My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Begitu terpukul



Keeseokannya,  Alana masih terpuruk akan kesedihannya, setelah kepergian ayahnya,  ia semakin terpukul akan kehilangan janin yang sama sekali tak ia ketahui akan kehadirannya. Ia mengurung dan mengasingkan dirinya sendiri di dalam kamar. Bahkan ia berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri atas keguguran yang ia alami.


Untuk sementara waktu, Ken mengajak istrinya tersebut untuk tinggal di rumah Mama Merry dan Papa Gio.  Supaya Alana tidak merasa kesepian, setidaknya di rumah Mama Merry, ada Jesslyn dan Kimmy yang bisa membantu untuk menghiburnya.


Pagi itu, Alana tengah duduk di atas tempat tidur sambil berselonjor. Pandangannya begitu kosong, memikirkan rasa yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya.


Ken masuk ke dalam kamar dan terlihat  membawa makanan dan juga minuman di atas nampan dan meletakannya di atas meja samping tempat tidur, lalu ia mendudukan tubuhnya di samping istrinya tersebut.


"Alana." panggilannya hanya membuat kedua mata Alana melirik tanpa menggerakan posisi tubuhnya.


"Sayang, ayo makanlah,  aku akan menyuapimu," Ken mengambil piring makanan itu dan hendak menyodorkan satu sendok makanan tersebut kepadanya.


"Aku tidak mau..." Alana menggelengkan kepalanya.


"Alana, kau dari semalam tidak kemasukan makanan sama sekali, tolong makanlah sedikit saja," pinta Ken.


"Aku tidak mau! Jangan memaksaku!" bentak Alana.


"Sampai kapan kau akan seperti ini? dengan kau mengurung diri dan bersedih seperti ini, apa kau bisa mengembalikan semuanya?"


"Alana, Daddy tidak akan senang melihatmu seperti ini!" seru Ken.


"Kau tidak mengerti!  Kau tidak mengerti rasanya jadi aku! Kau tidak akan pernah mengerti!"  bentak Alana, seketika  itu ia menangis.


"Aku kehilangan Daddy dan juga anakku, Ken. Aku tidak menginginkan ini semua, baru sebentar aku bahagia karna bisa melihat Daddy sembuh, tapi Tuhan mengambilnya begitu saja dariku. Dan sekarang aku harus kehilangan anakku,  kau tidak akan pernah mengerti bagaimana tersiksanya diriku, Ken!" Alana menatap suaminya dan berucap dengan sesenggukan.


"Alana kau pikir aku tidak tersiksa? melihatmu seperti ini, aku benar-benar tersiksa!" seru Ken. Alana hanya terdiam dan menatap Ken, air matanya bergantian membasahi wajah dan jatuh melalui dagu runcingnya. Ken menarik tubuh Alana  dan memeluknya dengan begitu erat.


"Tolong jangan seperti ini," tuturnya dengan suara yang melunak.


"Aku tidak tau harus bagaimana lagi, Ken..." ucap Alana dengan terisak-isak.


"Kau harus menerima kenyataan. Tidak semua yang ada di dunia akan hidup kekal..." tutur Ken sembari mencium puncak kepala istrinya tersebut.  Setidaknya, kata-kata dan pelukan Ken membuat Alana sedikit tenang. Ken kembali membujuk Alana untuk makan dengan susah payah, hingga akhirnya wanita itu mau makan dan mau ia suapi.


 


 


Suara ponsel milik Ken bedering dengan sangat nyaring, membuat ia menghentikan aktivitasnya dan segera menyaut ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Ken mengangkat panggilan masuk yang tak lain dari clientnya tersebut. Alana sedari tadi mendengarkan percakapan suaminya dengan clientnya itu. dan tak lama kemudian, Ken mengakhiri panggilan itu.


"Kau mau pergi bekerja?" tanya Alana sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan malas.


"Iya, clientku mengajakku bertemu untuk mendiskusikan kerja sama," jawab Ken.


"Ya sudah, pergilah..." perintah Alana. Ken menatap Alana dengan tatapan begitu dalam, entahlah, rasanya  ia begitu enggan meninggalkannya.


"Aku baik-baik saja," imbuhnya.


Ken mengangguk dan beranjak berdiri, ia segera bersiap-siap mengganti pakaian kerjanya. Tak lama kemudian, terlihat Jesslyn masuk ke dalam kamar setelah Ken memanggilnya. Karna kebetulan sekali saat itu Jesslyn izin tidak masuk kuliah karna diare, tapi sekarang dirinya sudah membaik.


"Ada apa, Kak?" tanya Jesslyn yang masih berdiri di depan pintu sambil memegang gagang pintu tersebut.


"Kakak, akan pergi bekerja. Tolong temani Alana," perintah Ken.


"Siap, Kak." Jesslyn dengan begitu semangat melepaskan gagang pintu itu dan berjalan mendekati Alana untuk duduk di sampingnya.


"Ken mengusap wajah Alana dan memperhatikannya. "Aku pergi dulu," pamitnaya sembari memeluk erat Alana dan memberikan ciuman di dahi dan bibirnya. Jesslyn seketika menutup matanya saat melihat pemandangan tersebut.


"Kenapa kau menutup matamu seperti itu?" tegur Ken.


"Tidak apa-apa..." Jesslyn terkekeh.


"Jesslyn, jangan meninggalkan Alana sendiri!" tutur Ken kembali.


"Iya, cerewet sekali Kakak ini!" seru Jesslyn. Ken pun berlalu keluar dari kamar, ia berkali-kali menoleh melihat Alana seakan langkah kakinya begitu berat meninggalkan istrinya itu di rumah.


 


 


****


 


 


Siang hari menjelang sore, sedari tadi Jesslyn menemani Alana di dalam kamar sambil membaca buku novel favoritnya. Sementara Alana, ia hanya diam dan melamun dengan tatapan kosong. Sekalipun Jesslyn membaca buku, ia tak lepas memperhatikan Alana dan sesekali mengajaknya berbicara. Ia  merasa ibah dengan Kakak iparnya tersebut, Jesslyn yang biasanya melihat keceriaan di wajah Alana kini seolah tak mengenalnya, Alana berubah menjadi pendiam dan menutup dirinya, Jesslyn pun juga turut bersedih saat mendengar kabar Alana yang keguguran, namun ia dan Kimmy selalu mencoba menghiburnya meskipun usahanya terbilang sia-sia.


"Alana, kau tidak bosan?" tanya Jesslyn. Alana hanya menggeleng kepalanya tanpa bersuara.


"Kau mau bermain ular tangga?" tanya Jesslyn.


Alana terdiam dan menatap Jesslyn "boleh..." jawabnya dengan singkat.


"Baiklah, tunggulah di sini, aku akan ke kamar mandi dulu, lalu mengambil papan permainannya," Jesslyn menutup buku miliknya dan beranjak berdiri keluar dari kamar itu.


 


Saat Jesslyn tak terlihat dan sudah keluar dari kamar, Alana  turun dari tempat tidur dan diam-diam berjalan pergi keluar rumah tanpa berpamitan kepada siapapun.


Kaki jenjangnya mengajak dirinya berjalan menuju ke apotek yang letakanya di dekat komplek rumah mertuanya tersebut, ia terlihat  membeli obat di apotek yang ia kunjungi saat itu. Setelah mendapakan obat yang ia beli, Alana cepat-cepat kembali pulang ke rumah dan hendak masuk ke dalam kamar.


"Alana, kau dari mana?" suara Jesslyn tiba-tiba mengejutkannya hingga membuat Alana sedikit terjingkat.


"Jesslyn..." Alana segera menyelipkan obat yang ada di genggamannya ke dalam saku celananya agar tidak terlihat oleh Jesslyn.


"Kau dari mana? aku baru saja mencarimu," tanya Jesslyn.


"Ehm, a-aku dari taman," jawab Alana. Ia pun terpaksa berbohong.


"Oh, ya sudah, ayo kita bermain, aku sudah membawa papan ular tangganya," Jesslyn menunjukan papan permainan itu kepada Alana. Lalu, ia menarik tangan Alana mengajaknya masuk ke dalam kamar kakaknya dan menyuruhnya untuk duduk di atas tempat tidur hingga posisi mereka saat ini duduk saling berhadapan.


"Coba saja Kimmy tidak kuliah, kita bisa bermain bertiga seperti biasanya," kata Jesslyn sambil menggelar permainan papan itu di antara mereka. Namun, pikiran Alana yang kacau tak menangkap apa yang di katakan oleh adik iparnya.


"Alana, ayo kau dulu yang mengocok dadunya," perintah Jesslyn. Alana mengiyakannya, ia meraih kedua dadu yang diberikan oleh Jesslyn dan hendak mengocoknya, namun, rasanya waktu itu ia benar-benar malas melakukan apapun termasuk bermain permainanan papan seperti saat ini. Tiba-tiba Alana mengurungkan niatnya untuk bermain dan meletakan dadu tersebut.


"Aku tidak mau bermain ini," ujar Alana.


"Lalu kau mau bermain apa, Alana?" tanya Jesslyn.'


"Aku tidak mau bermain apapun," jawab Alana sambil mengalihkan pandangannya.


"Baiklah..." Jesslyn menampakan rasa sedikit kecewa dan membereskan permainan yang belum sempat ia mainkan tersebut.


Alana merlirik ke arah Jesslyn yang sibuk membereskan maninannya. "Jesslyn, aku ingin sekali susu coklat hangat dan roti bakar tuna, apa kau bisa membuatkannya untukku?" pintanya.


"Tentu saja, aku akan membuatkan susu coklat dan roti bakar tuna  spesial untukmu." Dengan penuh semangat Jesslyn turun dari tempat tidur. "Tunggulah di sini sebentar Alana." Teriakan suara Jesslyn terdengar dengan samar-samar saat sudah menjauh meninggalkan kamar tersebut.


Saat Alana sudah  tak melihat Jesslyn dari jangkauan matanya, ia segera beranjak turun dari tempat tidur dan segera mengunci rapat-rapat pintu kamar itu. Ia segera merebakan tubuhnya di atas tempat tidur hingga berulang-kali mengubah posisinya yang ia rasa tak nyaman.


Ia beranjak duduk dan meremmas kepala dan rambutnya hingga terlihat berantakan. Pikirannya yang kacau mengajak dirinya turun dari tempat tidur dan  berjalan mendekati cermin dan berdiri di depan sana.


Kini, Alana berdiri tepat di depan cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya tersebut. Alana menatap pantulan dirinya sendiri, tangannya memegang dan mengusap perut datarnya hingga membuat dirinya menangis secara tiba-tiba. Alana melemaskan tubuhnya hingga duduk terkulai di bawah lantai.


"Aku  benci ini semua!" Alana menahan teriakannya dan semakin mengeraskan tangisnnya.


"Kenapa kau tidak mengambil nyawakau sekalian? kenapa kau harus menyiksa diriku seperti ini? apa salahku..."  Alana memeluk erat  lututnya dan menangis sejadi-jadinya.


Alana mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya, ia meraih obat yang sempat ia beli dan ia simpan di dalam saku celananya. Lalu, ia beranjak berdiri, berjalan mendekati meja dan mengambil gelas berisi  air putih yang terletak di atas meja samping tempat tidur itu.


Alana mengambil beberapa obat dan menelannya lalu melarutkannya dengan air tersebut, lalu, ia melemaskan kembali tubuhnya untuk duduk di bawah lantai sembari menyandarkan punggungnya di divan tempat tidur. Alana memejamkan kedua matanya, berharap bisa menenangkan dirinya, namun tetap saja, ia merasakan hal yang sama. Ia merasa semakin kacau dan tidak bisa mengendalikan kekacauan yang bergemuru di dalam pikiran dan hatinya.


Kepergian ayahnya dan penuturuan dokter yang mengatakan bahwa dirinya keguguran, berulang-kali terngiang hingga membuat kepalanya begitu sakit saat mengingat hal itu secara bersamaan.


Alana kembali membuka kedua matanya, melirik ke arah sekitar seakan sedang mencari sesuatu. Namun ia tak menemukan apa yang sedang ia cari, kedua matanya tiba-tiba berpusat ke arah gelas yang masih menampakan air di dalamnya. Gelas yang tadi sempat Alana buat untuk meminum obat. Ia mengambil kembali gelas itu dan  membuang  air yang masih menggenang di dalamnya.


 


Pyarrr


Gelas itu terpecah belah hingga menjadi beberapa bagian saat Alana membenturkannya pada lantai kamar itu. Alana mengambil salah satu pecahan gelas yang paling tajam. Matanya yang masih di aliri air mata menatap dengan jelas ketajaman pecahan gelas tersebut. Alana tak bisa berpikir jernih, ia tak memikirkan apapun saat itu.


Alana memejamkan kedua matanya dan menancapkan pecahan gelas tersebut kepergelangan tangan kirinya.. Ia memekik kesakitan, namun mencoba  menahannya. Ia melihat dengan jelas, darah mengucur deras di pergelangan tangannya. Alana menatap kosong ke sembarang arah dan membiarkan pecahan gelas itu masih  menancap di pergelangan tangannya. Darahnya mengalir hingga mengotori lantai, kedua mata Alana semakin lama  semakin layu hingga tak lama kemudian tubuhnya tergeletak di lantai dan matanya kini sudah terpejam dengan sempurna.


 


 


 


 


***


 


 


"Alana... kenapa kau mengunci pintunya? tolong buka pintunya, aku sudah membuatkan susu coklat dan roti bakar tuna untukmu!" panggil Jesslyn, namun tidak ada sautan dari dalam. Jesslyn pun tak menyerah.


Tok... Tok... Tok...


"Alana... ayo buka pintunya," teriak Jesslyn.


"Kenapa Alana tidak membuka pintunya?" gumam Jesslyn dengan heran. Kedua matanya seketika membulat. Ia meletakan nampan yang berisi minuman dan makanan itu di atas meja yang tak jauh dari jangkaunnya dan kembali memanggil Alana.


"Alana buka pintunya..."  Jesslyn yang sama sekali  tak mendapat sautan suara dari Alana terlihat begitu panik. Ia menggedor pintu kamar itu semakin kencang.


"Alana buka pintunya, kau sedang apa di dalam? kenapa kau mengunci pintunya?" teriakan Jesslyn yang begitu keras membuat Merry dan Bi Moleey yang kala itu berada di dapur segera menghampirinya.


"Jesslyn, kenapa berteriak?" tegur Merry.


"Mama, Alana mengunci pintunya  dari dalam, dia tidak mau membukakan pintunya," ucap Jesslyn dengan panik. Merry dengan segera memutar-mutar gagang pintu dan mencoba membuka pintu kamar itu, namun yang dikatakan Jesslyn memanglah benar. Alana mengunci pintu kamar itu dari dalam.


"Alana, kau sedang apa di dalam sayang? ayo buka pintunya, Nak. Mama mau masuk." teriakan Merry diiringi dengan ketukan pintu, namun ia sama sekali tak mendapati sautan dari dalam sana.


"Mama, Jesslyn, ada apa?" Ken dan Gio yang terlihat baru saja kembali dari kantor.


"Kakak... Papa... Alana mengunci diri di dalam kamar, dia tidak mau membuka pintu kamarnya," ucap Jesslyn, raut wajahnya masih belum lepas dari kepanikannya.


Kedua mata Ken membulat sempurna. Tak banyak bicara, ia menggedor pintu itu sekeras mungkin, mencoba membukannya dan memanggil-manggil nama istrinya. Namun, ia sama sekali tak mendapat jawaban maupun sautan sama sekali dari dalam sana.


"Alana... buka pintunya!" Ken semakin mengeraskan suaranya.


Gio yang terlihat ikut panik, ia berlalu pergi mengambil alat  perkakas dan segera kembali menghampiri Ken dan yang lainnya. "Ken, lebih baik  kita rusak saja pintunya!" kata Gio yang saat ini tengah membawa sebuah kapak di tangannya.


"Biar Ken saja, Pa." Ken mengambil alih kapak itu dari tangan Papanya dan segera merusak pintu tersebut, ia berkali-kali membenturkan kapak itu membuat gagang pintu itu  terlepas hingga akhirnya pintu pun terbuka.


Ken segera masuk ke dalam kamar dan diikuti oleh Jesslyn, Mama Merry dan Papa Gio.


Dan saat mereka semua masuk, mata mereka dibuat begitu terkejut saat melihat Alana tergeletak dengan begitu banyak darah melapisi tangan dan juga lantai kamarnya.


"Alana..." Ken berteriak dan segera menghampiri istrinya. ia mengangkat tangan Alana dan masih melihat serpihan gelas menancap di pergelangan tangannya. Ken mencabut serpihan gelas tersebut. Ia menarik dasi yang masih melekat di lehernya dan mengikat luka yang mengalirkan darah di pergelangan tangan Alana.


"Papa, tolong bantu Ken mengemudikan mobil," pinta Ken.


"Iya, Nak." Gio segera mengambil alih kunci mobil anak sulungnya tersebut dan dengan cepat keluar rumah untuk  menyiapkan mobil.


Dengan tubuh dan tangan yang  begitu gemetar, Ken segera  mengangkat tubuh Alana dan berjalan menuju ke mobil. Ia masuk ke dalam mobil dan memeluk erat tubuh Alana, bahkan eluhnya berjatuhan menetes di wajah wanita yang kini ia dekap tersebut. Merry pun ikut bersama mereka. Namun tidak dengan Jesslyn, karna Ken dan Mery melarangnya untuk ikut. Gio segera melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal untuk menuju ke rumah sakit terdekat.


Dalam perjalanan, Ken memegang pergelangan tangan Alana agar darahnya berhenti mengalir dari sana. Ia menatap wajah polos istrinya yang sudah memucat. " Papa, tolonglah lebih cepat," perintah Ken.


"Kenapa kau melakukan ini,?" kedua sudut mata Ken terlihat basah,  ia semakin memeluk erat tubuh Alana. demi Tuhan, dirinya begitu takut saat melihat darah yang masih tak henti mengalir dari pergelangan tangan  istrinya. Hal-hal buruk berlarian di pikirannya membuat dirinya semakin ketakutan.


 


Mobil yang Gio kemudikan kini berhenti di depan rumah sakit. Ken segera turun mengangkat tubuh istrinya tersebut untuk masuk ke dalam sana dan diikuti oleh Merry. Beberapa perawat dan dokter  yang melihatnya, segera menyuruh Ken untuk membawa Alana masuk ke dalam ruang A&E atau yang biasa disebut ruang UGD. Ken meletakan Alana di atas  pembaringan dan memberi tau kepada Dokter bahwa jika istrinya mencoba bunuh diri dan menancapkan serpihan gelas kaca ke pergelangan tangannya. Dokter segera menanganinya. Perawat menyuruh Ken dan Merry untuk menunggu di ruangan tersebut.


Tubuh Ken seketika melemas. "Ken... Apa Alana sudah di tangani?" tanya Papa Gio yang baru saja masuk dan menyusul mereka. Ken hanya mengangguk dengan mata yang memerah mencoba menyembunyikan ketakutannya. Gio melingkarkan tangannya di bahu anak sulungnya itu dan mengusap-usapnya.


"Papa, Ken takut..." Ken menatap Gio dengan tatapan mata yang hampir penuh.


"Bagaimana jika hal buruk terjadi kepada Alana, Pa?" Gio melihat dengan sangat jelas sekali, kekhawatiran di raut wajah anaknya.


Gio segera merengkuh, memeluk tubuh anaknya itu  dan mencoba menenangkannya. "Tidak akan terjadi apa-apa, Alana akan baik-baik saja," tuturnya.


"Ken benar-benar takut, Pa." Ken tak bisa menahan emosinya, bahkan tak menyadari air matanya kini membasahi kemeja yang Papa Gio kenakan. Ia benar-benar takut akan hal buruk terjadi kepada istrinya.


Tak lama kemudian, Dokter terlihat keluar dari dalam ruangan. Ken pun segera menghampirinya.


"Dokter, bagaimana istri saya?" tanya Ken dengan tidak sabar.


"Kau jangan terlalu mengkahawitkannya, Tuan. Nona Alana sudah kami tangani, untung saja pecahan gelas itu  tidak mengenai urat nadinya," tutur Dokter. Demi apapun, Ken, Merry dan Gio mendengarnya dengan begitu lega.


"Nona Alana dalam pengaruh obat bius, tapi kalian bisa menemuinya," tutur Dokter.


"Kami akan memanggilkan Dokter Psikiater," imbuhnya.


"Untuk apa, Dok?" tanya Ken.


"Karna saya rasa, Nona Alana sedang mengalami tekanan berat, jadi biarkan Dokter Psikiater yang memeriksanya," jawab Dokter. Ken pun mengiyakan apa kata dokter tersebut.


***


Merry dan Gio sejenak melihat keadan Alana, lalu Ken menyuruhnya untuk segera pulang karna tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya tersebut.


Kini, Ken  duduk di samping pembaringan Alana, menatap ibah dan berkali-kali mengusap kepala istrinya tersebut.


"Kenapa kau melakukan ini semua?" Ken mendaratkan ciuman berkali-kali di wajah wanita yang sangat ia cintai itu. Ia memeluknya dengan begitu lama, menuangkan rasa takut dan kecemasan yang hampir membuat jantungya terlepas dari tempatnya.


"Kakak..." suara perempuan yang tak lain ialah Jesslyn membuat Ken menoleh ke arahnya. Ken heran saat melihat adiknya itu  tiba-tiba di sana.


"Kenapa kau kemari? Kakak kan sudah bilang, tunggulah di rumah!" seru Ken.


"Aku mengkhawatirkan Alana, Kak. Jadi aku menyusul kemari, apa Alana baik-baik saja?" tanya Jesslyn.


"Kau melihatnya bagaimana?" seru Ken. Jesslyn menggeleng kepalanya.


"Kakak sudah bilang! Jangan meninggalkan Alana  sendirian, tapi kau malah meninggalkannya!" teriakan Ken membuat Jesslyn begitu takut.


"Maafkan, Jesslyn, Kak. Tadi Alana memintaku untuk dibuatkan susu coklat dan roti bakar, makanya Jesslyn meninggalkannya sebentar." Jesslyn masih menunduk dan tidak berani memandang Kakaknya.


Tak lama kemudian, kedua mata Alana mengerjap. Matanya menyesuaikan cahaya lampu yang menyorotinya. Matanya yang buram kini melihat suami dan adik iparnya  dengan begitu jelas.


"Alana..." wajah Ken begitu sumringah saat melihat istrinya itu sudah sadar.


Alana masih terdiam dan memperhatikan sekitar, ia memejamkan kedua matanya hingga cairan bening ikut tersapu di sana saat ia menyadari bahwa dirinya sekarang sedang  berada di rumah sakit.


"Kenapa aku di sini?" tanya Alana.


"Kau tadi melukai dirimu sendiri, aku tadi menemukanmu di dalam kamar," kata Ken dengan pelan.


"Kau tidak seharusnya membawaku kemari!" Air mata Alana  mengalir  deras melalui kedua sudut matanya hingga membuat bantal yang menumpu kepalanya basah karenannya.


"Alana..."


"Kau tidak seharusnya membawaku kemari! Aku tidak mau, Ken. Aku tidak mau hidup lagi!" Alana berteriak histeris, ia hendak mencabut perban yang membalut luka di pergelangan tangannya, ia juga hendak menarik  selang inpusnya. Namun tangan Ken dengan cepat mendekapnya dan menyuruh Jesslyn untuk segera memanggilkan dokter.


"Lepaskan aku, Ken!" Alana tak henti berteriak dan menangis. Ia mencoba meronta namun Ken tak mau melepaskannya.


"Alana, tenanglah, tolong  jangan menyiksaku seperti ini!" tutur Ken.


"Aku tidak mau hidup lagi, Ken. Aku tidak mau!" Alana menangis sesenggukan.


"Kau mau meninggalkanku dan membiarkanku hidup sendiri?" pertanyaan Ken membuat Alana tiba-tiba terdiam dan menatapnya.


"Apa kau mau meninggalkanku?"  Ken melontarkan kembali pertanyaannya. Alana masih tak bergemming, air matanya masih saja terus mengalir.


"Tolong jangan seperti ini..." Ken bertutur lembut. Kedua sudut matanya terlihat ikut basah merasa tak tega melihat istrinya.


Tak lama kemudian Jesslyn kembali dengan Dokter yang memeriksa Alana dan juga dengan seorang Dokter Psikiater,  ia segera menyuntikan obat penenang kepada Alana. Alana masih tak mengalihkan pandangannya untuk menatap Ken, hingga  kedua mata itu terpejam dengan sendirinya.


"Kakak..." panggil Jesslyn. Namun Ken tak menyautinya. Ia masih sibuk memandangi Alana yang sedang diperiksa oleh dokter.


"Kak, waktu aku tadi membantu Bi Moleey membersihkan kamar Kakak, aku menemukan obat ini di bawah lantai."  Jesslyn menunjukan obat yang ia pegang kepada Kakaknya tersebut. Ken seketika menoleh ke aragnya.


"Obat apa ini?" Ken mengambil obat itu dan memperhatikannya dengan seksama.


"Entahlah, Kak. Waktu di villa, Jesslyn juga menemukan obat seperti ini di dalam tas Alana tapi waktu itu obatnya sudah terlihat kadarluarsa, dan obat ini terlihat masih sangat baru," ujar Jesslyn. Tanpa menanggapi pernyataan adiknya, Ken menghampiri Dokter yang sedang memeriksa Alana.


"Permisi, Dok. Saya mau menanyakan obat ini, apakah Dokter tau ini obat apa?" tanya Ken. Kedua Dokter itu melihat  obat tersebut secara bergantian dan memperhatikannya dengan seksama.


"Obat siapa ini Tuan?" tanya Dokter.


"Milik istri saya , Dok. Kata adik saya, dia dua kali menemukan obat ini," ujar Ken.


"Tuan Ken, ini obat anti depresi." Ken begitu terkesiap mendengarnya.