My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Tak kuasa



Dua orang security itu menarik tangan Alana hendak menyuruhnya keluar dari gedung itu.


namun. Tiba - tiba Ken datang dan mendorong dua security itu. Hingga jatuh tersungkur di lantai.


"Jangan sekali - sekali kalian mencoba menyentuh istriku. Atau aku tidak akan segan mematahkan tangan kalian!" teriak Ken dengan begitu kesal. Ia langsung menarik Alana dan mendekapnya erat.


Alana sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh. Mereka semua terkejut bukan main saat Ken berbicara seperti itu. Terlebih lagi Caleey.


Di belakang Ken. Terlihat Merry dan juga Gio. Wajah Ayah dan anak tersebut terlihat seakan sama - sama murka di buatnya.


"Kak Ken, Istri? apa maksudmu?" Caleey bertanya dengan kebingungan. namun Ken hanya diam dan tak menghiraukannya.


"Apa begini cara kalian semua memperlakukan seorang tamu?" seru Gio.


"Gio ... Merry..." ucap Hellena dengan sedikit terkejut akan kehadiran mereka.


"Kalian tidak ada hubungan dan tidak tau masalah kami!" ucap Hellena.


"Yang kau tawan saat ini adalah Alana. Jadi jelas ada hubungannya dengan kami. Katakan apa masalahmu dengan Alana!" seru Gio dengan menatap tajam Hellena. bahkan, urat - urat di dahinya terlihat dengan begitu jelas.


"Kalian hanya orang asing di sini. jadi, lebih baik kalian diam dan tidak usah ikut campur!" seru Hellena.


"Jelas kami ikut campur. Karna Alana adalah menantuku!" saut Merry. ia berjalan mendekati Hellena rasanya Merry ingin sekali mencakar wajah wanita itu. namun, Gio menahan tubuh istrinya tersebut. Hellena begitu terkejut saat mendengar pernyataan Merry yang mengatakan bahwa Alana ialah menantunya. begitu juga dengan Caleey.


"Alana menantumu?" tanya Hellena.


"Apa Bibi sedang bercanda?" Caleey ikut berkomentar.


"Iya, Alana adalah menantuku! Alana sudah menikah dengan putra sulungku!" dengus Merry.


"Oh, dia sekarang menjadi menantumu?" Hellena melirik ke arah Ken dan Alana secara bergantian.


"Lihatlah, menantumu itu. dia mengacaukan pernikahan putraku! Lagi pula, aku tidak mengundang keluarga kalian di sini. Jadi untuk apa kalian semua kemari!" seru Hellena.


"Nyonya Hellena, tolong jaga sikap dan cara bicara anda! Keluarga Tuan Gio adalah tamu terhormat di sini!" Tuan Hilton beserta istrinya datang dan ikut menghampiri mereka. bahkan, kini Alana menjadi bahan tontonan semua tamu yang hadir di acara itu. Tuan Hilton melihat ke arah Alana yang sedang menundukan wajahnya. Ia masih menahan rasa malu dan air matanya.


"Nak Alana?" panggil Tuan Hilton. Namun Alana hanya diam saja.


"Maaf, Tuan Gio. kami tidak tau kalau Alana ternyata menantu anda," ucap Hilton.


"Bahkan meskipun Alana adalah orang lain dan bukan menantu kami. kalian tidak sepantasnya memperlakukan tamu kalian seperti itu. dengan seperti ini sudah menunjukan siapa diri kalian sebenarnya!" seru Gio.


"Wah ... wah... wah... sepertinya ada yang sedang memanfaatkan keponkanku!" Tuan afford tiba - tiba menghampiri dan ikut menimpali pembicaraan mereka.


"Jangan berbicara sembarangan, Tuan Afford!" seru Gio.


"Apa aku tidak salah dengar, Paman? bukannya anda yang suka memanfaatkan orang lain? kau bilang Alana keponakanmu? seharusnya kau memiliki rasa malu sedikit saja saat mengakui itu semua. kau berbicara seolah selama ini memberikan Alana sebuah kehidupan yang layak!" timpal Ken.


"Kau.." Afford menahan rasa geram akan kata - kata Ken.


"Aku belum selesai bicara, Paman." Ken menukasnya.


"Kalian juga seorang perempuan. tapi bisa - bisanya mempermalukan seorang perempuan lainnya. Orang - orang macam apa kalian ini?" Ken menunjuk tangannya di hadapan Hellena, dan juga Lecya.


"Dan terutama kau Caleey, Alana adalah saudaramu bukan? ku kira kau wanita baik. ternyata aku salah selama ini. Jesslyn benar. untung aku tidak menikah dengan wanita bermuka dua seperti dirimu!" seru Ken.


"Berani sekali kau berkata seperti itu kepada anakku!" seru Afford.


"Kenapa memangnya, Paman?" tantang Ken.


"Kak Ken, bicaralah kalau ini tidak benar kan? Alana bukan istrimu kan?" Caleey berjalan mendekat dan menggelayuti tangan Ken.


"Jangan menyentuhku!" Ken menepis kasar tangan Caleey.


"Katakan dulu jika ini tidak benar!" seru Caleey.


"Apa pendengaranmu tadi sudah tidak berfungsi lagi? Alana adalah istriku! Aku sudah menikah dengannya!" Ken semakin mempertegas ucapannya.


Sumpah demi apapun Caleey benar - benar tak percaya. Wajahnya terlihat memucat seketika. Ia hanya bisa menelan ludahnya dengan rasa getir. Ia melihat ke arah Alana dengan penuh amarah seakan ingin menghajar keras wajah saudaranya tersebut.


"Tuan Hilton, Kami permisi. Kami hanya membuang banyak waktu untuk melihat drama menjijikan semacam ini!" seru Gio.


"Tuan Gio, tolong tunggu sebentar. jangan pergi dulu," pinta Tuan Hilton.


"Maaf, Tuan Hilton." Gio mengatupkan kedua tangannya


"Ken, ajak istrimu pergi dari sini."Gio memerintahkan Ken. Ken mengiyakannya. dan saat Ken hendak mengajak Alana pergi dari sana. Alana langsung lari keluar dari gedung itu. begitu juga dengan Darrel. Ia memundurkan langkah kakinya untuk mencari cela mengejar Alana agar tidak di ketaui Hellena dan juga Lecya. .


"Alana," panggil Ken. namun, Alana tak menghiraukannya. Ken pun segera keluar dari gedung itu untuk menyusul istrinya tersebut.


***


"Alana, tunggu ..." Darrel berlari mengikuti Alana. dan seketika ia langsung menarik tangan Alana.


"Tolong lepaskan tanganku, Darrel. Jangan menambah masalah untukku!" Alana meronta.


"Alana, tolong maafkan kejadian hari ini. tolong maafkan keluargaku," ucap Darrel.


"Aku yang salah karna sudah datang kemari dan mengacaukan pernikahanmu ..." ucap Alana.


"Tidak Alana, kau sama sekali tidak salah," bantah Darrel. Alana menunduk dan hendak berlalu pergi dari sana. Tapi, Darrel tak gentar menarik kembali tangan Alana.


Namun, dari belakang, Ken datang dan mendorong tubuh Darrel hingga terjatuh di tanah.


"Hey!" teriak Darrel dengan kesal. Ia beranjak berdiri dan mendekati Ken.


"Apa orang tuamu tidak mengajarkanmu sopan santun kepada wanita yang sudah bersuami?" tanya Ken.


"Kau yang tidak tau sopan santun!" teriak Darrel. Ia hendak memukul Ken. namun, Ken menangkis tangannya dan mengunci tangan Darrel ke belakang punggung.


"Apa selain kau tidak punya sopan santun. Kau juga tidak punya telinga? kau berani menyentuh istriku lagi aku tidak akan segan mematahkan tanganmu ini!" seru Ken. Darrel hanya bisa merancau kesakitan.


"Ken, lepaskan dia," pinta Alana. Ken pun melepaskan Darrel dan mendorongnya hingga tersungkur di tanah.


Tanpa berkata, Ken menarik tangan Alana dan mengajaknya menuju ke parkiran mobil. Ia membukakan pintu mobil dan menyuruh Alana untuk masuk.


Alana masih diam dan menundukan wajahnya. Demi Tuhan, rasanya ia ingin sekali menangis berteriak mengungkapkan kekacauan yang saat ini berkecamuk di dalam hati dan pikirannya. namun, Alana tidak bisa. Ia hanya bisa menahan ini semua.


"Apa kau baik - baik saja?" tanya Ken. Alana hanya menganggukan kepalanya. Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk kembali ke arah rumah.


Sesekali, kedua mata Ken tak henti memperhatikan Alana yang hanya diam membisu sembari menundukan wajahnya.


Setibanya di rumah, Ken menghentikan mobilnya di halaman rumah. dan menyuruh Alana untuk turun. Alana masih tak henti memikirkan kejadian yang benar - benar melukainya tadi. ia turun dan berjalan mendahului Ken untuk masuk ke dalam rumah. Ken turun mengikutinya. Ia memperhatikan Alana seraya menutup kembali pintu rumah itu.


Lalu, Ken masuk ke dalam kamar dan ia melihat Alana sedang berdiri di dekat jendela kamar itu. Suara isakan tangis terdengar sedikit memecah di telinga Ken.


"Alana?" panggil Ken, ia berjalan mendekati istrinya tersebut.


"Aku baik - baik saja. jangan kemari, jangan melihatku, tolong keluarlah!" perintah Alana. ia terlihat menangis membelakangi Ken seraya mengusap kedua matanya yang sudah basah. namun, Ken tak menghiraukan perkataan Alana. Ia semakin berjalan mendekat. Lalu, ia menarik tubuh Alana dan memeluknya.


"Menangislah," ucap Ken lirih. Alana semakin tak kuasa.


"Ken ..."


Alana membalas pelukan Ken dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya tersebut. ia semakin menumpah ruahkan air matanya di sana membuat kemeja yang di kenakan Ken basah akan air matanya.


"Kenapa semua orang memperlakukanku dengan buruk, Ken? aku tidak pernah berbuat jahat kepada mereka. aku tidak pernah menjahati mereka semua. Aku tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun, Ken." Alana berbicara dengan sesenggukan. Suaranya beradu dengan air mata yang mengalir sangat deras dengan di iringi isakan tangisnya.


"Maafkan aku, ini salahku. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu tadi," bisik Ken lirih.


"Ini bukan salahmu." Alana menggeleng - gelengkan kepalanya.


Ken semakin memeluk erat Alana membiarkan wanita itu menangis di dalam dekapannya. Ken seakan merasakan hantaran rasa sakit yang di rasakan oleh Alana saat ini. Amarahnya begitu memuncak hingga membuat laki - laki itu mengepalkan kedua tangannya dengan begitu geram saat mengingat kejadian di gedung tadi.