
Seusai pulang dari barbershop. Ken dan Alana melakukan perjalan menuju ke rumah. Alana sedari tadi hanya diam saja. kedua matanya tak henti bergerak ke sana kemari melihat ke sekitar jalanan yang di lintaskan oleh ken. ia menarik beberapa lembar tissue hanya untuk ia pegang.
"Kenapa? ku perhatikan. setelah bertemu mantan kekasihmu dan sahabatmu itu. kau terlihat risau?" suara Ken membuat Alana menoleh ke arahnya.
"Tidak, siapa yang risau!" bantah Alana.
"Lalu, apa? Cemburu?" tanya Ken. dahi Alana mengernyit kesal seakan tidak suka mendengar kata - kata Ken yang baru saja ia dengar.
"Aku sama sekali tidak pernah cemburu! mereka sudah memiliki kehidupan sendiri! Jangan membicarakan hal-hal yang membuatku kesal!" seru Alana seraya membuang wajahnya.
Di sela-sela mengemudinya. Ken tak henti mencuri waktu bercermin di kaca spion. bahkan, membuat Alana heran melihatnya.
"Kenapa dari tadi bercermin?" tegur Alana.
"Apa benar aku terlihat tampan dan pantas dengan rambut model seperti ini? kenapa aku tidak percaya diri, ya?" tanya Ken.
"Iya, Ken. kau sangat tampan," ujar Alana, rasanya ia lelah berulang kali memuji suaminya tersebut. namun, suara Alana terdengar seperti nada suara orang malas di telinga Ken.
"Kenapa bicaramu seperti tidak ikhlas begitu? tadi kau sangat bersemangat sekali saat memujiku. oh, atau, Jangan-jangan, kau tadi memujiku tampan hanya karna ada mantan kekasihmu itu, iya?" Ken melirik ke arah Alana dengan tatapan tajam.
"Apanya yang tidak ikhlas? mana mungkin aku memujimu dengan tidak ikhlas! kenapa kau dari tadi, selalu saja mengait-ngaitkan dengan dia?" seru Alana. namun Ken hanya diam saja dan tidak menjawab nya
"Astaga, aku ingin sekali loncat dari mobilmu ini." Alana menggerutu kesal.
"Loncat saja!" seru Ken.
Alana membuka kaca Jendela, tiba-tiba, kedua mata Ken membulat dengan sangat lebar saat melihat Alana membuka jendela kaca pintu mobil itu. seketika itu, Ken langsung menginjak rem mobilnya hingga membuat mobil itu terhenti dengan sendirinya.
"Kau jangan gila!" teriak Ken seraya menarik tubuh Alana.
"Siapa yang gila?" aku kan hanya ingin meludah saja!" Alana seketika langsung membuang ludahnya. kemudian ia terkekeh.
"Kau kira apa? kau kira aku akan loncat begitu? dasar bodoh!" Alana semakin mengeraskan tawanya.
"Ini tidak lucu!" seru Ken dengan menautkan kedua alisnya.
"Memang tidak lucu! tapi ekspresimu ini sangat lucu!" Alana menggoyang-goyangkan kedua pipi Ken dengan begitu gemasnya. namun, Alana takut saat melihat Ken semakin menajamkan kedua matanya.
"Maaf..." Alana tersenyum pelik dan segera menjauhkan tangannya wajah Ken. Ken hanya menatap Alana, kemudian, ia kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
***
Setibanya di rumah, saat Ken hendak memarkirkan mobilnya. Ia melihat mobil milik David terparkir di halaman rumahnya.
"Bukannya itu mobil David, ya?" tanya Alana yang saat ini kedua matanya sedang memperhatikan mobil itu.
"Kau sangat hafal sekali mobil David?" Ken bertanya balik. bahkan pertanyaannya di iringi dengan kerutan di dahinya.
"Mobilnya unik. jadi mudah di ingat," jawab Alana. Ken hanya diam, ia menyuruh Alana turun dari mobil dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Pintu rumah terbuka satu sisi saja, sehingga mereka berdua langsung masuk ke dalam sana tanpa mengetuknya.
Di ruang tamu, David terlihat sedang mengobrol akrab dengan Jesslyn. Mereka berdua menghentikan obrolannya ketika melihat Ken dan Alana pulang.
"Kakak, kau sudah pulang?"
"Kakak terlihat sangat tampan sekali." Jesslyn menghampiri Ken dan mengacak-acak rambut barunya.
"Jangan di acak-acak!" seru Ken seraya merapikan kembali rambutnya. Alana menahan tawanya saat melihat Ken.
"Kenapa kau tertawa?" seru Ken kepada Alana.
"Tidak, siapa yang tertawa!" bantah Alana.
"Rambut baru saja bergaya!" gerutu Jesslyn sembari mendudukan tubuhnya kembali di atas Sofa. Ken segera menghampiri David.
"Ken, kau sudah kembali?" tegur David.
"Iya... apa kau sejak dari tadi di sini?" tanya Ken seraya duduk di samping sahabatnya tersebut.
"Baru saja, Kak." David hendak menjawabnya namun, Jesslyn terlebih dulu menyautinya.
"Kau sendirian saja? tidak mengajak Ashley" tanya Ken.
"Tidak, Kak." Jesslyn menyautinya kembali.
"Sayang, Kakak sedang bertanya dengan Kak David, bukan denganmu!" tegur Ken. David pun terkekeh. Ken segera menyuruh Jesslyn untuk masuk ke dalam dan Jesslyn mengiyakan perintah Kakaknya tersebut. sementara Alana, berpamitan pergi ke dapur.
"Kenapa tidak menghubungiku kalau mau kemari? Apa ada hal yang penting, David?" tanya Ken.
"Tidak, Ken. aku hanya ingin berkunjung saja. kebetulan tadi melintas di sini," jawab David.
"Oh, iya, Ken. sahabatmu dulu yang bernama Adam ternyata sudah kembali kemari. dia mengundangku dan Ashley ke acara pertunangannya. kau juga, kan?" tanya David.
"Dia mengundangmu? Iya, kemarin dia ke rumah mengantar undangan," kata Ken.
Percakapan mereka sejenak terputus saat Alana terlihat keluar dari dalam dengan membawa dua cangkir kopi di atas nampan.
"Silahkan, di minum." Alana meletakan kopi itu tepat di hadapan Ken dan juga David. David tak lepas memperhatikan Alana.
"Di mana Bi Ester? kenapa kau yang membuatkan kopi?" tanya Ken seraya melihat ke dalam.
"Bi Ester sedang memasak untuk makan siang. jadi aku yang membuatkan kopi. permisi..." Alana hendak meninggalkan mereka berdua, namun, Ken menghentikannya dan menyuruh istrinya tersebut untuk duduk bersama. Alana pun mengiyakan perintah Ken dan duduk di sampingnya.
"Bagaimana kabarmu Alana?" tanya David.
"Aku baik." Alana menjawab dengan menundukan pandangannya. Ken melirik ke arah Alana yang nampak tak biasa saat menjawab pertanyaan David.
"Oh, iya, David. bagaimana kalau kita menghadiri undangan Adam bersama?" tanya Ken.
"Boleh." David menjawab pertanyaan Ken. namun, kedua matanya tertuju ke arah Alana.
"Apa kau dan Ashley tidak membawa pasangan?" tanya Ken.
"Mentang-mentang kau sudah menikah, jadi, sekarang kau meledek kami?" tanya David. Ken terkekeh.
"Bukan seperti itu... Ayolah, kapan kalian akan memiliki pasangan?" tanya Ken.
"Lupakan masalah pasangan... bagaimana rencana liburan kita?" tanya David.
"Liburan? liburan apa?" tanya Ken dengan menyernyitkan dahinya.
"Liburan... bulan lalu waktu kau ke apartement kan, bilang, kalau kita akan merencanakan liburan bulan depan. kau selalu saja lupa!" ujar David.
"Oh, Benarkah? aku benar-benar lupa." Ken melirik ke arah Alana. lalu bergantian memandang ke arah David.
"Apa aku boleh mengajak Alana?" tanya Ken.
"Tentu saja, boleh."
"Maaf, tapi, aku tidak bisa ikut." Alana menimpalinya.
"Kenapa?" tanya Ken dengan menyipitkan kedua matanya.
"Aku tidak mau meninggalkan Daddy sendirian," jawab Alana.
"Hanya 3 hari saja, Alana. kita akan liburan ke pantai," tutur David.
"Pantai? aku mau ke pantai..." suara Jesslyn tiba-tiba menyaut dengan hebohnya. ia segera menghampiri mereka bertiga dan duduk di sampingnya.
"Iya, lihat saja, nanti!" jawab Ken.
"Bagaimana, apa kau ikut?" tanya Ken kembali kepada Alana.
"Aku tidak bisa meninggalkan, Daddy, Ken." jawaban sama terlontar dari mulut Alana. Ken hanya diam dan menatap Alana.
"Lihat besok saja..." Alana beranjak berdiri dan berlalu pergi dari sana. Jesslyn mengikuti wanita itu.
"Jika Alana ikut, kita berangkat," ujar Ken kepada David.
"Ayolah, Ken..."
"Aku tidak bisa jika harus bersenang-senang di luar dan meninggalkannya sendirian di rumah. apa kata orang tuaku nanti?" seru Ken.
"Nanti aku akan mencoba membujuknya," imbuhnya. David mengiyakan sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
Ken dan David cukup lama mengobrol di ruang tamu, kemudian, David berpamitan pulang, dan saat laki-laki itu berpamitan pulang. Jesslyn dengan tergesa-gesa menghampirinya.
"Kak David, apa aku boleh ikut pulang bersamamu?" pinta Jesslyn.
"Pulang bersamaku?" David mengernyit bingung.
"Maksudku, aku ingin pulang ke rumah Mama. Apa Kak David, mau mengantarkanku pulang?" tanya Jesslyn sembari memasang wajah dengan penuh harap.
"Tentu saja." David dengan senang hati mengiyakan permintaan gadis itu.
"Apa Mama dan Papa sudah pulang?" tanya Ken kepada Jesslyn.
"Belum, Kak. aku hanya ingin pulang saja." Jesslyn melebarkan senyumnya. Ken pun mengiyakannya.
Ken terlebih dulu menyuruh Jesslyn agar berpamitan kepada Alana dan Tuan Holmes, Jesslyn mengiyakan perintah kakaknya. setelah berpamitan, ia dan David segera pergi dari sana.
***
Alana sedang berada di kamar Holmes, ia menunggu laki-laki paru baya itu yang baru saja tertidur karna kelelahan. Alana mengusap dahi ayahnya. Ia merasa kondisi ayahnya semakin hari semakin menurun.
"Kenapa Daddy mudah sekali kelelahan? waktu baru keluar dari rumah sakit kondisi Daddy sangatlah membaik, tapi sekarang? Aku rasa malah sebaliknya." Alana bergumam dalam hati sambil memperhatikan wajah ayahnya yang pucat tersebut.
Drrtt
Drrtt
Ponsel milik Alana yang sempat ia rubah ke mode Vibra tiba-tiba bergetar. bahkan suara getaran itu terdengar jelas ketika bergesekan dengan meja kayu yang ada di samping tempat tidur Ayahnya. Alana dengan segera mengambil ponsel tersebut. ia melihat satu pesan baru dari nomer yang tak ia kenal dan beberapa panggilan yang tak terjawab. karna memang, waktu Alana membuatkan David dan Ken minum. ia tak memegang ponsel sama sekali.
"Nomer siapa?" Alana membuka pesan itu.
Alana, tolong angkat telpon Mommy ~ Mommy.
Sayang, ini Mommy, Mommy ingin sekali bertemu denganmu. apa bisa, Nak? ~ Mommy.
"Mami?" Bibir Alana berucap tanpa mengeluarkan suara. ia mengucek kedua matanya, barangkali saja, ia salah membaca.
"Apa benar ini Mami? bagaimana bisa tau nomer ponselku yang baru? dan kenapa menghubungiku?" Alana mengernyit heran.
Bagaimana Mami bisa tau nomer Alana? ~ Alana.
Dari pegawaimu, Nak. tadi, Mommy ke toko kue milikmu. tetapi, kau tidak ada di sana. jadi, Mommy meminta nomer ponselmu kepada pegawaimu. ~ Mommy.
Oh, ada apa memangnya? ~ Alana.
Mommy sangat merindukanmu, bisakah kita bertemu sebentar di cafe langganan Mommy sekarang? ~ Mommy.
Tunggu ~ Alana.
Baiklah, sayang Mommy tunggu. sendirian saja, ya. ~ Mommy.
Alana mengakhiri pesan singkat tersebut. ia menghela napas dengan sedikit bingung dan bertanya-tanya akan Maminya yang mencarinya secara tiba-tiba.
"Setelah, sekian lama, kenapa Mami baru menghubungiku?" Alana menatap Holmes yang terlelap tidur.
Alana beranjak berdiri dan keluar dari kamar itu. ia kembali ke kamar, namun, saat masuk ke dalam kamar, ia juga berpapasan dengan Ken.
"Ken, aku mau keluar sebentar, ya?" pamit Alana.
"Kemana?"
"Ehm, bertemu dengan Mamiku, Mami ingin bertemu denganku sebentar," jawab Alana.
"Mamimu?" Ken mengernyitkan dahinya. Alana mendekati lemari pakaian, ia mengambil outer dan membalutkan ke tubuhnya.
"Bukannya Mami dan Adikmu pergi meninggalkanmu dan juga Daddy? lalu kenapa sekarang bisa mencarimu?" tanya Ken dengan sedikit curiga.
"Entahlah, Mami tadi ke toko kue dan aku tidak di sana. lalu, dia meminta nomer ponselku kepada Nona Felly." Alana menjawab sembari menyisir rambutnya di depan cermin.
"Memangnya ada apa?" tanya Ken.
"Katanya Mami merindukanku. tapi, entahlah!" ujar Alana seakan tak tertarik membicarakan Ibunya tersebut.
"Aku akan menemanimu!" ujar Ken.
"Jangan..." Alana menoleh dan mendekati Ken.
"Mami hanya ingin bertemu denganku saja, lain kali aku akan mengajakmu." Alana tersenyum dan kembali mendekati cermin.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu."
"Tidak usah, Ken. aku--"
"Jika tidak mau ku antar, tidak usah pergi." Ken mendudukan tubuhnya di atas sofa sambil melipat satu kakinya di atas lutut.
"Baiklah, ayo!" saut Alana. Ken kembali beranjak berdiri. ia mengambil kunci mobil dan segera mengantarkan istrinya tersebut ke tempat yang di tuju.
Saat di rasa sudah tiba, Ken menghentikan mobilnya di seberang cafe yang di maksud oleh Alana.
"Apa ini tempatnya?" tanya Ken dengan melihat ke sekitar Cafe itu. Alana menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Kau yakin tidak ingin ku temani?" tanya Ken.
"Iya, Ken. aku menemui Mami sendiri saja. kau pulanglah," ujar Alana.
"Baiklah, nanti aku akan menjemputmu." Alana mengangguk dan segera turun dari mobil suaminya. kedua mata Ken masih memperhatikan gerak tubuh Alana dan memastikan bahwa istrinya benar-benar masuk ke dalam sana.
saat di rasa, Alana sudah masuk ke dalam cafe itu, Ken segera meninggalkan tempat itu.
***
.
.
.
.
.