My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Gaun pengantin



Alana mendekati pintu rumah, dan ia mulai mengetuk pintu rumah itu berkali - kali. Ken pun menghampiri Alana.


"Dasar gadis bodoh," gumam Ken, ia langsung mendorong pintu itu dan masuk di sana.


"Sialan, untuk apa tadi aku mengetuk pintunya?" gumam Alana. ia pun mengikuti Ken masuk ke dalam rumah.


Ken menyuruh Alana untuk duduk di ruang tamu. sementara, dirinya memangil Mamanya yang sedang berada di dapur. ia juga memanggil Papanya yang kala itu sedang bekerja di ruang kerja.


lalu, Alana pun melihat Ken kembali bersama Mama Merry dan juga Papa Gio. mereka bertiga berjalan hendak menghampiri Alana. Alana begitu takut dan bingung harus bagaimana. ia menundukan kepalanya dan merema* jari - jari tangannya yang terlihat basah.


"Hallo, Alana." Merry menyapa. Alana pun berdiri dan menyapa balik Merry, seketika itu, Merry langsung memeluk Alana.


"Selamat siang Bibi, Paman." Alana memberi salam kepada calon mertuanya itu. demi apapun, kenapa Alana begitu gugup seperti ini. bukankah, sebelumnya, dirinya sudah bertemu dengan Merry dan juga Gio? tapi kali ini sungguh berbeda, Alana berkunjung bukan sebagai teman Jesslyn. tetapi, sebagai calon istri Kendrick.


"Ya Tuhan, kenapa hidupku sungguh serumit ini," gumam Alana dalam hati. Merry menyuruh Alana untuk duduk. dan Ken ikut duduk di samping Alana.


"Jesslyn, di mana, Bibi?" tanya Alana seraya menengok ke dalam rumah. tiba - tiba Ken menginjak kakinya.


"Alana, aku mengajakmu ke mari, bukan untuk bermain dengan Jesslyn. tapi membahas pernikahan kita." Ken menatap tajam kedua mata Alana dan tersenyum kepadanya.


"Oh, i-iya, maaf aku lupa," kata Alana.


"Begin, Ma, Pa. Ken mengajak Alana kemari, karna--"


"Alana." suara Jesslyn tiba - tiba begitu heboh saat melihat Alana berada di rumahnya. ia pun dengan cepat menghampiri Alana dan duduk memeluknya.


"Astaga." Ken berdecak kesal.


"Alana, kau kenapa tidak bilang kalau kau mau ke mari?" tanya Jesslyn.


"Ehm, Aku--"


"Jesslyn, masuklah ke kamarmu dulu. Kakak dan Alana mau berbicara dengan Mama dan Papa," tukas Ken.


"Tidak mau, aku mau di sini dengan Alana." Jesslyn mengerucutkan bibirnya.


"Jesslyn," seru Ken.


"Biarkan saja Jesslyn di sini, apa salahnya?" timpal Alana dengan menatap Ken. Ken langsung menajamkan kedua matanya kepada Alana. namun, Alana memalingkan pandangannya karna takut. Ken pun menghela napas.


"Baiklah, tapi jangan ikut bicara!" seru Ken. ia terpaksa memperbolehkan Jesslyn duduk di sana. Jesslyn dengan penuh semangat mengiyakannya.


"Papa, Mama, Ken mengajak Alana kemari. karna Ken ingin memberitau. kalau lusa kita akan menikah," ujar Ken. kedua mata Alana membulat dengan begitu terkejutnya.


"Omong kosong apa ini." jiwa Alana begitu meronta.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Alana. Ken langsng menginjak kaki Alana kembali. hingga membuat wanita itu mengernyit kesakitan.


"Alana, kan kita sudah membicarakan semuanya tadi." Ken menatap tajam kedua mata Alana.


"Bicara apa memangnya?" tanya Alana dengan begitu polos. karna sedari tadi selama di perjalanan. ia sama sekali tak membahas masalah pernikahan dengan Ken. yang mereka berdua bahas, hanyalah masalah Celouis Company saja. seketika itu, Ken melingarkan tangannya di bahu Alana.


"Alana, tadi kita kan sudah sepakat. kita akan menikah lusa." Ken tersenyum dan melebarkan kedua matanya. bahkan ia tak segan menginjak kembali kaki Alana. namun, Alana masih diam saja.


"Iya, kan, Alana?" Ken mencengkram bahu Alana, berharap wanita itu  segera mengiyakannya.


"O-ooh, i-iya, Bibi, Paman. kita  akan menikah lusa," tutur Alana dengan tersenyum kepada Merry dan juga Gio. ia mencoba menyingkirkan tangan Ken dari bahunya.


"Anak pintar," bisik Ken.


"Kau lihat saja nanti. kau sudah menginjak kakiku berkali - kali," gumam Alana dalam hati seraya melotot kepada Ken.


"Apa ini tidak terlalu, cepat?" tanya Gio.


"Sebenarnya, Paman." timpal Alana. Ken langsung menatap tajam kedua mata Alana.


"Ma-maksud Alana, sebenarnya memang terlalu cepat. tapi, tidak baik kan, Paman. kalau kita menunda sesuatu yang sudah di rencanakan." Alana tersenyum pelik.


"Tapi, ini mendadak sekali. kita belum mempersiapkan segala sesuatunya, sayang," saut Merry.


"Kita menikah dengan sederhana, Pa. tidak usah yang terlalu mewah - mewah, iya, kan, Alana." Ken mencengkram kembali bahu Alana, agar ia mengiyakannya. Alana terdiam sejenak. kemudian, ia mengiyakannya.


"Bagaimana dengan Ayahmu, Nak? apa Ayahmu sudah setuju?" tanya Gio.


"Daddy, apa kata Alana, Paman. Daddy setuju - setuju saja," kata Alana.


"Baiklah, Paman dan Bibi besok akan menjenguk Ayahmu. Paman baru tau kalau kamu ternyata  anaknya Tuan Holmes Louis. karna, Paman juga sudah lama tidak bertemu dengan Ayahmu. Paman ikut turut prihatin. Paman tidak pernah mendengar kabar Ayahmu lagi semenjak perusahaannya bangkrut. dan baru mendengar kabar Ayahmu dari anak - anak Paman. bahwa Ayahmu baru saja sadar dari komanya, semoga Ayahmu lekas pulih kembali," tutur Gio.


"Terimakasih banyak, Paman." Alana mengangguk dan tersenyum.


Pintu rumah yang awalnya tertutup kini tiba - tiba terbuka hingga semua mata mengarah ke arah pintu itu. terlihat Jasson masuk ke dalam sana. ia sejenak melihat ke arah keluarganya yang sedang berkumpul. dan tanpa menegur, Jasson langsung menyelonong masuk.


"Jasson!" suara Gio menghentikan langkah kaki Jasson.


"Iya, Pa?" saut Jasson.


"Kenapa tidak sopan sekali, ada orang tua di sini?" seru Gio.


"Maaf, Pa. Jasson lupa karna terburu - buru. permisi," pamit Jasson melanjutkan kembali masuk ke dalam.


"Kenapa dengan anak itu? tidak seperti biasanya dia seperti itu," ujar Gio.


"Mungkin dia sedang banyak pikiran menyelesaikan tugas skripsinya, sayang." Merry mencoba menenangkan suaminya.


"Aku juga merasa heran. kenapa Jasson?" gumam Ken dalam hati. ia melepaskan bahu Alana dan mencoba duduk menjauh dari Alana.


"Papa, kembali ke dalam dulu. karna banyak pekerjaan yang harus Papa kerjakan."


"Alana, Paman tinggal dulu," pamit Gio. dan semua orang yang ada di ruang tamu itu pun mengiyakannya. saat Gio sudah meninggalkan ruang tamu, Merry menggeser posisi duduknya di tengah - tengah antara Jesslyn dan juga Alana.


"Oh iya, sayang. apa kamu juga sudah berbicara dengan Ibumu, tentang pernikahan ini?" tanya Merry kepada Alana. Alana terdiam seribu bahasa. ia begitu malas jika harus membahas tentang Maminya.


"Ehm, Alana tidak memberi tau, Mami, Bi." Alana menundukan kepalanya.


"Kenapa kamu tidak memberitaunya, sayang?" tanya Merry dengan menyipitkan kedua matanya dengan heran. namun, Alana hanya diam saja.


"Mama." Jesslyn menyentuh lengan Merry dan menggelengkan kepalanya. ia memberi kode,  berharap Mamanya tersebut tidak menanyakan tentang Maminya Alana.


"Oh iya, Alana. apa kamu sudah makan?" Merry mengalihkan pembicaraannya.


"Sudah, Bibi." Alana mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Merry. Merry pun tersenyum saat memperhatikan wajah Alana.


"Kau manis sekali." Merry menyentuh lembut dagu Alana. Alana tersipu malu akan pujian itu.


"Mama, memiliki dua anak perempuan sekarang," tutur Merry, ia membelai rambut Alana. lalu, ia memeluk Alana dan juga Jesslyn. kedua mata Alana berkaca - kaca saat Merry berbicara seperti itu.


"Bibi Merry sangat baik sekali, andai saja, Mami juga seperti ini." Alana memejamkan matanya dan ikut memeluk erat wanita yang kini masih mendekapnya. rasanya, ia benar - benar menemukan sosok seorang Ibu saat Merry memeluknya seperti itu. Ken pun memperhatikan Mama dan juga Adiknya dengan tatapan penuh keheranan.


"Apa istimewanya dia? bahkan Mama sampai menyukainya seperti itu," gumam Ken dalam hati.


"Sayang, Bibi tinggal ke dalam dulu, ya. karna,  Bibi mau menyiapkan makan siang." Merry mencoba melepas pelukannya. Alana pun mengiyakannya.


"Aku juga mau ke dalam sebentar, ya, Alana. tunggulah di sini," timpal Jesslyn.


"Oh iya, Kakak. jangan lupa! antarkan Alana untuk mencari gaun pengantin," tutur Jesslyn kepada Ken. dan Merry ikut menimpalinya dengan perkataan yang sama seperti apa yang Jesslyn katakan. lalu, Ibu dan Anak itu masuk ke dalam dan meninggalkan Alana dan juga Ken berdua di ruang tamu itu. Jesslyn memang sengaja ikut masuk bersama Merry, karna, ia ingin menceritakan tentang Ibunya Alana kepada Mamanya tersebut.


Alana menundukan pandangannya ke bawah, sesekali kedua matanya melirik ke arah Ken yang kini duduknya berjauhan dengannya.


"Apa kau melihat - lihat seperti itu?" tegur Ken. Alana langsung menundukan pandangannya lagi.


"Tidak. siapa juga yang melihatmu," saut Alana dengan suara lembutnya.


"Di sini sudah tidak ada orang tuaku! memangnya kau berpura - pura manis, di depan siapa? apa kau mau menggodaku?" seru Ken.


"Serba salah, siapa juga yang mau menggodamu!" celetuk Alana dengan mengerucutkan bibirnya. Ken pun beranjak berdiri dan menghampiri Alana.


"Bagaimana bisa? bukankah, menikah impian setiap wanita? tapi sekarang? dulu, setiap kali aku mendengar dongeng tentang Cinderella, rasanya aku ingin sekali menikah bak seorang putri raja. di dampingi seorang pangeran yang baik hati, bertanggung jawab, dan yang mampu mencintaiku seperti Daddy mencintaiku selama ini. tapi, rasanya itu hanya ada di sebuah dongeng saja," Alana tersenyum getir dan memasukan uang itu ke dalam dompet yang baru saja ia ambil dari tasnya.


Alana masih termenung duduk di sana. ia bingung harus melakukan apa. lalu, tak lama kemudian, Jesslyn terlihat berjalan menghampiri Alana.


"Alana, di mana Kakak? kenapa kau sendirian?" tanya Jesslyn.


"Di kamarnya," kata Alana.


"Oh iya, Jesslyn. di mana Kimy? kenapa aku tidak melihatnya sama sekali?" tanya Alana.


"Kimy sedang pergi. tadi, kebetulan, ada temannya kemari," jawab jesslyn.


"Oh," Alana membulatkan bibirnya sembari mengangguk - anggukan kepalanya.


"Alana, tunggu di sini sebentar, ya. aku mau ke kamar Kakak dulu," ujar Jesslyn, Alana pun mengiyakannya. lalu, Jesslyn masuk ke dalam kamar Ken. di sana, ia melihat Ken sedang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kakak, kenapa kau malah tidur? ayo antarkan Alana untuk membeli gaun pernikahan," perintah Jesslyn.


"Biar dia mencari sendiri," kata Ken dengan memejamkan kedua matanya dan meletakan kedua tangannya di belakang kepala.


"Kalau Kakak tidak mau menemani Alana untuk untuk mencari gaun pernikahan. Jesslyn pastikan, Jesslyn akan memberitaukan kepada Papa dan juga Mama, kalau Kakak menikahi Alana hanya demi membantu perusahaan Papa saja," seru Jesslyn dengan meletakan kedua tangan di pinggangnya. Ken langsung membuka kedua matanya. dan beranjak bangun dari tidurnya.


"Jangan bicara keras - keras. baiklah, Kakak akan menemaninya. kau ini suka sekali memaksa," kata Ken dengan berdecak kesal.


"Baiklah, ayo." Jesslyn menarik tangan Ken.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Ken.


"Mau ikut bersama kalian," kata Jesslyn dengan penuh semangat.


"Tidak! Kakak tidak akan mengajakmu. kamu di rumah saja!" perintah Ken.


"Ya sudah," Jesslyn melepas tangan Ken dan melirikan kedua matanya kepada Kakaknya tersebut. Ken seketika langsung menggaruk - garuk kepalanya dengan begitu frustasi.


"Kau selalu saja mengancam. padahal ini semua idemu," seru Ken.


"Ide terpintar, kan, Kak." Jesslyn menyengir. ia menarik tangan Kakaknya dan menemui Alana yang masih duduk di ruang tamu.


"Ayo, Alana. kita pergi," ajak Jesslyn.


"Kemana?" tanya Alana dengan kebingungan.


"Mencari baju pengantin untukmu dan juga Kakak," kata Jesslyn.


"Tapi--"


"Sudahlah, ayo." Jesslyn menukas, ia menarik tangan Alana. perempuan itu berjalan dengan menggandeng tangan Ken dan juga Alana. rasanya yang bahagia akan pernikahan Ken dan Alana hanyalah Jesslyn saja. karna jelas sekali, guratan di raut wajah Jesslyn, tampak  begitu bahagia sekali hari itu.


 


***


 


Ken menghentikan mobilnya di sebuah Boutique ternama yang di khususkan hanya  menjual gaun pengantin saja. di depan boutique itu, terlihat banyak sekali gaun yang terlihat terpajang di kaca transparant.


mereka bertiga masuk ke dalam boutique itu. Ken duduk di sofa yang ada di ruang tunggu. dan Jesslyn dengan penuh semangat, mencarikan gaun pengantin untuk Alana. Jesslyn memilih 2 gaun pengantin dan menyuruh Alana mencoba kedua gaun pengantin tersebut. Alana pun menurutinya, ia masuk ke dalam ruang ganti dan mencoba gaun itu satu  persatu. namun, hanya salah satu dari gaun itu yang nampak pantas di pakai oleh Alana.


"Alana, kau cantik sekali," puji Jesslyn. Alana pun tersenyum, ia memutar tubuhnya di depan cermin besar yang saat ini di hadapannya.


"Pasti ini sangat mahal," gumam Alana dalam hati.


"Jesslyn, kita cari gaun yang lain saja," kata Alana.


"Kenapa? kau cantik sekali menggunakan gaun ini," tutur Jesslyn.


"Aku tidak terlalu menyukainya." Alana berkata bohong.


"Tapi, Aku menyukainya. ayo, kita temuai Kakak, biar Kakak melihatnya," ajak Jesslyn dengan menarik tangan Alana.


"Tidak mau, Jesslyn. tolong lepaskan tanganku!" Alana meronta. namun Jesslyn tak gentar menarik tangan Alana keluar dari ruang ganti menuju ke ruang tunggu untuk menemui Ken di sana.


"Kakak," panggil Jesslyn. Ken pun langsung menoleh.


"Kakak, bagaimana menurutmu? Alana cantik, kan, menggunakan gaun ini?" tanya Jesslyn seraya mendorong tubuh Alana lebih mendekat dengan Kakaknya.


"Jesslyn!" seru Alana.


"Diamlah, Alana!"


"Kakak bagaimana?" tanya Jesslyn kembali, Ken memperhatikan Alana dari ujung kaki hingga kepala. kemudian kedua matanya beradu pandang dengan kedua mata Alana yang begitu sendu. entahlah, rasanya Alana begitu malu. ia menggigit bibir bawahnya menghindari kontak mata Ken dan menundukan wajahnya. Jesslyn menarik tangan Kakaknya dan menyuruhnya berdiri di dekat Alana.


"Kakak, kenapa kau diam saja? ayo puji Alana," Jesslyn mengayun - ayun tangan Kakaknya dengan begitu memaksa. hingga membuat Ken frustasi akan tingkah adik kesayangannya itu. Tiba - tiba suara dering ponsel milik Jesslyn, menghentikan rengekannya. ia pun meraih ponsel tersebut.


"Kakak, Alana, sebentar, ya. aku mengangkat telpon dulu di luar," pamit Jesslyn. Alana dan Ken mengiyakannya. dan Jesslyn keluar dari Boutique itu untuk mengangkat ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti berdering.


Dan, Ken masih memperhatikan Alana yang saat ini berdiri di hadapannya dengan menundukan wajahnya.


"Maaf, Jesslyn yang memaksaku untuk mencoba gaun ini. aku akan mencari gaun yang biasa saja," ucap Alana tanpa memandang Ken.


"Tidak usah! bungkus yang ini saja," kata Ken.


"Tapi, gaun ini terlalu mewah. dan harganya pasti sangat mahal. lagi pula, pernikahan kita, kan, dirayakan secara sederhana," ujar Alana dengan mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata laki - laki yang ada di hadapannya.


"Yang membayar gaunnya siapa? jadi terserah aku mau yang mana!" seru Ken sembari mengernyitkan dahinya.


"Tapi yang memakai gaunnya kan aku! kalau kau mau mau membeli gaun yang ini, kau pakai saja sendiri!" seru Alana dengan ketusnya. hingga membuat Ken melototkan kedua matanya kepada wanita itu.


"A-aku hanya becanda. aku akan membungkusnya," kata Alana dengan takut. ia pun membalikan badannya dan hendak berlalu meninggalkan Ken di sana. namun, tiba - tiba, Alana menghentikan langkah kakinya. kedua mata Alana membulat lebar saat ia melihat seorang laki - laki yang tak asing di matanya.


"Darrel." bibir Alana bergumam pelan. lalu, Darrel menoleh ke arah Alana. seketika itu Alana membalikan kembali tubuhnya menghadap ke tubuh Ken. bahkan lebih mendekat, sebatas jarak antara jari telunjuk tangan. Karna, Alana benar - benar takut, jika Darrel melihatnya di sana. namun, Darrel masih memperhatikan Alana. rasanya Darrel mengetahui keberadaan Alana.


"Kau kenapa?" tanya Ken. namun Alana hanya diam saja. Kedua mata Ken beralih ke arah Darrel yang sedang memperhatikan Alana. ia melihat laki - laki itu hendak berjalan mendekati Alana. namun, tiba - tiba, Ken langsung memeluk Alana dan menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya.


.


.


.


.


.


.


.


ini dua episode aku jadiin satu yes. seriusan ini udah panjang, coba di bedain sama yang crazy up 5 episode. tapi per episode pendek - pendek.


minta dukungan like dan juga votenya ya kakak kakak sayang, biar Nona semakin semangat nulis. terimakasih sebelumnya. maaf Nona gak bisa balas satu persatu komentnya.


jangan lupa follow akun igku @Novianalancaster


ikuti grup dan halaman facebook: My Sweet Readers My introvert husband.


nah, bagi kalian yang belum baca novel aku yang lain. sila bisa di baca, novel aku yang masih on going


Amoera Is My Lady


My Geeky Wife.


Yaaa, alurnya juga nano - nano hahahaha