My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Penuh drama



"Alana!" teriakan suara khas Ken yang penuh amarah, membuat Alana menoleh ke arahnya. Ia melihat suaminya itu sedang menatapnya dengan tatapan penuh amarah dan menakutkan.


"Ken..." Alana seketika berucap takut saat melihat suaminya itu. Di susul oleh David dan juga Ashley, Ashley segera membantu Lecya menjulurkan tangannya supaya wanita itu naik ke atas.


"Kalian keterlaluan!" teriakan Lecya memecah dan sangat jelas ditujukan  kepada Alana dan Jesslyn.


"Kau yang keterlaluan!" saut Jesslyn sambil melototkan kedua matanya.


"Ada apa ini?" tanya David kepada Laurrent.


"Kak David, Lecya menjatuhkan cincinnya ke dalam kolam," ucap Laurrent dengan sedikit takut akan calon tunangannya itu.


"Dan mereka juga mendorongku ke dalam kolam!" teriak Lecya, menegaskan jarinya kepada Jesslyn dan juga Alana.


"Aku tidak mendorongmu, kau jatuh sendiri!" saut Jesslyn. rasanya ia  ingin sekali menghampiri wanita yang tengah basah kuyup itu. Namun Ken seketika menarik kasar tangan adik perempuannya itu dan mengajaknya pergi dari sana, Alana pun mengikutinya dari belakang. Ken membawa adiknya itu ke tempat yang sepi jauh dari siapapun.


"Kau kenapa jadi seperti ini?" bentak Ken, menghentakan tangan adik perempuannya itu dengan kasar.


"Kakak... dia dulu yang--"


"Diam! Jangan berbicara sebelum Kakak menyuruhmu berbicara!" Jesslyn seketika diam dan menundukan kepalanya dengan takut.


"Apa kau tidak tau di sini banyak sekali tamu penting keluarga David? Kakak tidak habis pikir denganmu, kau datang hanya untuk mengacaukan acara seperti orang yang tidak berpendidikan saja!


Ken seketika melirik Alana dengan tatapan tajam dan berlalu pergi meninggalkan adik dan juga istrinya itu. Hingga membuat Jesslyn dan  Alana tak memiliki kesempatan untuk menjelaskannya.


 


 


 


*


 


 


Di kolam renang, Laurrent dan David masih meributkan cincin pertunangan mereka yang jatuh.


"Yang jatuh hanya cincin? lalu apa yang dipermasalahkan?" tanya David. Laurrent tak habis pikir akan jawaban laki-laki itu.


"Apa yang dipermasalahkan? Kak David, yang jatuh cincin tunangan kita."


"Aku tau, jika jatuh lantas mau diapakan?"


"Aku tidak mau tau, cincin itu harus diambil!"


David berdecak, ia terpaksa menyuruh beberapa pegawai rumahnya yang biasa membersihkan kolam renang untuk mencari cincin tersebut di malam hari seperti itu.


Ibu David dan Ibu Laurrent terlihat menghampiri mereka berdua dan menanyakan keributan yang terjadi di sana, setelah tau jika cincin pertunangan yang dibawa oleh Laurrent terjatuh di kolam, ia segera memarahi calon menantunya itu.


"Astaga Laurrent, kenapa kau begitu ceroboh! Lihatlah, semua acara jadi kacau seperti ini! kalau kau tadi tidak menunda waktu untuk bertukar cincin, semuanya tidak akan jadi seperti ini!" seru Ibu David.


"Bibi, kenapa Bibi menyalahkan Laurrent?"


"Laurrent, sudah! Ini memang salahmu! Kalau daritadi kau mendengarkan Ibu untuk tidak menunggu ayahmu melakukan tukar cincin, semuanya tidak akan seperti ini!" timpal Ibu Laurrent.


"Nona Laurrent... Nyonya besar..." Seorang laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan berteriak-teriak menghentikan perdebatan di antara mereka.


Ia tak lain ialah asistent pribadi Laurrent, dengan napas ngos-ngosan ia menghampiri kedua majikannya itu.


"Ada apa?" seru Laurrent.


"Tuan besar..."


"Kenapa? apa Ayah sudah datang?" tanya Laurrent.


"Tidak, Nona.... Tu-tuan besar."


"Bicaralah yang jelas, apa perlu aku menamparmu terlebih dulu?" bentak Laurrent.


"Nona, Nyonya... Saya baru mendapat kabar. Tuan besar ditangkap oleh polisi, sekarang Tuan berada di kantor polisi." Penuturan yang di sampaikan oleh asistent  itu sungguh mengejutkan Laurrent dan juga Ibunya.


"Ayah di tangkap oleh polisi?"


"Iya, Nona. Tuan besar dilaporkan oleh clientnya atas penipuan dan penggelapan dana."


"Ayah..." Laurrent  hendak berlalu pergi dari sana.  Namun Ibu David menarik lengan perempuan itu. Membuat langkah kakinya terhenti.


"Laurrent, kau mau ke mana?" tanya Ibu David.


"Ayahku ditangkap oleh polisi dan  Bibi masih bertanya aku mau pergi ke mana? lepaskan tanganku, Bi..." Laurrent menepis tangan Ibu David dan berlalu pergi dari sana.


"Nam, apa ini?" seru Ibu David kepada Ibu Laurrent.


"Sis, maaf, bagaimana kalau kita tunda besok  saja pertunangannya?"


"Kau berbicara dengan mudahnya? apa kau tidak tau, di dalam rumahku banyak sekali tamu  penting yang sedang menyempatkan waktunya hanya untuk menantikan acara ini! Kau mencoba mempermalukanku?"


"Sis tolong mengertilah, Ayah Laurrent sedang terkena masalah, kita bisa berbicara kepada semua tamu untuk menunda acaranya besok, mereka pasti bisa mengerti."


"Mungkin mereka bisa mengerti, tapi tidak denganku! Tidak ada penundaan acara, dan tidak ada acara pertunangan! Pergilah dari sini, dan jangan pernah menemui aku lagi." Ibu David yang sedang dipenuhi amarah segera berlalu pergi dari sana, Ia juga menyuruh David untuk mengikutinya, namun David tak bergeming akan posisinya.


"Sis... tunggu..." Ibu Laurrent hendak mengikuti teman baiknya itu, namun David melarangnya.


"Bibi, lebih baik Bibi pergi saja dari sini, Bibi tau bukan bagaimana jika Ibu sedang marah?"


"David, tolong bujuk ibumu, Nak. Bujuk dia supaya masih mau melanjutkan pertunanganmu dengan Laurrent, Bibi mohon..." pintanya sambil mengatupkan kedua tangan.


"Bibi jangan seperti ini." David memisahkan tangan Ibu Laurrent yang mengatup di hadapannya. "Bibi mengenal Ibu bukan hanya satu atau dua tahun, tapi bertahun-tahun. Ibu orang yang disiplin dan memliki kemauan keras, setiap ucapan yang keluar dari mulutnya harus sesuai dengan apa yang ia lakukan. Jadi David minta maaf, David juga harus membatalkan pertungan ini, Bi." David melepaskan tangan wanita parubaya itu dan berlalu pergi dari sana.


"Nak David..." panggilannya terasa sia-sia, tak membuat pemuda itu menghentikan langkah kakinya maupun hanya sekedar menoleh.


"Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini?"


"Laurrent... kenapa kau begitu bodoh!" umpat Ibu Laurrent seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Lecya dan Clara pun mengikutinya.


 


 


***


 


David terlihat sedang mencari Valerie, namun ia tak menemukan wanita itu di sana. Ia  meminta tolong kepada Ashley agar mau menemaninya untuk mengumumkan kepada para tamu undangan agar meninggalkan tempat acara, David berulang kali meminta maaf,  mereka semua pun bisa mengertikan dan membubarkan diri masing-masing dari rumah mewah miliknya itu.


Suasana rumah kini terlihat sepi , David kembali mencari Valerie, di dalam rumah maupun di kolam renang tempat terakhir dirinya melihat wanita itu, namun ia tetap tak menemukan Valerie di sana. Yang ia lihat di sana hanya ada Alana, Jesslyn, Ashley, Jasson dan juga Harry. David hendak bertanya tentang keberadaan Valerie kepada mereka, namun niatnya diurungkan tatkala seorang pegawai yang disuruh oleh David untuk mengambil cincin di dalam kolam tadi menghampirinya.


"Tuan muda, ini cincinnya sudah ketemu..." pegawai itu menyodorkan cincin berlian tersebut kepada David.


"Jangan bilang kepada Ibu kalau cincin ini ketemu, kau mengerti!" pegawai itu mengiyakannya, David menerima cincin itu dan menyuruh pergawainya pergi dari sana.


"David, apa acaranya benar-benar akan dibatalkan?" tanya Alana yang berjalan tiga langkah menghampirinya. David membenarkannya, seakan mendapatkan jackpot, senyuman Alana mengembang dengan penuh syukur. Entah kenapa dirinya bisa sebahagia itu saat mendengar David benar-benar akan membatalkan pertunangannya dengan mantan sahabatnya itu.


"Oh, iya, David. apa kau melihat Valerie?" tanya Alana.


"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama kepadamu, aku tidak melihatnya daritadi."


"Mungkin Valerie, pulang terlebih dulu," timpal Ashley.


"Aku rasa juga seperti itu," timpal Jesslyn.


David mengembuskan napasnya dengan kasar dan memperhatikan cincin yang ia pegang itu. "Bibi Nam adalah teman baik Ibu, aku takut ibu berbicara seperti itu hanya karna terbawa emosi saja, lebih baik aku hilangkan saja cincin ini, dan aku berharap pertunangan ini benar-benar dibatalkan," gumamnya.


"Kalian tunggu di sini sebentar, aku permisi ke belakang rumah dulu." David berlalu pergi dari sana, namun Alana mengikutinya.


"David tunggu..." Alana berjalan cepat mengejar sahabat suaminya tersebut.


"Ada apa Alana?" David menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arahnya.


"David, aku ingin berbicara denganmu sebentar," pinta Alana.


"Nanti saja ya, Alana. Aku masih ada keperluan sebentar," ucap David.


"David, ini tentang Valerie, kau perlu tau..."


"Valerie? ada apa dengan Valerie?"


"David, Valerie menyukaimu," ucapan Alana membuat David terdiam, lalu tersenyum.


"David, bukan itu. Maksudku, Valerie memiliki perasaan terhadapmu, apa kau tidak bisa melihat itu?" seru Alana. David kembali terdiam, masih setia ingin mendengar perkataan Alana selanjutnya.


"Dia benar-benar mencintaimu, David. Valerie wanita yang baik. Kau juga memiliki perasaan yang sama kan dengannya?" David masih tak bergeming, menatap Alana dengan tatapan bingung.


"David katakan, kau juga jatuh hati kepada Valerie, kan?" Alana menggoyang-goyangkan lengan David, berucap dengan nada yang memaksa, berharap mendapatkan jawaban, namun ia sama sekali tak mendapat jawaban atas pertanyaannya itu. David melihat ke arah Ken yang berjalan  menghampiri Ashley dan lainnya.


"Alana, kau sepertinya sangat lelah,  ini sudah malam, lebih baik pulanglah, itu Ken menunggumu." David mengajak Alana unuk kembali menghampiri Ken dan yang lainnya.


"Maaf, karna hari ini aku merepotkan dan menyita waktu kalian dengan acara yang penuh drama ini," ucap David.


"Tidak ada yang merasa direpotkan, justru aku yang harus meminta maaf, karna Jesslyn dan Alana sudah membuat kekacauan di sini  hingga pertunanganmu batal," tutur Ken, melirik dan menatap tajam ke arah Alana yang sedang menunduk.


"Kau ini bicara apa, Ken? sama sekali  tidak ada yang mengacaukan acara ini, acara ini batal karna ada alasan pribadi," tutur David.


"Ini sudah malam lebih baik ajaklah Alana dan Jesslyn pulang..." imbuh David.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi pulang," pamit Ken.


"Iya, Ken. Terimakasih banyak." David menepuk bahu Ken.


Ken melirik ke arah Alana yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu, lantaran Ken benar-benar marah dan tidak mau mengajaknya berbicara. "Jasson, tolong antarkan Alana pulang ke rumah!" perintahnya.


"Kak, kenapa tidak pulang bersamamu saja?" tanya Jasson.


"Kakak ada perlu."


"Ken..." Alana menarik tangan suaminya yang hendak berlalu pergi dari sana.


"Pulanglah bersama Jasson." Ken menepis pelan tangan Alana dan berlalu pergi dari sana. Alana mematung, kedua matanya berkaca-kaca menatap punggung suaminya yang berjalan semakin menjauh dari jangkauan matanya.


 


 


***


 


 


Kini Alana berada di dalam mobil bersama kedua adik iparnya dan juga Harry, sementara Ashley, laki-laki itu memencar dan kembali ke apartementnya.


Alana sedari tadi begitu sedih memikirkan Ken yang ia rasa sedang marah besar terhadapnya. Jesslyn pun juga tak henti mencoba menenangkan dan membujuk kakak iparnya itu, namun tetap saja membuat Alana tak tenang.


Setibanya di rumah.  Jasson menghentikan mobil yang ia kendarai di depan rumah Kakaknya itu, ia begitu heran saat melihat mobil Ken terparkir di halaman rumah.


"Mobil Kakak, katanya dia ada perlu, kenapa sudah pulang terlebih dulu?" ujar Jasson.


Alana semakin sedih saat melihat mobil suaminya itu. "Ken benar-benar marah kepadaku," gumam Alana, ingin sekali rasanya menangis namun tak mau adik iparnya itu melihatnya.


"Alana, ayo malam ini aku akan tidur di sini menemanimu, biar Kakak tidak memarahimu," ucap Jesslyn.


"Kau benar mau menginap di rumah?" tanya Alana. Jesslyn mengiyakannya. Mereka berdua pun turun dari mobil dan berpamitan kepada Jasson dan juga Harry. Saat di rasa Kakak ipar dan juga saudara kembarnya masuk ke dalam rumah, Harry segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


 


 


 


 


***


 


 


 


 


Jesslyn berpamitan kepada Alana untuk masuk ke kamar tamu. Sementara Alana sendiri masuk ke dalam kamarnya. Saat Alana masuk ke dalam kamar,  ia berpapasan dengan Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengusap wajahnya yang basah dengan sebuah handuk di tangannya dan melemparkan handuk itu ke sembarang tempat.


"Ken..." Alana menyapanya dengan suara sedih, namun Ken tak menghiraukannya, ia justeru malah melewati Alana dan  merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Segelas susu coklat yang masih belum tersentuh, terlihat di atas meja samping tempat tidur, yang Alana yakini bahwa Ken telah membuatkan susu itu untuknya.


"Ken, kau marah kepadaku?" Alana melontarkan pertanyaannya saat dirinya berdiri di samping tempat tidur, namun Ken sama sekali tak meresponnya dan malah memejamkan kedua matanya. Hati Alana merasa sakit saat melihat suaminya mendiamkannya seperti itu.  Merasa tak ada jawaban, Alana berlalu  masuk ke dalam kamar mandi, sedikit membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian pesta miliknya dengan piyama yang baru saja ia ambil dari dalam lemari.


Alana segera meminum susu yang telah dibuatkan oleh Ken untuknya. Sedikit merasa sesak, ia menghabiskan susu itu sambil memandang ke arah Ken hingga kedua sudut matanya terlihat basah.


Setelah itu, ia merangkak naik ke atas tempat tidur.  Kedua matanya memperhatikan suaminya yang saat ini tidur dengan posisi membelakanginya, Alana tau Ken sedang berpura-pura tidur.


"Ken kau sudah tidur..." Alana memegang bahu suaminya, tak mendapat respon sama sekali. Ken malah mencoba menghindari tangan istrinya itu.


"Ken maafkan aku, aku benar-benar tidak bermaksud membuat kekacauan di sana," ucapnya yang sudah tak kuat menahan tangis, hingga air matanya kini ikut berbicara akan rasa sakit karna didiamkan oleh suaminya tersebut.


 


"Ken tolong  jangan mendiamkanku seperti ini..." Alana masih menggoyang-goyangkan bahu suaminya tersebut. Namun Ken masih saja tak bergeming. Alana menyerah, ia mengusap wajahnya yang basah akan derasan air mata yang masih mengalir. Alana hendak merebahkan tubuhnya, namun suara ketukan pintu mengurungkan niatnya. Ia turun dari tempat tidur dan membukakan pintu kamar itu. Terlihat Jesslyn berdiri di sana.


"Alana, aku pinjam piyamamu..." pinta Jesslyn.


"Iya sebentar."


"Alana kenapa kau menangis?" tanya Jesslyn, menarik tangan Alana dan memperhatikan kedua mata Kakak iparnya yang sembab.


"Tidak, aku tidak menangis," bantah Alana. Jesslyn yang merasa kesal, tiba-tiba menyelonong masuk lalu menarik tangan Kakaknya hingga ia terbangun dan beranjak duduk.


"Apa kau tidak punya sopan santun?" tegur Ken.


"Kakak pasti habis memarahi Alana, iya Kan?"


"Jesslyn, Kakakmu tidak memarahiku. Ayo kembali ke kamarmu," Alana mencoba menarik tangan Jesslyn mengajaknya pergi dari sana.


"Lepaskan aku, Alana!" Jesslyn menepis tangan Alana dan melanjutkan niatnya untuk berbicara.


"Kak, Alana tidak salah! Jesslyn yang salah karna Jesslyn telah membuat kekacauan di acara pertuanangan Kak David. Tapi apa Jesslyn harus diam saja jika melihat kakak iparku hampir dicelakai oleh orang lain?" tutur Jesslyn.


"Keluarlah dari sini!" perintah Ken, berucap pelan namun mengandung emosi.


"Jesslyn, ayo keluarlah." Alana mencoba menarik paksa tangan adiknya, namun sama sekali tak memindahkannya.


"Alana, biarkan aku bebricara dengan Kakakku!" seru Jesslyn.


"Kakak tidak tau kan, mereka semua itu jahat! Dulu mereka semua pernah mengerjai Alana. Hanya karna Alana ingin meminjam uang kepada mereka, mereka semua  menyuruh Alana mencari cincin tunangan Lecya di dalam kolam renang saat malam hari. Alana berenang berjam-jam dan mencari cincin itu tetapi tidak menemukannya  karna cincinnya tidak jatuh di kolam renang, tapi sengaja disembunyikan oleh mereka!"


Ken mengalihkan pandangannya, melihat ke arah Alana yang menunduk sambil mengusap air matanya yang jatuh secara bergantian.


"Mereka itu jahat, itu sebabnya Alana tidak mau Kak David bertunangan dengan Laurrent!" imbuhnya.


"Maaf jika Jesslyn berbicara tidak sopan kepada Kakak, tapi Jesslyn sangat menyayangi Alana seperti Jesslyn menyayangi Kakak dan juga Jasson. Jesslyn tidak akan membiarkan siapapun mencelakai atau melukai Alana, bahkan Kakak sekalipun! Jesslyn yang terlebih dulu mengenal Alana sebelum Kakak, jadi jangan pernah Kakak berani memarahinya!" tegas Jesslyn.


"Alana, ayo tidurlah bersamaku saja," ajak Jesslyn.


"Maaf Jesslyn, aku tidak bisa," ucap Alana pelan, suara isakannya masih terdengar.


"Jesslyn kau sudah berbicara tidak sopan, ayo minta maaf lagi kepada Kakakmu!" bisik Alana dengan penuh paksaan.


"Aku kan tadi sudah meminta maaf, kau tidak dengar?" bisik Jesslyn.


"Sudahlah, Alana.  Ayo tidur bersamaku saja..." Jesslyn menarik paksa tangan kakak iparnya itu.


"Kau berani keluar dari sini, tidak usah kembali lagi!" suara ancaman itu terlontar dari mulut  Ken tanpa memandang ke arah Alana.


Alana seketika takut dan mencoba membuat adik iparnya itu mengerti. Alana mengambilkan piyama miliknya dan meminjamkannya kepada Jesslyn, ia segera menyuruh adik iparnya itu untuk kembali ke kamar.


Jesslyn pun terpaksa meninggalkan kamar kakaknya itu meskipun sebenarnya dirinya enggan meninggalkan Alana.


Saat dirasa Jesslyn sudah kembali ke kamarnya, Alana menutup pintu kamar, ia berjalan menunduk tak berani menatap suaminya yang masih tak berpindah posisi.  Alana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menarik selimut untuk menutupi sekujur tubuhnya, bersembunyi dibalik gelapnya selimut tersebut. Kedua matanya terpejam dan   membiarkan sisa-sisa air mata masih menggenangi wajahnya. Isakan tangis masih terdengar jarang dan pelan. Sebuah  cahaya menyelinap masuk saat selimut yang membalut tubuhnya sedikit tersingkap sebagian, menampakan wajahnya yang basah, tubuhnya yang semula begitu dingin, kini menjadi hangat tatkala merasa tubuh yang tak asing itu mendekapnya secara tiba-tiba, ciuman di pelipisnya membuat kedua mata Alana yang hampir menyipit terbuka sempurna.


"Maafkan aku..."


"Ken...  aku yang minta maaf...." ucap Alana, melihat Ken yang mau berbicara dengannya bukannya malah  senang Alana malah semakin menangis terisak-isak.


"Maafkan aku, Ken..." mengubah posisi tidurnya dan membalas pelukan suaminya.


"Lupakan saja, aku tadi terbawa emosi. Jangan menangis lagi, ayo kita tidur." Suara Ken terdengar melunak, ia mengusap wajah Alana dengan kedua ibu jarinya, meninggalkan beberapa ciuman di wajah Alana dan segera mengajaknya untuk tidur.