
Alana terlelap akan tidurnya di pelukan suaminya tersebut. namun, tangan kanan Ken semakin lama semakin merasa kram karna menumpu tubuh Alana. hingga membuat laki - laki itu tidur dengan tidak nyaman dan terbangun berulang kali.
"Tanganku kram sekali," Ken hanya mendesis. namun, ia tidak bergerak sedikitpun karna takut membangunkan Alana.
"Dia tidur begitu nyenyak, bahkan tidak berpindah posisi sama sekali." Ken memperhatikan Alana yang sedang tertidur.
"Gadis bodoh," Ken menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman di sana. Namun, semakin lama senyuman itu semakin sirna dari wajahnya.
"Apa dia masih mencintai mantan kekasihnya itu? "
"Memangnya, apa baiknya laki - laki itu? jika aku jadi perempuan juga tidak akan mau dengannya. tidak ada jantan - jantannya sama sekali, memangnya apa yang di lihat dari laki - laki seperti itu?" pikiran Ken berperang akan pertanyaan - pertanyaan itu.
"Hah, kenapa jadi memikirkan dia? Dia pernah berhubungan dengan siapapun, aku mana peduli." Ken berdecak dan kembali memejamkan matanya.
***
Keesokannya, Ken dan Alana sudah berada di dalam mobil untuk melakukan perjalanan pulang. karna, sebelumnya, Ken memanggil seorang montir untuk memperbaiki mobilnya yang mogok akibat hujan sore kemarin.
Selama di perjalanan, wajah Alana nampak terlihat begitu layu seakan tak bersemangat. sesekali, Ken memperhatikan istrinya yang saat itu duduk di sampingnya.
"Kau kenapa? apa merasa tidak enak badan?" tanya Ken.
"Tidak! hanya saja badanku terasa sakit semua. Aku rasa semalam tidurku kurang nyenyak," ucap Alana dengan suara terendahnya.
"Apanya yang tidak nyenyak? semalam tidur seperti orang mati dan sekarang bilang tidak nyenyak. yang ada aku yang tidur dengan tidak nyenyak. tanganku merasa kram karna semalaman kau tindih," gerutu Ken.
"Benarkah?" Alana melirik dan terkekeh.
"Benarkah? Hah, Sungguh menyebalkan!" Ken ikut mengulangi perkataan Alana.
"Hehe, maaf, kan, aku tidak tau," ucap Alana.
"Hanya maaf saja?" tanya Ken.
"Ehm, Terimakasih banyak," ucap Alana dengan melebarkan senyum manisnya.
"Hanya terimakasih saja?" goda Ken seraya melirik ke arah Alana.
"Lalu kau mau mintanya apa? uang? uang saja aku minta kepadamu," seru Alana.
"Untuk apa aku meminta uang? uangku sudah banyak," saut Ken.
"Aku minta apa yang kau punya saja," Ken melirik dan semakin menggoda wanita itu.
"Yang ku punya? apa memangnya?" tanya Alana dengan polosnya.
"Sudah lupakan!" Ken menambah laju kecepatan mobilnya.
"Aneh." mulut Alana menggerutu.
Setibanya di rumah, Ken dan Alana turun dari mobil. di sana mereka berdua melihat mobil milik Papa Gio terparkir di halaman rumah mereka.
mereka berdua pun masuk ke dalam. seperti dugaan Alana dan juga Ken. di ruang tamu terlihat Papa Gio dan juga Mama Merry sedang berbincang bersama Tuan Holmes. Tuan Holmes sendiri terlihat duduk di kursi roda dan di temani oleh perawat.
Alana dan Ken menyapa Gio dan juga Merry. kemudian ikut mendudukan tubuhnya di sana. Alana menyuruh perawat untuk membawa Ayahnya tersebut kembali ke dalam kamar. karna ia melihat Ayahnya seperti kelelahan. Perawat itu mengiyakan perintah Alana dan mendorong kursi roda yang di duduki oleh Holmes ke dalam kamarnya.
"Kalian dari mana saja? katanya semalam tidak pulang?" tanya Gio.
"Iya, Pa. kami dari pedesaan, semalam mobil kami terjebak mogok di tengah jalan. jadi kami terpaksa mencari penginapan di sana," jawab Gio.
"Oh baiklah, Nak." ucap Gio.
"Ada perlu apa Mama dan Papa kemari pagi - pagi seperti ini?" tanya Ken.
"Tidak ada perlu apa - apa, kami hanya ingin berkunjung saja," ucap Gio.
"Sangat baik kok, Ma." Alana menyautinya dengan cepat. membuat Ken melirik ke arah wanita itu.
"Bagaimana rencana Honeymoon kalian? ini sudah lebih dari satu bulan, loh. tapi Mama belum mendapat kepastian kalian mau pergi Honeymoon ke mana," ucap Merry seraya meletakan kembali cangkir teh itu ke tempatnya semula.
Ken dan Alana sejenak saling memandang.
"Ma, lebih baik uangnya di tabung daripada harus di buang - buang untuk pergi Honeymoon. lagipula kan sama saja," ucap Alana. karna semenjak Alana merasakan masa - masa tersulit di hidupnya. semenjak itulah, ia sedikit bisa menghargai yang namanya uang. karna ia baru tau betapa sulitnya mencari uang.
"Sayang, Honeymoon sangat di sarankan bagi pengantin baru seperti kalian. Agar bisa mempererat hubungan pernikahan kalian. jangan memikirkan masalah uang," tutur Merry.
"Ya sudah, Ma. terserah Mama saja," saut Ken.
"Bukannya malah menolak kenapa dia malah mengiyakannya?" guman Alana dalam hati sembari menajamkan kedua matanya kepada Ken.
"Ada apa?" tanya Ken.
"Ti-tidak, tidak apa - apa." Alana menggelengkan kepalanya dengan takut.
"Ya sudah, bagaimana kalau kalian Honeymoonnya besok?" usul Merry.
"Kenapa cepat sekali, Ma?" protes Alana.
"Cepat apanya sayang? katanya Kan bulan depan. dan ini sudah lebih dari satu bulan," ucap Merry.
"Lusa saja, Ma." Ken ikut menimpalinya.
"Ken, kenapa kau dan Alana selalu saja menunda - nunda?" tanya Merry dengan kesalnya.
"Bukan begitu, Ma. karna nanti siang Ken mau ikut Papa menemui clientnya di luar kota dan akan pulabg besok," ucap Ken.
"Tidak usah, Ken. Papa akan berangkat sendiri, minggu depan saja temani Papa," tutur Ken.
"Tidak, Pa. Ken akan menemani Papa," ujar Ken dengan sedikit memaksa.
"Ya sudah, kalau begitu, kalian mau honeymoon ke mana?" tanya Merry dengan penuh semangat.
"Di Villa milik Papa saja, Ma. yang letaknya dekat dengan gunung," pinta Ken.
"Ke pedesaaan lagi?" Alana menyautinya dengan begitu girang. Merry dan Ken mengiyakannya.
"Yeay, aku mau - aku mau," heboh Alana.
"Dia benar - benar sangat menyukai pedesaan?" gumam Ken. Ia menyipitkan kedua matanya seraya memperhatikan istrinya yang tak henti begitu girangnya.
Mereka berempat pun berbincang - bincang dan tak lama kemudian, Merry dan Gio berpamitan pulang.
****
Siang harinya, Ken ikut bersama Gio untuk melakukan perjalanan bisnis di luar kota. Ia pun juga berpamitan kepada Alana dan mertuanya.
"Hati-hati, salamkan kepada Papa." Alana berjalan beriringan dengan Ken untuk mengantarkannya ke halaman rumah. Ken hanya mengiyakannya dengan berdehem.
"Tidak ada yang ketinggalan?" tanya Alana dan Ken hanya terdiam menatap dalam wanita yang kini ada di hadapannya itu.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Alana seraya memiringkan kepalanya dengan heran.
"Kau tidak ingin membekaliku sesuatu?" tanya Ken.
"Ehm, membekalimu? Membekali apa? Aku bekali doa saja biar kau dan Paoa selamat sampai tujuan." Alana melebarkan senyumnya. namun Ken malah mengerutkan dahinya dengan kesal.
"Sudah pergi sana. Papa pasti sudah menunggumu," tutur Alana seraya mendorong Ken untuk masuk ke dalam mobil.
"Menyebalkan," gerutu Ken sembari masuk ke dalam mobil. seketika itu, ia langsung melajukan mobilnya. Alana melambaikan tangan kepada suaminya tersebut. Dan saat di rasa mobil yang di tumpangi Ken, sudah jauh dari pandangan matanya. seketika itu pula Alana masuk ke dalam rumah.