrent meraih lengan David bermaksud mencari perlindungan. Namun David menjauhkan tangannya dari wanita itu.
"Alana istri dari sahabatku! Jika kau berani menyakitinya aku juga akan melakukan hal yang sama!" seru David.
"Dan aku juga akan melakukan hal yang sama! Aku juga akan mencekik lehermu hidup-hidup jika berani melukai Alana!" timpal Ashley.
"Cepat pergilah dari sini. Keluarlah ke depan acaranya akan segera dimulai!" perintah David kepada Laurrent. Laurrent yang ketakutan mengiyakannya dan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berani menatap siapapun yang sedang menatapnya dengan tatapan menakutkan.
"Alana kau baik-baik saja?" tanya David. Alana menganggukan kepalanya, namun ia masih menunduk tak berani melihat ke arah suaminya yang sedang memasang wajah penuh amarah.
"Alana... aku memang tidak menginginkan pertuangan ini, tapi ini sudah terlambat. Banyak kerabat penting ibuku yang menghadiri acara pertunanganku ini, aku tidak ingin mengecewakan ibuku dan membuatnya sakit. Jadi, aku tetap harus melanjutkannya." David mencoba tersenyum dan tangannya mengacak-acak pelan rambut Alana. Alana menatap David dengan tatapan penuh kecewa. Rasanya, ia sudah tidak punya pilihan lain, selain membiarkan David menjalin hubungan dengan mantan sahabatnya itu.
David mengalihkan pandangannya ke arah Ken yang masih memasang wajah dengan penuh amarah kepada istrinya itu. "Ken, aku tinggal ke depan menemui para tamu, jangan memarahinya!" tutur David. Menepuk bahu sahabatnya itu dan berlalu pergi dari sana.
"Alana, kau benar tidak apa-apa?" tanya Ashley.
"Tidak usah bertanya dengannya! Pergilah!" perintah Ken. Alana masih menunduk, menggigit bibir bawahnya dengan takut.
"Kenapa kau menyuruhku pergi? Kau mau memarahi Alana?" seru Ashley.
"Jika iya memangnya kenapa? kau mau menggantikannya untuk kumarahi?" seru Ken. "Cepat pergi sana!" perintahnya. Ashley pun terlihat takut saat melihat wajah sahabatnya yang penuh amarah dan tidak tersisa sedikitpun keramahan di sana.
Ashley hendak pergi, namun Alana menarik tangannya.
"Ashley, tolong jangan pergi, aku takut Ken memarahiku..." bisik Alana.
"Kau saja yang istrinya takut, apalagi aku..." balasnya sambil berbisik.
.
.
.
.
.
.
.
.