
Keesokannya, setelah makan siang. Ken mengajak istri beserta adik-adiknya itu untuk segera pulang. Sebelumnya, paman penjaga villa membantu Ken untuk memasukan barang-barangnya ke dalam bagasi, jadi setelah makan siang, Ken tak perlu kerepotan, ia segera berpamitan dan pergi meninggalkan villa tersebut.
Mereka semua tiba di rumah sebelum petang, Alana dan Ken terlebih dulu menemui Papa Gio dan Mama Merry di rumahnya, mereka berdua melepas rindu kepada orang tuanya tersebut, ini sebuah kejutan bagi Merry saat melihat anak dan menantunya itu pulang, senangnya bukan main. Ia berkali-kali menghujani mereka berdua dengan ciuman. Karna sebelumnya, Ken memang sengaja tak memberitaukan kepulangannya kepada orang tuanya tersebut.
Setelah itu, Alana mengajak suami beserta adik laki-lakinya itu untuk berziarah ke makam Holmes. Sebenarnya, Ken melarang Alana karna waktu itu sudah menjelang petang, namun Alana tak mempedulikannya. Ancaman Alana yang akan berangkat berziarah sendiri, membuat Daven dan Ken terpaksa menuruti permintaan wanita itu.
****
Dua bulan berlalu,
Alana dan Ken melakukan rutinitas seperti biasanya, Ken mengelola Celouis Company dan juga membantu perusahaan Papa Gio. Sementara Alana, wanita itu mengurus toko kue dan juga toko bunga miliknya yang sekarang penjualannya jauh lebih meningkat dibanding sebelumnya hingga terkadang mengharuskan dirinya ikut turun tangan untuk berjualan, namun karna Ken sangat membatasi Alana untuk mengelola toko kue itu, ia berinisiatif mencarikan beberapa pegawai lagi untuk membantu istrinya tersebut.
Mungkin ini yang membuat Ken begitu salut dengan istrinya sendiri, meskipun kehidupan ekonominya sudah jauh lebih membaik bahkan tidak kekurangan sedikitpun, namun tak membuat Alana melupakan usaha kecil yang pernah membantu ekonominya di saat masa-masa terpuruknya dulu.
Kesedihan Alana semakin hari semakin memudar dengan sendirinya. Bahkan sudah hampir lupa akan keterpurukan yang pernah menimpa dirinya beberapa bulan yang lalu. Sekalipun mengingat kepergian Holmes, ia hanya bisa tersenyum dengan ikhlas, ia selalu mempercayai, orang baik seperti ayahnya, akan mendapatkan kehidupan yang baik dan layak juga di sana. Alana kini kembali menjadi gadis yang periang dan menyebalkan, sifat yang sangat disukai oleh suaminya itu.
Sekarang Ken juga memperketat rumahnya, dan memberi beberapa orang penjaga, mengingat, berulang kali Brianna dan juga Caleey berusaha menemui Alana. Memang alasan mereka berdua untuk meminta maaf kepada Alana, tetapi Ken tidak sebodoh itu mempercayai setiap ucapan mereka.
Ken juga mengajari Daven untuk mengelola Celouis Company, meskipun Daven sedang fokus dengan usaha bengkel yang baru beberapa hari dibuatkan olehnya, namun tak membuat laki-laki itu lupa untuk membagi waktu antara kuliah, usaha dan juga belajar berbisnis. Sama halnya dengan Jasson yang saat ini mulai membagi waktunya antara kuliah dan juga bekerja di perusahaan Papanya.
***
Malam itu, Alana terlihat sedang duduk berselonjor di sofa ruang tamu sambil membaca buku resep kue dan makanan yang saat ini ia pegang, ia menunggu Ken pulang bekerja, karna suaminya itu sedang ada tugas di luar kota sejak dua hari ini. Sebelumnya Ken juga berpesan kepadanya, bahwa hari itu ia akan pulang malam hari, jadi Ken menyuruh Alana untuk makan malam terlebih dulu tanpa harus menunggunya, Alana pun menuruti perintah suaminya tersebut.
Daven yang baru saja mengambil air dari dapur tidak sengaja melihat kakaknya sedang berada di ruang tamu. Ia pun mengurungkan niatnya yang hendak kembali ke kamar dan memilih untuk menghampiri kakaknya tersebut.
"Kakak... kenapa Kakak di sini?" tanya Daven. Alana yang sedang fokus membaca buku seketika menoleh ke arah adiknya.
"Kakak sedang menunggu, Kak Ken pulang," jawabnya sambil tersenyum, mencoba mendudukan tubuhnya dengan sempurna dan menyuruh adiknya itu untuk duduk di sampingnya.
"Kenapa harus menunggu di sini? kan bisa menunggu di kamar? lebih baik Kakak menunggu di kamar saja." Daven hendak menarik tangan Alana untuk mengantarkannya ke kamar, namun Alana menolaknya.
"Aku mau menunggu Ken di sini saja, lebih baik kau kembali ke kamar!" perintah Alana, suara mesin mobil yang begitu berisik terdengar di depan rumah, membuat wanita itu begitu kegirangan dan seketika beranjak dari tempat duduknya.
"Ken pulang..." Alana meninggalkan adiknya itu dan begitu bersemangat membukakan pintu rumahnya yang masih tertutup. Daven tersenyum dan hanya menggeleng kepalanya saat melihat kakaknya tersebut, sembari beranjak berdiri mengikutinya dari belakang.
"Ken..." Alana begitu semangat menyambut kedatangan suaminya yang baru saja terlihat turun dari mobil.
"Kau belum tidur?" tanya Ken, langkah kakinya kini mendekat berjalan ke arah Alana.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Alana seketika memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat seakan tak ingin melepaskannya.
"Apa sebegitunya kau merindukanku?" Ken tersenyum membalas pelukan itu sembari mendaratkan ciuman berulang-kali di kepala istrinya.
"Tidak, aku tidak merindukanmu!" bantah Alana. "Ayo kita masuk." Alana melepaskan pelukannya dan mengambil alih tas kerja yang dibawa oleh suaminya tersebut. Ia mengajak suami beserta adiknya itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Daven kembali ke kamarnya, begitu pula dengan Alana dan Ken yang masuk ke dalam kamar mereka.
***
"Bagaimana pekerjaanmu?" Alana meletakan tas kerja yang ia bawa ke tempat asalnya. Tangannya berpindah membantu melepaskan jas yang dikenakan oleh suaminya tersebut.
"Aku sangat lelah sekali, bahkan dari kemarin aku sulit tidur!" jawab Ken. Kedua matanya memang nampak terlihat memerah seperti orang yang kurang beristirahat.
"Kenapa sulit tidur?" Alana mengernyit.
"Iya, clientku menginap satu kamar denganku dan dia mengajakku begadang, jadi mau tidak mau aku harus menemaninya. Sebenarnya, dia tadi juga menyuruhku untuk menginap lagi malam ini, tapi aku menolaknya!" Alana seketika menghentikan aktivitasnya yang hendak melepaskan dasi suaminya itu.
Alana menautkan kedua alisnya. "Apa clientmu itu wanita?" tanyanya dengan nada selidik.
"Mana mungkin wanita, dia laki-laki."
"Kenapa harus menginap satu kamar hingga mengajak begadang? apa dia menyukaimu?" Alana semakin berbicara tidak jelas.
"Kau yang benar saja, dia laki-laki seumuranku mana mungkin menyukaiku!" seru Ken.
"Bisa jadi dia memang menyukaimu! Apalagi dia seumuranmu! Laki-laki sekarang mana tau diri."
"Jangan terlalu dekat dengan clientmu itu, nanti kau akan tertular menyukainya!" imbuhnya.
"Apa kau sudah gila, mana mungkin aku menyukai laki-laki?" seru Ken dengan kesal.
"Bisa saja kau diam-diam menyukai laki-laki! Semua nomor di ponselmu saja isinya teman laki-laki semua!" Alana tak mau kalah berbicara dengan begitu ketus.
"Kau pikir aku tidak normal? memang semua temanku laki-laki!" bantah Ken. Alana hanya diam dan mengerucutkan bibirnya.
Ken terkekeh sambil menggeleng kepalanya saat melihat raut wajah istrinya yang sedang cemburu itu begitu menyebalkan. "Kau ini kenapa aneh sekali? kau cemburu dengan laki-laki?"
"Tidak, akau hanya takut saja..." bantahnya.
"Kalau kau cemburu dengan laki-laki, besok aku akan mengganti semua nama temanku yang ada di ponsel. jadi nama mereka akan kuubah menjadi wanita semua, termasuk Papa, Jasson dan juga Daven," ledek Ken.
Alana terkekeh. "Tidak seperti itu juga!"
"Apanya yang tidak seperti itu?"
"Kau ini sungguh menyebalkan!" Ken mengapit kedua pipi Alana dan menciumnya dengan begitu gemas.
"Jangan terlalu dekat dengan clientmu itu!" tutur Alana.
"Iya, cerewet sekali! Aku sangat lelah, aku mau mandi, kau istirahatlah dulu." Alana menganggukan kepalanya.
ia terlebih dulu menyiapkan handuk dan pakaian untuk suaminya tersebut dan memberikan kepadanya.
Ken masuk ke dalam kamar mandi dan menutup rapat pintu itu, ia melepas kancing kemeja yang masih melekat di tubuhnya satu persatu sambil mengingat akan perkataan Alana.
Ken kembali mengingat selama dua hari ini bagaimana kedekatan bersama clientnya itu yang ia rasa juga terlalu berlebihan, bahkan sangat aneh sekali, clientnya itu sudah menyewa kamar sendiri, namun malah meminta tidur satu kamar dengan dirinya.
"Apa benar yang dikatakan oleh Alana?"
"Hih, menggelikan!" Ken bergedik geli saat mengingat clientnya tersebut.
***
Alana terlihat pergi ke dapur, membuatkan suaminya teh hangat. Ia membuka lemari es bermaksud mengambilkan kue sebagai teman minum teh suaminya itu, di dalam box kecil terlihat ada 3 potong kue coklat yang begitu menggoda. Alana mengambil tiga potong kue itu dan meletakannya di piring kecil. Ia membawa kue beserta teh yang sudah ia buatkan untuk suaminya ke dalam kamar.
Alana melihat Ken belum juga keluar dari kamar mandi. Ia meletakan teh dan kue itu di atas meja sembari memperhatikan kue tersebut.
"Ehm, kuenya terlalu banyak. Ken pasti tidak akan memakan semuanya." Tangan Alana tiba-tiba mengambil salah satu kue itu dan memakannya hingga habis.
"Lezat sekali..." Alana melirik kembali ke arah kue yang tersisa dua potong di piring kecil itu, rasanya ia tak puas dan ingin sekali memakannya lagi.
"Kalau malam seperti ini, Ken mana mau memakan kue?" Alana tak melepaskan pandangannya akan kue yang ia rasa begitu menggoda di kedua matanya, ingin sekali melahapnya, namun Alana menahan keingingannnya, karna kue itu ia suguhkan untuk Ken.
Perhatian Alana teralihkan saat melihat Ken baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan telanjang dada. "Teh untukku?" tanyanya yang berjalan mendekati Alana.
"Iya, untukkmu..."
"Terimakasih..." Ken segera mengambil cangkir teh itu dan meneguknya hingga tak tersisa dalam wadahnya. Ia mengembalikan cangkir itu ke tempatnya dan mengabaikan kue yang ada di dekat cangkir teh itu.
"Ken, kau tidak mau memakan kuenya?" tanya Alana.
"Tidak, aku sudah kenyang."
Senyuman Alana merekah. "Apa aku boleh memakannya?" tanyanya dengan penuh harap.
"Tentu saja, makanlah!" perintah Ken. Tak ambil lama, Alana dengan cepat mengambil kue yang tersisa satu potong itu dan segera melahapnya hingga habis, Alana begitu menikmati kue coklat yang sangat meleleh di lidahnya tersebut hingga membuat Ken mengernyit heran.
"Tumben sekali kau mau memakan makanan manis malam hari? sudah tidak takut gemuk?" ledeknya. Alana seketika menghentikan kunyahannya yang tinggal sedikit lagi larut ke dalam tenggorokan, kedua matanya dibuat membulat, kenapa dia jadi tidak memikirkan itu sebelumnya?
Ken terkekeh melihat kepanikan di wajah istrinya.
"Hanya satu potong kue tidak akan membuatmu gemuk, sayang!" katanya sambil mengacak-acak rambut Alana.
"Tapi aku sudah memakan tiga potong kue..." Alana berucap dengan wajah penuh penyesalan akibat memakan kue coklat itu.
"Tiga potong? banyak sekali?" Ken seakan tak mempercayainya, karna ia sangat tau sekali, jika malam hari, Alana begitu menghindari makanan manis, bahkan secuil kue pun tidak akan masuk ke dalam mulut istrinya.
Alana semakin merasa takut bahwa dirinya akan menjadi gemuk, ia beranjak dan hendak masuk ke dalam kamar mandi dan hendak memuntahkan kue yang sudah ia makan tersebut.
"Mau ke mana?" Ken menarik tangan Alana dan menghalanginya.
"Ke kamar mandi, aku mau memuntahkan kue-kuenya!"
"Tidak boleh! Makanan yang sudah masuk ke dalam perut tidak boleh dimuntahkan! Di luar sana banyak orang yang ingin sekali merasakan memakan satu potong kue dan sekarang kau malah ingin membuangnya begitu saja!" seru Ken.
"Tapi, Ken?"
"Kau tidak akan gemuk!" bujuknya. "Cepat minumlah air putih!" Ken mengambil air putih yang selalu disipakan di meja samping tempat tidur dan menyodorkannya kepada Alana. Alana pun terpaksa mengiyakan permintaan suaminya tersebut. Ia melarutkan remahan kue yang ada di mulutnya dengan air tersebut.
"Apa benar tidak akan gemuk?" tanya Alana dengan nada was-was.
"Tidak akan!"
"Sudag tidurlah dulu, aku mau mengecek laporan kerja sebentar!" perintah Ken sambil memakai kaos yang sudah disiapkan oleh istrinya itu. Alana mengiyakannya dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
***
Ken sedari tadi terlihat duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar sembari memangku komputer lipat miliknya dan mengecek beberapa laporan perusahaan.
sesekali, ia melirik ke arah Alana yang terlihat sudah tertidur dengan sembarangan karna terlalu lama menunggunya. "Dia sudah tidur, lebih baik aku lanjutkan besok saja." Ken mengakhiri pekerjaannya itu dan meletakan laptop miliknya ke tempat semestinya.
Ken tersenyum memandangi Alana, ia merangkak ke tempat tidur, mengusap bibir istrinya dan memberikan beberapa ciuman di sekitar wajahnya, ia benar-benar merindukan wanita itu. Tangannya kini mulai membuka kancing piyama yang dikenakan Alana satu persatu. Sebagian kancing itu terbuka menampakan isi di dalam balutan kain satin tersebut,
indera penciumannya disuguhi aroma wangi yang menyerbak keluar dari tubuh wanita itu, hingga membuat Alana yang tertidur harus terbangun karena merasa geli dibuatnya.
"Ken?" Alana menyipitkan kedua matanya yang buram, ia hendak menutup kembali kancing piyamannya, namun tangan Ken menyingkirkannya.
"Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Alana.
Ken mengangguk dan menyingkirkan tangan Alana yang berusaha ingin menutupi tubuhnya.
"Sudah! Pekerjaan kantor sudah ku selesaikan, tinggal pekerjaan rumah yang belum..."
Ken tersenyum dan kembali melanjutkan membuka kancing piyama Alana, hingga kancing paling akhir terlucuti menampakan seluruh lekuk tubuh istrinya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nona turut berduka cita atas wabah yang saat ini sudah mulai semakin meresahkan negara kita. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah, selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari segala macam penyakit maupun virus yang berbahaya.
Stay safe ya teman-teman, jaga kesehatan 😘😘😘😘
Oh, iya. Sebenarnya untuk beberapa hari Nona mau pamit libur. tapi kalau vote sama likenya banyak, aku pikirin ulang deh wkwk...