
Ken semakin memeluk erat Alana membiarkan wanita itu menangis di dalam dekapannya. Ken seakan merasakan hantaran rasa sakit yang di rasakan oleh Alana saat ini. Amarahnya begitu memuncak hingga membuat laki - laki itu mengepalkan kedua tangannya dengan begitu geram saat mengingat kejadian di gedung tadi.
"Apa salahku, Ken? Kenapa semua orang begitu membenciku?" tanya Alana suaranya masih bercampur dengan isakan tangisnya.
"Kau tidak salah. Hati mereka saja yang salah, di sini tidak ada yang membencimu," tutur Ken.
Ken melepaskan pelukannya. ia memperhatikan wajah Alana yang masih menangis sesenggukan. bahkan kedua bola mata Alana terlihat begitu mengecil.
"Tapi, Ken. mereka--"
"Lupakan mereka, jangan menangis lagi." Ken mencoba mengusap wajah Alana yang masih di banjiri oleh air mata.
"Jangan menangis lagi," Ken kembali memeluk Alana. Alana menganggukan kepalanya. setidaknya ia memiliki ketenangan sendiri saat Ken memeluknya. seolah ia begitu lega berbagi rasa sakit dengan suaminya tersebut.
Ting ... Tong ... (suara bel rumah)
"Sepertinya itu Mama dan Papa." Ken melepaskan pelukannya. dan Alana cepat - cepat menghapus air matanya.
"Aku akan membukakan pintunya," ucap Alana. Ia berlalu keluar untuk membukakan pintu rumah. Ken pun mengikuti Alana dari belakang.
Alana membuka pintu rumah. dan saat pintu terbuka, seperti yang Ken duga. yang datang saat itu tak lain ialah Mama Merry dan juga Papa Gio.
"Mama ... Papa ... ayo masuk." Alana mencoba tersenyum seolah dirinya baik - baik saja.
"Sayang." Merry memegang wajah Alana dan memperhatikannya dengan begitu seksama. Alana hanya bisa tersenyum di depan Merry.
"Jangan menghiraukan apa kata mereka ya, sayang," tutur Merry. bahkan, kedua sudut matanya terlihat basah karna merasa ibah terhadap menantunya tersebut.
"Tidak, kok, Ma. Alana sama sekali tidak menghiraukan mereka semua," Alana tersenyum ia menyembunyikan rasa sakit yang kini masih bersarang di relung hatinya. bahkan, membuat Ken terheran - heran saat melihat Alana yang sedang bersandiwara dengan sebegitu baiknya.
Seketika itu, Merry langsung memeluk menantunya tersebut.
"Mama sangat menyayangimu, kau sudah Mama anggap sebagai anak kandung Mama, Nak. jangan menghiraukan apa kata orang lain." tutur Merry ia pun mencium kedua pipi Alana.
"Iya, Ma. terimakasih banyak, Alana juga sangat menyayangi Mama," ucap Alana. Kedua matanya terlihat berkaca - kaca haru.
"Baiklah, sayang. Mama dan Papa kemari hanya ingin mampir melihatmu. kalau begitu, Mama dan Papa permisi pamit pulang, ya," ucap Merry.
"Apa tidak mau menginap di sini, saja, Ma?" tanya Alana.
"Tidak, sayang. Mama harus pulang karna Jesslyn pasti akan mencari Mama. Karna tadi Mama menelepon Jesslyn untuk menyuruhnya pulang dan tidak usah menghadiri acara itu," jawab Merry.
"Baiklah, kalau begitu, Ma." Alana tersenyum.
"Alana," panggil Gio.
"Iya, Pa?" Gio berjalan lebih mendekat ke arah Alana. Ia mengusap kepala menantunya tersebut.
"Kau boleh kehilangan orang - orang terdekatmu. Tapi, ingatlah, di sini kau memiliki keluarga yang sangat menyayangimu."
"Terkadang, kita sudah berbuat baik kepada orang lain. Tetapi, mereka tidak membalasnya dengan hal yang sama. karna kita tidak bisa memaksa orang lain untuk berbuat baik pula kepada kita, Nak. Hanya karna merasa tersakiti bukan berarti kita harus kehilangan jati diri. kebaikan tidak hanya datang dari satu orang saja, Nak.
Jika kita sudah berbuat baik kepada orang.
mungkin, kebaikan itu tidak kita dapat dari orang yang sama. tapi, pasti akan kita dapat dari orang yang berbeda," tutur Gio sembari memeluk Alana.
"Iya, Pa. Alana tau itu. terimakasih banyak, Pa." Alana membalas pelukan itu. Ia merasa beruntung di saat ia merasakan rasa sakit seperti ini. ia mendapatkan keluarga yang menyayanginya dan memberinya semangat.
Alana dan Gio saling melepas pelukannya.
"Alana, masuklah, ke kamar dulu ..." perintah Ken. Alana mengiyakannya. Ia pamit kepada Merry dan juga Gio untuk kembali masuk ke dalam kamar.
***
"Bagaimana Alana? Apa tadi dia baik - baik saja, Ken?" tanya Gio.
"Tidak ada orang yang baik - baik saja ketika hatinya terluka, Pa."
Ken menyuruh Merry dan juga Gio untuk duduk terlebih dahulu.
"Mama tidak menyangka jika Hellena mengenal Alana. bahkan, Caleey. mama tidak habis pikir, bukannya membela saudaranya, dia justru malah ikut - ikutan mempermalukan Alana. orang - orang macam mereka itu!" seru Merry dengan kesal.
"Ini salah Ken, Ma. Alana tadi sudah menolak untuk masuk ke dalam gedung. tapi, Ken tetap saja memaksanya untuk masuk."
"Ken akan membalas semua perlakuan mereka kepada Alana," seru Ken. kedua matanya menyiratkan seakan sedang menyimpan amarah yang meletup - letup di dalam dirinya. lalu, Gio menepuk bahu anaknya tersebut.
"Sudah lah, Nak. tidak perlu membalas apa - apa. tidak ada gunanya kau berurusan dengan orang - orang seperti mereka. Yang terpenting buatlah istrimu merasa di hargai, jangan pernah menyakiti perasaanya. posisikan Alana sebagai Mamamu dan juga Jesslyn. jangan pernah sekali - sekali menyakitinya!" tutur Gio. Ia kembali menepuk bahu Ken. memberi isyarat agar anaknya tersebut mengerti akan perkataanya. Ken hanya terdiam dan mencerna apa yang Papanya katakan. lalu, ia mengiyakannya.
"Kalau begitu, Papa dan Mama pulang dulu," imbuh Gio seraya beranjak berdiri.
"Temani istrimu, Nak." Merry memeluk Ken. Ken menganggukan kepalanya. Lalu, ia mengantar Mama dan juga Papanya tersebut hingga ke halaman rumah. dan saat di rasa mobil yang di tumpangi oleh Merry dan juga Gio sudah jauh dari jangkauan mata Ken. Ken pun kembali masuk ke dalam rumah. ia mengunci pintu rumahnya rapat - rapat.
"Memang benar kata Papa. tidak ada gunanya berurusan dengan orang - orang seperti mereka. tapi, aku tidak terima. aku tetap akan memberi mereka sedikit pelajaran." Ken mengepalkan kedua tangannya dengan begitu geram. lalu, ia terdiam sejenak.
"Kenapa rasanya aku bisa semarah ini?" gumam Ken dalam hati.
Ken kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat Alana sudah mengganti pakaiannya dan duduk bersandar di atas tempat tidur. ia terlihat sedang melamun. Bahkan, hingga membuatnya tidak menyadari kalau suaminya masuk ke dalam kamar itu.
"Istirahatlah!" perintah Ken. suara laki - laki itu membuyarkan lamunan Alana.
"Ken? ehm, apa Mama dan Papa masih di luar?" tanya Alana.
"Mereka sudah pulang, istirahatlah!" perintah Ken kembali. Alana mengiyakannya. Ken masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Lalu, ia keluar dan melihat Alana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi meringkuk.
dan saat Alana melihat Ken keluar dari kamar mandi. Ia seketika langsung berpura - Pura memejamkan kedua matanya.
Alana membuka kembali kedua matanya. Ia menatap kosong ke satu arah. air matanya meleleh kembali. bahkan semakin lama semakin mengering.
Sebenarnya, Alana merasa lelah, ia berkali - kali mencoba memejamkan kedua matanya untuk tidur. namun, ia benar - benar tidak bisa tidur. bahkan waktu menunjukan sudah hampir tengah malam. Alana beranjak duduk dan sejenak menengok ke arah Ken yang sedang tertidur pulas. Lalu, Alana memeluk kedua lututnya dan menyandarkan wajahnya di lututnya tersebut. pandangannya kembali kosong.
Tak lama kemudian, Kedua mata Ken terlihat mengerjap. seketika itu, ia langsung beranjak bangun saat melihat Alana yang belum tertidur.
"Kenapa kau tidak tidur?" pertanyaan Ken mengagetkan Alana. Ia mengangkat Wajahnya dan menoleh ke arah ken.
"Kenapa kau bangun? aku tidak Bisa tidur," jawab Alana. Ken melihat ke arah jam dinding yang ada di sudut kamarnya.
"Tidurlah, ini sudah tengah malam," perintah Ken.
"Aku tidak bisa tidur. kau tidurlah saja dulu," tolak Alana.
"Kenapa tidak bisa tidur? Apa kau masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Ken.
"Tidak, kok. Aku hanya tidak bisa tidur saja. aku sangat merindukan Daddy, Ken.
biasanya, jika aku tidak bisa tidur Daddy selalu memelukku," ucap Alana seraya membayangkan Ayahnya.
"Buatlah agar bisa tidur," perintah Ken.
"Iya ... nanti kalau aku mengantuk aku pasti akan tidur, tidurlah saja dulu!" ucap Alana. tanpa berkata, Ken, tiba - tiba menarik tubuh Alana. Ia menahannya dan memaksanya untuk tidur.
"Cepat tidur!" perintah Ken seraya memeluk istrinya tersebut.
"Ken, kau ini apa - apaan? Lepaskan aku, lepaskan!" Alana meronta. namun, Ken tak melepaskannya dan malah mengeratkan pelukannya.
"Ken, lepaskan aku. iya aku akan tidur, tolong lepaskan!" Alana berusaha menyingkirkan tangan suaminya tersebut.
"Ya sudah, kalau mau tidur ya tidurlah!" seru Ken.
"Minggirkan tanganmu ini, aku tidak nyaman!" bantah Alana.
"Katanya, kau tidak bisa tidur kalau tidak di peluk Ayahmu. cepat tidur!" seru Ken.
"Aku maunya di peluk Daddy, bukan dirimu! jauhkan tanganmu!" Alana masih mencoba menjauhkan tangan Ken.
"Sama saja! kalau kau masih banyak bicara aku akan menyuruhmu tidur di dalam kamar mandi!" ancam Ken. Alana langsung diam seketika, ia pun membiarkan Ken tidur dengan memeluknya.
"Cepat tidur!" seru Ken.
"Iya, iya... kau ini sungguh menyebalkan! suka sekali memaksa!" Alana menggerutu kesal.
"Apa kau bilang? aku suka memaksa? kau pikir kau tidak suka memaksa?" tanya Ken. Alana hanya diam dan menatap Ken sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa melihatku seperti itu? cepat tidur!" Ken mengusap kedua mata Alana agar terpejam.
"Benar - benar menyebalkan!" Alana mencoba memejamkan matanya. Lalu, ia membuka satu matanya dan melirik ke arah Ken yang sudah tertidur.
"Kenapa masih melihatku?" seru Ken, ia berbicara tanpa membuka kedua matanya.
"Aku kira sudah tidur," gumam Alana dengan kesal. ia menghela napas dengan sangat berat. lalu, memejamkan matanya kembali. Pelukan Ken memiliki kenyamanan tersendiri bagi Alana. hingga membuat wanita itu merasa nyaman di buatnya.
Ken membuka kedua matanya dan memperhatikan Alana dengan begitu seksama seraya mengingat - ingat Darrel.
"Aku baru ingat, laki - laki yang menikah dengan putrinya Tuan Hilton, adalah laki - laki sama yang tidak ingin di temui oleh Alana, saat di boutique waktu itu," gumam Ken dalam hati.
"Apa hubungan laki - laki itu dengan nya? Apa dia pernah memiliki hubungan dengan laki - laki itu?" pertanyaan - pertanyaan itu memenuhi isi kepala Ken.
"Tidurlah, jangan melihatiku!" suara Alana tiba - tiba mengejutkan Ken. namun, kedua matanya masih terpejam.
"Sialan, kenapa dia bisa tau?" Ken menggerutu dalam hati.
"Siapa yang melihatimu? Sudah tidur sana!" seru Ken.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
maaf, ya. kan udah aku bilang aku sedang liburan jadi slow update. kemarin aja waktu liburan aku belain nulis di ponsel sampe pusing kepalaku.
dan aku baru sampai rumah jam 1 pagi tadi. kemarin sebenarnya mau update tapi belum aku revisi. jadi aku update hari ini.