My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Bersembunyi



Papa Gio terlebih dulu pergi ke kamar Ken. karna, kamar Ken lah yang paling dekat dengan kamarnya. Gio membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu. namun, saat Gio masuk ke dalam kamar tersebut, kedua alisnya menaut dengan tajam. Kedua mata Gio begitu terkesiap saat melihat wanita asing baginya ang sedang tidur di atas tempat tidur anak  sulungnya itu. Gio mendekati Ken yang kala itu masih tertidur pulas di atas sofa dan ia  menarik selimut yang membaluti tubuh anaknya tersebut dengan begitu kasar.


"Ken bangun," teriak Gio dengan begitu kerasnya.


"Hey, ayo bangun. cepat bangun!" Gio menggoyang - goyangkan bahu Ken. kedua mata Ken mengerjap dan masih menyesuaikan pandangannya yang masih buram.


"Papa."


"Papa sudah pulang?" tanya Ken, ia mengucek kedua matanya dan beranjak duduk.


"Siapa wanita itu? kenapa kau memasukan seorang wanita di dalam kamarmu?" teriak Gio dengan begitu marahnya hingga membuat Alana terbangun dari tidurnya. saat Alana melihat keributan. seketika itu, ia langsung beranjak turun dari tempat tidur.


"Pa, dia itu temannya Jesslyn," ujar Ken.


"Lalu kenapa dia bisa tidur di kamarmu?" seru Gio. Alana berjalan mendekati Ken dan juga Gio.


"Pa-paman, saya--"


"Diam! saya sedang bicara dengan anak saya," tukas Gio. Alana pun terdiam seketika dan menundukan pandangannya.


Sementara Jesslyn, yang tak mendapati Alana dan juga Kakaknya di dalam perpustakaan, ia langsung mencoba mencarinya. dan langkah kaki Jesslyn  terhenti di kamar Ken.


"Alana." Jesslyn pun langsung masuk dan di ikuti oleh Kimy di belakangnya. Gio dan juga Ken menoleh ke arah Jesslyn yang sedang berjalan menghampirinya.


"Papa ... Ken terpaksa membawa dia ke kamar. tapi Ken tidak melakukan apa - apa, dia ini temannya Jesslyn, Papa tanya saja kepada Jesslyn!" seru Ken.


"Jesslyn, apa benar perempuan ini temanmu?" tanya Gio kepada Jesslyn.


"Iya, Pa. dia Alana, teman Jesslyn," kata Jesslyn dengan sedikit takut. begitu pula dengan Alana. tubuh Alana gemetar dengan ketakutan melihat situasi seperti ini, terlebih lagi perutnya sejak dari kemarin sama sekali belum terisi makanan. lalu,  Gio melirik ke arah Ken.


"Sekarang yang Papa tanyakan, kenapa dia bisa tidur di dalam kamarmu?" tanya Gio kepada Ken.


"Karna, dia semalam pingsan di ruang perpustakaan, Pa. jadi, Ken terpaksa membawanya ke kamar. semalam, Ken dan Dia terkunci di dalam ruang perpustakaan dan Ini semua gara - gara anak perempuan Papa yang nakal satu ini," seru Ken dengan menatap kesal Jesslyn. Jesslyn seketika menundukan pandangannya ke bawah.


"Kalau Papa masih tidak percaya, Papa tanyakan saja kepada Jasson," imbuh Ken. seketika itu Gio mengalihkan pandangannya kepada Jesslyn.


"Jesslyn?" panggil Gio.


"Maaf, Pa. sebenarnya, Jesslyn tidak bermaksud seperti itu," ucap Jesslyn pelan.


"Tidak bermaksud apanya?" bentak Ken. Jesslyn terdiam dengan kedua matanya yang terlihat berkaca - kaca.


"Sudah - sudah, tidak usah memarahi adikmu lagi, cepat bersiaplah! Bukannya kamu ada pertemuan hari ini?" perintah Gio.


"Papa, terlalu memanjakan dia," Ken pun berlalu pergi keluar dari kamarnya dengan begitu kesal.


"Kakak, maafkan Jesslyn," pinta Jesslyn. namun Ken tak menggubrisnya dan berlalu begitu saja.


"Papa tidak mau melihat kau seperti ini! lagi," tutur Gio.


"Maafkan Jesslyn, Pa." Jesslyn memelas. namun Gio hanya menggeleng - gelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan kamar itu. Jesslyn mendekati Alana dan menyentuh lengan wanita itu.


"Alana, maafkan aku," ucap Jesslyn.


"Jesslyn, lebih baik aku pulang sekarang, tolong antarkan aku ke kamarmu untuk mengabil tas milikku," pinta Alana.


"Alana kau marah kepadaku? aku minta maaf, aku semalam menguncimu di perpustakaan karna--"


"Sudahlah, Jesslyn. lupakan saja," tukas Alana.


Jesslyn pun mengajak Alana keluar dari kamar kakaknya dan menuju ke dalam kamarnya. kedua mata Kimy tak henti memandangi Alana dengan tatapan tidak suka. lalu, Jesslyn tak sengaja melihat dahi Alana yang tertutup rambut terlihat begitu Memar.


"Alana, dahimu kenapa memar seperti ini? apa kakak menyiksamu semalam?" tanya Jesslyn seraya menyentuh dahi itu.


"Tidak, Jesslyn. Kakakmu tidak menyiksaku, semalam kepalaku tertimpa buku. jadi, sebab itu dahiku memar seperti ini," kata Alana dengan menepis tangan Jesslyn.


"Benarkah, aku tidak membohongiku?" tanya Je3sslyn seakan tak percaya. Alana pun membenarkannya.


"Ya sudah, Alana. tunggulah di sini dulu, aku akan mandi . lalu, mengantarkanmu pulang," ujar Jesslyn.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," tolak Alana.


"Alana, apa kau masih  marah  kepadaku? aku mohon biarkan aku mengantarkanmu," pinta Jesslyn memelsas.


"Tidak Jesslyn, aku sama sekali tidak marah denganmu. aku bisa pulang sendiri." Alana menolak karna ia tidak ingin menyusahkan Jesslyn.


"Alana, kalau kau menolak aku antarkan. berarti kau benar - benar marah kepadaku," ucap Jesslyn.


"(Menghela napas) Baiklah, aku akan menunggumu," kata Alana.


"Jesslyn, dia siapa memangnya?" tanya Kimy dengan melirik sinis Alana.


"Dia Alana, sahabat baruku," jawab Jesslyn.


"Apa dia sainganku?" tanya Kimy.


"Bukan!" saut Jesslyn.


"Alana, kenalkan ini Kimy dia temanku," ujar Jesslyn.


"Hai, Kimy. aku Alana, senang bertemu dengan dirimu," sapa Alana seraya tersenyum dan menyodorkan tangannya, berharap wanita itu menjabat tangannya. namun, Kimy hanya diam saja.


"Hey, kenapa kau diam saja?" celetuk Jesslyn kepada Kimy.


"Apa kau menyukai Jasson? apa kau sainganku?" tanya Kimy dengan tatapan yang sinis kepada Alana.


"Tidak, Kimy. aku tidak menyukai Jasson," jawab Alana.


"Benarkah?" tanya Kimy.


"Tentu saja, aku sama sekali tidak menyukainya," bantah Alana. Kimy pun tersenyum.


"Baiklah, Alana. aku mau berteman denganmu," seru Kimy dengan kegirangan. ia menjabat tangan Alana dan langsung memeluk erat tubuh wanita itu.


"Dasar perempuan gila!" umpat Jesslyn. Kimy pun melepaskan pelukannya.


"Kimy, temanilah Alana, aku mau mandi dulu," Kimy mengiyakannya dengan penuh semangat.


Krucuk ... Krucuk ...


Suara perut Alana terdengar begitu nyaringnya, hingga ia memegangi perut datarnya tersebut.


"Alana, apa kau lapar?" tanya Jesslyn. Alana pun menganggukan kepalanya dengan tubuh yang sedikit lemas. Jesslyn menyuruh Kimy pergi ke dapur mengambilkan roti untuk Alana dan Kimy pun mengiyakannya. sementara Jesslyn masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Tak lama kemudian, Kimy kembali dengan membawa 2 potong sandwich di tangannya.


"Alana, ini makanlah." Kimy menyodorkan sandwich tersebut kepada Alana.


"Kenapa banyak sekali, Kimy?" tanya Alana.


"Tidak apa - apa. makanlah, aku keluar sebentar ya, tunggulah di sini," tutur Kimy. Alana pun menganggukan kepalanya. Kimy berlalu keluar dari kamar Jesslyn, dan Alana mulai memakan sandwich tersebut dengan begitu lahapnya. Alana benar - benar merasa kelaparan, bahkan ia makan dengan berantakan.


"Aku sangat lapar sekali," gumam Alana dengan mengunyah cepat sandwich tersebut.


"Jesslyn,"


tiba - tiba  terdengar suara Mama Merry dari luar kamar Jesslyn, suara tersebut semakin lama semakin mendekat. Alana yang merasa takut ia langsung menghentikan aktivitas makannya dan segera mungkin mencari tem,pat untuk bersembunyi. dan seketika itu, ia bersembunyi di bawah kolom meja belajar yang ada di kamar Jesslyn.


"Jesslyn?" teriak Merry sembari meletakan segelas susu coklat di atas mejanya.


"Iya, Ma. Jesslyn sedang mandi," saut Jessyln dari dalam kamar mandi.


"Baiklah, cepatlah, Nak. Mama tunggu di sini," kata Merry seraya merapikan tempat tidur anak perempuannya yang terlihat begitu berantakan. namun, saat Merry sedang sibuk membereskan tempat tidur Jesslyn. tiba - tiba ia melihat ke arah meja belajar yang sedari tadi ia perhatikan tak henti bergerak. Merry pun mendekati meja tersebut. lalu, ia membuka taplak yang tengah membaluti meja itu, saat ia menengok ke bawah meja itu, Merry begitu terkejut melihat seorang perempuan asing tengah bersembunyi di bawah meja belajar itu.


"Siapa kamu?" tanya Merry, namun Alana hanya diam saja dan menggigit bibir bawahnya karna takut. bahkan jelas sekali, tangan dan mulut Alana berantakan karna seusai makan sandwich yang baru saja habis ia makan.


"Kemarilah, jangan takut." Merry menyodorkan tangannya kepada Alana, dan membantu Alana keluar dari  bawah meja tersebut. lalu, Merry menarik beberapa lembar tissue dan memberikannya kepada Alana, untuk membersihkan mulut dan juga tangannya.


"Kamu siapa sayang?" tanya Merry.


"Sa-saya temannya Jesslyn, Bi."Alana menjawab dengan menundukan pandangannya karna takut.


 


.


.


.


.


.