My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Percikan minyak



Ken sibuk mengunyah makanan sembari kedua matanya tak henti memperhatikan istrinya tersebut. karna baru kali ini ia di suapi oleh seorang wanita. apa lagi dengan menggunakan tangannya secara langsung.


Sedangkan, Alana. dengan penuh semangat ia menikmati makanan yang terlihat masih penuh di meja makan. bahkan, ia tak melewatkan makanan itu tanpa sisa sedikitpun. ia juga bergantian menyuapi Ken sesuap demi sesuap dengan tangannya.


Seusai makan siang. mereka pergi meninggalkan restaurant itu. lalu, mereka berdua pergi ke supermarket untuk berbelanja. setibanya di supermarket. Ken pun memarkirkan mobilnya. dan ia menyuruh Alana turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket untuk berbelanja sendirian.


Namun, Alana merasa keberatan jika dirinya harus berbelanja  kebutuhan rumah sendirian  sebanyak itu. ia pun memaksa Ken untuk ikut masuk menemaninya berbelanja kebutuhan rumah. sebenarnya, Ken enggan untuk ikut berbelanja. namun, karna Alana yang tak gentar memaksanya. jadi, Ken terpaksa ikut masuk ke dalam supermarket menemani istrinya tersebut untuk berbelanja.


Di sana, Ken membantu Alana untuk mencari kebutuhan rumah. bahkan sejak dari tadi. di dalam supermarket itu mereka berdua tak henti beradu mulut dan berdebat satu sama lain. namun, meskipun mereka berdua terlihat tidak akur. tapi, mereka cukup kompak dan tau barang apa saja yang mereka butuhkan. jadi tak mebutuhkan waktu lama untuk mereka berdua berbelanja di sana.


"Ayo cepatlah!" perintah Ken.


"Tunggu sebentar." Alana dengan gemas memasukan beberapa barang ke dalam trolly yang di dorong oleh Ken.


"Kenapa tidak kau beli saja seisi supermarket ini?" seru Ken.


"Mana bisa?" tanya Alana. Ken hanya menggeleng - gelengkan kepalanya. dan mendorong kembali trolly itu dengan cepat.


"Apa kau bisa pelan sedikit mendorong trollynya? nanti belanjaannya akan jatuh!" tegur Alana. .


"Kau banyak bicara aku tidak akan segan memasukanmu juga ke dalam trolly ini dan mendorongmu ke tengah jalan raya!" seru Ken dengan kesal. Alana langsung membungkam seketika.


dan saat di rasa barang belanjaan mereka berdua sudah lengkap. Alana mengajak Ken ke kasir untuk membayar belanjaan tersebut.


Setelah, berbelanja. Alana dan juga Ken kembali pulang ke rumah. mereka menurunkan begitu banyak kantong plastik yang berisi barang belanjaan dari bagasi mobil. lalu, mereka memasukan semua barang belanjaan itu ke dalam rumah. dan Alana menata semua belanjaan itu ketempat yang semestinya.


"Nanti malam tolong gorengkan aku ikan laut yang sempat aku beli tadi," perintah Ken.


"Ikan laut?" Alana melebarkan kedua matanya saat Ken meminta dirinya untuk menggorengkan ikan.


"Iya, kenapa? apa kau tidak bisa menggoreng ikan laut?" tanya Ken.


"Bi-bisa, aku bisa menggoreng ikan laut. aku akan menggorengkan ikan laut untukmu," ucap Alana.


"Bagus kalau begitu!" Ken berlalu pergi meninggalkan Alana kembali ke dalam kamar.


"Menggoreng ikan laut?"


"Aku sangat takut sekali jika harus menggoreng ikan laut." Alana menggigit bibirnya dengan bingung.


"Tapi bagaimana lagi, aku harus memasakan makanan untuknya." gumam Alana.


 


***


Sore menjelang malam. Alana masih di sibukan dengan aktivitas memasaknya. dan saat ia sudah selesai memasak sayur dan lainnya. kini ia hanya tinggal memasak ikan sesuai apa yang di inginkan oleh suaminya tersebut. Alana mengeluarkan ikan laut dari dalam lemari es. ia pun menelan ludahnya dengan sedikit takut saat memegang ikan itu. karna dari dulu, hal yang yang paling Alana benci dari memasak hanyalah menggoreng ikan laut.


"Ikan ini besar sekali," gumam Alana seraya memperhatikan ikan itu.


"Daddy, Alana takut menggoreng ikan laut."


"Kalau aku tidak menggoreng ikan ini. nanti Ken pasti akan memarahiku." Alana semakin kebingungan.  ia takut jika harus menggoreng ikan itu. namun, di sisi lain ia juga tidak kuat jika harus mendengar kata - kata Ken yang ia rasa begitu menyebalkan di telinganya.


Dengan membulatkan keberaniannya. Alana kembali mendekati kompor. ia memutar knop kompor itu hingga terlihat api menyala di sana. ia memasang penggorengan di atas tungku kompor itu. lalu, menuangkan minyak ke dalamnya.


Dan saat minyak yang ada di penggorengan itu di rasa sudah panas. Alana dengan tangan gemetar dan hati - hati memasukan ikan itu ke dalam penggorengan.


Saat itu, Alana benar - benar seakan berperang di dalam dapur.


karna sebegitu takutnya, ia tak segan memasang kuda - kuda dan juga menggunakan penutup panci sebagai tameng untuk menutupi tubuhnya agar tidak terkena percikan minyak panas.


ikan yang baru saja Alana masukan ke dalam penggorengan masih menyesuaikan dengan minyak panas itu. dan saat di rasa ikan itu sudah kering. ia dengan perlahan - lahan hendak mengangkat ikan itu dari penggorengan menggunakan spatula. namun, sialnya, percikan minyak panas tiba - tiba mengenai tangannya.


"Awww, panas... panas..." Alana berteriak kepanasan. bahkan ia melemparkan spatula dan penutup panci yang ia pegang ke sembarang tempat. hingga menimbulkan suara gaduh di dalam sana. dan saat Ken mendengar suara gaduh yang berasal dari dapur. seketika itu,  ia langsung menghampiri Alana di sana.


"Kau kenapa?" tanya Ken. ia berjalan mendekati Alana yang sedang memegangi tangannya akibat terkena percikan minyak panas.


"Tanganku terkena minyak panas," Alana mendesis kesakitan. Ken mendekati kompor dan segera mematikan kompor yang masih menyala.


"Kemarikan lihat tanganmu." Alana langsung menyodorkan tangannya kepada Ken. terlihat jelas, sebagian tangan Alana memerah dan hendak melepuh akibat terkena percikan minyak panas itu.


"Tunggulah di sini, aku akan mengambilkan salep di mobil." Ken berlalu dengan cepat ke mobil untuk mengambil kotak obat yang selalu ia bawa ke mana - mana.


"Sakit sekali." Alana masih mengernyit kesakitan memegangi tangannya. bahkan, ia berkali - kali mengusap kedua sudut matanya yang basah.


Tak lama kemudian, Ken kembali dengan membawa sebuah kotak kecil di tangannya. tanpa berbicara. Ken menarik tangan Alana dan mengajaknya ke ruang depan. ia menyuruh Alana untuk duduk di sofa. sementara dirinya duduk berjongkok di depan wanita itu. Ken mengambil sebuah salep dari kotak yang sempat ia ambil tadi. lalu, ia hendak mengoleskan salep itu ke tangan Alana.


"Tidak mau, nanti pedih." Alana menarik tangannya dari tangan Ken.


"Tidak akan pedih, kemarikan tanganmu. jangan manja!" seru Ken. ia menarik kembali tangan istrinya tersebut. Alana mendesis akan rasa pedih saat Ken mengoleskan salep itu di tangannya.


Alana memperhatikan Ken yang sedang sibuk mengobati luka bakar di tangannya. pemandangan yang sama seperti Alana lihat saat pertemuannya pertama kali dengan Ken. di mana laki - laki yang ada di hadapannya saat ini pernah mengobati lukanya.


"Jangan di kenakan air biar tidak melepuh," tutur Ken. ia meletakan kembali salep itu ke dalam kotak.


"Tapi ini sudah sedikit melepuh." suara Alana terdengar memberat. ia memperhatikan luka bakar yang ada di tangannya itu.


"Nanti akan sembuh. jangan di kenakan air! terkena sedikit minyak panas begitu saja menangis!" seru Ken.


"Tapi, ini sakit sekali," Alana berkali - kali mengusap matanya yang basah.


"Makanya kalau tidak bisa memasak jangan sok-sokan bisa memasak!" seru Ken.


"Aku bisa memasak. tapi aku takut jika menggoreng ikan laut," bantah Alana.


"Lalu, kenapa kau tadi bilang bisa menggoreng ikan laut?" tanya Ken. namun, Alana hanya diam saja. ia masih tak henti mengusap air matanya.


"Jangan menangis lagi! kau menangis seperti aku sedang menyiksamu saja!" seru Ken.


"Berhentilah menangis! ayo kita makan malam," ajak Ken.


"Aku tidak mau makan malam, aku istirahat saja," ucap Alana.


"Ya sudah, ku antar ke kamar. bisanya menyusahkan orang saja!" Ken menggerutu kesal seraya menarik tangan Alana.


"Lepaskan tanganku! aku bisa ke kamar sendiri," Alana meronta berharap Ken melepaskan tangannya. namun, Ken tetap saja tak melepaskan tangan Alana dan ia mengantarkannya ke dalam kamar. dan tanpa pamit, Ken langsung berlalu pergi dari kamar itu.


"Aku sungguh tidak tau dengan sikap dia. kadang baik kadang menyebalkan. tapi banyak menyebalkannya," gerutu Alana dalam hati.


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


pernikahan darrel next episode ya.