My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Kekecewaan



Keesokan paginya, Alana terlebih dulu terbangun, ia turun dari kamar mandi dan hendak membantu Bi Ester menyiapkan sarapan. Namun, kepalanya tiba-tiba serasa berputar-putar, perutnya seakan di aduk begitu hebat.


Alana menggembungkan mulutnya saat terasa sesuatu tertahan di tenggorokannya, ia dengan segera masuk ke dalam kamar mandi, dan memuntahkan semua cairan yang tiba-tiba sepagi itu sudah mengaduk-aduk perutnya. Bahkan hingga ia mengernyit akan rasa asam di mulutnya akibat cairan kuning yang terakhir keluar dari mulutnya. Alana berkumur dan membasuh wajahnya, berusaha mengatur napasnya yang terpompa secara tak beraturan.


Kepalanya yang terasa berat, membuatnya harus duduk di bawah lantai karna ia benar-benar tak kuat jika harus berdiri lama. Untuk kembali ke tempat tidur saja, rasanya begitu enggan. Alana memejamkan kedua matanya, menyesuaikan tubuhnya yang gemetar tak karuan.


 


Tangan Ken merabah sekitar tempat tidur, seketika itu ia langsung membuka kedua matanya, saat dirasa tempat tidur itu begitu lapang. "Ke mana Alana?" Ken beranjak duduk, ia  menyipitkan kedua matanya yang buram dan menyesuaikan akan bias sinar matahari yang menyusup masuk dari jendela kamarnya.


Ken turun dari tempat tidur, kedua matanya teralihkan ke arah pintu kamar mandi yang terlihat hanya tertutup sebagian. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana.


Ia melihat Alana sedang duduk di lantai sambil memejamkan kedua matanya, membuat Ken segera menghampirinya.


"Alana..."  suara Ken yang memanggilnya membuat kedua mata Alana terbuka dengan tak sempurna.


"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Ken yang kini ikut duduk berjongkok berhadapan dengan istrinya tersebut.


"Siapa yang tidur? aku sedang duduk! Kepalaku tiba-tiba pusing sekali, aku tidak kuat berdiri..." bibir pucatnya membantah dengan suara yang terdengar begitu lemah.


"Ayo berdirilah..." Ken membantu Alana berdiri dan memapahnya untuk duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa kepalamu bisa pusing?" tanya Ken dengan panik seraya mengusap wajah Alana. Alana hanya menggeleng kepalanya.


Ken menjulurkan punggung telapak tangannya di dahi Alana, namun suhu badannya normal. "Tidak demam," ucapnya.


"Memangnya siapa yang bilang demam? aku kan hanya bilang pusing, bukan demam!" seru Alana.


"Ayo, lebih baik kita pergi ke dokter, nanti kau kenapa-kenapa," ajak Ken.


"Tidak, aku baik-baik saja..." ujar Alana.


"Baik-baik saja bagaimana? jelas-jelas kau tadi tidak kuat untuk berdiri hingga duduk di bawah lantai, dan kau masih bilang baik-baik saja?" seru Ken.


"Ken, kau terlalu berlebihan, mungkin aku hanya masuk angin saja, kau kan tau dari kemarin aku  menjaga Daddy di rumah sakit, aku tidak mau ke dokter!" tolak Alana.


"Kalau kau tidak mau pergi ke dokter,  biar aku yang memanggilkan dokter kemari." Ken beranjak berdiri namun tangan Alana menahannya.


"Ken, aku tidak mau! Aku baik-baik saja, aku hanya butuh istirahat," ucap Alana.


"Kalau kau tidak periksa ke dokter  bagaimana aku tau kalau kau memang baik-baik saja!" seru Ken.


"Ken, semenjak Daddy sakit, setiap kali melihat dokter aku benar-benar tak tenang dan begitu takut. Percayalah, aku hanya butuh istirahat! Kalau sampai besok aku masih pusing, aku janji akan pergi ke dokter," kata Alana dengan memohon.


"Ken tolong..." Alana menarik tangan suaminya tersebut.


"Baiklah, kalau sakitnya berlebih  katakan kepadaku dan jangan diam saja."


"Jangan menunggu besok! Jika hingga siang kau masih pusing kau harus pergi ke dokter!" imbuhnya. Alana seketika menganggukan kepalanya.


"Hari ini jangan ke rumah sakit, kau harus  istirahat penuh di rumah!" tuturnya.


"Tapi aku ingin mengunjungi Daddy," pinta Alana.


"Kau sedang sakit, setidaknya hari ini saja. Besok pagi ke sana bersamaku!" tutur Ken.


"Tapi, Ken--"


tatapan Ken membuat Alana terpaksa harus menuruti perintahnya.


"Baiklah..." ucap Alana dengan terpaksa.


"Tunggulah di sini, aku akan membuatkan teh dan mengambilkan sarapan untukmu..." kata Ken seraya beranjak berdiri.


"Tidak usah, Sayang. biar Bi Ester saja," ucap Alana.


"Di sini yang menjadi suamimu siapa? Bi Ester?" tanya Ken.


"Bukan seperti itu, kau kan harus pergi bekerja, aku tidak mau merepotkanmu," ujar Alana.


"Aku sudah terbiasa kau repotkan!" ledek Ken, ia berlalu pergi dari sana.


 


***


Ken membuatkan Alana teh hijau di dapur, dan membuatkan roti selai coklat untuknya. Ia menolak bantuan Bi Ester yang baru saja memberi tawaran kepadanya.


Tak lama kemudian, Ken  kembali ke kamar dengan membawa nampan yang di atasnya tertata cangkir berisi teh dan juga roti selai coklat yang ia buatkan untuk Alana.


Alana melebarkan senyumannya saat Ken menyuruhnya untuk meminum teh yang ia bawakan.  "Terimakasih, Ken."  Alana dengan penuh semangat segera meminum teh yang telah dibuatkan oleh suaminya tersebut.


"Kenapa pahit sekali? kau tidak bisa membuat teh?" protes Alana.


"Apanya yang pahit? sudah minum saja." Alana mengernyit akan lidahnya yang benar-benar getir menolak rasa pahit dari teh tersebut, namun, Ia mampu menghabiskannya.


"Ayo makanlah roti ini..." Ken memberi roti tersebut kepada Alana. Satu gigitan kecil pada bagian roti itu, membuat dahi Alana mengernyit kembali.


"Manis sekali... ini telalu banyak selai coklatnya, kau mau perlahan-lahan membunnuhku?" seru Alana.


"Aku tidak mau terlalu banyak selai," pinta Alana menyodorkan kemabli roti tersebut kepada Ken.


"Baiklah, aku akan mengurangi selainya." Ken membuka dua lembar roti yang masih  merekat itu, ia membuang sebagian selai coklat yang sudah melekat pada roti tersebut dengan menggunakan sendok teh.


"Jangan dibuang semua, aku tidak mau kalau  hanya makan roti saja..." pinta Alana. Ken langsung menghentikan aktivitasnya. Ia terdiam sejenak menatap Alana dan menghela napas panjang. Sebenarnya Ken merasa kesal, namun ia tak tega saat melihat wajah polos istrinya yang begitu menggemaskan.


"Kenapa istriku ini begitu cerewet sekali?" Ken mencubit mulut mungil Alana dengan begitu gemasnya.


"Sebagian selainya sudah ku buang. Jangan banyak bicara, cepat makan dan habiskan."


Alana mengiyakannya, ia  dengan begitu lahap menghabiskan roti tersebut dari suapan tangan suaminya.


 


^


Saat sibuk menyuapi Alana, Ken meraih ponsel miliknya yang berdering, ia melihat ada satu pesan masuk dari Billy.


Ken, aku tau dari David kalau mertuamu dirawat di rumah sakit, apa aku dan Valerie boleh menjenguk? ~ Billy.


Iya, Bill. Mertuaku masuk rumah sakit, Tentu saja boleh. ~ Ken.


Baiklah, besok aku dan Valerie akan ke sana. ~ Billy.


Okay. ~ Ken.


Setelah membalas pesan singkat dari Billy, Ken kembali meletakan ponselnya.


"Siapa, Sayang?" tanya Alana yang masih sibuk mengunyah roti di dalam mulutnya.


"Billy, dia dan Valerie besok ingin menjenguk Daddy."


"Oh..." Mendengar nama Valerie, Alana menghentikan kunyahannya, raut wajahnya menjadi datar, ia kembali teringat kejadian yang menyakiti hatinya  beberapa hari yang lalu di balkon villa itu.


"Ayo makanlah lagi!" perintah Ken.


"Aku sudah kenyang, pergilah ke kantor. Aku ingin istirahat!"


"Kau sedang sakit, aku tidak mau meninggalkanmu," ujar Ken  seraya meletakan piring yang masih tersisa roti itu di atas meja.


Ponsel milik Ken kembali berdering hingga berkali-kali, menandakan ada panggilan suara yang masuk, ia kembali meraih ponsel miliknya dan segera menerimanya saat tau ada satu  panggilan suara masuk dari Papa Gio.


Papa Gio memberitau Ken, bahwa ada client yang akan datang ke kantor, sementara Papa Gio sendiri harus menemui client lainnya. Sehingga Gio menyuruh anak sulungnya tersebut untuk segera pergi ke kantor menemui clientnya itu.


Ken begitu bingung, rasanya ia enggan untuk mengiyakan perintah Papanya tersebut. Karna ia begitu berat meninggalkan Alana yang sedang sakit, namun bagaimana lagi, tidak mungkin Ken menolaknya. Mau tidak mau, Ken terpaksa mengiyakannya.  Seusai bertukar suara dengan Papanya, Ken meletakan kembali ponselnya ke tempat semula.


"Ada apa?" tanya Alana.


"Aku harus pergi ke kantor. Ada client yang harus ku temui," ucap Ken dengan nada malas.


"Ya sudah pergilah," perintah Alana. Ken terdiam dan memandang Alana.


"Aku baik-baik saja..." imbuh Alana. Ken mengangguk, ia beranjak berdiri dan segera bersiap diri untuk pergi ke kantor.


 


***


 


Dari atas tempat tidur, Alana memperhatikan Ken yang sedang mengaitkan kancing kemeja dan juga jasnya, ia merasa tak enak hati karna tidak bisa membantu suaminya tersebut. Bagaimana lagi, kepala yang terasa pusing dan perutnya yang begitu begah, membuatnya sulit untuk bergerak.


"Kenapa memandangiku seperti itu?" tegur Ken.


"Maafkan aku, aku tidak bisa membantu untuk menyiapkan keperluan kerjamu," ujar Alana. Ken tersenyum dan berjalan menghampiri Alana.


"Tidak apa-apa. Istirahatlah, jangan memasak atau melakukan hal berat, kau harus benar-benar beristirahat, kau mengerti?" Alana mengangguk cepat akan perintah suaminya.


"Sudah pergilah, nanti kau terlambat!" perintah Alana.


"Oh, iya. Maafkan aku juga, aku tidak bisa mengantarmu ke halaman rumah," imbuhnya. Ken mengiyakannya, lalu ia  terdiam menatap wajah Alana dan mengusap pipinya. Ia benar-benar enggan untuk pergi.


"Aku baik-baik saja, Ken. Percayalah," senyuman yang tertepis di bibir Alana setidaknya membuat Ken begitu tenang untuk meninggalkannya pergi bekerja.


"Aku usahakan untuk pulang lebih awal," ucap Ken.


"Aku berangkat. Jika ada apa-apa, kabari aku secepatnya!" pamitnya seraya mencium puncak kepala Alana dan segera berlalu meninggalkan kamar tersebut.


Namun, sebelum Ken pergi  bekerja, ia menitipkan Alana kepada Bi Ester dan menyuruh asisten rumah tangganya itu untuk membuatkan Alana susu hangat. Bi Ester mengiyakannya, Ken segera melanjutkan niatnya untuk pergi bekerja.


 


***


 


Bukankah saat pengungkapan perasaan waktu itu Ken sudah bersumpah bahwa dirinya sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Valerie? Kepercayaan termasuk salah satu pondasi dalam sebuah hubungan, jadi Alana sangat memepercayai suaminya tersebut, meskipun tak bisa dipungkiri, rasa cemburu akan Valerie masih mengecam di dalam hatinya.


Bi Ester  yang mengetuk pintu kamar seketika membuyarkan lamunannya, Alana menyuruh Bi Ester yang kala itu membawa susu hangat di tangannya untuk segera masuk.


"Bagimana keadan Nona?" tanya Bi Ester.


"Sudah lebih baik, Bi."


"Bibi, Alana mau istrahat seharian dan tidak mau diganggu. Kalau ada siapapun yang kemari tolong suruh  titip pesan saja ya, kecuali Mama Merry, Kimmy atau Jesslyn. Jika mereka  kemari tolong bangunkan Alana," tutur Alana.


"Baiklah Nona..." saut Bi Ester. Ia meletakan susu hangat yang ia buatkan untuk Alana di atas meja kecil dan segera pamit pergi dari sana.


Alana meminum susu yang sudah dibuatkan oleh Bi Ester dan meneguknya hingga tak tersisakan dari wadahnya. Baru saja ia meletakan gelas kosong itu di atas meja, Alana tiba-tiba merasakan perutnya begitu mual. Namun, ia sekuat tenaga menahannya, agar makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya tak terbuang sia-sia.


"Ken sudah membuatkanku roti dan teh, aku tidak mau memuntahkannya." Alana menggembungkan mulutnya hingga wajahnya terlihat begitu merah, karna ia tidak ingin makanan yang telah dibuatkan oleh suaminya itu terbuang begitu saja.  Saat rasa mual itu mereda, ia bernapas dengan begitu lega. Alana merebahkan dan mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa berputar-putar tak karuan.


 


 


***


 


Ting Tong


Ting Tong


Suara bell pintu rumah berbunyi berkali-kalai, membuat Bi Ester yang sedang menyiapkan makan siang, cepat-cepat berlari ke depan membukakan pintu untuk tamunya tersebut.


Pintu terbuka,


Bi Ester memandang asing seorang wanita parubaya yang kini  berdiri berhadapan dengannya. Wanita itu tak lain ialah Brianna, ibu dari majikannya. Namun, Bi Ester tak mengenalinya.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ester.


"Apa Alana ada?" tanya  Brianna.


"Ada... Tapi Nona Alana sedang beristirahat, ada perlu apa Nyonya?" tanya Bi Ester yang belum mengizinkan Brianna masuk ke dalam.


"Saya ingin bertemu dengannya, tolong panggilkan dia!" perintah Brianna.


"Maaf Nyonya. Nona sedang beristirahat, jika ada sesuatu bisa katakan saja kepada saya, biar saya sampaikan," ujar Bi Ester.


"Hey... Kau belum memberitau kepada Alana tentang kedatanganku! Kau  tidak berhak melarang seorang tamu menemui majikanmu tanpa memberitau kepada majikanmu terlebih dahulu! Bagiamana jika  sesuatu yang akan dibicarakan itu begitu penting?" seru Brianna dengan nada menyolot.


"Maaf, Nyonya. Saya hanya menuruti permintaan Nona Alana, Nona tidak mau di ganggu karna Nona sedang tidak enak badan," tutur Bi Ester seraya menundukan pandangannya.


"Apa? Alana sakit? biarkan aku masuk..." Brianna hendak masuk ke dalam rumah, namun Bi Ester menghalangi langkah wanita itu.


"Maaf, Nyonya, kau idak--"


"Kau mau melarangku masuk untuk menemui putriku sendiri?" tukas Brianna. Bi Ester begitu terkejut akan penuturan Brianna. Karna pasalnya, ia tak pernah tau tentang Ibu dari majikannya tersebut.


"Anda ibunya Nona Alana?" tanya Bi Ester. Brianna membenarkannya dengan nada yang masih menyolot, Bi Ester berulang kali meminta maaf dan mengizinkan Brianna untuk masuk menemui Alana.


 


***


Brianna masuk ke dalam kamar Alana, ia melihat putrinya sedang berbaring di atas tempat tidur dengan tubuh lemasnya. Ia duduk di samping putrinya tersebut seraya memberi belaian lembut  di wajahnya, hingga membuat perempuan itu terbangun dari istirahatnya.


Senyuman Brianna terlihat jelas di kedua bola mata Alana, ia masih tak bergemming memperhatikan Brianna dengan begitu lama tanpa menegurnya.


"Alana..."  panggilan Brianna membuat Alana mengernyit. Ia masih memperhatikan wajah Ibunya tersebut.


"Alana, ini Mami."


"Mami?" Alana mengulangi perkataan Brianna dan memastikannya.


"Iya, Nak. Ini Mami." Brianna membenarkannya. Alana seketika beranjak bangun dari tidurnya.


"Kenapa Mami bisa  di sini?" pertanyaan Alana membuat Brianna mengernyit.


"Kau tidak suka Mami kemari?" tanya Brianna dengan sedikit kecewa.


"Bukan seperti itu! Alana hanya heran saja, bagaimana Mami bisa kemari?" tanya Alana.


"Mami merindukanmu, Mami dari kemarin sangat sulit menghubungimu, maka dari itu Mami kemari, sayang." Brianna kembali mengusap wajah Alana dan menciu dahinya.


"Kau sakit?" tanya Brianna.


"Hanya sedikit tidak enak badan saja," jawab Alana.


"Ada perlu apa Mami kemari?" tanya Alana.


"Kan Mami sudah bilang, Mami sangat merindukanmu. Makanya Mami kemari, Nak."


"Di mana Daddymu?" tanya Brianna.


Alana terdiam sejenak. "Daddy sedang dirawat di rumah sakit," ujarnya.


"Daddymu dirawat di rumah sakit? kenapa sayang?" tanya Brianna. Bahkan Alana begitu tak suka akan melihat ekspresi Ibunya yang ia rasa berpura-pura terkejut seperti itu.


"Jantung Daddy sedang bermasalah."


"Astaga, lalu bagaimana keadannya, apa Daddymu baik-baik saja?" tanya Brianna.


"Mami, tolong! Tidak usah berpura-pura peduli dengan keadan Daddy!" seru Alana dengan nada kesal.


"Alana, kenapa kau berbicara seperti itu? apa Mami  sebegitu buruknya sampai kau berbicara seperti itu?" tanya Brianna.


"Mami dari dulu mana peduli dengan Daddy? jadi tidak usah berpura-pura lagi!" seru Alana, ia masih menunjukan tatapan kesal dan tidak suka akan sikap ibunya tersebut.


 


"Alana... kenapa kau berubah seperti ini kepada Mami? apa Daddy dan suamimu yang menghasutmu untuk membenci Mami?" tanya Brianna.


"Mami, seharusnya Mami bertanya kepada diri Mami sendiri kenapa Alana seperti ini! Jangan menyalahkan orang lain atas berubahnya Alana! Daddy tidak pernah mengajari Alana membenci Mami, begitu juga dengan suami Alana! Yang membuat Alana berubah adalah kekecewaan bukan hasutan!" tegas Alana.


"Alana..."


"Bahkan Mami waktu itu juga berbohong kepada Alana kalau Daven tinggal bersama Mami, padahal Daven tidak tinggal bersama Mami, dia kabur dari rumah Paman! Benar kan apa yang Alana katakan?"


"Bahkan Mami sama sekali tidak mencari Daven! Mami lebih mementingkan hidup Mami sendiri daripada anak-anak Mami," imbuhnya.


"Alana, Daven memang kabur dari rumah Paman, Mami selama ini mencari Daven dengan bantuan Paman, tapi Mami dan Paman belum menemukannya, Nak!" bantah Brianna.


"Kalau Mami memang benar mencari Daven, kenapa Mami tidak bisa menemukannya? padahal Daven masih kuliah di kampusnya dan dia juga tidak tinggal jauh dari tempat Mami!" seru Alana.


"Bagaimana bisa? kata Pamanmu, Daven sudah tidak melanjutkan kuliahnya, bahkan dia sudah bertanya kepada semua teman Daven tapi tidak ada yang tau, Mami benar-benar mencarinya, Nak." Alana hanya tersenyum kecut, akan penuturan Briana. Entahlah, setelah semua ini, rasanya ia sudah sulit sekali mempercayai kata-kata ibunya,


"Alana, apa kau bertemu dengan Daven? tolong beritau Mami, di mana dia sekarang? Mami benar-benar sangat merindukannya, Nak," pinta Brianna seraya mengusap wajahnya yang tiba-tiba basah akan air mata.


"Iya, Alana sudah bertemu dengan Daven. Tapi Daven masih belum mau bertemu dengan Mami."


"Mami, maaf. lebih baik Mami pulang, Alana benar-benar lelah dan  butuh istirahat." Alana segera berbaring kembali, ia menjulurkan selimut menutupi sekujur tubuhnya dan membelakangi Ibunya tersebut.


"Maafkan, Alana, Mam." Alana menangis di balik balutan selimut itu. Brianna berkali-kali memanggil-manggil nama putrinya mencoba menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan, namun rasanya percuma, karma  Alana tak menghiraukannya.


"Baiklah, Mami akan pulang..." Brianna menyerah, ia mencium Alana dari balik selimut itu dan  hendak pergi dari sana. Namun, perhatiannya teralihkan akan obat yang  terlihat tak asing tergeletak di atas meja. Ia memperhatikan obat yang masih belum terminum sama sekali itu.


"Pil Kontrasepsi?" gumam Brianna  saat mengambil pil yang sempat Alana beli tadi malam. Air mata  Brianna semakin membanjir saat melihat pil kontrasepsi tersebut. Ia mengembalikan pil itu ke tempatnya semula dan segera pergi dari sana.


"Apa putriku sebegitu menderitanya menikah dengan laki-laki itu? bahkan dia tidak menginginkan anak dari Alana," Brianna berjalan meninggalkan rumah Alana dan berkali-kali mengusap deraian air mata yang membasahi wajahnya.


"Ini semua gara-gara Holmes, putriku jadi menderita seperti ini dan harus menikah dengan laki-laki itu... aku bersumpah akan membalas semuanya!"


Sebuah mobil tiba-tiba menghampiri Brianna, membuat wanita itu segera lekas masuk ke dalam sana.


"Bibi kenapa menangis?" seorang wanita yang tak lain ialah Caleey sedang bertanya kepada Brianna.


"Tidak apa-apa..."


"Bagaimana? Apa Bibi sudah bisa membujuk Alana supaya merayu Paman agar perusahaannya dikelola oleh Daddy?" tanya Caleey.


"Bibi belum berbicara dengannya. Karna pamanmu masuk rumah sakit," jawab Brianna.


"Paman Holmes masuk rumah sakit?" Brianna membenarkan pertanyaan Caleey.


"Bibi, tolong. Bibi harus segera membujuk Alana. Caleey tidak mau Daddy jatuh sakit hanya karna memikirkan perusahaannya yang sedang collapse," ujar Caleey.


"Bibi tau. Tapi bersabarlah, itu semua tidaklah mudah, karna Bibi merasa, Alana dipengaruhi oleh suaminya yang tidak tau sopan santun itu," saut Brianna.


"Besok Bibi akan mencobanya lagi, sekalian Bibi ingin  menemui Holmes," imbuhnya. Caleey mengiyakannya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.