
saat di rasa Ken sudah pergi, Alana kembali masuk ke dalam ruangan Ayahnya, dan kembali menemui Ayahnya tersebut.
"Ken, kemana, Nak?" tanya Holmes seraya melihat ke arah pintu.
"Dia sudah pulang, Daddy. karna dia ada pekerjaan mendadak," jawab Alana sembari mendudukan tubuhnya di atas kursi yang ada di samping pembaringan Ayahnya.
"Baiklah. lalu sertifikatnya di mana, sayang?" tanya Holmes.
"Alana menyruh Ken membawanya terlebih dulu, karna kalau Alana menyimpannya di rumah yang sekarang, sangatlah tidak aman." jawab Alana. entahlah, rasanya sampai detik ini. Alana begitu percaya kepada Ken.
"Baiklah, Nak."
"Alana," panggil Holmes.
"Iya, Daddy?"
"Apa benar kamu akan menikah dengan Ken, putranya Tuan Gio?" tanya Holmes. Alana menunduk dan menganggukan kepalanya.
"Bukannya katamu tadi pagi, dia bukan kekasihmu, Nak?" tanya Holmes.
"Iya, Daddy. memang dia bukan Kekasih Alana. tapi calon suami Alana, apa Daddy tidak menyukainya?" tanya Alana dengan memandang kedua mata Ayahnya.
"Bagaimana mungkin? apapun pilihanmu, Daddy selalu mendukungnya. Daddy, sangat menyukainya, Nak. dia pemuda yang baik," tutur Holmes.
"Baik apanya? dia saja tidak ada lembut - lembutnya dengan seorang wanita," gerutu Alana dalam hati. namun Alana sebisa mungkin tersenyum di depan ayahnya tersebut.
"Tapi, Daddy. perusahaan Daddy, kan. sudah lama tidak ber-operasional. apa boleh, jika Ken yang mengelola perusahaan itu untuk sementara waktu, sampai Daddy benar - benar sembuh? dan untuk memulai perusahaan itu agar bisa bangkit lagi. Ken akan memulainya dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Papanya," tutur Alana.
"Tentu saja, Nak. keluarga mereka orang baik, Daddy akan mempercayakannya, kepada Ken." Holmes berbicara dengan begitu lega. entahlah, rasanya satu duri tajam lepas dari tubuhnya.
"Terimakasih banyak, Daddy." ucap Alana, ia beranjak berdiri dan memeluk tubuh Ayahnya tersebut.
Lalu, Alana mendudukan tubuhnya kembali. ia terdiam dengan menatap kosong ke sembarang arah seakan ada beban yang saat ini mengganggu pikirannya. dan Holmes memperhatikan anaknya tersebut dengan begitu seksama.
"Alana?" panggil Holmes.
"Iya, Daddy?" jawab Alana dengan tersenyum.
"Kamu menikah dengan anak Tuan Gio, bukan karna Daddy kan, Nak?" tanya Holmes. Alana membungkam seketika.
"Alana, kenapa kau diam saja?" tanya Holmes.
"Ma-maksud Daddy apa? Alana tidak paham," tanya Alana seraya memalingkan pandangannya."
"Daddy, takut, kamu terpaksa menikah dengan Ken, hanya karna ingin membantu untuk melunasi hutang Daddy saja. kalau kau menikah hanya karna Daddy. Daddy tidak akan membiarkannya, Nak. Daddy tidak mau melihatmu menderita dan mengorbankan kebahagiaanmu," tutur Holmes.
"Ti-tidak, Daddy. Daddy bicara apa? mana mungkin Alana menikah dengan terpaksa? Alana mau menikah dengan Ken, atas dasar suka. bukan karna hal yang lain, percayalah." Alana mencoba menyembunyikan kebenarannya dari Daddynya tersebut.
"Kau tidak berbohong, kan, Nak." Holmes masih tidak percaya.
"Tidak, Daddy. mana mungkin Alana berbohong?" bantah Alana dengan tersenyum. jelas sekali, ia menahan rasa dengan begitu pilunya. rasanya Alana ingin menangis. tapi mana mungkin? ia dengan sekuat tenaga mencoba melingkarkan senyuman di depan ayahnya.
"Daddy sekarang istirahat, ya." Alana mencoba membantu Holmes untuk berbaring kembali.
"Tapi, Nak. Daddy sangat lelah dari tadi beristirahat," ujar Holmes.
"Daddy, Dokter menyarankan agar Daddy harus beristirahat biar bisa lekas sembuh. apa Daddy tidak ingin pulang bersama Alana? dan, kalau Daddy sudah sembuh, Daddy, kan, bisa bekerja lagi untuk membangun perusahaan milik Daddy mulai dari nol lagi," bujuk Alana. Holmes tersenyum dan mengiyakannya. ia seakan terhipnotis dengan kata - kata yang di ucapkan oleh anaknya tersebut, ia terlihat begitu semangat kembali untuk sembuh, meskipun Alana tau. entah kapan ayahnya akan benar - benar pulih dan seluruh anggota tubuh Ayahnya bisa berfungsi dengan baik seperti semula lagi. kini Alana hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang maha baik, berharap agar segera memberikan kesembuhan kepada laki - laki yang telah menjadi cinta pertamanya tersebut.
Bukankah, seorang ayah selalu menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya?
***
Ken melajukan mobilnya menuju ke arah rumah, ia mengemudikan mobilnya sembari memikiran sesuatu yang kini bersarang di pikirannya.
"Kalau aku bilang, akan menikahi Alana hanya karna ingin membantu perusahaan Papa, Papa pasti akan sangat tidak setuju. dan Papa akan berpikir aku hanya memanfaatkan Alana saja. ah sudahlah, apa kata nanti saja," gumam Ken. ia meletakan kembali sertifikat itu dan menambah laju kecepatan mobilnya.
Dan sesampainya di rumah, Ken memarkirkan mobilnya tersebut di halaman rumah. lalu, ia membuka pintu rumah dan segera masuk.
"Kakak." Jesslyn tiba - tiba mengagetkan Ken yang baru saja menutup kembali pintu rumahnya.
"Sayang, kau mengagetkan Kakak saja," seru Ken dengan sedikit kesal.
"Maaf, Kak. baru saja Aku mau menghubungi Kakak. Eh, Kakak sudah pulang," kata Jesslyn
"Kakak, di mana Alana? kata Bi Molley tadi Alana kemari. dan, Kakak pergi bersamanya, lalu, di mana dia sekarang?" tanya Jesslyn. Ken langsung membekap mulut adiknya tersebut.
"Jangan bicara keras, keras. ayo ikut Kakak ke kamar," ajak Ken. ia berjalan dengan membekap mulut Jesslyn untuk menuju ke kamarnya. Ken melepas tangannya dan menutup pintu kamarnya tersebut dengan sangat rapat.
"Ada apa sih, Kak?" tanya Jesslyn. Ken langsung menunjukan sertifikat Celouis Company kepada Jesslyn. Jesslyn pun dengan cepat menyaut sertifikat itu dari tangan kakaknya.
"Kakak, bukannya ini sertifikat milik Celouis Company?" tanya Jesslyn.
"Iya, memang benar. itu sertifikat perusahaan milik Ayah Alana." Ken mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur dan menaikan satu kakinya. lalu, diikuti oleh Jesslyn yang kini ikut duduk di sampingnya.
"Lalu, kenapa ini bisa ada di tanganmu, Kak?" tanya Jesslyn. namun Ken hanya menatap Jesslyn tanpa berkata. tiba - tiba Jesslyn melebarkan kedua matanya. ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman. rupanya ia sudah tau apa yang dimaksud oleh Kakaknya.
"Alana sudah menyetujuhinya, Kak?" tanya Jesslyn dengan girangnya.
"Hem," saut Ken dengan memalingkan pandangannya.
"Kakak tidak bercanda kan, Kak?" tanya Jesslyn dengan memastikannya kembali. Ken pun menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih banyak, Kakak. Yeayyy akhirnya Alana akan menjadi Kakak iparku." seketika itu, Jesslyn langsung terlihat begitu girangnya bahkan sangking semangatnya, ia tak segan memeluk Kakaknya dan menciumi wajahnya
"Jesslyn lepaskan Kakak," seru Ken dengan menjauhkan tubuh Jesslyn.
"Kenapa kau begitu girang sekali, melihat Kakakmu ini menderita?" seru Ken dengan kesal.
"Menderita kenapa? seharusnya Kakak bahagia bisa menikah dengan Alana, Alana gadis yang sangat baik, Kak daripada Caleey, si perempuan barbar itu." Jesslyn memutarkan kedua bola matanya seakan tak suka menyebut nama itu. namun Ken hanya diam saja dan menajamkan kedua matanya.
"Kakak, tunggulah di sini," kata Jesslyn beranjak berdiri seraya mengembalikan sertifikat itu kepada Kakaknya.
"Mau kemana?" tanya Ken.
"Aku mau memberitaukan kabar bahagia ini kepada Papa dan juga Mama, Kak. kalau Kakak dan Alana akan segera menikah," Jesslyn begitu bersemangat hendak berjalan keluar dari kamar Ken. namun, Ken dengan cepat langsung menghampiri Jesslyn dan menarik kera bajunya.
"Hey, jangan lancang - lancang, berani berbicara kepada Papa dan Mama!" seru Ken dengan melototkan kedua matanya.
"Kenapa memangnya, Kak?" tanya Jesslyn.
"Masih bertanya lagi! di sini yang mau menikah siapa?" tanya Ken.
"Kakak," jawab Jesslyn.
"Ya sudah, biar Kakak yang memberitaukannya!" seru Ken.
"Okay, Baiklah," Jesslyn melebarkan senyumnya. Jesslyn berlalu pergi dari sana, ia menemui Kimy di dalam kamarnya dan langsung memeluk wanita itu. dan Jesslyn tak segan menceritakan semuanya kepada temannya tersebut.
.
.
.
.
.
.