My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Hanya pemanasan



Andai saja tidak ingat jika dirinya harus pergi ke luar kota untuk menemui Client penting. mungkin Ken akan kembali mencummbu habis istrinya itu,  terlebih lagi suasana pagi yang di selimuti langit gelap begitu mendukungnya. membuat Ken seakan tak mau meninggalkan Alana dari sana.


"Jangan cemberut seperti itu!" Alana mengusap wajah Ken yang terlihat tidak enak sekali untuk di pandang.


"Kau tidak sarapan lagi?" tanya Alana.


"Sandwich yang kau buat sudah membuat perutku kenyang," jawab Ken sembari membalutkan jas berwarna hitam di tubuhnya dengan bantuan kedua tangan Alana.


"Ya sudah, ayo, ku antar kau ke depan." Alana mengambil tas milik Ken dan menentengnya. ia dan Ken berjalan beriringan keluar dari kamar menuju ke depan untuk menemui David yang sedari tadi sudah menunggunya.


David yang kala  itu duduk di sofa, ia segera beranjak berdiri saat melihat Ken dan juga Alana sedang menghampirinya.


"Apa kau benar tidak sibuk?" tanya Ken pada David.


"Tidak, Ken." David menggeleng kepalanya sambil tersenyum.


"Ya sudah ayo," ajak Ken. ia mengambil alih tas miliknya yang tengah di pegang oleh Alana. kemudian, ia berjalan keluar rumah menuju ke mobil bersama David.


"Kakak..." terlihat Jesslyn berlari menghampiri Ken.


"Kau sudah bangun?" tanya Ken sembari mengusap kepala adiknya tersebut.


"Kakak mau ke mana?" tanya Jesslyn. kedua matanya bergantian menatap Ken dan David.


"Kakak mau ke luar kota, ada pekerjaan, sayang." Ken mendekap sebagian tubuh adiknya tersebut.


"Padahal Jesslyn ingin sekali mengajak Kakak dan Alana jalan-jalan hari ini." Jesslyn mengerucutkan bibirnya dengan sedikit kecewa.


"Kita jalan-jalan lusa saja, ya. Kita pergi liburan ke pantai bersama Kak David dan Kak Ashley," ujar Ken.


"Ke pantai?" tanya Jesslyn.


"Iya, Jesslyn. Apa kau mau ikut?" timpal David.


"Tentu saja... apa aku boleh mengajak Kimmy?" tanya Jesslyn.


"Ajaklah," saut David sembari menepiskan senyumnya. Jesslyn seketika langsung melompat kegirangan.


"Ya sudah, Kakak berangkat, jangan membuat kekacauan sampai Mama dan Papa pulang kau mengerti?" Jesslyn menganggukan kepalanya, Ken memeluk Jesslyn dan mencium keningnya. Kedua matanya melirik ke arah Alana yang sedang memperhatikannya.


"Aku berangkat," pamit Ken. Alana mengangguk. Ken dan David segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah. Saat di rasa mobil milik suaminya tak terlihat dari jangkauan mata, Alana segera mengajak Jesslyn untuk  masuk ke dalam rumah.


Kimmy terlihat keluar dari kamar Jesslyn dan berdiri di pembatas pintu sambil menguap dan meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Jesslyn dan Alana segera menghampiri temannya tersebut.


"Kimmy, kau sudah bangun?" tanya Alana.


"Kalau aku berdiri seperti ini berarti aku sudah bangun!" saut Kimmy.


"Kimmy, Kakak mengajak kita untuk liburan  ke pantai besok, kau ikut, ya?" ajak Jesslyn.


"Pantai?" Kimmy menguap sambil mengucek kedua matanya yang berair.


"Iya, ikutlah..." ajak Jesslyn dengan penuh harap.


"Entahlah, aku tidak tau Papa mengizinkanku atau tidak," jawab Kimmy.


"Biar aku dan Jesslyn yang berbicara ke Papamu," timpal Alana. Kimmy terdiam sejenak memikirkan sejenak kata-kata Alana.


"Ehm..."


"Bagaiamana? menjawab saja lama sekali!" seru Jesslyn.


"Kalau Paman Gio yang mengizinkan pasti diperbolehkan, kalau kalian berdua yang mengizinkan, Papa pasti tidak akan memperbolehkannya," ujar Kimmy.


"Ya sudah, nanti aku akan berbicara kepada Papa supaya mengizinkanmu  kepada Paman Louis," ujar Jesslyn.


"Okay." Kimmy melebarkan senyumnya.


"Kalian tidak pergi ke kampus?" tanya Alana.


"Kau yang benar saja, ini kan hari libur nasional," saut Jesslyn.


"Oh, iya. aku sungguh lupa." Alana menepuk jidadnya. Kemudian, ia segera mengajak adik ipar dan temannya tersebut ke dapur untuk sarapan bersama. Saat di tengah sibuknya sarapan, terlihat Jasson yang menghampiri meja makan.


"Pagi, Jasson." Kimmy menyapa Jasson dengan mulut yang tertahan oleh makanan. Jasson hanya diam saja dan mengambil beberapa keping roti dan memindahkannya di piring yang baru saja ia ambil.


"Kimmy menyapamu, kenapa kau diam saja!" seru Jesslyn.


"Banyak bicara!" saut Jasson. ia membawa roti yang ia pegang dan pergi dari sana. Kimmy memperhatikan Jasson yang keluar meninggalkan dapur itu.


"Kimmy, lanjutkan makanmu!" perintah Jesslyn. Kimmy mengalihkan pandangannya ke arah Jesslyn. Ia menganggukan kepalanya dengan cepat dan memulai memakan makanannya kembali.


"Alana..." suara Kimmy mengagetkan Alana dan Jesslyn.


"Ada apa, Kimmy?" saut Alana sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Apa semalam kau baik-baik saja?" tanya Kimmy.


"Memangnya Alana kenapa?" tanya Jesslyn dengan penasaran.


"Semalam, Alana berteriak--" belum menyelesaikan perkataannya, Alana segera membungkam mulut Kimmy dengan telapak tangannya.


"Berteriak? berteriak kenapa?" tanya Jesslyn.


"Ti-tidak apa-apa Jesslyn, semalam ada tikus di kamar jadi makanya aku berteriak," saut Alana. Jesslyn mengernyit heran.


"Bagaimana bisa ada tikus?" tanya Jesslyn.


"Oh." Jesslyn mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali melanjutkan makannya. Alana melebarkan kedua matanya kepada Kimmy. Memberi isyarat kepada wanita itu  agar tidak mengatakan apapun. Kimmy seketika membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.


"Semalam Jasson membungkam mulutku, sekarang Alana yang membungkam mulutku juga. Aku sungguh heran dengan semua orang yang ada di rumah ini." Bibir Kimmy menggerutu sembari mengunyah makanan yang baru saja ia masukan ke dalam mulutnya.


 


***


Ken dan David menempuh perjalanan ke luar kota memakan waktu 4 hingga 5  jam lamanya, setibanya di sana. Ken memarkirkan mobilnya di parkiran dan sejenak memperhatikan hotel bisnis yang menjadi tempat pertemuannya dengan client penting Papanya tersebut.


"Aku terakhir kemari 4 tahun yang lalu bersama dia," gumam Ken dalam hati.


"Ayo, Ken," ajak David, namun Ken hanya diam saja.


"Ken?" panggil David. Seketika itu, Ken menoleh ke arah David.


"Iya?" saut Ken.


"Kenapa, ku perhatikan kau dari tadi tidak bersemangat? bahkan di perjalanan sekalipun?" tanya David.


"Bukannya ini tender penting? seharusnya kau kan bersemangat," imbuhnya.


"Hem, entahlah, rasanya aku malas sekali," saut Ken. Kedua matanya beralih ke depan.


"Karna kau harus meninggalkan Alana?" tanya David.


"Mungkin itu salah satunya," saut Ken.


"Sudahlah, ayo..." Ken mendahului David untuk turun dari mobil, kemudian diikuti oleh David. Mereka berdua turun dan berjalan beriringan menuju ke lobby hotel. Ken melakukan check in untuk mendapatkan kamar yang sebelumnya telah di reservasi oleh Papa Gio untuknya dan David.


 


***


Kimmy, Jesslyn dan Alana terlihat sedang  berada di kamar, mereka bertiga sibuk membaca buku di masing-masing tangannya. Namun, semakin lama, mereka semakin merasa  bosan dengan aktivitas itu.


"Aku bosan sekali," ujar Alana sembari menutup dan meletakan buku miliknya di atas tempat tidur.


"Alana, bagaimana kalau kita bermain ular tangga?" ajak Jesslyn dan Kimmy.


"Boleh,  ayo kita bermain ular tangga," saut Alana.


Jesslyn mendekati meja kecil yang ada di dalam kamar miliknya dan mengambil permainan papan yang terlipat rapi di sana.


mereka bertiga duduk  melingkar di bawah lantai. Jesslyn menggelar permainan papan itu tepat di tengah-tengah. ia membagi masing-masing bidak kepada Kimmy dan juga Alana.


"Yang bidaknya turun karna di makan ular, akan di coret dengan spidol ini." Jesslyn menunjukan spidol yang saat ini ia pegang sambil melirik ke arah Kimmy.


"Kenapa kau melihat ke arah ku?"  tanya Kimmy.


"Kenapa memangnya? tidak boleh?" tanya Jesslyn sambil melototkan kedua matanya.


"Boleh... boleh..." Kimmy menganggukan kepalanya dengan takut.


"Ayo mulai dari Kimmy terlebih dahulu,"  Jessyln memberikan dadu yang terpisah itu kepada Kimmy.


"Kenapa harus aku?" tanya Kimmy.


"Kau tidak mau?" tanya Jesslyn.


"Siapa yang bilang tidak mau? aku kan hanya bilang kenapa harus aku?" bantah Kimmy.


"Sudah, sudah, kemarikan biar aku yang memulai permainannya!" Alana mengambil alih kedua anak dadu itu dan mulai mengocoknya.


Alana melajukan bidaknya sesuai dadu - dadu tersebut. ia mengumpat kesal saat bidaknya harus turun karna berhenti tepat di angka yang menunjukan mulut ular. "Sial." Alana mengumpat sambil melirik ke arah Kimmy dan Jesslyn.


"Alana, bidakmu di makan ular, aku dan Jesslyn akan mencoret wajahmu!" Kimmy dengan penuh semangat  mengambil alih spidol yang di pegang oleh Jesslyn. dan hendak mencoret wajah Alana.


"Tunggu, tadi kan hanya pemanasan!" bantah  Alana.


"Pemanasan?" Kimmy memiringkan kepalanya.


"Iya, pemanasan. ayo coba kau yang main!"  perintah Alana sembari menyodorkan kedua anak dadu kepada Kimmy.


"Oh pemanasan ya, baiklah!" Kimmy meletakan spidol yang ia pegang dan segera mengocok kedua dadu itu. Kimmy segera menjalankan bidaknya sesuai angka yang tertera pada dadu. bidaknya berhenti tepat di mulut ular.


"Bidakmu di makan ular..." Jesslyn heboh mengambil spidol dan hendak mencoret wajah Kimmy.


"Tunggu! Ini kan hanya pemanasan," kata Kimmy mencoba menjauhkan wajahnya dari spidol itu.


"Tidak ada pemanasan! Permainannya sudah di mulai." Jesslyn dengan penuh semangat  memberi coretan hitam di wajah putih Kimmy begitu juga dengan Alana ia bergantian mencoret wajah Kimmy menggunakan spidol yang sama. mereka berdua tertawa saat melihat raut wajah Kimmy yang sebagian mulai menghitam karna coretan spidol.


"Kalian curang!" seru Kimmy sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tidak ada yang curang! ayo kita lanjutkan lagi," kata Jesslyn yang saat ini giliran memainkan bidaknya, lalu bergantian dengan Alana. mereka bertiga memainkan bidak mereka masing-masing. tak sedikit coretan spidol wajah Alana dan Kimmy. Hanya Jesslyn saja yang memiliki sedikit coretan spidol di wajahnya.


"Kimmy, bidakmu di makan ular!" seru Jesslyn dengan kegirangan. ia mengambil spido; dan segera mencoret kembali wajah Kimmy.


"Giliranku, yang mencoretmu!" Alana mengambil alih spidol itu dari tangan Jesslym.


"Jika bermain bersama Ken pasti lebih menyenangkan. Aku akan mencoret-coret wajahnya yang menyebalkan itu, seperti ini," Alana dengan gemas mencoret wajah Kimmy membayangkan jika itu ialah wajah suaminya.


"Alana, ini wajahku! Bukan wajahnya Kak Ken, kau yang benar saja!" seru Kimmy sambil melotot. Jesslyn tertawa terpingkal-pingkal saat melihat raut wajah Kimmy.