
"Obat anti depresi?" Ken menirukan perkataan dokter tersebut.
"Iya, ini obat penenang untuk orang yang sedang mengalami depresi, Tuan," tutur Dokter.
"Apa sebelumnya Nona Alana juga pernah mengalami depresi?" tanyanya.
"Saya, tidak tau, Dok." Ken menggeleng kepalanya dan menatap Alana yang masih berbaring.
"Kalau yang dokter bilang itu benar adalah obat anti depresi, berarti Alana memang pernah mengalami depresi, Dok. Karna Alana pernah sakit dan mengonsumsi obat itu saat ayahnya mengalami kecelakaan, tapi dia berbohong kepadaku, dia bilang itu hanya vitamin biasa bukan obat anti depresi," saut Jesslyn.
"Jelas ini obat anti depresi. Tuan, saat ini Nona Alana memang sedang mengalami depresi berat, tapi tolong jangan memberi obat anti depresi sembarangan yang tidak sesuai dengan dosis anjuran Dokter!" tutur Dokter.
"Depresi bukan masalah sepele, kalau kita lengah sedikit saja, jadinya akan seperti Nona Alana yang akan nekat melukai dirinya sendiri bahkan hingga nekat mengakhiri hidupnya," imbuh Dokter.
"Lalu saya harus bagaimana, Dok?" tanya Ken. Namun, pandangannya sama sekali tak lepas dari Alana, perasaannya kini menjadi kacau.
"Jangan pernah meninggalkan Nona Alana sendirian, ajak Nona Alana mencari suasana baru supaya bisa melupakan hal-hal yang dapat memicu setres , saya akan memberikan obat nanti, permisi..." pamit Dokter tersebut.
"Kakak, kasihan Alana..." ujar Jesslyn.
"Keluarlah... Kakak ingin menemani Alana sendiri," perintah Ken.
"Baiklah, Kak." Jesslyn berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Ken kembali mendudukan tubuhnya di atas kursi samping Alana. Ia menggenggam jemari istrinya tersebut dan menciumnya seraya memejamkan kedua matanya. Jelas sekali, Ken juga menderita akan akan apa yang menimpa istrinya saat ini.
***
Satu jam kemudian, kedua mata Alana kembali mengerjap dan kesadarannya sudah pulih kembali, ia melirik ke arah Ken dan menatapnya. Membuat Ken tersenyum membalasnya.
"Alana, kau sudah bangun?" pertanyaan Ken hanya membuat Alana diam tak menjawabnya. Ia mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Sepertinya obat yang diberikan oleh dokter sedikit membuat dirinya tenang.
"Sayang..." Ken memanggilnya, namun tak membuat Alana menoleh sedikitpun kepadanya.
"Alana, kenapa kau melakukan ini semua?" tanya Ken. Alana hanya diam dan memejamkan kedua matanya, air matanya kembali mengalir di kedua sudut matanya. Ken beranjak berdiri memposisikan wajahnya tepat di atas wajah Alana, ibu jarinya mengusap air mata itu hingga membuat Alana membuka kembali kedua matanya.
Ken menatap kedua manik mata Alana dengan tatapan yang begitu dalam. "Apa kau mencintaiku?" tanyanya.
Alana terdiam, lalu mengangguk. "Aku mencintaimu," jawabnya dengan suara yang serak.
"Kalau kau mencintaiku, tolong jangan melakukan hal seperti ini lagi, jangan melukai dirimu sendiri!"
"Apa kau tau, aku benar-benar takut? tolong jangan melakukan hal seperti ini lagi," pinta Ken denan suara yang memberat.
Tangan kanan Alana bergerak menyentuh wajah Ken dan mengusap kedua matanya yang basah secara bergantian. "Maafkan, aku, Ken. Maafkan aku," ucapnya lirih. Ken seketika memeluk Alana dan mencium dahinya dengan begitu lama.
"Berjanjilah jangan melakukan ini lagi," bisik Ken. Alana mengiyakannya dengan suara yang samar, karna suaranya sudah hampir habis. Mereka saling melepas pelukannya.
"Aku mau pulang," pinta Alana.
"Dokter belum mengizinkanmu pulang," tutur Ken.
"Aku mau pulang, aku tidak mau di sini," pintanya kembali dengan memaksa.
"Baiklah, aku akan berbicara kepada dokter." Ken memanggil Jesslyn dan menyuruhnya untuk menjaga Alana, Ia pergi ke ruangan dokter untuk meminta izin membawa Alana pulang dan melakukan rawat jalan. Dokter sebenarnya tak mengizinkan Alana untuk pulang, karna Alana masih perlu pemulihan dan di sisi lain saat itu sudah malam. Namun, karna Ken memaksa, dokter terpaksa mengizinkannya dan memberikan beberapa obat untuk Alana.
saat sudah mendapat izin pulang dari dokter, Ken segera menghampiri Alana dan Jesslyn di ruangannya. Dan mereka bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah.
Saat Ken hendak pulang, ia terlebih dulu menerima panggilan masuk yang tak lain dari Daven yang kala itu dengan panik menanyakan kabar Alana setelah tau Kakaknya mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, ia hendak pergi ke rumah sakit untuk menyusulnya. Namun, Ken melarangnya dan memberitau bahwa Alana akan pulang, ia menyuruh adik iparnya tersebut untuk pergi ke rumah Mama Merry dan menemui Alana di sana. Seusai bertukar suara melalui ponsel seluler, Ken segera mengakhiri panggilan tersebut dan menyelipkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Ken membantu Alana untuk masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Jesslyn, ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kursi kemudi bersebelahan bersama Alana. Ken segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah.
***
Sesampainya di rumah Merry, Ken memarkirkan mobilnya di halaman rumah, di sana juga terlihat mobil milik David dan Daven terpakir di tempat yang sama. Ken hendak menyuruh Alana turun, namun, ia melihat istrinya itu tertidur.
"Kak, Alana tidur," ujar Jesslyn.
"Biarkan, jangan bangunkan dia..." Ken segara turun dari mobil, membuka pintu mobil itu dan mengangkat tubuh istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Jesslyn mengikuti Kakaknya tersebut dan segera membukakan pintu rumah.
Di ruang tamu semuanya terlihat sedang berkumpul, terlihat David, Ashley dan Daven yang ditemani Mama Merry, Papa Gio dan Jasson. Namun tak terlihat Kimmy di sana, sepertinya ia sedang berada di kamar Jesslyn.
"Ken, kenapa kau membawa Alana pulang? kenapa tidak dirawat di rumah sakit saja?" tegur Merry.
"Dia yang memaksa ingin pulang, Ma."
"Ken ke kamar sebentar," pamitnya.
"Alana...." Kimmy berteriak, ia terlihat keluar dari kamar Jesslyn dan berjalan cepat menghampirinya. Namun tubuh Jesslyn menghadangnya.
"Jangan berteriak! Ku tambal mulutmu!" seru Jesslyn.
"Aku hanya ingin melihat keadan Alana," ucap Kimmy.
"Biarkan Kakak membawanya ke kamar! Ken tak menghiraukan kedua perempuan itu, ia tetap berjalan menuju ke kamar dan segera membaringkan istrinya tersebut di atas tempat tidur, Jesslyn dan Kimmy mengikutinya dan di susul oleh Daven.
"Jangan berisik!" perintah Ken kepada Jesslyn dan Kimmy.
Kimmy seketika membekap mulutnya rapat-rapat. "Kami tidak akan berisik." Kimmy menggeleng kepalanya. Suaranya tertahan di telapak tangannya tersebut.
Tubuh Ken melemas menatap wajah istrinya dengan pikiran yang begitu kalut, ia tak bisa membayangkan jika kenekatan Alana bisa merenggut nyawanya. Kejadian sore tadi membuat hati Ken begitu ngilu saat mengingatnya.
"Kak, bagaimana kakakku?" tanya Daven kepada Ken.
"Kakakmu sedang mengalami depresi berat," jawab Ken.
"Daven, apa kau tau Kakakmu dulu pernah depresi?" tanya Ken.
"Tidak, Kak. Aku tidak tau," jawab Daven.
"Malang sekali, Alana. Baru saja ditinggal Paman Holmes, lalu kehilangan calon anaknya," timpal Kimmy seraya menatap ibah Alana.
"Daven, ikut aku ke depan. Ada yang ingin aku bicarakan," perintah Ken. Daven mengiyakannya. Ken menitipkan Alana kepada Kimmy dan Jesslyn. Lalu, ia mengajak adik iparnya tersebut ke ruang depan menemui yang lainnya.
Ken mendudukan tubuhnya di atas sofa dan diikuti oleh Daven.
"Bagaiamana keadaan Alana, Ken?" tanya David dan Ashley.
"Alana mengalami depresi, sebelumnya Alana juga pernah mengalami depresi," jawab Ken dengan begitu berat. Merry dan Gio pun terkejut mendengarnya.
"Mama bisa merasakan apa yang Alana rasakan, jangan pernah meninggalkan Alana, Nak," tutur Merry.
"Mana mungkin Ken meninggalkannya, Ma. Ken tidak akan pernah meninggalkannya bahkan seburuk apapun kondisinya," jawab Ken.
"Ma, Pa, Ken akan mengajak Alana untuk tinggal sementara waktu di villa milik Papa yang sempat Alana dan Ken kunjungi untuk bulan madu, apa boleh?" tanya Ken.
"Tentu saja, Nak. Papa rasa itu ide bagus supaya Alana tidak berlarut-larut akan kesedihannya," jawab Gio.
"Iya, Kak. Alana memang harus butuh ketenangan," saut Merry.
"Berapa lama Kakak akan mengajak Alana tinggal di villa?" tanya Jasson.
"Entahlah, mungkin beberapa bulan ke depan, setidaknya sampai Alana benar-benar tenang dan melupakan kesedihannya," jawab Ken.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu, Ken?" tanya Ashley.
"Iya, Ken. Kau sudah banyak menerima tender dan kerja sama terutama di perusahaan milik Paman Holmes," timpal David.
"Kondisi Alana lebih penting daripada pekerjaanku, aku bisa mengerjakan pekerjaannku dimana pun, ada Paman Lenon juga yang membantuku," jawab Ken.
"Iya, Ken. Kau bisa bekerja di mana saja, nanti Papa juga akan membantumu," saut Gio.
"Terimakasih, Pa."
"Daven, kau tidak keberatan jika Kakakmu aku ungsikan ke luar kota untuk sementara waktu?" tanya Ken.
"Tidak, Kak. Daven tidak keberatan, kesehatan Kakak yang terpenting," jawab Daven.
"Baiklah, kalau begitu. Ayo ikut Kakak pulang ke rumah, bantu Kakak menyiapkan baju-baju Alana," ajak Ken. Daven mengiyakannya. Ken berpamitan kepada Merry dan juga Gio untuk pulang ke rumahnya sebentar, ia juga menitipkan istrinya itu kepada kedua orang tuanya. Sementara David dan Ashley ia juga ikut berpamitan untuk pulang.
***
Ia membiarkan koper-koper yang ia bawa itu tertinggal di dalam mobil.
Ken segera masuk ke dalam rumah dan menemui Alana di dalam kamar. Ia melihat Alana bangun dan ditemani oleh Kimmy, Jesslyn dan Mama Merry yang terlihat sudah sangat mengantuk, namun mereka menahannya karna tak ingin meninggalkan Alana. Mama Merry sedari tadi menceritakan masa mudanya kepada ketiga putrinya itu. Iya, Alana dan Kimmy sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri oleh Merry.
"Ken, kau sudah kembali?" tegur Merry saat melihat anak sulungnya tengah mematung di depan pintu kamar. Ken mengiyakan dan berjalan mendekat.
"Mama bisa istirahat, maaf Ken sudah merepotkan," ucap Ken.
"Tidak ada yang direpotkan di sini," tutur Merry sambil tersenyum.
"Jesslyn, Kimmy, kembalilah ke kamar dan tidurlah, terimakasih sudah mau menemani Alana," ujar Ken.
"Baiklah, Kak."
Merry mengajak Jesslyn dan Kimmy untuk segera keluar dari kamar anak sulungnya tersebut. Ken menutup rapat pintu kamar saat dirasa adik dan Mamanya sudah meninggalkan kamarnya itu.
Ia kembali berjalan mendekati Alana dan kini tubuhnya dengan sempurna berada di atas tempat tidur.
"Ayo tidurlah lagi." Ken membantu Alana untuk merebahkan seluruh tubuhnya. Menarik selimut dan membalutkan ke sebagian tubuh mereka berdua.
Ken memegang pergelangan tangan Alana yang dibalut rapat dengan perban, menampakan darah yang menembus di kain putih itu. "Apa sakit?" tanyanya. Alana menganggukan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Ken mencium pergelangan tangan itu. "Tidak akan sakit lagi," imbuhnya.
"Apa kau pernah melihat Daddy sedih?" tanya Ken kembali. Alana menatap Ken dan mencoba mengingatnya, air matanya kembali mengalir saat mengingat ayahnya tersebut. Lalu ia mengangguk.
"Kapan kau melihat Daddy sedih?"
"Sering... saat aku sedang sakit atau menangis, Daddy yang selalu sedih dan bingung," ujar Alana mencoba menahan kerinduan akan ayahnya.
"Apa kau suka melihat Daddy seperti itu?" tanya Ken. Alana menggeleng kepalanya.
"Kalau kau tidak suka melihat Daddy sedih jangan melakukan hal bodoh seperti ini lagi, Daddy akan menyalahkan dirinya sendiri jika melihat putrinya seperti ini," tutur Ken.
"Kalau kau tidak mengikhlaskan Daddy dan calon anak kita, bagaimana mereka bisa hidup dengan tenang di sana?" imbuhnya. Alana hanya diam dan menatapnya, perasaanya tiba-tiba kembali kacau.
"Kau ingin memiliki anak lagi?" tanya Ken. Alana seketika mengangguk.
"Kalau kau masih ingin memiliki anak, kau harus sembuh dan jangan berlarut seperti ini, kita pasti akan memiliki anak lagi," tuturnya. Alana kembali mengangguk, Setidaknya kata-kata Ken membuatnya sedikit lebih bersemangat. Ken memeluk dan mendekap erat tubuh istrinya tersebut.
"Besok pagi kita akan pergi dan pindah tempat tinggal untuk sementara waktu," ujar Ken.
"Ke mana?" tanya Alana.
"Besok kau akan tau, sekarang tidurlah!" Ken semakin mengeratkan pelukannya seakan tak mau melepaskan istrinya tersebut. Ia benar-benar mengantuk, namun ia tahan sebelum melihat Alana tidur terlebih dulu.
***
Keesokannya, Ken dan Alana sudah bersiap untuk pergi ke villa yang akan mereka tempati sementara. Mereka berdua berpamitan kepada keluarganya yang kini sedang mengantar kepergian mereka di halaman depan rumah.
"Aku ingin sekali ikut..." Jesslyn mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah memelas.
"Iya, aku juga ingin sekali ikut..." timpal Kimmy.
"Mobilnya tidak muat!" seru Ken.
"Duduk di bagasi tidak apa-apa," saut Jesslyn.
"Masuk ke dalam koper juga tidak masalah, asal Jasson juga harus ikut, takutnya nanti di pertengahan jalan aku kehabisan napas!" heboh Kimmy.
Jasson yang kala itu mendengarnya hanya melirik Kimmy dengan tatapan dingin, membuat Kimmy menciut takut. "Aku hanya bercanda," katanya dengan terkekeh takut saat melihat Jasson.
"Alana pergi ke villa bukan untuk liburan! Jangan merengek seperti anak kecil!" seru Gio.
"Nanti kalian juga bisa ke sana menengok Alana," tutur Merry.
"Apa benar yang dikatakan oleh Mama, Kak. Kita boleh pergi ke sana untuk menengok Alana?" tanya Jesslyn.
"Boleh, tapi dua mingu sekali. Jangan setiap hari!" seru Ken.
"Memangnya siapa yang mau ke sana setiap hari!" gerutu Jesslyn.
Ken begitu gemas akan adik perempuannya tersebut. Ia memeluk dan berulang-kali menciumnya. "Kau jangan nakal! Jangan bertengkar dengan Jasson!" tuturnya.
"Kakak tenang saja, selama ada Kimmy tinggal di sini, Jasson akan jarang di rumah dan dia akan enggan menggangguku," Jesslyn tertawa meledek.
Merry dan Gio bergantian memeluk Alana dan memberikan ciuman di dahinya. "Jaga dirimu baik-baik, sayang." Alana tersenyum dan mengiyakan apa yang dikatakan kedua mertuanya tersebut.
"Alana, kami akan sangat merindukanmu..." Kimmy dan Jesslyn memeluk Alana dengan begitu erat hingga membuat Alana kesulitan bernapas.
"Sudah jangan lama-lama!" Ken segera menarik, menjauhkan tubuh Alana dari Jesslyn dan Kimmy.
"Pelit sekali, Kakak juga setiap hari sudah memeluk Alana, sementara kami? " seru Jesslyn.
Daven yang kala itu juga berada di sana ikut memeluk Kakaknya. "Kalau Daven libur, Daven akan menengok Kakak di sana. Jaga diri Kakak baik-baik," tuturnya.
"Kau juga jaga diri baik-baik," ujar Alana dengan membalas pelukan adiknya tersebut. Daven mengiyakannya.
Seusai berpamitan, Ken dan Alana masuk ke dalam mobil, Ken segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah orang tuanya tersebut. Lambaian tangan Jesslyn dan Kimmy masih terlihat jelas di kaca spion.
"Kita akan tinggal di mana?" tanya Alana.
"Nanti kau akan tau," jawab Ken.
"Berapa lama? kenapa barang yang kita bawa sangat banyak sekali?" tanyanya kembali.
"Selama yang kau mau."
***
Mereka melakukan perjalanan menuju ke villa 3 hingga 4 jam lamanya.
Sudah hampir dua setengah jam mereka menempuh perjalanan, kedua mata Alana kini disuguhi akan pepohonan rindang yang berjajar di sana, ia membuka jendela kaca mobil dan menghirup dalam-dalam udara sejuk yang menari-nari indera penciumannya, begitu menangkan jiwa. Alana tak bergeming memandangi setiap jalanan yang rasanya tak asing baginya.
"Bukannya ini jalan menuju ke villa tempat kita berbulan madu?" tanya Alana tanpa melihat ke arah Ken.
"Iya, kau masih ingat?" tanya Ken. Alana menoleh ke arahnya.
"Tentu saja, kau dulu hampir menurunkanku di jalanan ini, iya kan?" tanya Alana,
"Kenapa dia masih mengingatnya? menyebalkan!" gumam Ken dalam hati.
"Iya kan?" tanyanya kembali.
"Iya... sudah jangan diingat lagi!" saut Ken dengan kesal.
"Coba saja aku bisa mengemudikan mobil, aku yang akan menurunkanmu di sini!" mendengar perkataan Alana yang kesal. Ken tiba-tiba tersenyum, ia benar-benar sangat merindukan istrinya yang sangat cerewet itu.
"Apa kita akan tinggal di villa waktu itu?" tanya Alana. Ken mengiyakannya.
"Kau tidak suka?" tanya Ken.
"Suka..." saut Alana dengan wajah datarnya.
.
.
.
.
.
.
.