My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Takut terpengaruh



Ken masih mencerna apa yang baru saja David katakan kepadanya.


"Apa kau tau semuanya dari Jesslyn?" tanya Ken.


"Iya, aku tau semuanya dari Jesslyn," ucap David.


"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu, semoga kau bahagia bersama Alana." David menepuk bahu Ken. ia dan Ashley berlalu meninggalkan pesta pernikahan sahabatnya itu. namun, mereka berdua terlebih dulu menemui  Gio untuk berpamitan pulang kepadanya.


Ken masih mematung akan posisnya saat ini, kata - kata David masih terngiang di telinganya. ia juga mengingat, bagaimana David memperhatikan Alana dengan begitu seksamannya.


"Apa David menyukai Alana?" pertanyaan itu tiba - tiba muncul di kepala Ken.


"Tuan Ken." suara Alana mengagetkan Ken yang sedang sibuk dengan lamunannya.


"Ada apa?" tanya Ken dengan melirik sinis kepada Alana.


"Ke mana dua temanmu itu?" tanya Alana dengan melihat ke arah sekitar. namun, ia tak melihat Ashley dan David di sana. sementara, Ken hanya diam saja dan menatap Alana dengan tajam.


"Maaf, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Alana seraya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


Sore harinya, kediaman rumah Gio sudah terlihat tenang dan nampak sepi. karna acara pernikahan Ken dan juga Alana sudah selesai saat itu juga. semua para tamu yang hadir pun sudah membubarkan diri masing - masing, bahkan, tak tersisa tamu satu pun di sana. kecuali, Carrol, Andrew dan juga Harry.mereka  masih berada di sana. berkumpul dan mengobrol bersama dengan keluarga sahabatnya tersebut. namun, di sana yang tidak terlihat hanyalah Kimy dan Alana saja. karna, Kimy sudah ikut dengan kedua orang tuanya untuk pulang. sedangkan Alana sedang berada di kamar Jesslyn untuk menghapus sisa make up dan mengganti gaun pernikahannya dengan baju yang semula ia pakai.


saat sedang asyik mengobrol. Gio tiba - tiba beranjak berdiri dari duduknya.


"Sayang, aku tinggal ke depan sebentar bersama Andrew," pamit Gio.


"Jangan lama - lama, nanti kita ke rumah sakit menemui Ayahnya Alana," tutur Merry. Gio pun mengiyakannya. ia dan Andrew berlalu pergi meninggalkan rumahnya itu.


***.


"Merry, coba saja Elyn ada di sini, pasti semakin seru," kata Carrol kepada Merry.


"Iya ... sebenarnya, Elyn dan Kak Jacob mau datang. tetapi, Bibi Cathrine tidak ada yang menemani. jadi, mereka terpaksa tidak bisa datang kemari," ucap Merry.


"Kita kapan ke Italy, Ma? Jesslyn sangat merindukan, Bibi, Nenek Cathrine dan yang lainnya." Jesslyn ikut menimpali dan menggelayuti tangan Mamanya tersebut. bahkan, Harry sedari tadi tak bergeming memperhatikan Jesslyn yang begitu manjanya.


"Nanti, ya, sayang." Merry mencoba membujuk anak perempuannya tersebut.


"Mama selalu saja bilang nanti, nanti dan nanti. selalu saja begitu." Jesslyn menjauhkan tubuhnya dari Merry dan mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Jesslyn." Ken menegurnya. Jesslyn pun diam seketika. namun, kedua matanya tak sengaja melihat ke arah Harry yang sedang memperhatikannya.


"Apa kau melihatku seperti itu? apa kau ingin menertawakanku?" celetuk Jesslyn dengan melototkan kedua matanya kepada Harry.


"Tidak, siapa juga yang melihatmu!" seru Harry sembari memalingkan pandangannya.


"Jesslyn, apa kau bisa berbicara sopan sedikit?" tegur Ken.


"Sayang, kau tidak boleh berbicara seperti itu," tutur Merry.


"Ken, Merry. sudahlah, biarkan saja. hal seperti ini sudah biasa bukan? kalian seperti tidak pernah melihat Harry dan Jesslyn saja," tutur Carrol. ia menahan senyumannya. ia memperhatikan raut wajah Jesslyn yang ia rasa begitu menggemaskan jika sedang cemberut.


"Terlalu, di manja jadi seperti itu," Jasson ikut berkomentar.


"Diam, kau. jangan ikut - ikutan," seru Jesslyn dengan melotot ke arah Jasson.


"Harry, ayo kita ke kamar bermain Playstation saja. dari pada kita di sini mendengar celotehan Nenek tua ini," ajak Jasson seraya beranjak berdiri.


"Jasson ..." teriak Jesslyn.


"Jesslyn sudah!" Ken menegurnya kembali.


"Tapi, Jasson menyebalkan, Kak. dia mengataiku Nenek tua." Jesslyn mengadu dan memelaskan wajahnya di depan kakaknya tersebut. hingga membuat Carrol dan Merry menggeleng - gelengkan kepala saat melihatnya.


"Biarkan saja, jangan di hiraukan," tutur Ken. Jesslyn pun menuruti perintah Kakaknya tersebut.


Jasson mengajak Harry pergi ke kamar. namun, saat hendak ke kamar. Jasson tak sengaja berpapasan dengan Alana, hingga membuat mereka berdua sejenak beradu pandang. Alana pun tersenyum kepada Jasson. namun tanpa menegur dan membalas senyuman Alana. Jasson pun berlalu begitu saja.


"Kenapa sebenarnya dengan Jasson? seharian ini, dia sama sekali tidak menegurku," gumam Alana dalam hati.


Dengan pikiran yang penuh pertanyaan akan perubahan sikap Jasson. Alana  berjalan dengan menundukan kepalanya menuju ke ruang tamu. rasanya ia begitu canggung dengan keluarga barunya saat inu


"Alana?" sapa Jesslyn. Alana pun tersenyum kepada Jesslyn. lalu, ia melihat ke arah Ken yang menatapnya dengan begitu tajam.


"Dia kenapa selalu menatapku seperti itu," gerutu Alana dalam hati sembari mengalihkan pandangannya.


"Alana, duduklah kemari sayang," perintah Merry. Alana pun mendudukan tubuhnya di samping mertuanya tersebut.


"Pulang? pulang ke mana sayang? ini sudah jadi rumahmu," timpal Carrol.


"Bu-bukan, maksud Alana, Alana mau minta izin pulang untuk mengambil baju. dan sekalian ke rumah sakit bertemu dengan Daddy," ujar Alana.


"Oh, ya sudah sayang. biar di antar oleh suamimu, nanti, Mama dan Papa akan menyusul ke sana," tutur Merry.


"Suami?" Alana merasa aneh dengan sebutan itu. ia melirik ke arah Ken. namun ia langsung menundukan pandangannya, karna ia masih melihat Ken memandanginya dengan tatapan tajam.


"Ya Tuhan, bahkan dia sama sekali tidak ada ramah - ramahnya," gumam Alana dalam hati.


"Tidak usah, Ma. Alana bisa naik taxi sendiri," tolak Alana.


"Alana, biar ku antar. aku juga sekalian, ingin bertemu dengan Ayahmu," Ken menyautinya.


"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri," tolak Alana. namun, Ken melototkan kedua matanya kepada Alana, hingga membuatnya sedikit takut.


"Sayang, kau sudah menikah. jadi, kalau kau pergi ke mana - mana harus bersama suamimu," tutur Merry.


"Tapi, Ma. Alana hanya tidak ingin merepotkan suami Alana, Ma." Alana menundukan kepalanya dan mengigit bibirnya.


"Kau sama sekali tidak merepotkan, sayang. itu sudah kewajiban suamimu," tutur Merry.


"Iya, Alana. lagi pula, Kakak sangat suka kok di repotkan, jadi repotkan saja dia setiap hari," saut Jesslyn sembari melihat ke arah Kakaknya yang sedang menautkan kedua alisnya seakan menahan kekesalannya.


"Jesslyn hanya hanya bercanda, Kak."  Jesslyn melebarkan senyum konyolnya di depan Kakaknya tersebut.


Alana pun terpaksa mengiyakan permintaan Merry dan juga Jesslyn untuk pergi ke rumah sakit di antar oleh Ken.


Jesslyn, merengek layaknya anak kecil, ingin ikut bersama Alana dan juga Kakaknya. namun, Ken melarangnya. jadi, Jesslyn terpaksa menuruti perintah Kakaknya tersebut. lagi pula, Merry dan juga Gio berencana mengajak Carrol dan juga Andrew untuk pergi ke rumah sakit untuk menemui Holmes, jadi, sekalian mereka akan mengajak Jesslyn ke sana.


***


Kini, Ken dan Alana sedang berada di dalam mobil, Alana terlihat canggung dengan satatus barunya yang menyatakan dirinya sebagai istri Ken. laki - laki yang ada di sampingnya saat ini.


"Tuan Ken?" panggil Alana.


"Jangan memanggilku Tuan!" perintah Ken.


"Ehm, Kakak."


"Jangan memanggilku Kakak!" seru Ken.


"Kak Ken?"


"Aku bilang jangan memanggil Kakak!" seru Ken kembali.


"Lalu kau mau minta di panggil apa? Om? Kakek? apaaaa?" teriak Alana dengan  kesalnya.


"Apa kau bisa berbicara pelan sedikit? panggil namaku saja!" seru Ken dengan ketusnya.


"Baiklah, KEN."


"Aku mau tanya. apa kita nanti tinggal di rumah Mama dan Papa?" tanya Alana.


"Tentu saja, memangnya kau mau tinggal di mana? di sawah?" seru Ken.


"Sabar Alana, sabar." Alana mengelus dadanya seraya menghela napasnya.


"Maksudku, kalau misalkan Daddyku sudah pulang dari rumah sakit, masa, iya, aku harus mengajaknya tinggal di rumah Mama dan Papa? kan, aku merasa tidak enak jika harus menumpang tempat tinggal di keluarga kalian," kata Alana.


"Sebelum menikah, kau kan bilang, kalau aku boleh mengajak Daddyku tinggal bersama. Daddyku sudah tidak punya siapa - siapa lagi, jadi aku tidak bisa jika harus meningalkannya sendirian." imbuh Alana.


"Masalah itu, kau tidak usah khawatir. aku sudah membelikan rumah untuk nanti kita tempati dengan Ayahmu. Tapi--"


"Tapi, apa?" tanya Alana. Ken sejenak menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. karna mereka baru saja tiba di sana. Ken mendekati wajah Alana dan menatap kedua matanya dengan tatapan yang penuh serius.


"Kau harus menuruti semua perintahku. apapun itu! dan jangan sekali - sekali kau mencoba macam - macam denganku! jika kau berani macam - macam dan berbuat curang denganku. aku tidak akan segan mengusirmu, dan menghancurkan semua keluargamu!" ancam Ken dengan penuh penekanan. Alana menelan ludahnya dan mencerna ancaman Ken. ia pun mengiyakan perkataan Ken dengan perasaan yang begitu takut.


"Cepat turunlah!" perintah Ken.


"Iya," saut Alana. ia pun membuka pintu mobil dan turun dari mobil itu.


"Aku tidak bermaksud mengancamnya seperti itu. tetapi, aku tidak punya pilihan lain. dia sangat mudah di pengaruhi oleh orang lain. aku yakin, suatu saat, keluarga Afford pasti akan mempengaruhinya. dan memperalatnya untuk menjatuhkan Papa. apalagi setelah nanti Mereka tau, kalau aku menikah dengan Alana."


"Dan aku juga ingin mencari tau yang sebenarnya. kenapa Afford tidak begitu akrab dengan Paman Holmes? bukannya mereka saudara ipar?" gumam Ken. ia pun turun dari mobil dan mengikuti Alana.