My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Menerima tawaran



Ken beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu rumah itu. lalu, ia membuka pintu tersebut. dan saat pintu sudah terbuka. Ken pun tak bergemming saat kedua matanya beradu pandang dengan seseorang yang sedang berdiri di depan sana. seseorang tersebut tak lain ialah Alana.


"Ada apa kau kemari? Jesslyn sedang pergi bersama Mamanya," kata Ken dengan mengernyitkan dahinya.


Alana menunduk sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Aku kemari tidak mencari Jesslyn," kata Alana pelan.


"Lalu?" tanya Ken dengan mengernyit heran. Alana terdiam sejenak.


"Aku kemari mencarimu, bisakah kita berbicara sebentar?" pinta Alana tanpa memandang Ken.


"Masuklah," perintah Ken dengan berjalan mendahului Alana masuk ke dalam. Ken terlebih dulu duduk di atas sofa. sementara Alana ia masih berdiri dan menundukan pandangannya ke bawah.


"Kenapa masih berdiri di situ?" tanya Ken seraya mengernyitkan dahinya.


"Kau kan  belum menyuruhku duduk, jadi tidak sopan sekali, seorang tamu duduk tanpa di persilahkan," jawab Alana.


"Duduklah," perintah Ken. Alana pun seketika langsung mendudukan tubuhnya di sofa dengan jarak yang lumayan jauh dari Ken. Ken berteriak memanggil Bi Molley untuk membuatkan minum. dan Bi Molley mengiyakannya.


Alana masih duduk terdiam dengan menggigit bibir bawahnya. ia merekatkan jari - jari tangannya yang terlihat basah karna terkena keringat. bahkan, raut wajahnya terlihat begitu bingung sekali. entah dia harus memulai pembicaraannya dari mana. dan Ken sedari tadi memperhatikan Alana dengan penuh keheranan.


"Kenapa kau diam saja? apa yang mau kau bicarakan? cepat bicaralah!" suara  Ken membentak telinga Alana, hingga mengagetkan wanita itu.


"Aku ..." ucap Alana dengan bingung.


"Bicaralah yang jelas!" seru Ken dengan kesal.


"Tuan Ken. Aku ... ehm, aku mau menerima ta-waran da-rimu, a-aku mau menikah denganmu," ucap Alana dengan menggigit bibir bawahnya kembali. Ken terdiam, ia memperhatikan Alana yang sama sekali tak bergemming menundukan pandangannya ke bawah.


"Dia menerimanya?" gumam Ken dalam hati seraya menyipitkan kedua matanya seolah tak percaya.


"Berbicara tanpa memandang lawan bicaranya. apa kau tau caranya berbicara sopan kepada orang lain?" seru Ken dengan menautkan kedua alisnya.


"Ma-maaf, aku--" Alana menelan ludahnya. ia mencoba mengangkat wajahnya dan melihat ke arah laki - laki yang sedang memasang wajah garang kepadanya. mata sendu Alana beradu pandang dengan kedua mata Ken. namun, tiba - tiba, Ken mengalihkan pandangannya, karna tatapan mata itu tiba - tiba melemahkannya.


"Apa kau sudah memikirkan keputusanmu ini dengan matang?" tanya Ken tanpa menatap Alana.


"Menyuruh orang berbicara memandangnya. tapi dia sendiri malah mengalihkan pandangannya!" umpat Alana dalam hati.


"Ehm, iya, Tuan. aku sudah membulatkan keputusanku untuk menerima tawaranmu. yang penting kau benar - benar menepati semua janjimu seperti yang kau katakan di rumah sakit tadi. kau akan membantu melunasi hutang Daddyku dan juga membantu mengelola perusahaan milik Daddyku agar bisa bangkit lagi," tutur Alana, ia kembali menundukan pandangannya ke bawah. jelas sekali, suaranya terdengar berat seakan menahan sesuatu di tenggorokannya. Ken melirik dengan tajam ke arah Alana.


"Aku akan menepati janjiku itu. dan kalau kau mau menerima tawaran untuk menikah denganku. kau juga harus menuruti semua apa yang ku perintahkan kepadamu!" seru Ken dengan penuh penekanan.


"Baiklah, Tuan. tapi, setelah menikah. aku boleh, kan. mengajak Daddyku untuk tinggal bersamaku? tadi, kata Jesslyn, aku boleh mengajak Daddy untuk tinggal bersamaku?" tanya Alana.


"Tentu saja, aku tidak melarangnya." Ken mengiyakannya.


Tak lama kemudian, terlihat  Bi Molley yang baru saja keluar dari dapur menghampiri mereka berdua dengan membawa 2 gelas minuman di atas nampan. Bi Molley duduk berjongkok dan meletakan minuman itu di atas meja depan Alana dan juga Ken.


"Nona, silahkan di minum," perintah Bi Molley. Alana pun mengiyakannya dan Bi Molley pergi dari sana.


Ken memperhatikan Alana, yang sedari tadi menunduk seraya menelan ludahnya dengan susah payah. Ken melihat wanita itu seperti sedang kehausan. karna memang, tenggorokan Alana  benar - benar kering waktu itu. rasanya ia ingin sekali meminum minuman yang telah disuguhkan oleh Bi Molley untuknya. tetapi, ia takut dengan Ken.


"Tuan Ken, sebenarnya aku--"


"Minumlah dulu!" perintah Ken dengan suaranya yang terdengar kasar di telinga Alana.


"Hah, kebetulan sekali, aku benar - benar haus." Alana bergumam dalam hati. ia pun mengiyakan perintah Ken untuk minum terlebih dulu. Alana tak segan meraih gelas itu. namun, tangannya terlihat begitu gemetar saat memegang gelas itu.  lalu, ia  meneguk isi yang ada di dalam gelas itu hingga habis. bahkan Ken daritadi memperhatikan Alana, yang ia rasa terlihat begitu gugup.


Kemudian, Alana kembali meletakan gelas itu di atas meja dan melepaskan nafas di tenggorokannya dengan begitu lega.


"Cepat lanjutkan bicaramu tadi!" perintah Ken.


"Ehm, Tuan Ken. sebenarnya, aku tidak siap untuk menikah muda, Tuan. dan targetku menikahku sebenarnya  di usia 27. tapi, aku ter--"


"Aku tidak peduli, kau siap menikah atau tidak itu bukan urusanku! perlu kau ingat satu hal. aku mau memberimu tawaran untuk menikah. hanya karna ingin menyelamatkan perusahaan Papaku saja. dan  tidak lebih dari itu! dan dengan pernikahan ini. setidaknya, kita sama - sama diuntungkan. jadi, kalau kau tidak siap menerima tawaran untuk menikah denganku, aku tidak masalah. silahkan pergi dari sini!" Ken menukasnya dengan penuh kekesalan.


"Tidak, Tuan Ken. maksudku bukan seperti itu. aku mau Tuan, aku mau menikah denganmu ..." Alana menjawabnya dengan begitu cepat. hingga membuat Ken mengernyit aneh melihat Alana.


"Baiklah, kalau begitu. ku anggap kau sudah menyetujuhi semuanya, satu lagi yang perlu kau tau! ku harap kau bisa tau posisimu dan sadar diri. dan aku tekankan sekali lagi! aku menikahimu hanya sebatas bisnis saja, dan tidak lebih dari itu. apa kau mengerti!" seru Ken dengan penuh penekanan seraya menatap tajam kedua mata Alana.


Alana sejanak terdiam. kemudian, ia menurunkan pandangannya dan  menganggukan kepalanya tanpa bersuara. ia berharap ini bukanlah keputusan yang salah. meskipun jiwa Alana menolak akan ini semua, namun, ia tak punya pilihan lain lagi bukan? selain menikah dengan laki - laki yang saat ini duduk di atas sofa yang sama dengannya. ia harus menerima sesuatu yang ia anggap sial. ia melakukan ini semua tak lain demi Ayahnya. ia tidak ingin hal buruk terjadi kepada Ayahnya tersebut.


"Baguslah! kapan kita bisa mengambil sertifikat itu?" tanya Ken. Alana sejenak melirik ke arah jam dinding yang ada di ruangan itu.


"Ini masih jam setengah 3 sore, kalau kau mau. kita bisa mengambilnya sekarang," ujar Alana.


"Baiklah, tunggulah di sini!" kata Ken, ia beranjak berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Alana di ruang tamu  sendirian.


"Sudah cukup penderitaan Daddy selama 2 tahun ini. biar aku saja yang menanggung semuanya."


"Iya ... ini demi Daddy." ucap Alana pelan, ia memejamkan kedua matanya  seraya menepis kedua sudut matanya yang basah karna air mata yang tiba - tiba mengalir di sana.


Tak lama kemudian, Ken pun terlihat menghampiri Alana dengan mengenakan kaos dan celana panjang miliknya.


"Ayo!" ajak Ken berjalan mendahului Alana sembari memakai kacamata hitam miliknya. Ken masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Alana. namun, Alana malah masuk dan duduk di belakang kursi kemudi yang saat ini di duduki oleh Ken. Ken melepaskan kacamata hitam miliknya, dan ia menatap tajam Alana dari balik kaca spion depan.


"Kau sedang apa di belakang?" tanya Ken dengan setengah berteriak.


"Duduk," saut Alana dengan polosnya.


"Jangan samakan aku dengan sopir! pindah duduk di depan!" perintah Ken dengan kesal. Alana menghela napas. rasanya ia enggan duduk di depan apalagi di samping Ken.


"Kenapa kau masih diam di situ?" tanya Ken.


"Iya sebentar! hanya masalah duduk saja di permasalahkan." Alana menggerutu kesal. ia turun dan pindah duduk di samping Ken. lalu, ia membanting pintu mobil itu dengan sangat keras.


"Apa kau bisa pelan sedikit menutup pintu mobilnya? kalau mobilku rusak apa kau bisa menggantinya? apa kau tau berapa harga mobilku ini?" teriak Ken dengan begitu kesalnya. Alana hanya terdiam dan menatap tajam ke arah Ken. rasanya ia begitu kesal dengan laki - laki itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" seru Ken. Ya Tuhan rasanya Alana benar - benar ingin mancakar mulut Ken. namun, ia mencoba bersabar.


"Lebih baik aku naik taxi, kita bertemu di sana saja," kata Alana dengan menahan rasa kesalnya. ia mencoba membuka pintu mobil itu hendak turun dari sana. namun,  pintu mobil itu tidak bisa di buka.


"Kenapa tidak bisa di buka? tolong buka pintu mobilnya. aku mau turun," pinta Alana. namun Ken tak menggubrisnya. Ken kembali mengenakan kacamata hitamnya. lalu, dengan cepat menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil tersebut meninggalkan rumahnya.


"Tuan Ken, tolong turunkan aku! aku mau naik taxi saja!" pinta Alana.


"Apa kau bisa diam?" teriak Ken. Alana membungkam seketika.


"Aku benar - benar tidak bisa memahami sifatnya. bisa gila aku setelah menikah dengan laki - laki macam ini," gumam Alana dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Kakak - kakakku sayang, sebelumnya Nona mau ucapin terimakasih banyak atas vote , tips dan juga Likenya. tapi kalau bisa, vote dan juga likenya di perbanyak ya wkwkwk kan gratis tuh biar Nona semakin semangat.


Maaf ya, untuk yang season 3 ini alurnya sedikit berat karna tanpa perencanaan yang matang. jadi jujur, Nona gak bisa update cepat. seperti di season 1 dan season 2.


di season 3 ini Nona bener - bener muter otak buat mikir episode selanjutnya, jadi itu alasannya kenapa Nona update-nya lamaaa banget, tapi Nona usahain update karna ngga mau bikin kalian kecewa😂😂😂


Yaa  semoga yang ngejudge Nona terlalu berlebihan, lebay, atau ngga niat nulis. semoga kelak kalian bisa jadi penulis juga, biar bisa ngerti'in gimana sulitnya menulis cerita ketika tidak menemukan inspirasi sama sekali hehe. 😊


Yaudah deh, mamah lanjut nulis dulu ya nak - anak, yang sabar ya nunggu episode selanjutnya, gak boleh berantem wkwkwk.