My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Sengaja ingin dihukum



Ken baru saja terlihat kembali pulang ke rumah, disambut oleh Alana yang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Membalas balik pelukan itu dan mengajak istrinya tersebut untuk masuk ke dalam kamar.


Ken masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya yang lengket dipenuhi akan keringat karna seharian bekerja. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian rumah yang sudah disiapkan oleh Alana.


Ia melihat istrinya itu duduk manis di atas tempat tidur sambil memegang permainan UNO STACKO di tangannya.


"Ayo bermain."  Alana menagih janjinya untuk mengajak suaminya tersebut bermain.


"Bermain?" Ken mengernyit mengulangi perkataan Alana.


"Iya, bermain. Kau kan tadi sudah berjanji setelah pulang bekerja akan bermain denganku."


"Astaga, aku benar-benar melupakannya," gumam Ken.


"Harus bermain sekarang?" Ken berjalan mendekat dan merangkak ke atas tempat tidur.


"Iya, harus! aku ingin sekali bermain UNO bersamamu."


"Apa tidak ada permainan lain?" tanya Ken dengan malas.


"Tidak ada, kalau bermain ular tangga sangat membosankan, jadi aku ingin bermain UNO, nanti  jika kalah wajahnya harus dicoret menggunakan spidol ini," kata Alana dengan penuh semangat menunjukan spidol yang ia pegang. Ken sebenarnya begitu enggan bermain permainan balok itu, namun bagaimana lagi. Ia benar-benar tidak bisa menolak permintaan wanita yang sangat ia cintai tersebut.


Dengan begitu penuh semangat,  Alana mengeluarkan permainan balok itu dari tempatnya dan segera menyusunnya dengan rapi di atas tatakan papan yang sudah ia siapkan.


Permainan pun dimulai, Alana dan Ken bergantian mengambil dan menyusun balok-balok tersebut.  Ken bermain dengan setengah hati dan asal-asalan, hingga membuat dirinya selalu kalah dan meruntuhkan balok-balok itu.


Saat melihat suaminya kalah, Alana tak henti tertawa dengan puasnya, ia  mencoret-coret wajah suaminya itu dengan gemas menggunakan spidol yang sudah ia siapkan.


Namun kekalahan yang dirasakan oleh Ken membuat dirinya begitu kesal dan ingin sekali melihat istrinya tersebut juga kalah. Coretan spidol sudah memenuhi sebagian wajah laki-laki itu, hingga membuatnya bersemangat ingin mengalahkan Alana.


"Kenapa kau dari tadi sama sekali belum kalah?" seru Ken.


"Karna kau tidak pandai." Alana terkekeh. Ia berhati-hati  mengambil salah satu balok dari bagian  tengah, ia hendak memindahkan balok itu di susunan paling atas, namun saat Alana meletakan balok itu, semua balok yang tersusun itu seketika runtuh karenanya. Membuat Ken yang sedang  menyaksikan kekalahan pertama istrinya begitu heboh.


"Lihatlah! Kau kalah... kau kalah!" Ken berteriak dengan begitu hebohnya, ini ialah hal menyenangkan yang sedari tadi ia nanti-nantikan.


"Menyebalkan!" umpat Alana.


Ken dengan penuh semangat mengambil alih spidol yang dipegang oleh Alana. "Saatnya balas dendam. Aku akan mencoret wajahmu!" Ken tertawa jahat. Ia hendak mencoret wajah istrinya itu, namun tangannya tertahan saat menatap wajah Alana yang terlihat memelas, membuat dirinya begitu tak tega menodai wajah cantik istrinya dengan menggunakan spidol tersebut.


"Wajahnya selalu saja menyebalkan seperti itu!" gumam Ken seraya menjauhkan spidol itu dari wajah Alana.


"Ayo coret!" perintah Alana.


"Apa hukumannya tidak bisa di ganti?" tanya Ken.


"Bisa... terserah kau saja ingin menghukumku dengan cara apa, asal jangan menghukumku untuk menggantikan Bi Ester saja, kasian anakmu," saut Alana dengan terkekeh.


"Mana mungkin aku mengukummu hal berat seperti itu!" saut Ken.


"Baiklah!" Ken meletakan spidol yang ia pegang dan tiba-tiba memberi beberapa ciuman di wajah Alana, membuat wanita itu sedikit terkejut.


"Sudah, ayo kita  lanjutkan lagi permainannya," ajak Ken.


"Kau kan belum menghukumku?"


"Sudah!"


"Mana hukumannya? kau belum mencoret wajahku!" protes Alana seraya memegang wajahnya yang sama sekali belum terkena noda spidol  itu.


"Coretannya aku ganti dengan ciuman, sudah ayo lanjutkan lagi permainannya dan jangan banyak bicara!"


"Hukumannya ciuman?" tanya Alana bersemangat. Ken mengiyakannya.


Alana yang baru saja kalah, dengan penuh semangat menyusun balok-balok itu dan melanjutkan kembali permainannya.


Baru tiga putaran permainan, Alana meruntuhkan kembali balok-balok itu.


"Yah, aku kalah." Alana memelaskan wajahnya sambil melirik ke arah Ken. Ken masih mengganti hukuman itu dengan sebuah ciuman yang ia daratkan di beberapa bagian wajah istrinya. Lalu, mereka melanjutkan kembali permainan tersebut. Berulang kali Alana kalah dan memang sengaja ingin kalah, berharap Ken memberikan hukuman yang sama kepadanya.


"Sayang, aku kalah lagi..." Alana mengerucutkan bibirnya.


Ken tersenyum sambil menggelengkankepalanya.  Menarik tubuh Alana,  merebahkannya secara paksa namun hati-hati.


"Kau sepertinya memang sengaja meruntuhkan balok-baloknya supaya kau kalah!"  bisikan yang Ken lontarkan di telinga Alana membuatnya begitu geli.


Bukannya menjawab, Alana malah tertawa, lalu mengiyakannya, mendengar gelak tawa istrinya, Ken rasanya juga ingin tertawa, namun ia menahannya.


Tangan Ken seketika tak terkondisikan, ia  seakan hafal bagaimana cara melucuti baju istrinya dengan benar  hingga menjadikan wanita yang sangat menggemaskan baginya itu menjadi santapan sorenya.


***


Malam harinya, setelah makan malam. Ken dan Alana kembali ke kamar untuk beristirahat. Ken yang begitu lelah segera memejamkan kedua matanya. Namun tidak dengan Alana, yang bingung dengan dirinya sendiri, membolak-balikan tubuhnya yang ia rasa semakin hari semakin berat. ke sana dan kemari namun tak menemukan posisi tidur yang nyaman. Kini posisi tidurnya menghadap ke arah Ken, memandangi suaminya yang nampak tertidur itu.


"Ken, kau  sudah tidur?" Alana melingkarkan tangannya di tubuh Ken, namun bibir Ken tak bergeming untuk menyautinya.


"Ken..." merasa kesal, Alana menarik bulu hidung suaminya itu, membuatnya terkejut.


"Alana, sakit!" Ken seketika terbangun.


"Aku tau kau berpura-pura tidur!" Alana mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Ada apa?" tanya Ken seraya mengusap-usap hidungnya.


"Aku tidak bisa tidur," Alana berucap dengan  manja.


"Pejamkan kedua matamu nanti kau juga akan tertidur!" Ken mengusap paksa kedua mata Alana, meletakan wajahnya di bawah ketiaknya, membuat wanita itu hampir susah bernapas.


"Aku tidak mau!" Alana meronta mencoba melepaskan pelukan suaminya itu.


"Lalu kau mau apa?" tanya Ken.


"Ayo kita jalan-jalan sambil mencari makan," ajak Alana.


"Kan kita baru saja makan malam, sayang!"


"Kalau nanti kita jalan-jalan pasti akan lapar lagi, ayo..." Alana beranjak duduk, menarik tangan suaminya. Namun, Ken masih tak bergeming dari posisinya, ia begitu enggan meninggalkan tempat tidur yang saat ini dibutuhkan oleh tubuhnya yang lelah.


"Ken..." Alana menarik tangan Ken, memelaskan wajahnya, membuat Ken begitu tak tega akan ajakan  istrinya tersebut.


"Baiklah, ayo..." Mendengar ajakan suaminya, Alana begitu kegirangan. Ken segera bersiap-siap menuruti keinginan istrinya yang mengajaknya untuk pergi berjalan-jalan.


***


Di tempat lain.


David dan Ahsley  terlihat sedang berada di sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan pokok. Namun suara seorang perempuan yang  tak asing terdengar memanggilnya dari kejauhan, membuat mereka berdua menoleh secara bersamaan. Terlihat seorang wanita yang tak lain ialaha Valerie sedang berjalan menuju ke arah mereka sambil membawa keranjang belanjaan di tangannya.


"Valerie?" sapa Ashley.


"Kalian berbelanja?" tanya Valerie.


"Iya, semua makanan dirumah habis, makanya kami berbelanja. Kau sendiri?" tanya David.


"Iya, aku juga berbelanja. Karna besok pagi aku harus memasak banyak makanan," jawab Valerie.


"Oh..." David membulatkan mulutnya tanpa memberi imbuhan pertanyaan atau sekedar basa-basi.


"Valerie, kau naik apa kemari?" tanya Ashley.


"Aku tadi berjalan kaki, tapi nanti pulangnya aku akan naik taxi."


"Besok kan hari libur, bagaimana kalau setelah  ini kita minum kopi bersama, kebetulan sepulang dari berbelanja aku dan David akan pergi ke cafe, nanti kami akan mengantarkanmu pulang," ajak Ashley. Valerie terdiam mengalihkan pandangannya kepada David, ia begitu sungkan terhadap David.


"David, boleh kan aku mengajak Valerie untuk minum kopi bersama?" tanya Ashley sambil menyenggol lengan sahabatnya tersebut.


"Hem..." David menganggukan kepalanya, seraya menatap Valerie.


"Baiklah, aku mau ikut minum kopi bersama kalian." Valerie tersenyum dan mengiyakan ajakan itu. Mereka kembali melanjutkan berbelanja bersama sebelum meninggalkan supermarket itu.


***


Ken dan Alana berada di dalam mobil, sedari tadi, Alana meminta suaminya itu untuk berkeliling sepanjang jalanan tanpa memiliki tujuan yang jelas, membuat Ken kesal, namun tak bisa menolak permintaan suaminya.


"Ken aku haus..." Alana menelan salivanya yang hampir mengering di tenggorokan.


"Di depan ada supermarket, aku akan membelikanm minum untukmu," ujar Ken. Alana mengiyakannya. jarak sepuluh meter, Ken menghentikan mobilnya tepat di depan supermarket, mencari space kosong untuk memarkirkan mobilnya tersebut.


"Apa aku boleh ikut masuk ke dalam?" tanya Alana.


"Tidak boleh, tunggu aku di sini. Dan jangan pergi ke mana-mana sebelum aku kembali, kau mengerti?" tutur Ken. Alana mengiyakannya. Ken turun dari mobil dan segera masuk ke dalam supermarket tersebut.


Saat Alana sedang menunggu suaminya membeli minum, kedua mata Alana tak sengaja melihat David, Ashley dan Valerie baru saja keluar dari supermarket yang sama, ia masih mengamatinya, barangkali saja mantanya salah melihat, Namun rasanya tidak.


"Benar, itu David, Ashley dan juga Valerie." Alana cepat-cepat turun dari mobil, berjalan dan meneriaki nama mereka, hingga menghentikan langkah kaki mereka bertiga.


"Alana?"


"Astaga, kebetulan sekali bertemu kalian di sini!" ujar Alana dengan napas ngos-ngosan akibat berjalan dengan terburu-buru.


"Kau di sini juga, Alana? lama sekali kita tidak bertemu," sapa Valerie.


"Iya, lama sekali kita tidak bertemu." Valerie dan Alana saling memeluk satu sama lain.


"Kau sedang hamil?" Valerie memperhatikan perut buncit wanita yang ada di hadapannya saat ini. Alana mengiyakannya sembari melebarkan senyumnya.


"Selamat untukmu, semoga kau dan bayimu sehat selalu," ucap Valerie seraya mengusap perut Alana.


"Terimakasih banyak, Valerie."


"Oh, iya... kenapa kalian bisa bersamaan?" tanya Alana.


"Iya, Alana, tadi kita sedang berbelanja dan  tidak sengaja bertemu di dalam supermarket," jawab David.


"Oh..." Alana mengangguk-anggukan kepalanya.


"Di mana Ken?" tanya David.


"Dia ada di dalam sedang membelikanku minum." Alana mengalihkan pandangannya ke arah pintu supermarket.


"Itu Ken sudah kembali." Kedua mata Alana tak sengaja menangkap suaminya yang baru saja keluar dari supermarket itu sambil membawa kantung plastik yang berisi minuman. Ia tak segan berteriak memanggil dan melambaikan tangan ke arah suaminya, Ken mengiyakannya dari kejauhan dan berjalan menuju ke arah mereka semua.


Ashley sedaritadi tak henti memperhatikan Alana dengan tatapan tak biasa, dan saat Alana memergokinya, ia malah tersenyum.


"Kenapa kau melihatiku seperti itu?" tegur Alana.


"Tidak apa-apa! Kita tidak bertemu beberapa minggu, dan kau terlihat semakin gemuk saja," ucapan Ashley seketika membuat hati Alana menjadi jengkel.


"Gemuk?" Alana mengernyitkan dahinya dengan kesal.


"Iya gemuk, pasti bayimu sangat sehat," jawab Ashley sambil melebarkan senyumnya.


Alana hendak menyauti perkataan Ashley, namun perhatiannya teralihkan oleh Ken yang  baru saja menghentikan langkah kakinya dan berdiri di antara istri dan juga sahabatnya tersebut. "Kalian ternyata juga ada di sini?"


"Iya, kami tadi berbelanja dan tidak sengaja bertemu Valerie yang juga berbelanja di sini, dan ternyata bertemu kalian juga," jawab  David.


"Oh, kebetulan sekali..." Ken mengalihkan pandangannya, melihat raut wajah istrinya yang tiba-tiba ditekuk.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Ken.


"Ken, apa aku gemuk?" tanya Alana dengan kesal.


"Tidak, kau tidak gemuk." Ken menggelengkan kepalanya, ia begitu bingung, kenapa istrinya  tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Tapi kata Ashley aku gemuk! Katakan yang sejujurnya, aku gemuk atau tidak?" seru Alana semakin kesal.


"Ashley... ingin sekali ku tambal mulutnya!" Ken mengumpat dalam hati sambil melirik tajam ke arah Ashley.


"Iya, Ken. Alana sekarang menjadi gemuk. Lihatlah, dia terlihat sangat lucu sekali!" Ashley tertawa seakan tak memiliki dosa. Membuat Ken seketika melototkan kedua matanya kepada sahabatnya itu, begitu pula dengan David yang tiba-tiba menginjak keras kaki Ashley, membuat laki-laki itu menjerit dan kebingungan akan letak kesalahannya.


"Mau kupenggal kepalamu!" Ken masih  melototkan kedua matanya kepada Ashley.


"Apa salahku?"