
Sore harinya, Alana bersiap - siap hendak pergi ke tempat Ayahnya. ia pergi ke kamarnya. kamar yang di tempatinya bersama Ken. ia membalutkan jaket di rubuhnya dan mengambil tas jinjing miliknya.
"Mau ke mana kau?" tegur Ken.
"Aku mau ke rumah sakit, ingin menemui Daddy," jawab Alana.
"Aku akan mengantarmu, aku sekalian mau ke tempat David dan Ashley," ujar Ken.
"Baiklah, kalau itu tidak merepotkanmu." Ken meraih kunci mobil miliknya. ia berjalan mendahului Alana ke halaman rumah. sebelum itu Alana berpamitan kepada Jesslyn. lalu, ia menghampiri Ken yang sudah menunggunya di dalam mobil.
"Begitu saja lama sekali!" gerutu Ken seraya menyalakan mesin mobilnya. Alana hendak menyautinya. namun, rasanya ia enggan jika harus berdebat dengan suaminya tersebut.
Kini mereka berdua berada di dalam mobil. Ken melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit untuk mengantar istrinya terlebih dahulu. dan saat Ken hendak memasukan mobilnya ke halaman rumah sakit dan memarkirkannya. tiba - tiba Alana
menghentikannya.
"Sudah turunkan aku di sini saja, kau tidak usah masuk," kata Alana sembari menyentuh lengan Ken. Ken pun melirik ke arah tangan Alana.
"Maaf." Alana langsung menjauhkan tangannya dengan takut.
"Aku akan ikut masuk sebentar," kata Ken.
"Tidak usah. kau kan katanya mau ke tempat David. sudah pergilah sana, terimakasih sudah mau mengantarkanku." Alana melebarkan senyumnya di depan Ken. ia pun turun dari mobil suaminya tersebut. kedua mata Ken masih memperhatikan Alana yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Ken kembali melajukan mobilnya menuju ke apartement David dan juga Ashley. setibanya di apartement. Ken memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke gedung apartement itu. ia menaiki lift, lalu, berjalan menysuri corridorĀ mencari kamar apartement sahabatnya. daan saat Ken sudah mendapati kamar apartement sahabatnya ia menyelonong masuk ke dalam begitu saja. karna itu sudah hal yang biasa bagi Ken. terlebih lagi, kebetulan waktu itu, pintu apartement sahabatnya tidak di kunci.
Di dalam, David dan Ashley terlihat sedang duduk bersantai sembari menikmati kopi dan beberapa biskuit di atas meja mereka juga sedang memainkan kartu di tangannya.
"Ken?" sapa David dan juga Ashley. tanpa menyapa balik sahabatnya itu. Ken langsung menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kau kenapa, Ken?" tanya David.
"Iya, kenapa kau? apa sedang ada masalah dengan Alana?" Ashley ikut bertanya.
"Tidak kenapa - kenapa, aku hanya suntuk saja di rumah," jawab Ken.
"Kebetulan, Ayo nanti kita pesta minum," ajak Ashley dengan penuh semangat. ia membuang kartu yang ia pegang ke atas meja. lalu, ia berjalan dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Ken.
"Tidak. Aku tidak berselera!" saut Ken.
"Tumben sekali," ledek Ashley.
"Dia kan sudah menikah. Jadi pasti takut dengan Alana." David ikut meledek.
"Bicara omong kosong kalian!" seru Ken.
"Ken, ayo kita liburan. sudah lama kan kita tidak liburan," ajak Ashley.
"Iya, Ken. terakhir kita liburan tahun lalu." David ikut menimpalinya. ia mendekati kedua sahabatnya tersebut.
"Ya sudah. atur saja, kapan." Ken menyautinya.
"Bagaimana kalau bulan depan?" tanya David. Ken terdiam sejenak.
"Awal bulan depan kan aku ada rencana bulan madu dengan gadis bodoh itu," gumam Ken dalam hati.
"Iya boleh, tapi akhir bulan saja," kata Ken. Ashley dan David mengiyakannya dengan penuh semangat.
***
Di rumah sakit, Alana pergi ke front office untuk membayar tagihan rawat inap Ayahnya. Namun, seusai dirinya membayar tagihan tersebut dan hendak kembali ke ruangan Ayahnya. tiba - tiba seseorang tak sengaja menabraknya hingga membuat Alana terpental dan hendak terjatuh.
"Awww." Alana memegangi lengannya.
"Alana?"
Kedua mata Alana terkesiap saat dirinya tau bahwa yang menabraknya tak lain ialah Darrel mantan kekasihnya.
Tanpa menyapa, Alana sesegara mungkin meningglkan Darrel dari sana.
"Alana, tunggu." Darrel mengikuti Alana dan menarik tangannya.
"Lepaskan tanganku!" Alana menepis kasar tangan laki - laki itu.
"Alana, aku ingin berbicara sebentar denganmu," pinta Darrel. Ia menatap Alana dengan begitu dalam. Seakan di kedua bola mata itu hendak mengutarakan sesuatu.
"Maaf, Darrel. Aku sedang sibuk, kita bicara lain waktu saja," tolak Alana.
"Darrel aku--"
"Sebentar saja. aku janji sebentar saja," tukas Darrel.
"Baiklah, sebentar saja," Alana mendudukan tubuhnya di kursi dan di ikuti oleh Darrel di sampingnya.
"Cepat bicaralah!" perintah Alana tanpa memandang Darrel.
"Apa Paman di rawat di sini?" tanya Darrel. Alana menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
"Papaku juga sedang di rawat di sini, apa aku boleh menjenguk Paman Holmes?" tanya Darrel.
"Tidak! Kau tidak boleh menjenguknya!" seru Alana.
"Baiklah, aku tau kenapa kau tidak mengizinkannya."
"Alana, maafkan aku. aku minggu depan akan menikah dengan Lecya. dan ini semua bukan kemauanku. Ini kemauan Mama, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun dengan Lecya. percayalah ... " ujar Darrel.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Alana. Pertanyaan Alana membuat wajah Darrel sedikit kecewa.
"Alana, aku masih sangat mencintaimu. tapi--"
"Maaf, Darrel. aku sepertinya harus kembali." Alana menukasnya. ia beranjak berdiri. Namun, Darrel menarik tangannya.
"Alana, sebentar." Darrel ikut berdiri mendekati mantan kekasihnya tersebut.
"Alana, apa kau masih memiliki perasaan teehadapku?" tanya Darrel. matanya menatap kedua bola mata Alana secara bergantian.
"Alana, aku benar - benar masih mencintaimu. Jika kau mau, aku akan meninggalkan Lecya. kita menikah diam - diam," imbuh Darrel. Alana tersenyum kecut.
"Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun denganmu! Dan jika aku masih memiliki perasaan itu. Aku juga tidak akan sudi berhubungan lagi dengan orang - orang semacam kalian!" seru Alana.
"Alana, apa kau sebegitunya memnenciku?" tanya Darrel.
"Sangat!" seru Alana.
"Dan satu lagi, Darrel. Aku sudah menikah, jadi tolong jangan pernah menggangguku!" imbuh Alana dengan penuh penekanan.
"Tidak, aku tidak percaya. Kau belum menikah kan? Kau pasti berbohong. Iya kan?" tanya Darrel dengan ia benar - benar tidak percaya dengan pernyataan Alana yang menyebutkan bahwa dirinya sudah menikah.
"Kau percaya atau tidak. Itu bukan urusanku!" Alana berlalu pergi meninggalkan Darrel. suara Darrel yang masih memanggil - manggil namanya masih terdengar di telinga Alana. namun, Alana mempercepat langkah kakinya hingga ia tak mendengar lagi suara laki-laki itu.
***
Darrel masih mematung akan posisinya. Ia begitu melemas, bahkan, ia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Alana. Lalu, ia kembali ke ruangan di mana Papanya di rawat. Tuan Henry, Papanya Darrel.
"Aku tidak percaya jika Alana sudah menikah. aku tau, dia hanya beralasan supaya aku menghindarinya," gumam Darrel dalam hati. Ia berjalan mendekati tempat pembaringan Papanya dengan wajah yang tertekuk lemas.
"Kenapa, Darrel?" tanya Henry.
"Darrel habis bertemu Alana, Pa." Darrel mendudukan tubuhnya di atas tempat duduk tepatnya di samping Papanya tersebut.
"Alana?" tanya Henry. Darrel mengiyakannya.
"Paman Holmes di rawat di rumah sakit ini juga, Pa."
"Papa ... Darrel sungguh bingung." Darrel menatap kedua mata Papanya. Guratan raut wajahnya terlihat jelas sangat kebingungan.
"Papa sudah bilang berkali - kali. ikuti kata hatimu jangan mengikuti kata Mamamu," tutur Henry.
"Darrel sangat menyayangi Mama, Pa. Darrel tidak mau Mama kenapa - kenapa. Tapi, di sisi lain Darrel masih sangat mencintai Alana." suara Darrel tiba - tiba terdengar begitu memberat.
"Kau sudah mengambil keputusan kan? Jadi terima saja dan jalanilah. yang penting dari dulu Papa sudah mengingatkanmu. agar kau selalu mengikuti kata hatimu. bukan kata Mamamu. karna yang menjalani hidup kamu, bukan Mamamu!" ujar Henry. Darrel terdiam sejenak. Pikiran dan hatinya sedang berperang akan kekacauan yang saat ini ia rasakan.
"Pa, jika Darrel membatalkan pernikahan dengan Lecya bagaimana, Pa?" tanya Darrel.
"Seperti kata Papa tadi. Kau sudah mengambil keputusan jadi terima dan jalanilah!" Henry memalingkan pandangannya.
"Tolong Darrel, Pa. Darrel benar - benar tersiksa. apalagi setelah melihat Alana tadi," Darrel mengusap kasar wajahnya. ia membayangkan wajah Alana. ia sudah bersusah payah mencoba melupakan Alana. namun nyatanya ia tidak bisa.
"Papa sudah tidak mau ikut campur masalahmu dan Mamamu lagi. Papa sudah lelah, Nak. jangan menambah masalah untuk Papa lagi! Selesaikan sendiri masalahmu!" tutur Henry.
Darrel memejamkan matanya dengan penuh penyesalan. ia begitu menyesal mengikuti keinginan Mamanya yang menyuruhnya untuk memutuskan hubunga dengan Alana dan menikah dengan Lecya. namun bagaimana lagi? Darrel begitu menyayangi Mamanya.