
Suara ponsel milik Ken mengeluarkan suara nada dering yang panjang. bahkan, getaran yang tercipta dari ponsel itu mampu menggerakan benda seluler itu dari tempatnya. tangan Ken segera merabah meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya dan segera mengambil ponsel miliknya itu.
Alana yang baru saja memejamkan kedua matanya, ikut terbangun karna nya.
"Papa..." kedua mata Ken menyipit memperhatikan nama yang tertera di layar ponsel miliknya.
"Hallo, iya, Pa?"
"Maaf Papa mengganggu malam-malam, apa Kau sudah tidur Nak?" suara Gio bertanya dari balik ponsel itu.
"Ini mau tidur, Pa. ada apa, Pa?" tanya Ken.
"Besok ada client Papa dari Jepang yang mendadak ingin bertemu dan bertanya tentang perusahaan kita. dia client penting, Nak. apa kamu bisa pergi menemuinya, Nak?" tanya Papa Gio. Ken melirik ke arah Alana yang sedang memperhatikannya. rasanya, ia ingin menolak perintah Papanya itu. tapi--.
"Ken, kau bisa mendengar suara Papa?"
"Ehm, iya, Pa," saut Ken.
"Bagaimana, Nak? apa kau bisa? kau bisa meminta tolong David atau Ashley untuk menemanimu, hanya satu hari saja! Papa minta tolong kepadamu," pinta Gio. Ken menghela napasnya.
"Baiklah, Pa. besok Ken akan pergi," saut Ken.
"Baiklah, Nak. nanti Papa akan mengirimkan alamat hotelnya melalui pesan singkat. ya sudah, istirahatlah kembali." Ken dan Gio segera mengakhiri panggilan telepon tersebut. tak lama kemudian, Ken menerima satu pesan singkat dari Papa Gio yang isi di dalam pesan singkat itu, alamat di mana dirinya akan menemui client Papanya tersebut.
King roulade bussines hotel, temui Tuan Rikuto dan Tuan Shinici dia menginap di kamar kamar president suite room 910. Papa sudah memberi tau Tuan Rikuto bahwa kamu yang akan menemuinya besok, terimakasih, ya, Nak. ~ Papa Gio.
"King Roulade bussines hotel? bukannya ini hotel milik Neneknya Valerie?" gumam Ken dalam hati
"Jauh sekali." Ken berdecak. tanpa membalas pesan singkat Papa Gio, ia segera mengembalikan ponsel miliknya di tempatnya semula. ia melirik ke arah Alana yang tak lepas memandanginya.
"Kau mau pergi ke mana?" tanya Alana.
"Ke luar kota, aku harus menemui client penting Papa yang datang dari jepang," jawab Ken.
"Ke luar kota?" Alana mengulaing perkataan Ken.
Ken mengangguk, "Hanya satu hari saja," jawabnya dengan sedikit berat.
"Aku ikut." suara Alana terdengar manja dan penuh harap.
"Aku bekerja bukan liburan, sayang! kita liburan besok lusa saja bersama David dan lainnya," ujar Ken. Alana hanya diam dan menatap Ken dengan kedua mata sayunya.
"Tapi, aku ingin ikut." Ken sejenak diam, ia menyentuh wajah Alana dengan punggung telapak tangannya.
"Hanya sehari, lalu aku pulang. kalau pertemuannya cepat, aku akan segera kembali hari itu juga," ujar Ken.
"Kau janji?" tanya Alana sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"Iya! ayo sudah tidurlah!" Ken menurunkan jari Alana dan memeluknya dengan erat.
"Kau tidak berjanji!" mulut Alana menggerutu.
"Iya janji! sungguh cerewet sekali kau ini!" seru Ken. Alana hanya terkekeh dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ken yang telanjang itu. ia berkali-kali menghidup aroma khas tubuh suaminya tersebut hingga terlelap tidur dengan sendirinya
***
Ken terlihat sedang sibuk mengenakan sepatu fantovel hitam miliknya. Ia menghentikan aktivitasnya saat melihat Alana baru saja keluar dari kamar mandi dan saat ini berdiri di depan cermin. tangannya bergerak mengambil sisir dan segera menyisir rambut panjangnya yang sedikit berantakan. kedua matanya melirik ke arah cermin yang memantulkan wajah Ken yang terlihat sedang memperhatikannya.
"Ada apa?" tegur Alana. Ken tersenyum, ia beranjak berdiri dan segera melingkarkan tangannya di perut Alana. membuat dengan jelas pemandangan mesra mereka di depan cermin besar yang kini ada di hadapannya.
"Hmm... " Alana meletakan sisirnya dan memegang kedua tangan suaminya yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Cepat berangkatlah, nanti terlambat!" tutur Alana.
"Sepertinya kau senang sekali jika aku tinggal ke luar kota!" raut wajah kesalnya terlihat jelas dari pantulan cermin itu.
"Bukan seperti itu sayang! aku takut jika kau terlambat saja." Alana mendongakan wajahnya ke atas, memudahkan bibir Ken untuk menyentuh keningnya. Ken membalikan tubuh Alana hingga kini berhadapan dan bertatap jelas dengan dirinya.
"Rasanya aku sangat malas sekali pergi ke luar kota." Ken mendengus kecil menampakan raut wajahnya yang muram.
"Kenapa?" tanya Alana. Ia memiringkan kepalanya penasaran menunggu akan jawaban suaminya.
"Entahlah..." Ken mengangkat kedua bahunya.
"Kau janji, kan, akan pulang nanti malam?" tanya Alana kembali memastikan. Ken meletakan kedua tangannya di kedua pipi Alana dan memandanginya dengan begitu seksama.
"Kalau urusanku hari ini selesai, aku akan segera pulang," ujar Ken.
"Kalau tidak selesai?" tanya Alana. kedua matanya yang menatap Ken membuat Ken enggan tak ingin pergi meninggalkannya. ia tau sekali, dirinya tidak mungkin pulang hari itu juga. setidaknya, ia harus menginap di hotel di mana tempat dirinya bertemu dengan client Papa Gio. terlebih lagi, itu hotel milik keluarga Valerie.
"Kenapa hanya diam?" tanya Alana. dahinya tiba-tiba mengerut.
"Kalau tidak selesai, aku terpaksa harus menginap." Ken menggerakan telapak tangannya dengan lembut di kedua pipi Alana. Alana mengerucutkan bibirnya dengan kesal membuat Ken begitu gemas saat melihatnya.
"Jangan cemberut seperti itu, wajahmu sungguh menyebalkan!" seru Ken.
"Jangan lama-lama," pinta Alana.
"Iya..." Ken tersenyum. kemudian, ia mencium kening Alana. lalu, ciuman itu berpindah alih ke bibir Alana dan memberi gigitan kecil pada bibir tipis itu. tangannya tak bisa terkendalikan, saat ia menawan tubuh Alana dalam pelukannya.
"Ken!" panggilan Alana membuat Ken sejenak menghentikan tangannya yang mulai meraba ke mana-mana. Ken masih terdiam menunggu apa yang ingin Alana katakan.
"Kau harus pergi!" tutur Alana.
"Sebentar saja," pinta Ken. ia hendak mencium bibir Alana kembali
Tok
Tok
Tok
"Tuan muda, ada Tuan David di depan." suara ketukan di iringi dengan suara Bi Molley yang memanggil Ken dari balik pintu kamar yang masih tertutup rapat itu mengurungkan niat Ken.
"Shit..." Ken berdecak kesal. Andai saja tidak ingat jika dirinya harus pergi ke luar kota untuk menemui Client penting. mungkin Ken akan kembali mencummbu habis istrinya itu, terlebih lagi suasana pagi yang di selimuti langit gelap begitu mendukungnya. membuat Ken seakan tak mau meninggalkan Alana dari sana.