My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Aku akan menghancurkanmu



Keesokan paginya, Ken bersiap - siap untuk pergi ke kantor. sementara, Alana sendiri hendak pergi ke toko kue miliknya untuk mengecek keadaan di sana. sejak kemarin, Alana begitu tak tenang memikirkan toko kue miliknya. ia masih bertanya - tanya tentang wanita yang datang mencarinya beberapa hari ini.


Ken dan Alana, terlebih dulu menikmati sarapannya. Seusai sarapan, mereka berdua pun berangkat bersama mengendarai mobil yang Ken kemudikan. sebelum ke kantor, Ken terlebih dulu mengantarkan Alana ke toko kuenya. Ia menghentikan mobilnya tepat di toko kue itu.


"Sepertinya hari ini aku tidak akan lama karna, aku hanya menemui beberapa client untuk membicarakan kerja sama dengan perusahaan Daddy," tutur Ken.


"Baiklah, semoga semuanya berjalan dengan lancar," ujar Alana.


"Kau kembali jam berapa, biar aku menjemputmu?" tanya Ken.


"Entahlah, biar nanti aku akan naik taxi saja." Alana melebarkan senyumnya.


"Tidak usah naik taxi!  Kabari aku jika pulang!" seru Ken.


"Tapi, Ken. kau kan--"


"Sudah,  cepat turun sana. banyak bicara sekali."


"Hmm, baiklah. aku turun dulu. hati - hati, Ken." Alana turun dari mobil dan melambaikan tangannya Ke arah mobil suaminya  yang mulai berjalan menjauh dari pandangan matanya itu.


Alana mengubah posisi tas miliknya yang semula ia jinjing, kini ia selempangkan ke tubuhnya. ia masuk ke dalam toko kue miliknya dan saat melihat Alana di sana. pegawai yang bekerja di toko kue miliknya itu segera menghampirinya dan memberi sapaan hangat kepadanya.


Alana menyapa balik pegawainya itu, lalu, ia mendudukan tubuhnya di salah satu kursi pengunjung dan mempersilahkan pegawainya tersebut untuk duduk juga. kini Alana dan pegawainya yang bernama Felly. itu duduk saling berhadapan.


"Oh iya, Nona Felly. katamu selama dua hari aku pergi ke luar kota, ada seorang wanita yang mencariku?" tanya Alana.


"Iya, Nona Alana. wanita itu dua hari berturut - turut datang kemari mencari, Nona. saya sudah bilang bahwa Nona sedang pergi ke luar kota. tetapi, wanita itu malah memaki - maki saya dan hendak mengacau di sini," tutur  Felly.


"Apa Nona Felly mengenalnya? barangkali dia pernah membeli kue di sini?" tanya Alana.


"Tidak, Nona. saya baru kali ini melihat wanita itu." Alana semakin penasaran dengan wanita yang di maksud oleh pegawainya tersebut.


"Apa dia tidak menyebutkan namanya, Nona?" tanya Alana kembali.


"Tidak, Nona. dia sama sekali tidak menyebutkan namanya. wanita itu berambut coklat dan memiliki tinggi sejajar dengan Nona Alana." dahi Felly mengerut dan kedua matanya menyipit saat mengingat - ingat kembali fisik wanita yang di maksud olehnya itu.


"Siapa? apa Lecya? atau Kak Caleey? mereka berdua sama - sama memiliki rambut berwarna coklat, tapi, kalau memang benar Lecya atau Caleey, untuk apa mencariku?" gumam Alana. ia menghembuskan napasnya dengan sedikit was-was.


"Ehm, ya sudah, Nona Felly. lanjutkan saja pekerjaanmu, terimakasih banyak atas informasinya." Alana tersenyum dan beranjak dari duduknya. ia meninggalkan pegawainya itu masuk ke ruangan yang ada di dalam toko itu. ia menghidupkan lampu dan meraih remote AC kemudian menyalakannya, hingga suhu dingin yang berasal dari AC tersebut menjalar ke seluruh ruangan.


Alana mendudukan tubuhnya di atas kursi panjang, kedua mata sayunya menatap kosong ke sembarang arah.  rasanya, banyak sekali orang - orang yang dulu dekat dengannya yang kini tidak menyukainya.


"Kira - kira, siapa wanita yang di maksud oleh Nona Felly?" Alana berpikir keras dan penasaran di buatnya, ia seakan tak mau lepas dari pikirannya itu.


****


Tangan Alana  merogoh ke dalam tas yang masih terselempang di tubuhnya. ia segera mengambil ponsel miliknya saat dirasa ada getaran dari dalam tas itu. terlihat satu pesan masuk tertera di layar ponselnya.


"Ken?" bibir Alana berucap. tangannya segera membuka pesan dari suaminya tersebut.


Buatkan aku kue yang sangat enak ~ Ken.


Raut wajah Alana yang mulanya muram, kini terbesit senyuman di sana, jari - jari tangannya mulai menyentuh layar ponselnya dan membalas pesan singkat itu.


Kalau tidak enak bagaimana? ~ Alana.


Sebagai gantinya, kau yang akan aku makan. ~ Ken.


bahkan laki - laki itu mengirim emoticon sedang bersungut hingga membuat Alana terkekeh di buatnya. Ya Tuhan, hanya membaca pesan singkat dari Ken saja mampu mengembalikan keceriaan wanita itu.


Aku ingin tau bagaimana kau memakanku! ~ Alana.


Baiklah, lihat saja nanti. ~ Ken.


Alana tak sadar sedari tadi dirinya tersenyum setiap kali membaca dan membalas pesan dari suaminya tersebut.


ia mengakhiri pesan singkatnya dengan Ken dan segera mengembalikan ponsel itu kembali ke dalam tas dan meletakan tas itu ke sembarang tempat.


"Nanti, aku akan membuatkan Ken cupcake red velvet spesial untuknya. bukannya dulu kata Jesslyn, Ken suka suka sekali dengan cupcake?" Alana tersenyum sambil mengingat wajah garang suaminya yang begitu menggemaskan itu.  ia beranjak berdiri dan segera keluar dari ruangan.


***


Alana membantu pegawainya untuk melayani pelanggan yang berdatangan di toko kue miliknya tersebut. hingga siang hari, Alana dan pegawainya sibuk melayani semua pelanggannya, bahkan membuat mereka berdua kuwalahan. karna para pelanggannya yang datang kala itu  silih berganti mengunjungi toko kuenya. dan kini, Alana dan Felly bisa sedikit bernapas saat tokonya kembali sepi pengunjung.


"Nona Felly, apa setiap hari tokonya ramai seperti ini?" tanya Alana. ia mengusap dahinya berkali - kali karna rasa gerah akan sinar matahari yang membias seluruh ruangan yang ada di tokonya.


"Iya, Nona. tokonya selalu ramai seperti ini, terkadang, saya meminta bantuan Elle untuk membantu saya melayani pelanggan yang datang. karna, toko bunga milik Nona tidak terlalu ramai seperti toko kue, jadi Elle masih bisa meninggalkan pekerjaannya sebentar untuk membantu saya di sini," ujar Felly.


"Aku sampai tidak tau keadaan toko. karna terlalu sibuk merawat Daddy," gumamnya.


"Sepertinya, aku harus menambah pegawai baru untuk membantu Nona Felly di sini," ucap Alana.


"Saya masih bisa mengatasinya, kok, Nona. yang terpenting, pagi, saya sudah memasak banyak kue dan membuat stok adonan," ucap Felly dengan begitu santai.


"Tidak, apa - apa. lebih baik aku menambah pegawai saja, kasian jika Nona mengatasi toko kue sendirian, karna aku sudah tidak bisa kemari membantu Nona Felly setap hari karna harus merawat ayahku, Nona."


"Baiklah, terserah Nona Alana saja." Felly tersenyum kepada Alana.


"Alana ..." suara seorang wanita menghentikan percakapan antara Alana dan pegawainya. Alana dan Felly serentak menoleh ke asal suara tersebut.


"Kak Caleey?" bibir Alana berucap tanpa mengeluarkan suara. Alana mengernyitkan dahinya  saat ia melihat Caleey sedang berjalan menghampirinya. bahkan, perempuan itu terlihat berjalan dengan wajah yang tak ramah.


"Nona, itu wanita yang kemarin mencari Nona," ujar Felly. Alana mengiyakan dan segera menghampiri sepupunya itu.


"Ada apa kau ke mari?" tanya Alana kepada Caleey yang saat ini sedang berdiri berhadapan dengannya. tanpa menjawab pertanyaan Alana. tangan Caleey tiba - tiba melayang begitu saja di pipi kanan Alana. hingga membuat pipi Alana yang berkulit putih itu memerah akibat pukulan keras dari telapak tangan wanita itu. Felly terkejut dan segera ikut menghampiri mereka berdua.


"Kenapa kau menamparku?" seru Alana.


"Karna itu pantas untukmu!" Caleey menatap tajam kepada Alana hingga kedua bola matanya nampak hendak keluar dari tempatnya. ia hendak mendorong tubuh Alana. namun, Felly yang melihatnya dengan cepat mendorong tubuh Calley terlebih dulu. bahkan hingga membuat wanita itu terjatuh mengenai meja pengunjung.


"Nona tolong jaga sikapmu!" Felly menunjuk Caleey dengan jari telunjuknya. ada rasa ketidak sukaan saat wanita yang ia anggap asing itu hendak melukai owner di mana tempat dirinya bekerja saat ini.


Caleey semakin murka di buatnya, terlebih lagi saat melihat wanita yang di anggapnya tak sepadan dengan dirinya itu ikut campur masalahnya dengan Alana.


"Kau hanya seorang pegawai rendahan. berani sekali kau mendorongku!" Caleey hendak memukul Felly namun Alana menghentikannya.


"Caleey, cukup! jangan membuat keributan di tokoku, dan jangan sekali - sekali kau melukai pegawaiku!" teriak Alana. ia menyuruh Felly untuk masuk dan tidak ikut campur. karna Alana takut jika Caleey akan menyakiti pegawainya itu.


"Aku sama sekali tidak peduli jika kau membenciku, bahkan itu tidak mempengaruhi hidupku!" Alana  mencoba menahan emosinya agar tidak terpancing.


"Katakan, ada apa kau kemari?" tanya Alana.


"Kau dan Paman sengaja kan mau menyaingi perusahaan Daddyku?" seru Caleey.


"Apa maksudmu?" Alana mengernyit dengan bingung. bahkan, ia gagal mencerna apa yang di katakan oleh sepupunya itu.


"Jangan berpura - pura polos! Kau pikir aku tidak tau alasan kau dan Kak Ken menikah? Paman dari dulu mana suka dengan Daddyku! dia selalu saja mencari cara untuk mengalahkan perusahaan Daddy. dan sekarang, karna Paman bangkrut dan Daddy tidak mau membantunya kalian mau membalas dan menyaingi perusahaan Daddy melalui Kak Ken. iya kan?" seru Caleey.


"Hanya orang - orang yang berpikiran dangkal saja yang merasa tersaingi! Daddyku sama sekali tidak pernah berpikir serendah itu untuk menyaingi perusahaan Paman Afford! Karna yang memegang perusahaan Daddy sekarang adalah suamiku! Kau tau kan siapa suamiku?" suara Alana terdengar seperti mengejek di telinga Caleey. hingga membuat wanita itu menjadi geram saat mendengarnya.


"Cih, bangga sekali kau! sepertinya aku perlu mengingatkanmu, Alana. Kak Ken menikahimu hanya karna memanfaatkan perusahaan Paman. Dia hanya ingin menyelamatkan perusahaan Paman Gio saja dan tidak lebih dari itu!"


"Seharusnya kau sadar diri. dia tidak pernah mencintaimu! Kak Ken hanya kasihan saja denganmu. jadi, lebih baik kau buang jauh-jauh pikiranmu untuk mendapatkan hati Kak Ken! karna aku sangat mengenal Kak Ken, dia tidak mudah jatuh cinta. apalagi dengan seorang wanita sepertimu!" seru Caleey dengan penuh penekanan. Alana hanya diam dan memandang Caleey dengan perasaan yang begitu menyesakaan dada. Ia merasa apa yang di katakan Caleey memang ada benarnya. namun, Alana mencoba menahan emosinya yang hampir saja terpancing oleh setiap ucapan Caleey.


"Aku tidak mempedulikan itu! Karna ketika aku menerima dia sebagai suamiku, berarti aku sudah menerima apapun perlakuannya kepadaku. sekalipun dia hanya memanfaatkanku saja! cinta atau tidaknya Ken kepadaku, dia tetap suamiku, bukankah sebuah status kedudukannya lebih berhak daripada sebuah rasa?" balas Alana. bahkan ia menarik salah satu sudut bibirnya hingga membuat Caleey merasa terhina saat melihatnya.


Kedua mata Caleey mengarah ke arah rambut Alana yang menggantung. Rasanya Caleey ingin sekali menarik rambut itu hingga terlepas dari kepala Alana.


"Caleey!" suara dari arah belakang tubuhnya menghentikan Caleey yang hendak menyakiti Alana. Sontak Caleey menoleh ke asal suara tersebut dan di ikuti oleh Alana.


"Kak Ken?" suara Caleey menjadi melunak saat melihat Ken sedang berjalan menghampirinya di sana.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Ken, Tatapan matanya seakan tak suka saat melihat wanita itu. bahkan ia menjauhkan tubuh Alana darinya.


"A-aku hanya ingin berkunjung saja." kedua bola mata Caleey mencoba menghindar dari tatapan Ken. mengartikan bahwa ia itu sedang berbohong.


"Kak Ken, aku sudah tau, kau menikahi Alana hanya karna ingin menyelamatkan perusahaan Paman Gio. aku tau Kak Ken hanya kasihan terhadap dia! aku minta maaf karna Daddyku sudah--"


"Tau apa kau hingga berbicara seperti itu?" tukas Ken.


"Tolong pergilah dari sini dan jangan mengganggu Alana lagi!" perintah Ken.


"Aku tidak mengganggunya Kak Ken, untuk apa aku mengganggu saudaraku sendiri?" Caleey berucap dengan suara datar dan menyayupkan kedua matanya.


"Sejak kapan kau menganggap Alana saudara?" seru Ken. Ia melirik ke arah pipi kanan Alana yang terlihat memerah. Ken begitu geram dan tiba - tiba mencengkram erat lengan Caleey.


"Kak Ken... " Caleey begitu ketakutan saat Ken mencengkram lengannya dengan tatapan penuh amarah.


"Caleey... aku tidak peduli kau seorang perempuan atau bukan.  sedikit saja kau berani menyakiti istriku. tanganku sendiri yang akan menghancurkanmu!" seru Ken.


"Ken..." Alana memegang lengan Ken berharap agar tidak menyakiti Caleey. namun, Ken hanya melirik tajam ke arah Alana hingga membuat Alana menjauhkan tangannya.


"Pergi dari sini!" perintah Ken. Ia melepaskan cengkraman itu. Caleey menatap Ken dengan begitu sakit hati. tanpa berkata, ia segera pergi meninggalkan toko itu.


"Kenapa kau sudah kembali? Ayo kita ke dalam," ajak Alana seraya berjalan mendahului Ken untuk masuk ke dalam ruangannya. Ken segera mengikutinya.


Dan saat di dalam ruangan, Alana berdiri membelakangi Ken dan segera mengusap kedua sudut matanya yang basah. ia benar - benar merasa sakit hati akan sikap saudaranya.


Ken menarik tubuh Alana dan mengangkat wajahnya. Ia memperhatikan wajah Alana dengan begitu seksama. Alana hanya bisa diam dan menarik napasnya dengan sesenggukan mencoba menahan air matanya.


"Dia menyakitimu?" Ken menyentuh pipi kanan Alana yang sempat di tampar oleh Caleey tadi.


"Tidak, Ken. dia sama sekali tidak menyakitiku." Alana mencoba menghindar saat Ken menyentuh pipinya.


"Jangan berbohong kepadaku! dia tidak pantas kau lindungi!" seru Ken. air mata Alana yang semula ia bendung kini jatuh tak tertahankan. Ken mengusap air mata itu dan memberikan pelukan yang sedikit membuat istrinya tenang.


"Tolong jangan mengasihaniku seperti ini Ken." Alana mengusap air matanya.


"Aku tidak pernah mengasihani siapapun! aku hanya ingin mencoba melindungi orang yang seharusnya aku lindungi." Ken berucap dengan dalam seakan kata - kata itu menyiratkan penuh makna hingga membuat hati Alana terenyuh mendengarnya. Alana menjadi tenang, ia membalas pelukan Ken dan mengeratkannya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu." hati Ken berulang-kali berkata seperti itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.