
Jesslyn sejenak melepaskan pelukannya. "Tuhan, memang sudah menakdirkan kita untuk bertemu, ini bukanlah sebuah kebetulan. Bahkan, kau sekarang menjadi Kakak iparku," Jesslyn melebarkan senyumannya dengan sangat bahagia, menunjukan bahwa mengenal Alana sebuah keberuntungan baginya.
"Terimakasih..." Alana kembali memeluk Jesslyn dengan erat, kemudian, ia melepaskannya.
"Jesslyn, aku akan pergi ke dapur untuk membantu Paman Kin dan juga putrinya menyiapkan sarapan," pamit Alana.
"Baiklah, Alana. Aku akan membereskan tasmu terlebih dahulu, setelah itu aku akan menyusulmu," ujar Jesslyn. Alana mengiyakannya dan segera berlalu pergi meninggalkan kamarnya tersebut.
Saat Jesslyn rasa Alana sudah pergi, ia kembali merapikan tas milik kakak iparnya tersebut, kemudian, ia melirik ke arah obat yang telah dibuang oleh Alana di dalam tempat sampah tadi. Pikiran Jesslyn dibuat penasaran dengan obat tersebut, ia sejenak melihat ke arah Kakaknya yang masih pulas akan tidurnya, kemudian, tangannya dengan cepat mengambil obat yang sudah dibuang oleh Alana tadi dan menyembunyikannya di dalam salah satu celanannya.
Jesslyn segera keluar dari kamar tersebut hendak kembali ke kamarnya,
di sana, ia melihat Kimmy baru saja keluar dari dalam kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk.
"Kimmy... kemarilah." Jesslyn menarik paksa tangan Kimmy hendak menyuruhnya untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Jesslyn, jangan menarik-narik tanganku seperti ini! Kalau tanganku putus kau mau menggantinya?" Kimmy melotot seraya meletakan kedua tangannya di atas pinggangnya.
"Kalau putus tinggal diganti saja dengan tangan boneka barbie," saut Jesslyn.
"Memangnya bisa? tangan barbie kan kecil, sedangkan tanganku besar..." saut Kimmy.
"Bisa saja, tunggu barbienya dewasa, nanti juga tangannya akan berubah menjadi sebesar tangan manusia..." ujar Jesslyn.
"Kau ini sungguh bodoh! Kenapa jadi membahas boneka barbie?" seru Jesslyn.
"Kau ini... duduklah kemari!" Jesslyn kembali menarik tangan Kimmy mengajaknya duduk di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Kimmy.
"Kimmy, lihatlah ini..." Jesslyn menunjukan obat milik Alana kepada Kimmy.
"Ini kan obat..." Kimmy begitu heboh.
"Orang tidak waras juga tau ini obat!
Maksudku, apa kau tau ini obat apa?" tanya Jesslyn.
"Ini obat siapa?" Kimmy menyaut obat tersebut dan mengambilnya beberapa butir dari kemasannya.
"Milik Alana, apa kau tau ini obat apa?" tanya Jesslyn.
"Ehm..." Kimmy memperhatikan obat tersebut dengan seksama.
"Apa ini pil kontrasepsi?" tanya Jesslyn.
"Karna tadi Alana bilang, katanya sudah lama sekali tidak haid, karna haidnya tidak teratur. Aku jadi curiga dia menggunakan pil kontrasepsi, tapi kata dia ini hanya vitamin saja," imbuhnya.
"Bukan, ini bukan pil kotrasepsi. Kalaupun Alana meminum pil kontrasepsi haidnya juga pasti akan teratur,"
"Benarkah? apa kau yakin?" tanya Jesslyn.
"Iya, aku sangat tau sekali pil kontrasepsi," ujar Kimmy.
"Lalu, ini obat apa?" tanya Jesslyn.
"Ehm..." Kimmy membolak-balikan butiran obat tersebut.
"Kau tau tidak?" tanya Jesslyn. Kimmy menggelengkan kepalanya.
"Dasar payah! Tidak ada gunanya kau menjadi seorang dokter," saut Jesslyn.
"Aku kan memang belum menjadi seorang dokter, dasar bodoh!" balas Kimmy.
"Oh iya." Jesslyn terkekeh. "Tapi seharusnya kan kau tau ini obat apa!" imbuhnya.
"Aku benar-benar tidak tau, karna aku tidak pernah melihat obat ini. Mungkin benar yang dikatakan Alana, ini hanya vitamin saja, bisa jadi obat tidur. Apa kita perlu bertanya kepada Papaku?" tanya Kimmy.
"Tidak usah, nanti akan menimbulkan masalah... Kita buang saja obatnya," Jesslyn menyaut butiran obat yang di pegang oleh Kimmy dan segera membuangnya ke luar jendela kamarnya.
"Ayo kita sarapan," ajak Jesslyn.
"Sebentar aku akan menyisir rambutku." Kimmy beranjak berdiri dan segera menyisir rambutnya yang setengah basah.
***
Di dapur, Alana sedang terlihat sibuk membantu Alea untuk menyiapkan sarapan. Banyak sekali makanan yang baru saja mereka sajikan di atas meja makan.
"Kau pandai memasak, Nona Alea..." puji Alana.
"Aku tidak sepandai itu, aku masih belajar, Nona Alana." Alea tersenyum begitu manis dan merasa sungkan akan pujian Alana.
"Kau manis sekali..." Alana memegang dagu Alea. Membuat wanita itu semakin malu dibuatnya.
Tak lama kemudian, terlihat Jesslyn, Kimmy dan juga Valerie menghampiri meja makan untuk sarapan. Jesslyn dan Valerie saling mencari bangku untuk mendudukan tubuhnya di sana. Sementara Kimmy saling beradu pandang dengan Alea. Alea menepiskan senyumnya, dan Kimmy segera membalasnya.
"Nona Jesslyn, ke mana Jasson?" tanya Alea kepada Jesslyn.
"Mungkin dia masih tidur," jawab Jesslyn.
"Oh..." saut Alea.
Kimmy mendudukan tubuhnya di kursi kosong dan tak membiarkan Alea lepas dari pandangannya. "Nona Alea sepertinya juga menyukai Jasson," gumamnya dengan memasang raut wajah muramnya. Alea berpamitan pergi darisana.
"Ke mana Tuan Billy, Nona Valerie? kenapa kau tidak mengajaknya sarapan?" tanya Alana kepada Valerie.
"Dia masih tidur..." jawab Valerie tanpa memandang Alana.
"Oh..." Alana membulatkan bibirnya.
Saat Alana hendak ikut mendudukan tubuhnya di kursi, tiba-tiba sebuah bayangan memantul di lantai dapur, membuat Alana mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah pintu dapur tersebut. Terlihat Ken berdiri di ujung sana dengan raut wajah paniknya.
"Ken... kau sudah bangun?" Alana melebarkan senyumnya kepada suaminya tersebut. Namun Ken tak membalas senyuman maupun perkataannya. Ia berjalan mendekati Alana dan tiba-tiba memeluknya dengan erat, membuat Alana begitu heran. Bahkan, Ken tak mempedulikan ada siapa saja yang ada di dapur waktu itu, yang ia pedulikan hanya Alana saja.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Alana dengan heran. Jelas saja, Ken tiba-tiba memeluknya seperti itu. Bahkan, Alana merasakan dengan jelas detak jantung Ken berdetak sangat cepat seperti orang yang baru saja menyudahi lari marathonnya.
"Tidak apa-apa... aku hanya mencarimu, aku kira kau pergi ke mana," sangkalnya.
"Kau seperti dikejar ****** saja hingga berkeringat seperti ini." Alana mengusap dahi Ken yang basah. Bahkan membuat perhatian Valerie teralihkan ke arah mereka berdua, namun, Valerie sebisa mungkin menahan perasaannya.
"Hem..."
"Kakak, ayo kita sarapan bersama..." ajak Jesslyn.
"Iya, ayo sarapan..." ajak Alana.
"Nanti saja, aku akan mandi dulu," jawab Ken.
"Baiklah," saut Alana. Ken hendak berlalu keluar meninggalkan dapur, namun, langkah kakinya terhenti dan kembali menoleh ke arah Alana.
"Alana?" panggilnya membuat Alana menoleh ke arah Ken yang masih berdiri di ambang pintu dapur tersebut.
"Iya, Sayang?" saut Alana.
"Jangan pergi ke mana-mana jika tanpa aku!" tuturnya. Alana tersenyum dan mengiyakannya. Ken melanjutkan niatnya untuk kembali ke kemarnya. Ia berjalan dengan langkah kaki yang terkulai lemas.
"Aku benar-benar paranoid, bahkan hingga bermimpi buruk. Aku tidak bisa membayangkan jika semalam aku tidak menemuakan Alana." Ken melemaskan tubuhnya untuk duduk di tepi tempat tidur, kemudian beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.
***
Alana mendudukan tubuhnya di kursi untuk memulai sarapan dengan yang lainnya. Sementara Valerie, wanita itu terlihat termenung, dengan perasaan dan pikirannya yang ia rasa begitu kacau.
"Valerie, kau akan kembali jam berapa?" tanya Jesslyn. Namun, Valerie hanya diam saja seakan melamunkan sesuatu.
"Valerie..." panggilan Jesslyn menyentak telinga Valerie, membubarkan lamunannya.
"Iya, Jesslyn?"
"Kau melamun? Aku sedang bertanya, nanti akan kembali jam berapa?" tanya Jesslyn.
"Tidak, aku tidak melamun," bantah Valerie. "Entahlah, mungkin aku akan kembali sore," imbuhnya. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah Alana.
"Ken benar-benar mencintai Nona Alana," gumamnya.
"Aku benar-benar penasaran, bagaimana Nona Alana bisa mendapatkan hati Ken? bagaimana mereka bisa saling mengenal?" pertanyaan-pertanyaan itu membuat Valerie sangat penasaran. Alana tak sengaja melihat Valerie yang sedang memperhatikannya dengan penuh tanda tanya. Seketika itu, Valerie mengalihkan pandangannya tersebut.
***
"Di mana David dan Jasson?" tanya Alana.
"Mereka masih tidur, Alana. Aku sudah berkali-kali membangunkan mereka, tapi tidak bangun juga," saut Ashley.
"Oh... ya sudah, ayo makanlah!" perintah Alana. Ashley dengan penuh semangat memindahkan makanan ke dalam piring kosong yang baru saja ia ambil dan segera melahapnya.
"Sayang, kau mau makan apa?" tanya Alana kepada Ken seraya menuangkan susu ke dalam gelas kosong yang ada di depan suaminya tersebut.
"Roti saja..." saut Ken.
"Baiklah..." Tangan Alana segera meraih beberapa lembar roti dan juga selai coklat. Jesslyn dan Valerie sibuk mengobrol di sela-sela makannya. Sementara Kimmy, kedua matanya sedari tadi begitu jeli memandangi leher Alana yang tertutup samar oleh rambutnya.
"Alana, apa di sini ada serangga?" tanya Kimmy seraya mengunyah makanan miliknya.
"Entahlah, aku tidak tau..." saut Alana, ia sibuk mengoleskan selai coklat di atas roti dan menaburinya dengan beberapa slice pisang kemudian memberikannya kepada Ken.
Kimmy memperhatikan kembali leher Alana, penglihatannya tidak salah, ia melihat beberapa tanda merah di leher sahabatnya itu. Namun, Kimmy masih ingin memastikannya kembali.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Alana mengernyit heran.
"Alana, kemarilah, aku lihat lehermu." Kimmy hendak meraih rambut Alana yang menutupi lehernya.
"Ada apa?" Alana menjauhkan tubuhnya dari Kimmy.
"Lehermu sepertinya digigit serangga, kemarilah. Aku ingin melihatnya." Tangan Kimmy berhasil menjangkau rambut Alana, menyibakannya ke belakang, membuat leher jenjangnya terlihat dengan sempurna di kedua manik matanya.
"Kan, benar! Lehermu digigit serangga!" Kimmy mengeraskan suaranya dengan begitu heboh. Bahkan membuat perhatian semua orang yang ada di meja makan itu ikut teralih untuk melihat leher Alana. Begitu juga Ken dan Valerie.
"Astaga, dasar Ken..." Alana segera menutupi lehernya kembali dengan rambut panjangnya.
"Species serangga macam apa yang menggigit lehermu, kenapa mereka suka sekali menggigit lehermu, aku saja-"
"Diamlah!" Alana seketika membungkam mulut Kimmy dengan telapak tangannya, berharap agar wanita itu tidak berbicara lebih jauh lagi. Ashley, Valerie dan Jesslyn pun tau tanda merah yang membekas di leher Alana, bahkan Jesslyn dan Ashley menggeleng kepalanya akan kepolosan Kimmy.
"Alana lepaskan..." suara Kimmy tertahan di telapak tangan Alana.
"Makanya, diam, dan jangan berbicara apapun!" perintah Alana. Kimmy menganggukan kepalanya. Alana segera melepaskan tangannya.
"Tapi, lehermu--"
"Biasanya itu serangga species langkah," Ashley ikut menimpalinya.
"Jelas saja, semalam serangganya begitu betah, dan tidak mau menemui teman-temannya!" imbuhnya sambil terekeh. Ken menatapnya dengan tajam membuatnya langsung diam dan takut.
"Kak Ashley, Kau ini bagaimana, serangganya kan menyukai Alana," saut Jesslyn seraya meledek Ken.
"Menakutkan sekali, aku tidak mau disukai serangga." Kimmy mendesis ngeri. "Untung saja, serangganya tidak menggigit Alana hingga mati," imbuhnya.
"Kimmy, aku bilang diam!" Alana melototkan kedua matanya kepada Kimmy.
"Aku sudah diam..." Kimmy begitu latah melototkan kembali kedua matanya kepada Alana.
"Sungguh tidak sopan, di meja makan berbicara," gumam Valerie seakan tidak senang.
"Eherm..." Valerie berdehem.
"Sudah! Lanjutkan makan kalian!" perintah Ken.
"Mengataiku serangga, keterlaluan..." gumam Ken, ia memakan roti miliknya dan mengunyahnya dengan cepat.
"Nona Valerie, maaf. sarapanmu jadi terganggu," ujar Alana dengan tidak enak hati.
"Tidak masalah, Nona Alana," saut Valerie tanpa memandang ke arah Alana. Ia sibuk memakan makanan miliknya. mereka semua kembali melanjutkan makannya, Valerie melirik ke arah Ken bergantian memandang Alana dengan tatapan tidak suka.
Baru saja suasana meja makan sedikit tenang, tiba-tiba Jasson datang dengan begitu heboh memanggil-manggil nama Kakaknya.
"Kakak... Kakak..." Jasson dengan raut wajah yang lusuh seusai bangun tidur itu memanggil Ken dengan napas ngos-ngosan. Namun, tak mengurangi ketampanannya sama sekali. Bahkan kaos yang ia kenakan terlihat acak-acakan hingga membentuk jelas lekuk tubuh dan ototnya, membuat laki-laki itu sangat maskulin di kedua mata Kimmy.
"Jasson, ada apa?" tanya Ken.
"Kakak, apa kau tau? perusahaan Paman Afford sedang collapse?" tanya Jasson.
"Tidak, Kakak tidak tau! Kau tau dari mana?" tanya Ken seolah tak percaya.
"Dari Paman Andrew, Harry baru saja menelponku, Kak. Dia bilang, Afc company terjerat hutang karna beberapa perusahaan yang sudah ditangani oleh Paman Afford membatalkan kerja samanya dengan cara sepihak, dan Paman Afford mendatangi Paman Andrew untuk meminta bantuan," kata Jasson dengan nada bicara yang cepat.
"Lalu, Paman Andrew membantunya?" tanya Ken.
"Tidak, Kak. Paman Andrew tidak bisa membantu Paman Afford, karna Paman Andrew sudah menanam saham dengan jumlah yang tak sedikit ke perusahaan kerabatnya yang ada di Jepang." Tiba-tiba, Ken tersenyum lega seolah-olah senyuman kecil itu penuh dengan kemenangan besar.
"Rasakan itu... biar mereka merasakan, apa yang pernah dirasakan Papa dan juga Paman Holmes!" Jesslyn menyaut dengan begitu puasnya.
"Jesslyn!" tegur Ken. Jesslyn seketika langsung diam.
"Kak, lebih baik aku beritau kabar ini kepada Papa..." ujar Jasson. Ken segera menarik tangan Jasson menghentikan niat adik laki-lakinya tersebut.
"Jangan! Biar Papa mengetauhinya sendiri!" tutur Ken.
"Kak, bukankah ini sebuah balasan bagi keluarga Paman Afford yang sudah membuat Papa kacau beberapa waktu yang lalu? ini kabar menggembirakan," ujar Jasson.
"Kita tidak boleh bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, sekalipun itu musuh kita!" tutur Ken. Meskipun dirinya begitu senang akan kabar jatuhnya perusahaan milik Afford, namun, dirinya tidak mau mencotohkan hal buruk kepada adik-adiknya.
"Baiklah, Kak."
"Ken, Paman Afford bukannya ayahnya Caleey?" tanya Valerie. Ken membenarkannya.
"Bukannya, keluarga kalian dulu sangat dekat sekali?" tanyanya kembali dengan penasaran.
"Iya, Nona Valerie. Beberapa waku yang lalu ada masalah antar perusahaan Paman Gio dan Paman Afford," saut Ashley.
"Masalah apa, Ken?" tanya Valerie, ia sangat penasaran. Karna, yang ia tau keluarga Gio dan Afford sangatlah dekat sekali, bahkan, karna kedekatan mereka, membuat Valerie tidak menyukai Caleey yang daridulu sangat kegenitan terhadap Ken. Ken tak menjawab pertanyaan Valerie, ia hanya menatapnya dengan tatapan tajam seolah tak menyukai akan dirinya yang terlalu ingin tau.
"Ma-maaf, aku terlalu lancang bertanya..." imbuh Valerie seraya menundukan pandangannya.
Ken melirik ke arah Alana, yang tiba-tiba terdiam dengan wajah pucatnya. "Alana, kau kenapa?" tanya Ken. Alana hanya menggeleng kepalanya tanpa bersuara.
"Ayo kita ke depan," ajak Ken beranjak berdiri dan membantu Alana untuk meninggalkan tempat duduknya. Alana mengangguk dan berjalan bersama Ken meninggalkan meja makan tersebut.
Pikiran Alana tiba-tiba terganggu akan kabar yang sempat Jasson katakan tadi. "Perusahaan Paman sedang dalam masalah," gumam Alana. meskipun Alana tau keluarga Pamannya tidak sebaik yang ia kira, tetapi, ia merasa kasihan.
.
.
.
.
muter-muter aja thor.
ngapain kalian muter-muter? entar pusing wkwk
Aku kan pernah bilang, MIH 3 ini alurnya agak sedikit lambat beda sama MIH 1 sama MIH 2 yang menggunakan alur cepat.
kalau mau cepat yaudah percepat aja alurnya di imajinasi kalian wkwkwk.