My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Merasakan kesedihan



Ken dan Daven berusaha menenangkan Alana. Namun, Alana masih tak mempercayai akan kepergian ayahnya yang ia rasa begitu  tiba-tiba. Brianna sendiri juga masih tak mempercayainya, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia tak menginginkan ini semua, sama sekali tak terbesit di pikirannya hingga tak menyadari bahwa kata-kata yang ia lontarkan merenggut nyawa suaminya.


Brianna melangkahkan kakinya yang gemetar dan mendekati putrinya yang masih menangis tersebut.


"Alana..." Tangannya mengusap bahu Alana hingga membuatnya menoleh dan menatap ibunya itu dengan wajah yang masih penuh air mata. Bahkan kedua matanya terlihat mengecil dan hampir tak terlihat akan cairan yang masih menggenang di matanya.


"Apa yang Mami bicarakan dengan Daddy tadi hingga Daddy anfal?" tanya Alana, suaranya terdengar hampir menghilang. Namun  Brianna hanya diam dan menangis, ia begitu bingung menjawab pertanyaan putrinya.


"Katakan kepada Alana, apa yang Mami katakan?" Alana memegang kedua bahu Maminya dan menggoyang-goyangkannya dengan begitu kasar.


"Bangunkan Daddyku! Bangunkan Daddy! bangunkan dia seperti semula!" Alana berteriak sekeras mungkin  hingga ia tak bisa mengendalikan dirinya. Ken menarik tubuh Alana dan mencoba menenangkannya.


"Alana... tolong jangan seperti ini," tutur Ken.


"Aku tidak mau Ken, tolong bangunkan Daddy, tolong..." Alana mengatupkan kedua tangannya.


"Sayang, jangan seperti ini..." Ken begitu tak kuasa melihat istrinya menangis seperti itu, ia memeluk Alana dengan begitu erat hingga air mata Alana semakin menderas dan membasahi kemeja yang suaminya kenakan waktu  itu.


"Mami, Maaf. Lebih baik Mami pergi dari sini!" Daven menggiring tubuh ibunya tersebut untuk keluar dari ruangan itu.


"Daven, Mami tidak melakukan apapun..." tangan Brinna  menyentuh lengan Daven dan  berharap percaya dengan apa yang ia katakan. Namun Daven menepisnya begitu saja.


"Apa yang bisa Daven percaya? Tolong Mami pergi dari sini!" perintah Daven.


Brianna memejamkan kedua matanya. " Baiklah, Mami akan pergi." Brianna mengusap bahu Daven dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit. Ia berjalan keluar dari rumah sakit dengan air mata yang jatuh dengan jarang.


"Kenapa jadi seperti ini? aku benar-benar tak bermaksud membuat Holmes meninggal," tubuhnya tak henti gemetar. Tak lama kemudian, sebuah mobil yang tak lain mobil milik Caleey menghadang di depannya. Brianna mengusap air matanya dan segera masuk ke dalam mobil itu.


"Kenapa Bibi lama sekali?' tanya Caleey. Namun Brianna hanya diam saja. Caleey memperhatikan wajah bibinya tersebut yang terlihat begit sembab.


"Kenapa lagi Bibi menangis?" tanya Caleey.


"Caleey, Pamanmu..." air mata Brianna kembali terurai.


"Kenapa Paman, Bi?" tanya Caleey.


"Pamanmu meninggal," ucap Brianna, ia tak percaya bahwa bibirnya berucap seperti itu.


"Paman meninggal?" Caleey begitu terkesiap mendengar apa yang telah Bibinya katakan. Brianna pun membenarkannya.


"Paman meninggal kenapa, Bi?" tanya Caleey.


"Tadi Bibi berbicara tentang alasan kenapa Alana menikah dengan suaminya,  Pamanmu tidak percaya dan tiba-tiba Anfal, dan dokter tidak bisa menyelamatkan nyawanya." Brianna memejamkan kedua matanya dengan penuh penyesalan.


"Astaga, Bibi... Bibi kan tau Paman sedang sakit, kenapa Bibi malah berbicara seperti itu!" seru Caleey.


"Bibi sudah tidak sanggup ingin mengatakan apa yang ingin Bibi katakan, tapi Bibi tidak tau jika jadinya akan seperti ini," Brianna tak henti mengusap air matanya.


"Ya sudah, Bibi jangan menangis lagi, lebih baik kita pulang ke rumah dan memberi tau Daddy." Caleey segera melajukan mobilnya tersebut meninggalkan tempat itu.


 


 


***


 


Sore harinya, rumah Alana telah dipadati oleh banyak orang, tak terkecuali keluarga suaminya, rekan bisnis ayahnya dan juga kerabat dekat, tak sedikit rangkaian bunga dan papan ucapan bela sungkawa terjajar di halaman rumahnya. Jenazah Holmes sudah di semayamkan beberapa jam yang lalu dan di makamkan di dekat makam ayahnya.


Semakin sore, semua orang yang memadati rumah Alana kini terlihat membubarkan diri.


Gio terlihat sedang duduk dan mengobrol bersama Andrew, Carrol  dan beberapa rekan kerjanya.


Sementara Ken, ia  sedang duduk di halaman rumah bersama Jasson, Daven, David dan juga Harry. David terlihat datang sendiri tidak bersama Ashley maupun Valerie, Ashley masih ada urusan bisnis yang tak bisa ditinggalkan. Sementara Valerie, ia sebenarnya ingin ikut untuk melayat, namun, ia sadar diridan takut  jika kehadirannya nanti akan menimbulkan kesalahpahaman, bukannya Valerie sudah berjanji akan pergi dari kehidupan Ken? jadi Valerie terpaksa menetap di apartement David sendirian.


 


Tiba-tiba, Hal yang mengejutkan terjadi, sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah itu. Beberapa orang turun dari sana, mereka tak lain adalah keluarga Afford. Afford mendatangi kediaman rumah keponakannya itu bersama istri dan juga putrinya, begitu pula Brianna, wanita itu juga ikut dengan mereka untuk melayat suaminya.


Namun kedatangan mereka tak disambut ramah oleh Ken dan Gio.


Mereka berempat  berjalan beriringan dan kini langkah kakinya terhenti tepat di gadapan Ken dan yang lainnya.


"Di mana Alana?" tanya Afford.


"Mau apa Paman kemari?" tanya Ken.


"Untuk apa kalau tidak melayat Adik Iparku. Di mana Alana, tolong panggilkan dia!" perintah Afford.


"Sejak kapan kau  menganggap Tuan Holmes sebagai Adik iparmu?" tanya Gio.


"Kami di sini berniat baik. Bukan mencari masalah! Tolong biarkan kami bertemu Alana!" perintah Afford.


"Maaf Paman, Bibi, Mami. Lebih baik kalian pulang dari sini!" perintah Daven.


"Daven, kenapa kau berbicara seperti kepada Pamanmu?" tegur Brianna. Namun, Daven diam tak berani membantahnya.


"Ken tolong, izinkan kami masuk, kami ingin menemui Alana!" pinta Afford. Ken sebenarnya enggan mengizinkan mereka, namun ia terpaksa membiarkan keluarga istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya  duduk di ruang tamu.


Ken segera masuk menemui Alana yang kala itu berada di kamar dan terlihat sedang duduk di atas tempat tidur dan masih tak berhenti menangis. Ia terlihat ditemani oleh Mama Merry, Kimmy dan juga Jesslyn.


Ken berjalan mendekat dan mendudukan tubuhnya untuk duduk di samping istrinya tersebut. "Sayang, di luar ada Mami dan keluarga Pamanmu," ujar Ken.


"Aku tidak mau menemui mereka," jawab Alana.


"Temuilah mereka sebentar saja..." pinta  Ken.


"Aku tidak mau! Jangan memaksaku!" seru Alana.


"Baiklah."  Ken beranjak berdiri dan meninggalkan kamar itu untuk kembali menemui keluarga istrinya yang sedang menunggu di ruang depan.


"Maaf, Alana tidak mau menemui kalian!" ucap Ken.


"Kau pasti yang meracuni pikiran putriku, hingga dia tidak mau menemui keluarganya sendiri!" Brianna tiba-tiba beranjak dan membuat kehebohan.


"Apa yang Bibi katakan? perbuatan kalian sendirilah yang meracuni pikiran Alana!" bantah Ken.


"Ini semua karna dirimu! Di sini kau yang sangat berbahagia atas kematian Holmes, benar kan!" Brianna mengeraskan suaranya membuat Gio dan Daven yang kala itu berada di luar halaman terpaksa masuk ke dalam rumah.


"Nyonya Holmes! Tolong jaga bicara anda! Tidak ada orang yang bahagia atas kematian keluarganya sendiri, kecuali mereka yang menganggapnya musuh!" seru  Gio.


"Kenyataannya memang seperti itu. Tuan Gio... Kau dan keluargamu hanya memanfaatkan putriku untuk bisa mengambil alih perusahaan suamiku! Dengan kau menikahkan putriku dan putramu, kau bisa meraup banyak keuntungan! Dan sekarang, kalian tengah berbahagia!" seru Brianna.


"Keuntungan? keuntungan semacam apa yang kau katakan? Kami menganggap  Alana seperti putri kami sendiri! Dan kami sama sekali tidak pernah memanfaatkan Alana!" seru Gio.


"Kau bilang tidak memanfaatkan? apa kami perlu mengingatkan kalian apa tujuan kalian menikahi Alana?" teriak Brianna.


"Mami!" Alana yang kala itu mendengar keributan, segera keluar dari kamar dan menemui mereka semua.


"Apa yang Mami katakan? Keluarga suamiku tidak pernah memanfaatkan Alana! Mereka benar-benar menyayangi Alana!" seru Alana.


"Mereka bukanlah Mami ataupun Paman yang suka berpura-pura di depan Alana! Ken sama sekali tidak pernah memanfaatkan Alana, Ken yang selama ini membantu Alana, mengembalikan semua yang pernah Alana miliki, Ken yang sudah membantu Daddy, Ken yang selalu membantu dan menemani Alana. Bukan Mami ataupun Paman!" Alana berucap dengan sesenggukan. Ken seketika berjalan mendekati istrinya tersebut.


"Bibi, memang awal pernikahan kami hanya karna sebuah kesepakatan bisnis semata. Memang benar yang Bibi katakan, Tapi perlu Bibi ketahui! Saya tidak pernah memanfaatkan Alana seperti Bibi yang ingin memanfaatkannya hanya untuk kepentingan diri Bibi dan keluarga Bibi!"


"Tarik perkataanmu itu!" teriak Brianna.


"Ken belum selesai berbicara! Bibi, aku benar-benar mencintai putrimu. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun melukai atau menyakitinya, tak peduli sekalipun itu keluarganya." Ken melirik ke arah Afford dan juga  Caleey.


Lalu ia mengalihkan kembali pandangannya ke arah Brianna.


"Atau bahkan ibu kandungnya sendiri!" imbuhnya dengan penuh penekanan. Brianna seketika membisu, ia melihat dengan jelas tatapan mata menantunya itu yang penuh dengan keseriusan dan tak main-main.


"Mami... lebih baik Mami dan Paman pulang dan jangan membuat keributan di sini! Apa kalian tidak punya empati sedikitpun atas kepergian Daddy?" Daven ikut menimpali dengan perasaan kesal.


"Daven tidak habis pikir. Kalian datang kemari hanya ingin membuat keributan!" imbuhnya. Namun tidak ada yang menjawab perkataan Daven. Mereka semua mendadak bisu.


Ken seketika mengajak Alana untuk masuk kembali ke dalam kamar. Lalu ia kembali menemui keluarga istrinya yang masih berada di ruang depan.


"Apa mobil kalian bermasalah? jika bermasalah kami bisa mengantarkan  kalian pulang?" Ken mengusir dengan cara halus.


"Tidak perlu, kami bisa pulang sendiri!"  Afford mengajak adik, istri beserta anaknya tersebut untuk pergi dari sana. Ken mengusap kasar wajahnya, ia benar-benar tak habis pikir akan kekacauan di hari duka mertuanya yang baru saja terjadi. Yang Ken pikirkan saat ini hanya Alana.


 


 


****


 


Merry terlihat bersama Kimmy dan Jesslyn berada di dalam kamar Alana. Mereka sedang berusaha menenangkan Alana dan menghiburnya, namun rasanya usahanya sia-sia.


"Sayang... sudah jangan menangis lagi, kasihan, Daddy kamu di sana," tutur Merry yang mendekap tubuh Alana dan memberikan belaian lembut di kepala menantunya itu.


"Iya, Alana. Jangan menangis lagi, kami ikut sedih," ujar Jesslyn dan Kimmy.


"Alana, tidak bisa hidup tanpa Daddy, Ma." Suara Alana sudah tak terdengar, namun Merry masih bisa membaca dari  gerak bibir Alana.


"Mama tau sayang, Mama juga pernah merasakan kehilangan orang tua Mama," ujar Merry dengan mata yang berkaca-kaca.


Alana menjauhkan tubuhnya dari Merry. Ia menatap Mama mertuanya tersebut  dengan mata yang membengkak dan masih dipenuhi air mata. "Bagaimana perasaan Mama waktu orang tua Mama dulu meninggal?" tanya Alana. Merry terdiam sejenak dan menatap sendu wajah Alana, air matanya seketika menderas saat dirinya  mengingat kembali bagaimana rasa sakitnya kehilangan Mama Kikan dan juga Papa Rey. Ia kembali merasakan rasa sakit itu, Merry bisa merasakan apa yang saat ini menantunya rasakan. Tangannya mengusap wajah Alana dan memberinya beberapa ciuman.


"Sayang..." Merry menangis dan memeluk erat tubuh Alana, Merry benar-benar tak kuasa melihat menantunya tersebut. Bahkan Kimmy dan juga Jesslyn ikut terbawa suasana menyaksikan pemandangan yang menyesakan dadanya.


Alana sedikit tenang, ia merasa mendapatkan ketenangan akan pelukan hangat dan tulus dari seorang Ibu. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari Ibu kandungnya.


Ken terlihat masuk ke dalam kamar. "Mama, lebih baik Mama mengajak Jesslyn dan Kimmy pulang saja, Mama juga harus istirahat karna seharian membantu kami," tutur Ken.


"Tidak, Nak. Mama akan di sini menemani Alana,"  jawab Merry.


"Iya, Kak. Jesslyn dan Kimmy juga mau di sini bersama Alana," saut Jesslyn.


"Besok kalian harus kuliah jadi lebih baik pulanglah!"


"Mama, Alana baik-baik saja, lebih baik Mama pulang," tutur Alana seraya mengusap air matanya.


"Tidak, Nak. Mama akan di sini," tolak Merry.


"Mama, Jesslyn dan Kimmy besok bisa kemari lagi. Alana baik-baik saja, ada Ken dan Daven yang menemani Alana." Alana mencoba tersenyum di balik kesedihannya tersebut,


"Baiklah, Nak. Kami akan pulang." Merry mencium wajah Alana. Begitu juga dengan Kimmy yang bergantian memeluknya dan segera berpamitan pulang dan pergi dari sana.


 


***


Satu jam kemudian, Rumah terlihat sudah sepi tidak ada siapapun kecuali Daven yang disuruh oleh Ken untuk tinggal di sana. Semua teman maupun keluarga sudah Ken suruh pulang karna, ia tak mau merepotkan orang lain.


Ken pergi ke dapur mengambil makanan yang sudah dimasakan oleh Bi Ester  untuk Alana. Lalu, ia hendak pergi ke kamar. Namun, langkah kakinya terhenti saat dirinya melihat Daven sedang melamun di dalam kamar yang biasa Holmes tempati.


"Daven..." panggilan suara Ken membuat lamunan adik iparnya itu membuyar.


"Iya, Kak?" sautnya.


"Cepatlah makan malam, kau daritadi belum makan! Kakak tinggal ke kamar untuk memberikan makan Kakakmu," tutur Ken yang saat ini sedang membawa piring berisi makanan dan juga gelas berisi air putih di tangannya.


"Iya, Kak. Setelah ini aku akan makan malam," jawab  Daven. Ken mengiyakan dan  segera berlalu kembali ke kamar meninggalkan adik iparnya tersebut.


Di dalam kamar, Alana terlihat sedang tidur dengan posisi meringkuk, air matanya tak jarang masih mengalir, membasahi bantal yang menumpu kepalanya.


Ken mendudukan tubuhnya di samping Alana. "Sayang, ayo makanlah dulu, kau dari tadi belum makan..." perintah Ken. Ia meletakan piring dan gelas yang ia pegang saat  itu di atas meja dan membantu istrinya untuk beranjak duduk.


Ken memperhatikan raut wajah Alana yang masih tenggelam akan  kesedihannya. Kedua matanya masih jelas menangkap air mata yang lolos dan  jatuh secara bergantian di wajah istrinya tersebut, kedua ibu jarinya dengan cepat menyeka air mata itu.


"Makanlah dulu, aku akan menyuapimu..." Ken mengambil piring makanan itu dan hendak menyuapkan satu sendok makanan mendekat ke mulut Alana.


"Aku tidak mau, Ken!" tolak Alana.


"Kau daritadi belum makan, makanlah sedikit saja," perintahnya dengan suara lembut.


Alana hanya menggeleng kepalanya. "Aku mau tidur." Ia membaringkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur dengan kedua mata terbuka dan air mata yang masih mengalir. Bujukan Ken rasanya sia-sia, ia pun tak mau memaksa lagi  istrinya itu untuk makan.


Ken  menghela napas dan meletakan kembali piring makanan itu di atas meja. Ia menarik selimut dan membalutkan selimut itu di sebagian tubuh Alana. Ia  melingkarkan tangannya mendekap erat  tubuh istrinya tersebut dan memberikan ciuman begitu lama di pipi Alana seraya memejamkan kedua matanya. Ken bisa merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh istrinya tersebut.


 


.


.


.


.


.


.


.


Hidup ngga selalu menceritakan  kehidupan tentang bucin melulu wkwkwk.


Jangan lupa vote dan likenya, ya. Biar Nona semangat nulis wkwk terimakasih banyak