
Seakan tak rela berbagi, Alana menyaut gelas yang masih menampakan sisa susu coklat dari setengah gelas itu.
"Aku hanya mencicipinya saja, percayalah!" bantah Ken.
"Kalau hanya mencicipinya saja, kenapa tinggal setengah?"
"Entahlah, mungkin tumpah..."
Alana seketika melirik ke arah lantai dapur berwarna putih yang dipijaki oleh suaminya tersebut. Terlihat tak basah dan tak ada tumpahan air yang mengotori lantai itu.
"Iya, tumpah di tenggorokanmu!" Alana meneguk sisa susu itu hingga habis tak tersisa dari wadahnya.
"Mana akan kubuatkan lagi." Ken menadahkan tangannya, meminta gelas kosong yang dipegang oleh istrinya itu.
"Aku akan membuat sendiri, kalau kau yang membuat nanti pasti kau meminumnya lagi," seru Alana.
"Tidak! Aku tidak akan meminumnya!" Ken menyaut gelas itu. Dan egera menyeduh susu yang baru untuk Alana.
Kedua mata Alana tak lepas memperhatikan Ken yang sedang mengaduk susu untuk dirinya, seakan takut jika dirinya kecolongan.
"Takut sekali jika aku meminum susumu ini!" Ken menyodorkan susu itu kepada Alana. "Cepat minumlah dan istirahat!" perintahnya.
Alana mengiyakan dan segera meneguk habis susu itu, hingga tetes terakhir, lidahnya menyapu sisa-sisa susu yang masih melekat di sekitar bibirnya.
"Enak sekali." Meletakan gelas kosong yang ia pegang di atas meja. Ken menggandeng tangan Alana, mengajaknya kembali ke kamar untuk beristirahat.
***
Keesokan di rumah Gio dan Merry.
Sudah beberapa hari ini Kimmy menginap di rumah Jesslyn, sudah hal yang biasa, perempuan itu menginap jika kedua orang tuanya sedang berpergian karna tugas ke luar kota. Mengingat Kimmy hanyalah anak semata wayang dan tak memiliki saudara, membuat Louis selalu menitipkan putrinya itu ke rumah sahabatnya.
Siang itu Kimmy terlihat rapi dengan membawa tas ransel yang melekat di punggungnya, ia berpamitan akan pulang ke rumah.
Jesslyn dan Merry pun mengantarkannya di halaman rumah.
"Kau kapan akan kemari lagi?" tanya Jesslyn.
"Mungkin minggu depan," jawab Kimmy. Jesslyn terlihat kecewa, karna tidak ada yang ia ganggu dan ia ajak bercerita lagi.
"Sayang, apa tidak menunggu Paman Gio saja? biar kami bisa ikut mengantarkanmu pulang sekalian?" tutur Merry.
"Tidak, Bi. Kimmy akan memesan taxi saja. Paman Gio kan pulang sore. Sementara, sebelum Papa pulang Kimmy harus sudah tiba di rumah untuk memberi kejutan. Tapi Bibi masih ingat kan? jangan memberitau Papa kalau Kimmy pulang lebih awal."
"Iya, Sayang. Bibi ingat, tapi Bibi takut kalau kamu pulang sendirian." Merry memberi usapan berkali-kali di kepala perempuan yang seumuran dengan putrinya itu.
"Iya, aku juga khawatir dan takut jika nanti kau diculik," timpal Jesslyn.
"Kau dan Bibi tidak perlu khawatir. Jika ada seorang penculik yang memberiku permen aku akan menolaknya. Jadi tenang saja, mereka tidak akan menculikku," ujar Kimmy dengan raut wajah yang meyakinkan.
Membuat Merry dan Jesslyn tetawa kesal melihat raut wajah polosnya. "Itu beda lagi dasar bodoh!" reflek memukul kepala sahabatnya itu dan masih tak henti tertawa.
Tak lama kemudian, sebua mobil berwarna putih yang tak lain milik Jesslyn terlihat, mobil itu baru saja berhenti di halaman rumah.
"Mama, Jasson pulang." Jesslyn berseru saat melihat saudara kembarnya itu turun dari mobil. berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. Tidak memandang siapapun di sana kecuali Mama Merry yang menjadi tujuannya.
"Siang, Ma." Jasson memberi sapaan kepada Merry sambil menciumnya. Hendak berjalan masuk ke dalam rumah, namun Merry menahannya.
"Sayang, tunggu!"
"Ada apa. Ma?" Jasson menoleh dengan memasang wajah sok tampan, membuat Jesslyn ingin sekali memakinya.
"Jasson, berhubung kau sudah pulang, tolong antarkan Kimmy pulang ke rumahnya," perintah Merry. Jasson melirik ke arah Kimmy yang sedang berpura-pura menunduk, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Merry.
"Kan biasanya dia dijemput oleh sopirnya," ucap Jasson.
"Sopirnya sedang menjemput Paman Louis di luar kota, Nak.
Paman Louis sebenarnya akan menjemput Kimmy nanti sore, tetapi Kimmy ingin memberi kejutan kepada Paman Louis, maka dari itu dia ingin pulang sekarang, tolong antarkan, ya."
"Bibi, tidak apa-apa, Kimmy naik taxi saja," timpal Kimmy dengan tatapan sungkan, namun mengharapkan wkwk.
"Jangan, sayang. Biar Jasson saja yang mengantarkanmu," ujar Merry. Kimmy memandang kilas Jasson, ia tau Jasson enggan mengantarkannya.
"Tidak apa-apa, Bi. Kimmy sudah dewasa, bisa pulang sendiri." Kimmy hendak berlalu pergi dari sana. Namun langkah kakinya ter-urungkan oleh suara Jasson.
"Aku akan mengantarmu..." suaranya terdengar malas, seakan terpaksa. Namun bukankah Jasson memang seperti itu?
"Ehm, tidak usah terimakasih. Aku tidak mau merepotkan siapapun." Kimmy menolak, menyembunyikan wajahnya menatap lekat tanah yang saat ini ia pijaki.
Jasson tak mempedulikan, apa kata Kimmy. Ia berjalan melewati perempuan itu. Mendekati mobil yang mesinnya baru saja dingin. "Ayo!" perintahnya pelan, namun terdengar memaksa.
"Ehm..." Kimmy menatap bingung.
"Kimmy tidak apa-apa. Biar Jasson yang mengantarkanmu."
"Kimmy ayo cepatlah, jangan membuat Jasson menunggu!" Jesslyn yang kesal akan Kimmy segera menarik paksa tangan sahabatnya untuk mendekati mobil saudara kembarnya itu.
"Tapi, Jesslyn--"
"Sudahlah..." Jesslyn megedipkan kedua matanya memberi kode agar Kimmy mau diantarkan oleh Jasson.
"Oh... iya..." Kimmy ikut mengedip-ngedipkan kedua matanya Membuat Jasson mengernyit memperhatikan dua wanita yang kini ada di hadapannya.
"Dasar gila." Jasson mengumpat kesal dan masuk ke dalam mobil. Jesslyn membuka pintu mobil dan menyuruh Kimmy duduk di samping Jasson. Namun, Kimmy menolaknya.
"Jesslyn, biar aku duduk di belakang saja."
"Kenapa tidak sekalian duduk di atas saja?" saut Jasson. Memasang wajah tak ramah.
"Kau pikir Jasson sopir? sudah duduk di sini saja." Jesslyn memaksa tubuh Kimmy hingga kini tubuhnya duduk dengan sempurna di samping kursi kemudi itu.
"Jesslyn..." Kimmy menarik tangan Jesslyn yang hendak menutup pintu mobil itu.
"Ada apa lagi?" tanya Jesslyn dengan jengkelnya.
"Kalau aku duduk di sini nanti jantungku meledak bagaimana?" bisiknya pelan.
"Tidak apa-apa, asal bukan kepalamu yang meledak!" Jesslyn menutup pintu mobil itu hingga membentur dengan keras.
"Hey, Nenek tua!" Jasson membuka kaca jendela, kepalanya sedikit nampak keluar. Panggilannya membuat langkah kaki Jesslyn yang hendak menghampiri Mama Merry itu berhenti.
"Apa?"
"Kenapa kau tidak masuk ke dalam mobil?" tanya Jasson.
"Aku kan tidak ikut!"
"Ayo ikut denganku mengantarkan temanmu ini!" perintah Jasson.
"Jesslyn, ayo ikut..."
"Aku tidak mau!" Jesslyn berlari mendekati Merry. "Mama Ayo masuk ke dalam."Jesslyn menarik tangan Merry dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Awas saja kau nanti!" teriak Jasson dengan kesal. Jasson tak sengaja melihat Kimmy meliriknya.
"Apa yang sedang kau lihat?" tegur Jasson.
"Ti-tidak, a-aku hanya melihat kaca mobilmu, lihatlah, banyak debunya." Kimmy menyentuh kaca depan mobil, mencari Alasan mengusap kaca yang tak berdebu itu dengan tepalak tangannya. Jasson mengumpat dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya tersebut.
Suasana di dalam mobil begitu sunyi, tak ada obrolan maupun suara musik yang terdengar. Membuat Kimmy yang saat itu meremmas jemari tangannya merasa sungkan terhadap Jasson. Kedua matanya sesekali melirik, mencuri kilas wajah laki-laki yang sedang fokus mengemudikan mobil itu.
***
Malam harinya Alana dan juga Ken terlihat sedang tidur.
Namun, mendekati waktu dini hari Alana terbangun karna merasa lapar, melirik ke arah jam dinding yang menunjukan waktu pukul 23.35
Melihat suaminya yang tertidur dengan lelap, membuat Alana beranjak turun dari tempat tidur dan meninggalkan kamar itu untuk menuju ke dapur.
Lemari pendingin adalah tujuan utama yang ia buka, menampakan begitu banyak buah dan juga makanan di dalamnya.
Alana yang kalap mengambil box berisi kue coklat yang sempat dibeli oleh Ken kemarin siang dan belum termakan sama sekali. Ia juga mengambil beberapa buah dan juga snack bar.
Kedua tangannya meringkus semua makanan itu dan membawanya pergi ke ruang tamu, kembali lagi dengan membawa satu pitcher air putih.
Alana menyalakan televisi, menonton film The Chronicles of Narnia, salah satu film disney kesukaannya yang baru saja ia pilih dari penyimpanan flashdish miliknya. Ia tak merasa bosan sekalipun film itu sudah ia tonton berulang kali. Selama film itu tayang, mulut Alana tak berhenti mengunyah setiap makanan yang dijangkau oleh tangannya.
^
Di dalam kamar, Ken yang kala itu masih tertidur, mencoba memindah posisinya, melingkarkan tangannya ke tubuh Alana. Namun ia merasa tempat tidur itu begitu lapang hingga membuatnya seketika terbangun dan membuka kedua matanya.
"Ke mana Alana?" Ken segera beranjak turun dari tempat tidur, dengan paniknya mendekati kamar mandi, pintu kamar mandi dibuka lebar, namun tak ada Alana di dalam sana, ia berlalu keluar dari kamar dan hendak mencarinya ke dapur. Namun suara Televisi yang terdengar dari ruang tamu mengurungkannya, hingga membuat langkah kaki laki-laki itu mengajaknya pergi ke sana.
Dengan santainya, Ken melihat Alana sedang menyelonjorkan kedua kakinya di atas meja sambil menonton televisi.
"Alana?" tegur Ken. Alana memutar sedikit lehernya lalu tersenyum.
"Kau sudah bangun?" tanya Alana. Tangannya mengambil kue dan memasukan kue itu ke dalam mulutnya yang kosong.
"Bukan sudah bangun, tapi terbangun!"
"Kau sedang apa di sini?" tanya Ken.
"Kau tidak melihat aku sedang menonton film?" balas Alana. Ken mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping istrinya tersebut.
"Aku tau, ayo kita kembali tidur!" perintah Ken, mencoba mengambil alih makanan yang ada di tangan Alana. Namun Alana menjauhkannya, seakan tak mau berbagi makanan itu dengan siapapun.
"Tidak mau, aku tidak menganuk, aku masih ingin menonton film kesukaanku," tolak Alana.
"Tapi ini sudah malam, Sayang!" Ken berusaha menahan rasa kesalnya
"Memangnya siapa yang bilang ini siang?" suara Alana terdengar begitu ketus namun kue yang ada di mulutnya sedikit menahan suaranya hingga keluar dengan tak leluasa.
"Astaga." Ken menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi.
"Jangan begadang seperti ini, nanti kau sakit. Kau bisa melanjutkan menonton filmnya besok!"
"Tanggung!" Alana menjawab dengan santainya, Ken masih berusaha membujuk istrinya itu, namun rasanya sia-sia. Alana berulang kali menolak bujukan suaminya dan lebih memilih menonton film kesukaannya tersebut.
"Kenapa sulit sekali berbicara denganmu? begadang itu tidak baik, apalagi kau sedang hamil!" bentak Ken. Alana seketika takut akan bentakan itu.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa tidur..." wajah Alana terlihat memelas, Ken hanya diam seakan menyesal karna telah membentaknya. Diamnya Ken membuat Alana tau, bahwa suaminya itu tidak suka dibantah.
"Ba-baiklah, aku akan tidur. Tapi kau harus menyanyikan lagu untukku supaya aku bisa tidur..."
Ken mendengus. "Selalu ada saja yang diminta." Mengernyitkan dahi dan masih belum menjawab permintaan Alana.
"Bagaimana? kau mau tidak? kalau tidak mau ya sudah, biar Paman Lux saja yang menyanyikan lagu untukku," ucap Alana.
Ken tiba-tiba mendekap tubuh Alana, lalu dengan gemasnya menggigit pipi istrinya itu, sangking gemasnya, Ken tak mau melepasakannya hingga membuat Alana begitu geli dan tertawa lepas akan suaminya tersebut.
"Ken, aku benar-benar geli..." Alana masih tertawa hingga kedua matanya terlihat berair.
"Salah siapa kau begitu menyebalkan seperti ini?" Mencium dengan gemas.
"Ayo kembali ke kamar, aku akan menyanyikan lagu untukmu."
Ken membantu meletakan sisa makanan yang tinggal sedikit di atas meja, dan segera mematikan televisi tersebut. Ia menggandeng tangan Alana dan mengajaknya untuk masuk kembali ke dalam kamar.
.
.
.
.
.
.
.
Author note:
Ini buku khusus Ken dan Alana, ya. jadi jangan tanya lagi cerita Jesslyn Harry atau Jasson dan Kimmy di sini karna mereka cuma selingan doang.
Kan udah Nona infokan, mereka bakal Nona buatkan cerita sendiri tapi di buku lain setelah Ken dan Alana!
kalau cerita mereka dijadikan satu buku, Nona nulisnya bingung, yang nulis aja bingung apalagi yang baca wkwkwk.
jadi tolong jangan tanya lagi ya nak-anak, emak ini udah tua, kenapa sih kalian suka bikin emak naik darah kayak Alana wkwkwkwk.
bercanda yak wkwk